
Hari ini Kaila benar benar merepotkan Damar, setelah pulang mengajar Damar di boyong kemana mana, ke toko buku, toko sepatu.
Dan ini adalah mall kedua yang mereka datangi.
Raut wajah Damar terlihat lelah sekali namun ia tidak mengeluh.
" Mau cari apalagi?" tanya Damar sabar.
" Satu lagi ya mas? tas make up?" pinta Kaila sambil bergelantungan di lengan Damar, manja sekali.
" Ya sudah.. ayo.." kata Damar sabar.
Kinanti sedang berjalan jalan dengan guru guru muda di sekolah, itu ia lakukan karena sedang jenuh dan suntuk, entah apa yang sebenarnya ia pikirkan.
mereka menonton sejak sore tadi, setelah keluar dari bioskop mereka lanjut bermain di timezone dan berbelanja berbagai pernak pernik perempuan.
Kecuali Tyo, ia hanya mengekor para guru wanita.
" Pak Tyo tidak beli apa apa?" tanya salah satu guru,
" Mau beli apa memangnya? bandana? dari tadi yang di masuki toko khusus wanita.." Tyo tersenyum.
" Iya yah.. gimana kalau pak Tyo cari di toko lain saja, kita ketemu di food court ya?" ujar salah satu guru juga.
" Sendirian? ah.. tidak enak, saya disini saja.."
ujar Tyo malas berjalan sendirian.
" Di temani bu Kinan saja? bagaimana?, ayolah bu.. kami masih mau pilih pilih..??" rengek para wanita yang teman mengajarnya itu.
Kinan menatap Tyo, dan Tyo tersenyum mengerti.
" Sudah.. biar saya jalan sendiri, mungkin bu Kinan ada yang mau di beli disini.." ujar Tyo.
" Ayolah.. saya temani, saya tidak minat beli pernak pernik.. lebih baik saya makan es cream.." gerutu Kinan membuat Tyo tertawa.
" Ya sudah.. ayo, sambil saya belikan es cream.." ajak Tyo sumringah.
Keduanya berjalan berkeliling, dan akhirnya berhenti di toko keperluan laki laki.
" Mau cari apa pak?" tanya Kinan,
" Mau cari baju olah raga bu.."
" hemmm.. dasar guru olah raga.."
Tyo tertawa mendengarnya.
" hemm.. dasar.. guru kelas 1.." balas Tyo, dan keduanya tertawa,
" sudah.. silahkan memilih pak, akan saya temani dengan sabar.."
" Wahh.. akan saya pergunakan waktu saya dengan baik kalau begitu, tidak akan lama kok bu Kinan.."
" Iya.. pastinya lebih lama para gadis gadis tadi.." komentar Kinan, lagi lagi keduanya tertawa.
" Mas? lihat siapa sih??" Kaila menarik lengan kemeja Damar.
Laki laki itu menatap kearah toko baju olah raga, ia membeku sejenak.
__ADS_1
" Mas??!" panggil Kaila lagi menyadarkan Damar.
Wajah Damar yang lelah terlihat lebih lelah sekarang, senyum sabarnya tiba tiba hilang.
" Mas itu kenapa? capek temani Kaila? kok mukanya di tekuk begitu?" tanya kaila tidak enak.
" Ya sudah.. ayo pulang saja mas?!" ujar kaila lagi, tapi Damar tidak berkutik dari tempatnya.
Kaila yang penasaran, mengikuti arah pandangan Damar.
Ternyata matanya mengikuti gerak gerik seorang perempuan di toko olah raga.
" Itu teman mas? ayo kita sapa?" Kaila menarik lengan Damar lagi.
" Tidak.." ucap Damar setelah lama diam.
Entah kenapa hatinya tidak nyaman sekali melihat wanita yang dia kenal ber hiha hihi dengan laki laki lain.
Padahal hatinya sudah bertekad ikhlas.
" Kita makan saja, aku lapar" ujar Damar tiba tiba.
Wajahnya serius sekali, membuat Kaila sedikit takut.
Dengan tenang Kaila mengikuti langkah Damar menuju food court.
Keduanya memesan makanan.
Saat raut wajah Damar sudah mulai membaik, tiba tiba wajah itu menegang lagi.
Damar melihat Tyo dan Kinanti sedang makan es cream sambil berbincang, keduanya berjalan menuju food court juga.
" Tidak ada apa apa.. lanjutkan makan mu.." jawab Damar melanjutkan makannya.
Namun saat ia melihat Kinanti duduk berjarak beberapa meja dengannya dan mendengar Kinanti terus tertawa dan bercanda dengan tyo,
Nafsu makan Damar tiba tiba menghilang.
Wajahnya bersemu merah menahan kesal.
Di tengah pertahanan Damar itu, ternyata Kinanti juga menemukan Damar dalam pandangannya.
Kinanti tertegun, Damar sedang makan bersama dengan seorang gadis muda, bahkan gadis muda itu sesekali menyentuh tangan Damar, seperti menenangkan.
Deg..!
keduanya tak sengaja saling menemukan, beradu pandangan.
Kinanti yang gugup mengalihkan wajahnya, haruskah dia menyapa? hati Kinanti sungguh bingung.
Beberapa menit Kinanti tak menoleh ke arah Damar.
ia berusaha fokus mengalihkan perhatian dan pandangannya pada Tyo, ia berusaha berbincang se natural mungkin agar Tyo tidak menyadari ke kikukannya.
" Bu Kinan kenapa?" tanya Tyo menangkap ekspresi wajah yang tiba tiba berbeda.
" Tidak, saya ingin ke toilet saja.." pamit Kinanti langsung bangkit, ia tak menunggu jawaban dari Tyo.
ia berjalan sedikit jauh ke arah toilet, setelah didalam toilet ia tak melakukan apapun, hanya menarik nafas dalam dalam, dan menenangkan hatinya yang entah kenapa.
__ADS_1
Bukankan harusnya ia menyapa, bukan melarikan diri.
" Aduh..! aku kenapa sih?!" keluhnya sendiri di depan wastafel dan cermin.
ia ingin lama lama sebenarnya, namun ia kasihan terhadap Tyo, tidak lucu jika dia makan sendiri.
Setelah menenangkan dirinya Kinanti berjalan keluar dari toilet.
" Kenapa tidak menyapaku?" terdengar suara yang ia kenal dari balik punggungnya.
" Kenapa pas di jajaran toko yang tutup sih?!" gerutu Kinanti dalam hati,
ia tidak berbalik, namun Damar dengan cepat berjalan mendahului dan berhenti di hadapan Kinanti.
" Mas mau membuatku jantungan?!" tegas Kinanti.
" Habisnya.. ada orang yang sok tidak mengenalku.. padahal beberapa hari yang lalu ia datang kerumahku dan menyuapiku.." ujar Damar,
pipi Kinanti memerah karena malu, untuk apa soal itu di singgung, pikirnya.
" Aku tidak menyapa mas karena mas sedang bersama seorang perempuan, tidak pantas rasanya aku menganggu.." ujar Kinanti,
" menganggu?" tanya Damar, namun Kinanti diam.
" Kau juga sedang bersama laki laki, jadi tidak pantas juga rasanya aku menganggu waktu kalian yang luar biasa.. iyakan?" balas Damar.
Kinanti diam,
" Kembalilah, nanti kau di cari.." ujar Damar kemudian.
" Mas.. sudah sembuh?" tanya Kinanti hati hati.
" Sudah.. berkat dirimu yang datang dan menyuapi aku.. entah kenapa itu seperti obat yang mujarab.." kalimat Damar sedikit sinis.
Ia benci mengetahui tubuhnya bereaksi seperti medan magnet saat Kinanti berada dalam pandangannya, rasanya ingin terus mendekat.
Tapi ia tak boleh begitu, Kinanti sudah resmi berjalan dengan pak Tyo dalam pandangan Damar, jadi.. hatinya tak boleh lagi berharap atau merasakan apapun.
Damar berjalan mendahului Kinanti, sedang kan Kinanti berjalan pelan di belakang.
Keduanya kembali ke meja masing masing.
Dan tak lama setelah Damar duduk, Damar bangkit lagi dari kursinya, ia mengajak Kaila untuk pulang.
Dan seperti biasa, Kaila selalu bergelayutan di lengan Damar.
Kinanti melihat itu dengan jelas,
" Astagaa.." keluh Kinanti dalam hati.
" Kuasai dirimu Nan.." imbuh nya lagi dalam hati.
Entah kenapa hari ini berjalan dengan tidak tenang, padahal niatnya hanya jalan jalan, tapi ia malah melihat Damar berjalan dengan seorang gadis, dan bahkan sangat mesra di depan matanya.
" Huft..." ia menghela nafas berkali kali,
" Kenapa bu? kok tampak resah sekali?" tanya Tyo,
" Ah.. tidak apa apa pak.." jawabnya sembari tersenyum semanis mungkin agar Tyo tidak merasa terganggu.
__ADS_1