Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
pura pura tidak terjadi apapun


__ADS_3

Yusuf mendengus kesal, ia bahkan tak bisa duduk tenang.


" Saya kira anda harus minta maaf?" ucap Winda,


" Minta maaf?! biar saya buat dia babak belur dulu, setelah itu saya minta maaf? bagaimana?" Yusuf benar benar tidak bisa di tenangkan.


Winda menatap Kinanti,


" Suf, kendalikan dirimu.. situasi ini di luar kendaliku.. dia pun sudah menjadi bagian dari keluarga.." Kinanti membujuk Yusuf.


" Bagian keluarga? edan! bisa gila aku bersaudara dengan dia!" tegas Yusuf,


" Kau sendiri bisa bisanya kau bungkam sebegini lama?! kau sengaja ya?! suamimu tau?!" lanjut Yusuf.


Kinanti tertunduk tiba tiba,


" Ku kira dia tidak tau.. karena diantara kamipun tidak ada yang tau.. benar itu Nan?" sahut Winda tenang, dia bertindak sebagai orang yang paling tua, karena itu dia harus bisa bersikap sebijaksana mungkin.


Kinanti mengangguk perlahan, habis sudah..


dirinya benar benar merasa bersalah.


" Jadi kau sengaja menyembunyikan ini dari suamimu?!" nada Yusuf benar benar tajam.


" Awalnya aku ingin bicara, tapi suamiku sakit.." jawab Kinanti masih tertunduk,


" Lalu kau berpikir akan lebih baik jika Damar tidak tau?" sahut Winda.


" Iya mbak.." Kinanti mengangguk,


" Aku.. aku takut mbak.. aku takut suamiku berubah sikap terhadapku,


aku.. aku juga takut, hal ini bisa merusak persaudaraan diantara mas Damar dan Yoga.." Kinanti tertunduk dalam.


" Astaga..." keluh Yusuf sembari menahan dirinya.


Sedangkan Winda, ia tetap terlihat tenang.


" Sekarang begini saja.. lebih baik mas Yusuf pulang dulu.. saya akan bicara pada adik adik saya, mas Yusuf akan saya hubungi lagi nanti, setelah itu kita bertemu untuk membicarakan bagaimana baiknya ini.." ujar Winda,


" saya? bertemu mereka? untuk apa?! yang satu sudah menyakiti saudara saya, yang satu sudah menampar wajah saya!


njenengan kira saya mau baik baik?, kalau mau bawa ke jalur hukum silahkan, biar rame sekalian!" Yusuf tetap tidak mau tenang.


Winda menghela nafas untuk menekan emosinya, ia tak mau terpancing dan ribut dengan Yusuf juga.


" Baiklah.. anda maunya ribut?, tidak masalah sebenarnya untuk kami..


tapi, itu akan bermasalah untuk rumah tangga Kinanti dan Damar..


dengan sikap anda sekarang yang tidak mau berdamai, yang rugi bukanlah anda.. tapi orang yang sedang duduk disamping anda.."


Yusuf langsung menatap Kinanti, perempuan itu sudah layu, raut wajahnya benar benar sedih dan lesu.


rasa sedih dan kecewa langsung memenuhi hati Yusuf, Yusuf tak mau Kinanti menderita lagi.


" Kau mau aku bagaimana?" tanya Yusuf dengan nada lebih rendah pada Kinanti.


" Kau sudah seperti saudara kandungku, saat kau terluka aku juga terluka, kau paham itu dengan baik..

__ADS_1


aku tidak mau laki laki itu merusak hidupmu yang sudah baik?


kau dengar aku Nan?" suara Yusuf kali ini terdengar menyedihkan, ia benar benar tak ingin melihat Kinanti menemukan kegagalan lagi dalam hidupnya.


Cukup Kinanti merasakan kehilangan, Aji yang meninggal secara menyedihkan, lalu tak lama bapaknya juga menyusul, laki laki yang sebenarnya sehat itu tiba tiba menjadi sakit sakitan semenjak anak laki laki kesayangannya itu meninggal,


lalu luar biasanya beberapa bulan setelahnya kematian bapaknya, Kinanti di tinggalkan oleh Yoga.


Bagaimana Yusuf tidak sakit hati pada Yoga, laki laki yang harusnya menemani Kinanti di saat saat yang sulit malah pergi meninggalkannya.


Hampir setiap malam Yusuf mendengar tangisan Kinanti dari balik pintu kamarnya yang terkunci rapat.


" Maafkan aku Suf.. maafkan aku.." suara Kinanti lirih,


Yusuf terdiam, ia benar benar tidak senang dengan kondisi saat ini.


" Sekarang apa kita sudah bisa bicara dengan tenang mas Yusuf?" tanya Winda.


" Baiklah, demi Kinanti saya menyelesaikan ini dengan baik.." jawab Yusuf dengan nada rendah, namun dengan raut wajah masih tidak bersahabat dengan Winda.


" Baiklah, untuk sekarang lebih baik kita tenang,


saya akan mencari jalan keluar yang terbaik, dan mencari cara yang baik pula untuk menyampaikan hal ini pada adik saya.. yaitu Damar..


penyampaian yang salah akan menimbulkan kesalahpahaman, saya kira mas Yusuf bisa memahami maksud saya.."


Yusuf mengangguk,


" Saya faham, saya akan diam dan menganggap hal ini tidak pernah terjadi, asal njenengan berjanji pada saya, akan menyelesaikan ini dengan baik sehingga tidak ada masalah antara Kinanti dan suaminya,


dan yang terpenting,


saya benar benar risih melihatnya dekat dengan Kinanti.."


Winda mengangguk,


" Baiklah.. saya kan mengusahakan yang terbaik, karena saya juga menyayangi Kinanti.." ujar Winda meyakinkan.


Tak lama terdengar suara mobil berhenti di garasi.


Semua terdiam mendengar suara pintu samping yang menjadi satu dengan garasi terbuka.


" Lho?! ada tamu tho?!" suara Damar terdengar dari arah ruang tengah,


ia menaruh kunci mobil lalu berjalan ke arah ruang tamu.


" Dari depan sudah ku tebak kalau mobilmu Suf?!" Damar menyalami Yusuf lalu duduk.


" Kok tidak ada minuman atau kue Nan?" tanya Damar saat melihat meja kosong melompong tanpa suguhan.


" Tidak usah mas, hanya mengantarkan pesanan bulek untuk mas dan Kinan.. saya sudah mau pamit.." Yusuf bangkit.


Damar sedikit heran melihat wajah semua orang yang berada di ruang tamu itu kaku dan serius, apalagi wajah istrinya yang tertunduk.


" Lho? ada masalah apa? kok buru buru?" Damar Ikut bangkit.


Sedangkan Winda dan Kinanti tetap duduk.


" Tidak ada masalah mas, aku hanya sedikit memarahi Kinanti saja tadi, karena bulek ingin lebih sering di kunjungi, dan mas juga harus lebih sering mengunjungi bulek..!" ujar Yusuf ia dengan cepat memberikan alasan.

__ADS_1


" Aduh?! jadi ibu marah padaku?" tanya Damar serius,


" bulek tidak marah, tapi tanpa bulek meminta harusnya kalian sering datang, meskipun mas sudah meninggalkan orang untuk menjaganya, tapi kan dia tetap harus di tengok sering sering, toh dekat, masih satu kabupaten.." imbuh Yusuf.


" Ah.. baiklah, aku akan ke ibu setiap ada luang..


jadi kau sungguh sungguh tidak makan dulu dan berbincang denganku?"


" lain kali saja mas, aku ada urusan lain.."


Yusuf pamit, ia berjalan dengan langkah yang cepat menuju mobilnya.


Namun matanya tak henti mengawasi rumah rumah yang berada di samping rumah Damar.


Ia tak tau pasti rumah Yoga Yang mana, tapi ia tau pasti rumah perempuan yang menamparnya berada persis di samping rumah Damar dan Kinanti.


Damar mengawasi Kinanti yang sedang membuka kotak kotak makanan kiriman ibunya.


" Wah?! enak itu..!" celetuk Damar sembari memeluk pinggang istrinya dari belakang.


Tapi respon Kinanti tak seperti biasanya,


perempuan itu terlalu tegang hingga ia kaget saat tangan Damar tiba tiba menyentuh pinggangnya.


Sontak Kinanti menarik tubuhnya dengan cepat.


" Maaf mas.. aku kaget..?" suara Kinanti sedikit bergetar.


" Kaget?" tanya Damar melihat sorot mata istrinya yang tidak seperti biasanya.


Damar mencoba memeluk istrinya kembali, namun Damar bisa merasakan ketegangan di tubuh Kinanti.


Perempuan itu terlihat kaku, tidak seperti biasanya.


" Hei.. kenapa?" tanya Damar lembut,


" tidak mas.." jawab Kinanti pelan, tangannya terus sibuk memindahkan makanan.


" katakan padaku ada apa? apa Yusuf keterlaluan memarahimu?


ah, ada mbak Winda juga, apa mbak Winda tidak membelamu?" tanya Damar penasaran.


" tidak mas, Yusuf tidak keterlaluan..


aku sungguh sungguh baik baik saja mas.." Kinanti mencoba tersenyum.


" Ya sudah, ayo kita makan mas, siapa tau mas mau kembali ke pabrik setelah ini.." Kinanti melepaskan pelukan Damar dan berjalan dengan buru buru ke dapur.


Damar diam di tempat, mengawasi gerak gerik istrinya yang kelewat aneh,


di lipat kedua tangannya di dada, berusaha mengerti dan mencerna.


Ia tau, pasti terjadi sesuatu saat dirinya pergi, karena tidak mungkin raut wajah mbak Winda juga ikut tegang saat melihat Damar.


Semua orang seperti melihat hantu saat dirinya datang, muram dan cemas.


Dan sekarang istrinya yang selalu tenang dan menerima pelukannya dengan hangat, tiba tiba saja menghindar dengan alasan kaget,


atau memang Kinanti kaget betulan karena saking tegangnya, Damar masih menimbang nimbang mana yang benar.

__ADS_1


Yang jelas, hari ini sungguh membuatnya tidak senang.


__ADS_2