Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
keresahan Yusuf


__ADS_3

Berminggu minggu berlalu setelah pertengkaran Kinanti dan Damar.


Keduanya menjaga Jarak, beberapa orang yang tak begitu mengenal keduanya tidak akan begitu menyadari perbedaan sikap mereka,


namun orang yang sudah mengenal dan akrab pastinya tau, bahwa sesuatu yang tidak biasa sedang berlangsung.


" Kau ada masalah?" tanya Yusuf,


" masalah apa? tidak.." jawab Kinanti sibuk membolak balik contoh kain kebaya yang rencananya akan di jahit dua bulan sebelum hari pernikahan.


" Kok mau menikah wajahmu masam terus.."


" masam bagaimana? memangnya aku harus haha hihi.. yang ada Haikal tidak jadi menikahi ku karena aku terlalu banyak tertawa sendiri.."


Yusuf terdiam, ia terlihat bimbang.


" aku merasa entahlah melihatmu.." ujarnya,


" Entahlah kenapa?"


" apa aku berbuat hal yang tidak benar dengan mendekatkanmu pada Haikal?"


" Salah kenapa? aku bersyukur dia serius denganku.." mata Kinanti masih terus mengawasi contoh contoh kain.


" Aku merasakan kau tidak bahagia.. setiap melihatmu hatiku seperti di sumpal dengan batu yang besar.."


" Kau berlebihan.."


" aku kasian padamu.." wajah Yusuf benar benar mengkhawatirkan Kinanti.


Kinanti tak menjawab, ia berekspresi datar saja.


" Kau undur saja.. pikirkan lagi.."


kalimat Yusuf membuat Kinanti sontak memandangnya.


" Kenapa semua orang menjadi gila dalam sekejap..


ketika aku tidak memiliki calon pengantin semua sibuk menyuruhku menikah, tapi ketika aku sudah mau melangkah.. semua menjadi batu pengganjal yang besar..?!" Kinanti sinis.


Yusuf kembali terdiam,


" Aku melihatmu.." ucap Yusuf pelan,


" melihatku? maksudmu?"


" Aku melihatmu berciuman dengan mas Damar.."


Kinanti tersentak, rasa malu menyelimutinya tiba tiba,


" maafkan aku.. aku tidak sengaja.." ujar Yusuf lagi tertunduk, ia merasa bersalah.


" Kau melihat pertunjukan yang bagus ya? kau ingin mengejekku sekarang?" suara Kinanti menahan malu dan marah.


" Tidak.. justru hatiku jadi berantakan setelah melihat kalian..


keyakinan ku menjadi pudar seketika.."


jawab Yusuf dengan pandangan masih bimbang.


" Apa yang kau bingungkan Suf.. biarkan semua berjalan seperti semula.." ucap Kinanti tenang kembali melihat tatapan mata Yusuf yang penuh kekhawatiran.


" kau bilang.. aku harus membahagiakan ibu..


menenangkan hatinya juga termasuk membahagiakannya bukan?"


Yusuf tertunduk lebih dalam.


" Tidak.. entah kenapa aku tidak bahagia sekarang..


ah.. sudahlah.." ujarnya bangkit dan berjalan keluar begitu saja meninggalkan Kinanti.


Damar duduk diatas tumpukan karung yang berisi gabah, gabah adalah padi yang masih belum di bersihkan dari kulitnya.


Matanya menyalang menatap hamparan sawah milik mbahnya.

__ADS_1


beberapa petak sudah di panen habis, dan beberapa petak lagi sudah siap panen.


Ibu ibu dan bapak bapak di desa selalu giat bekerja bersama sama.


Mereka juga selalu guyup rukun Dalam berbagai hal.


" Mas Damar?" panggil seorang bapak,


kelihatannya mereka sedang beristirahat dan berkumpul makan siang.


beberapa orang bahkan mengambil daun pisang dan menjadikan daun pisang itu sebagai piring,


hanya dengan melihat saja entah kenapa Damar senang sekali.


Padahal yang mereka makan hanyalah ikan asin,tahu, tempe dan daun singkong rebus plus sambal.


Tapi mereka tampak lahap sekali.


" Sini mas, maem..?!" panggil seorang ibu.


Damar tersenyum,


" Sampun bu.. njenengan maem.." jawab Damar menolak halus.


" Mbok di cicipi mas.. apa karena hanya tempe tahu mas e ndak mau?"


Damar merasa tidak enak, ia justru takut di kira sombong atau apalah kalau menolak.


Akhirnya ia turun dari tumpukan karung berisi gabah basah itu, lalu mendekat ke arah bapak dan ibu ibu yang sedang berkumpul untuk makan.


" Saya doyan sekali sambel, tapi tadi sebelum berangkat kesini makan dulu budhe.. jadi masih penuh perutnya..


saya minta tahu gorengnya saja nggih.." Damar meringis, lalu mengambil satu tahu goreng.


" Hemm.. ganteng ganteng kok doyan ne tahu..!" komentar si ibu, dan semua orang tertawa.


" Iya e mas.. sudah ganteng, rajin lagi.. kapan menikah mas Damar?!" sahut seorang ibu yang duduk sedikit jauh.


Damar tertawa, meskipun dalam hatinya sedikit pedih.


" Lho.. tenan tho ini? ya banyak yang antri..!"


Damar tertawa lagi,


" Siapa perempuan di kampung ini yang nggak mau sama sampean tho mas.. tinggal pilih,


pabrik ada, tanah luas.. saya saja kalau masih muda dan bujang ikut antri..!"


semua orang tertawa lebih keras, namun tidak dengan suami si ibu itu.


" Guyon pak.. guyon...?!" ujar si ibu menenangkan suaminya yang berwajah masam karena gurauan istrinya.


" Hayoo.. bulek sih.. purik wes.." goda Damar sembari tertawa.


" Lha.. bercanda lho mas Damar.."


" Inggih.. bercanda..!" jawab Damar masih tertawa.


Dari jauh terlihat Winda dan berjalan perlahan kearahnya, di susul Bagas di belakangnya.


" Banyak ular mbak, kok diajak kesini?" tanya Damar ketika keduanya sudah di hadapannya.


" Orang dia mewek, mau ikut bapaknya kerja.. ya sudah, ku bawa kemari saja.." jelas Winda.


" Lha? kesini?!" Damar menyuruh bagas mendekat ke pangkuannya.


" Kan sudah di beritahu sama om.. anak laki laki tidak boleh?"


" Cengeng.." jawab Bagas duduk di pangkuan Damar.


" Sekarang diam disini sama om, setelah ini kita cari capung dan belalang ya?"


" iyahh!" jawab Bagas gembira.


" Ayahnya keluar kota.. ada acara, malam ini dia tidur denganku.." ujar Winda,

__ADS_1


" Wah.. bagaimana kalau tidur dengan om Damar saja malam ini? Kita nonton film?"


senyum Bagas terkembang lebar,


" Jangan, kalau kau mimpi buruk tiba tiba bagaimana? kasian Bagas kaget.." Winda khawatir,


" Kau lebih sering bermimpi minggu minggu ini.. jangan ah, boleh nonton dengan om Damar, tap setelah itu di jemput budhe ya..??"


Bagas kecewa, namun ia tetap mengangguk.


" Anak baik.." Damar membelai kepala Bagas.


" Oh ya.. besok kita ada makan makan Dam, dirumah mbak ya.." beritahu Winda,


" ada acara apa memangnya mbak?"


" Ah.. iseng saja, lama kita tidak berkumpul, masa kita kalah sama bapak dan ibu ibu itu.." Winda menunjuk ke arah para pekerja yang masih santai makan siang.


" Aku iri melihat orang orang yang selalu guyup rukun.. apa keluarga kita tidak bisa?"


" bisa mbak.. toh kita tidak pernah ribut dan berebut apapun.." jawab Damar,


" Bukan tidak pernah ribut, tapi kau saja yang selalu mengalah.."


Damar tersenyum.


" Jangan lupa besok sore.. ada keluarga jauh kita juga yang datang,


yang jelas akan ada banyak perempuan cantik.."


" ah.. aku lupa ada kelas sore.."


" jangan alasan.. kau mau duduk termenung terus sepanjang hari meratapi kesedihan hatimu? seperti yang sudah kau lakukan berminggu minggu ini?!"


" Aku tidak meratap.. aku baik baik saja.."


" Ah.. kepedihan hatimu seperti bon tagihan untukku, terlihat jelas di mataku Dam,


jadi berhentilah membohongi mbak mu ini..


kalau memang dia sudah memilih laki laki itu, kau juga harus memilih seorang perempuan.." tegas Winda.


" Tapi aku tidak ingin berhubungan dengan perempuan lain mbak.." jawab Damar malas.


" Jangan keras kepala, setidaknya berkenalan lah dengan seseorang,


tidak perlu ke pernikahan dulu..


jalin hubungan saja pelan pelan,


saling menemani dan mengerti satu sama lain.."


Damar diam, tak menjawab,


ia tau semakin ia menjawab, kalimat Winda akan semakin panjang,


bagaimana dia bisa mengenal perempuan lain, sementara hanya Kinanti saja yang berada di pelupuk matanya sekarang, akan tidur, dan bangun tidurpun wajah Kinanti seperti terlukis di langit langit dan seluruh dinding kamarnya.


Ia sudah bersikap berani dan gila malam itu,


ia lepaskan seluruh harga diri, rasa malu dan etikanya,


namun tetap saja Kinanti yang keras kepala itu menolaknya.


Apa yang harus Damar lakukan, Kinanti memang mirip sekali dengan Aji, bersama Kinanti seperti kembali bernostalgia dengan Aji.


Kadang Damar sering berpikir buruk, apa harusnya ia bawa lari saja Kinanti?,


itu yang dia pikirkan di saat saat frustasi, di saat kewarasannya hilang sesaat.


Namun sebagai pribadi yang dewasa ia di paksa harus ikhlas,


ia harus menghargai pilihan Kinanti, dan menerima dengan baik,


walau hatinya seperti tersayat setiap membayangkan Kinanti akan duduk di pelaminan dengan laki laki itu.

__ADS_1


__ADS_2