
Yoga terduduk lesu dengan wajahnya yang pucat, di tangannya bahkan masih ada sisa darah dari istrinya.
Sedangkan dari ujung koridor rumah sakit terlihat Rakha yang bahkan tak berani mendekat,
tubuhnya masih merasakan gemetar yang tersisa.
Jantungnya berlarian tak karuan meski sudah sejam lebih ia berdiri menunggu.
" Bersihkan dirimu di toilet.." Damar duduk disamping Yoga.
Yoga tak menjawab, tatapannya kosong ke arah lantai.
Melihat itu Damar dan Kinanti saling bertukar pandang,
" Beli tisu basah Nan.. sekalian hubungi mbak Winda dan Kaila," mendengar perintah suaminya Kinanti mengangguk dan berjalan menjauh.
" Kau ikut aku, kita bicara di luar," ajak Kinanti saat berjalan di depan Rakha yang berdiri mematung.
" Aku sudah menjaganya dengan sungguh sungguh.." terdengar suara Yoga lirih,
" Aku sudah menjaga anak kami dengan sungguh sungguh mas.." imbuh Yoga dengan suara bergetar.
Damar menatap jari jemari Yoga yang pucat juga gemetar,
segera di buang pandangannya ke arah lain karena tak tega.
" Berdoalah.." ucap Damar juga tak tau harus menenangkan Yoga dengan cara apalagi.
Sekitar tiga puluh menit kemudian seorang perawat mendekat.
" Dokter Yoga, silahkan masuk ke ruangan dokter Deddy.."
Mendengar ucapan perawat itu Yoga bangkit dengan cepat,
Ia berjalan menuju ruangan dokter ahli kandungan yang sudah terkenal hebat di kota ini.
" Yog?!" sapa si dokter yang sudah berusia sekitar lima puluh tahunan itu.
" Istri saya dok?" tanya Yoga langsung tanpa duduk.
" Duduklah.. tenangkan dirimu,"
" saya seorang suami disini dok??" Yoga lesu kehabisan tenaga.
" aku tau Yog, maka dari itu tenanglah, tindakan penyelamatan pada ibu dan janin sudah di laksanakan.."
" ma.. masih ada??" Yoga tergagap tak percaya,
" tentu saja masih ada.." dokter Deddy tersenyum sembari mengangguk.
" bisa bertahan dok??" tanya Yoga lagi,
" dia bertahan.. untunglah kau bergerak cepat.."
mendengar itu Yoga terdiam, ia lega, namun.. ia tak bisa terlalu bahagia, pandangannya kembali layu.
" Aku tau apa yang kau pikirkan, kita usahakan yang terbaik untuk mempertahankan kehamilan istrimu..
dengan persetujuan mu tentu saja
kita harus segera melaksanakan operasi pengikatan untuk mencegah keguguran ke depannya.."
Yoga masih layu,
" tak ada yang bisa kupastikan sebelum operasi pengikatan, setelah itu kita awasi perkembangannya.." ujar dokter Deddy.
" Lakukan dok.. saya ingin melihat senyum istri saya, bukan air matanya.." Yoga masih begitu penuh harap.
Damar menunggu di samping pintu ruangan dokter Deddy dengan cemas.
" Bagaimana Yog?!" Damar menyambut adiknya yang keluar dari ruangan dokter Deddy dengan pertanyaan.
Yoga mengangguk, wajahnya terlihat lain, lebih tenang dan pucatnya memudar.
" Syukurlah..." ucap Damar sembari menutup matanya, dalam hatinya penuh rasa syukur, karena jika terjadi sesuatu yang menyedihkan, ia tak akan sanggup melihat bagaimana keterpurukan Yoga dan Dinda.
" Semua akan baik baik saja.." ujar Damar sembari memeluk Yoga.
Saat merasakan pelukan Damar, hati yang sedari tadi di kuat kuatkan mulai luruh.
Matanya yang penuh tatapan kosong itu mulai di genangi air mata,
bahu Yoga berguncang hebat, di sembunyikan wajahnya yang penuh air mata di bahu Damar.
Awalnya Damar tercengang, tak pernah dia menemukan Yoga serapuh ini, namun beberapa menit kemudian Damar menyadari, bahwa Yoga tetaplah manusia biasa, sekuat apapun ia melihat rasa sakit orang lain, belum tentu ia sanggup melihat rasa sakit istrinya.
" Tenanglah.." ujar Damar menepuk punggung Yoga layaknya seorang bapak yang menenangkan putranya.
Tak ada satu suarapun yang keluar dari mulut Yoga, selain isakan yang ditahan agar orang lain tak mendengarnya.
Dari kejauhan Kinanti dan Rakha memandangi Damar dan Yoga,
" Nan..??" panggil Rakha lirih, wajahnya di penuhi rasa takut saat melihat Yoga menangis di pelukan Damar.
Kinanti tak menjawab, raut wajahnya tak kalah cemas,
tak di hiraukan Rakha yang memanggilnya, ia segera berjalan secepat mungkin ke arah suaminya.
Yoga tertidur di sofa panjang yang berada tak jauh dari tempat tidur pasien, tentu saja ia lelah, beberapa bagian tubuhnya juga masih terasa sakit karena pukulan Rakha.
Sementara Dinda, perempuan itu sudah membuka matanya sedari tadi, mengawasi suaminya yang tertidur lelap.
Perempuan itu bergerak, berusaha bangun, namun di urungkan niatnya karena ada nyeri yang terasa di perut bagian bawahnya.
Di lempar pandangannya ke arah jendela, tirainya tertutup rapat, namun dari jam ia tau kalau ini tengah malam.
Yoga yang terlelap itu entah mengapa tiba tiba membuka matanya,
ia bangkit dan mendekat ke tempat tidur,
" Haus?" tanya Yoga sembari membelai dahi istrinya.
Dinda menggeleng pelan,
" kalau begitu tidurlah lagi.." Yoga mencium kening istrinya itu sembari tersenyum.
Dinda tak menjawab, namun matanya tak lepas dari wajah suaminya,
" Kenapa? ada yang sakit??" tanya Yoga karena istrinya itu diam saja.
Dinda tetap tak menjawab, cukup lama keduanya berpandangan, hingga akhirnya Yoga melihat ada air mata yang jatuh dari sudut mata istrinya.
" Iya.." ucap laki laki itu sembari mengangguk, ia menyadari ada yang yang harus ia jelaskan pada Dinda,
" Aku bersalah.. maafkan aku.." lanjutnya sembari menggenggam tangan Dinda dan menciumnya.
Mendengar itu tangis Dinda pecah, ia terisak isak di hadapan suaminya.
" Maafkan aku?? maafkan aku??" Yoga tak tahan melihat wajah pucat yang di penuhi air mata itu, di peluk istrinya.
" Aku begini karena aku mencintaimu.. tidak ingin kau kecewa dan terluka..?" ucap Yoga masih erat memeluk istrinya.
" Aku sungguh sungguh hamil..?" suara Dinda serak di sela isak tangisnya, ia masih begitu tak percaya dengan apa yang terjadi, tapi para dokter itu mengatakan bahwa dirinya hampir saja keguguran.
Hari berganti minggu, segalanya menjadi lebih baik dan tenang, termasuk Adinda.
" Aku mau lulus dulu, jadi jangan suruh aku hamil dulu ya suamiku!" tegas Kaila sembari mengiris mangga.
Yusuf yang duduk di kursi teras hanya nyengir.
" Sok sok nggak mau, tau tau buncit..!" ejek Damar membuat Kaila malu,
" Ih! mas masih dendam padaku?"
" siapa yang dendam, yang rugi kan kau, kenapa harus aku yang dendam.." jawab Damar meminum kopinya.
" Mbak?! suamimu itu?!" keluh Kaila pada Kinanti,
" Galak galak begitu dia yang paling bingung saat kau susah.." ujar Kinanti melempar senyum.
__ADS_1
Dari kejauhan terlihat Dinda dan Yoga yang berjalan mendekat,
" lha? mana mbah uti?" tanya Damar,
" mbah uti tidur, nanti saja kita kesana lagi.." jawab Yoga terus berjalan mendekat hingga akhirnya sampai di teras dan duduk.
" Ini jambu airnya.." Dinda menyerahkan satu kantong jambu air yang tumbuh rimbun di samping rumah mbah uti pada Kaila.
" Nah, ayo.. bagian motong memotong.." ujar Yoga pada Kaila.
" Yang rajin kuliahmu itu La?! jangan main dan jajan terus?!" imbuh Yoga.
" Ini juga ya, sebelas dua belas dengan mas Damar, aku ini selalu pulang tepat waktu dan kemanapun dengan suamiku?! tuh tanya orangnya langsung?!" Kaila menunjuk Yusuf, dan Yusuf hanya tersenyum.
" Sudah.. nanti purik.." sela Dinda yang ikut duduk di atas karpet, tepat disamping Kinan dan Kaila.
Di saat keluarga itu berkumpul dan berbincang hangat, terlihat sebuah mobil berhenti di kejauhan.
Lama mobil itu berhenti, sekitar 10 menit tak ada seorangpun yang turun dari dalam mobil itu.
" Mobil siapa?" tanya Yusuf penasaran membuat yang lainnya mau tak mau ikut memandang.
Wajah Dinda berubah tegang seketika, dan Yoga menangkap ketegangan itu.
" Biar aku yang bicara, akan kuberi pelajaran kalau dia belum kapok juga." Damar bangkit, namun Yoga mencegahnya.
" Jangan mas.. biarkan aku belajar menyelesaikan masalahku sendiri..
aku tidak bisa terus terusan sembunyi di bawah ketiakmu mas.." ujar Yoga dengan wajah tenang.
" Tidak.." suara Dinda menyela, ia menarik lengan suaminya.
" Kita lupakan saja, jangan berkelahi lagi.." raut wajah Dinda cemas, begitu juga dengan yang lainnya.
" Kutemani mas?!" Yusuf menyela,
" tidak usah Suf.." jawab Yoga bangkit,
" sudah kubilang jangan??!" Dinda menarik suaminya.
" Aku tidak akan berkelahi.. sudahlah.. diam saja disini makan rujak.." ujar Yoga berjalan menjauh dari teras dan berjalan mendekati mobil yang terparkir di samping jalan desa.
" Tok tok tok!" Yoga mengetuk kaca mobil yang berwarna hitam itu,
dan benar saja, saat kaca itu terbuka, muncullah sosok Rakha dari dalam mobil.
" Turunlah, kita bicara," Yoga terlihat tenang,
" Maafkan aku selalu menjadi orang yang pintar merusak suasana.." ujar Rakha dengan suara canggung.
Keduanya berdiri berhadapan, namun sudah tak ada tanda tanda permusuhan diantara keduanya.
" Apa sudah baik?"
" siapa? aku atau istriku?" tanya Yoga tak lepas menatap Rakha yang sesekali tertunduk.
" Kau dan Dinda.." jawab Rakha pelan,
" aku sudah membaik, kalau istriku..
kau boleh bertanya sendiri padanya," Yoga menoleh ada istrinya sejenak lalu kembali lagi pada Rakha.
" Tidak.. tampaknya dia sudah sehat.." ucap Rakha lalu lama membisu.
" Kau benar tidak mau masuk? ada mas Damar disana, tidak kau sapa?" tanya Yoga pada laki laki yang sudah meminta maaf mati matian padanya saat di rumah sakit.
" Tidak...aku kesini untuk melihat Dinda..
mungkin untuk yang terakhir kali.." ujar Rakha terlihat sedih dan kecewa.
" Kau tidak perlu berkata seperti itu, aku sudah cukup menerima permintaan maaf dan penyesalanmu yang kurasa cukup tulus itu.." Yoga berusaha mengerti.
" Tidak.. aku harus pergi jika benar benar ingin melupakan Dinda..
karena itu.. aku merasa perlu berpamitan denganmu.."
" kau mau kemana?"
dengan menyibukkan diri, mungkin aku akan segera melupakan apa yang sudah terjadi disini.."
Yoga menghela nafas, ia memang ingin Rakha melupakan istrinya, tapi melihat Rakha mengambil keputusan untuk pergi, hatinya juga tidak nyaman.
" Kau tidak perlu mengambil keputusan untuk pergi, kau kan sudah tau istriku sedang hamil dan kondisinya lemah.. aku yakin kau tak akan membuatnya kesusahan lagi.." ujar Yoga, namun Rakha menggeleng,
" Aku tidak bisa.. selama aku masih bisa melihatnya perasaan ini tidak akan mungkin berkurang..
rasanya dadaku sesak..
jadi lebih baik aku pergi..
ini untuk kebaikan kita bersama.." suara Rakha bergetar, ia mencuri pandang ke arah teras Yoga sesekali, melihat sosok Dinda dari kejauhan.
Dinda yang sedang duduk diantara para saudaranya itu bahkan tak menatapnya sedikitpun.
" Sakit sekali rasanya.." gumam Rakha,
" baiklah.. sampaikan salamku pada senpai..
aku akan mengunjunginya saat aku sudah sembuh dari patah hatiku.." Rakha mengulurkan tangannya, Yoga menyambut dan keduanya berjabat tangan.
" Jangan sia siakan Dinda.. dia perempuan yang baik meski sedikit keras kepala.." pesan Rakha sebelum ia pergi berlalu dengan mobilnya.
Bagas sudah terlelap, namun Dinda enggan meninggalkannya, hingga Yoga menyusulnya.
" Mau tidur disini?" tanya Yoga membuka pintu kamar Bagas.
" Tidak, tapi masih ingin tidur disampingnya sedikit lebih lama.." Jawab Dinda tidak bangkit dari posisi berbaringnya.
Yoga mendekat,
" Ayo pindah ke kamar, ini sudah hampir tengah malam.." Yoga tanpa bertanya menggendong istrinya, dan memindahkan nya ke kamar mereka.
" Kau harus menjaga kesehatanmu.. jangan begadang.." ujar yoga setelah membaringkan istrinya di atas tempat tidur.
" Kau sendiri? kenapa belum tidur semalam ini? apa kepikiran Rakha yang datang tadi??" tanya Dinda memberanikan diri, karena sejak siang dirinya tak berani bertanya atau bahkan membahas kedatangan Rakha.
Yoga tersenyum,
" Kenapa ku harus kepikiran?"
" apa dia mengatakan sesuatu yang menganggu pikiranmu??"
Yoga menggeleng,
" dia pamit.."
" pamit??" Dinda bangkit dan duduk di hadapan suaminya.
" Iya.. dia pindah ke jawa tengah untuk membuka cabang usahanya yang baru.."
" pamit? padamu?? sejak kapan kalian jadi akrab??" Dinda mengerutkan keningnya.
" Kadang seusai perkelahian, dua laki laki bisa menjadi lebih dekat dan akrab.." Yoga mencubit pipi istrinya.
" Jangan bercanda.. yang benar saja.." Dinda menggerutu tak percaya,
" Dia sudah berjanji tak akan menganggu istriku lagi.. jadi untuk apa aku gusar?"
raut wajah Yoga terlihat tenang saat mengatakannya, membuat Dinda yakin bahwa semua memang sudah baik baik saja sekarang.
" Apa tidak ada lagi yang kau sembunyikan dariku??" tanya Dinda kemudian,
" apa itu sayang??"
" entahlah.. apapun itu? hal besar ataupun kecil..
kumohon jangan berbohong lagi meskipun itu demi kebaikan ataupun hal itu akan menyakitiku??"
Yoga menghela nafas, dan terdiam sejenak.
__ADS_1
" Berjanjilah..?" pinta Dinda,
" nggih.. janji.. ke depannya tidak akan merahasiakan apapun lagi.." Yoga mengecup kening istrinya.
Kinanti terbangun, ia tak menemukan anak dan suaminya disampingnya.
Perempuan itu buru buru keluar dengan kantuk yang masih melekat.
Langkahnya terhenti di ruang tengah, dari jendela ia bisa melihat suami nya sedang duduk di gazebo sembari menina bobokan Gendhis.
Laki laki berkulit sawo matang itu terdengar bernyanyi lirih, sementara Gendhis terlihat terlelap di pangkuannya.
Kinanti berjalan mendekat, dan duduk di samping suaminya.
" Kenapa tidak membangunkanku mas?"
Damar menatap istrinya,
" kenapa bangun, tidurlah kembali.. biar Gendhis denganku.." ujarnya seperti tak senang istrinya itu terbangun.
" Mas besok kan mau ke surabaya.. biar aku yang mengendong Gendhis.." jawab Kinan terlihat tidak tenang karena Gendhis rewel mulai pulang dari rumah Yoga tadi sore,
dia betah bermain dengan Bagas dan tidak mau di ajak pulang, dan rewelnya terbawa sampai malam.
" Ku kira setelah tidur dia tidak akan rewel lagi.." imbuh Kinan,
" Dia hanya merengek sebentar, setelah ku bawa keluar dia langsung tertidur, kau lelah seharian masak masak dirumah Yoga, sudah istirahatlah.."
" Lelahku sudah hilang mas, sudah.. ayo masuk.." ajak Kinanti.
" Ya sudah.. ayo," Damar bangkit dengan putrinya yang lelap di gendongannya.
Setelah membaringkan putrinya, Damar tak melanjutkan tidurnya, ia malah kembali keluar dan merokok.
" Ada yang menganggu pikiranmu mas??" Kinanti menyusul suaminya sembari membawa teh hangat.
" Kopi mana?" tanya Damar melihat segelas teh di hadapannya.
" Ini sudah tengah malam, masa minum kopi..
coba di kurangi kopinya, sudah rokok.. kopi.."
Damar tertawa kecil mendengar gerutuan Kinan,
" kenapa.. takut aku penyakitan dan mati cepat??"
" huss!!" Kinanti menutup mulut Damar dengan cepat.
" Kalau ngomong?!" Kinanti tidak suka dengan ucapan suaminya yang sembarangan.
" Sembarangan bagaimana? aku mengatakan sesuatu yang pasti akan menghampiri semua orang.."
" Husss! tidak?!"
" kau itu.." Damar lagi lagi tersenyum, di pindahkan segelas teh itu, lalu di tarik Kinan ke dalam pelukannya.
" Kau kira untuk apa aku bekerja keras.. padahal di usiaku yang seperti ini aku bisa santai dan menikmati uangku dengan sedikit berfoya foya..
kau kira untuk apa aku membangun semua usahaku di samping rumah..?" Damar membuang rokok di tangannya.
" Aku ingin kita menghabiskan waktu lebih sering..
karena aku tak pernah tau sampai kapan aku bisa menemanimu dan putri kita..
aku menyimpan semua hasil kerjaku dengan baik.. semua itu demi dirimu dan anak kita kelak..
jika suatu ketika aku pergi menyusul Aji terlebih dahulu..
maka aku akan pergi dengan tenang, karena aku sudah meninggalkan banyak hal.."
" Ngomong apa sih mas?!!" Kinanti memukul dada suaminya,
" Aku tidak mau mendengarkan hal hal semacam itu! kau itu masih sehat dan gagah!" tegas Kinan.
" Aku hanya berkata.. suatu ketika nanti.."
" tetap saja! jangan bicara!"
melihat istrinya yang seperti itu Damar tertawa, ia mendekap istrinya lagi.
" Istriku sayang.. berikan aku dua anak lagi.. setidaknya banyak yang menjagamu ketika aku tidak ada nanti.."
" astagaaa?!! mulutmu mas?!!" Kinanti membungkam mulut Damar.
" Kalau aku yang duluan bagaimana?!" celetuk Kinanti,
Damar yang tadinya tersenyum senyum tiba tiba diam, ekspresinya berubah serius.
" Sudah bercandanya.." ucapnya terlihat gelisah.
" Aku bilang apa dari tadi, bicara yang baik baik saja?!, karena ucapan itu bisa menjadi Doa, dimana sih suamiku yang dewasa dan bijaksana..?"
" Aku hanya.." Damar tertunduk,
" aku sesungguhnya takut dengan masa depan.. melihat Yoga dan Dinda membuatku cemas.."
" apa yang mas cemaskan?"
Damar diam,
" banyak.. toh pada kenyataannya aku tidak sesempurna apa yang di lihat orang orang.." ucapnya kemudian,
" Mas sudah memberiku dan Gendhis yang terbaik..
bahkan sudah berpikir panjang untuk keberlangsungan hidup anak istrimu saat kau sudah tidak ada..
apa yang kurang dari dirimu mas?
mungkin untuk orang lain mas tidak sempurna, tapi untukku dan Gendhis mas sudah sempurna.." tegas Kinan dengan suara kalem.
Mendengar ucapan istrinya membuat hati Damar tenang, rupanya ia tidak salah sudah memperjuangkan Kinanti sejak awal.
Ia jadi ingat saat pertama kali berkunjung kerumah Kinanti, disanalah pertama kalinya hatinya berdebar melihat seorang gadis berseragam putih abu abu,
jika dulu ia tidak tau apa arti getaran itu, maka sekarang ia tau dengan jelas, bahwa sejak itulah hatinya sudah jatuh pada Kinanti.
Damar menghela nafas yang cukup panjang,
" Ternyata luka itu berguna.." ucap Damar tiba tiba teringat kenangan kenangan buruknya di masa lalu,
" karena luka yang kudapat dulu, aku jadi lebih bisa menghargai apa yang kupunya sekarang.." imbuh Damar sembari membelai istrinya,
" itu karena mas belajar dari kesalahan orang orang di sekitar mas.." Damar kembali tersenyum.
" Tidak ada yang sempurna mas.. aku juga tidak bisa memastikan bagaimana kita ke depannya..
tapi selama mas memandang tinggi sebuah tanggung jawab.. maka perasaan senang tidak lagi menjadi sebuah prioritas..
banyak rumah tangga yang hancur hanya karena di dasari rasa senang atau rasa cinta yang sudah pudar..
mereka lupa, bahwa senang atau tidak, menjaga keutuhan rumah tangga adalah sebuah tanggung jawab..
menjadi setia juga salah satu kewajiban dan tanggung jawab yang sudah di pilih saat dua orang memutuskan untuk menjadi satu..
Kulitku bisa keriput, kecantikanku bisa pudar..
aku akan cemas setiap waktu jika menikah dengan seseorang yang hanya berbekal cinta untukku..
tapi mas berbeda,
sejak awal mas sudah mengambil tanggung jawab atas diriku..
janji yang mas tunaikan pada almarhum mas Aji, mas laksanakan dengan baik..
dan aku berharap tanggung jawab ini mas jaga sampai akhir.." ujar Kinanti lalu menyandarkan kepalanya di dada suaminya dengan pasrah.
Dirinya memang tak pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan, baik dengan dirinya dan suaminya,
namun Kinanti cukup yakin, bahwa suaminya adalan sosok laki laki yang lebih mementingkan tanggung jawabnya dari pada kesenangannya sendiri.
__ADS_1
" Aku mencintaimu Nan.." ujar Damar berbisik di telinga istrinya, lalu menghela wajah istrinya dan menciumnya dengan penuh rasa sayang yang dalam.