
" Ku dengan kau sudah beli mobil baru lee..?" tanya si mbah sembari mengaduk kopi yang sengaja ia buatkan untuk cucunya itu.
Damar tersenyum, ia mengambil kopi yang sudah di aduk itu dan menaruhnya di sampingnya.
Sementara dirinya duduk tak jauh dari tungku api yang selalu di pergunakan mbah utinya itu untuk memasak.
" Nggih.." jawab Damar pendek,
" Padahal mbah sudah menyuruhmu beli sejak dulu.." ujar si mbah memandangi cucunya itu penuh kasih sayang.
" Ada yang menganggumu le..?" tanya si mbah lagi, ia menangkap kegelisahan di raut wajah Damar.
" Mboten mbah..( tidak mbah..)" jawab Damar kalem.
" Ada yang sedang kau pikirkan, entah sedikit atau banyak, itu terlihat jelas.. mataku sehat sekali le.. meski usiaku sudah renta.."
kata kata mbah membuat laki laki itu terdiam,
" mbah.." panggil Damar ragu,
" ngomongo.. seng mbok pikir iku opo tho.. ( ngomong saja.. yang kamu mikir itu apa..)" suara mbah uti memberi rasa nyaman.
" Tiba tiba ada rasa takut mbah.." ujar Damar lirih,
" takut opo ( apa ) tho le?"
" sebenarnya khawatir saja mbah.."
" tentang..?"
Damar diam, ia menimbang nimbang tentang apa yang akan di katakannya,
" Rasanya picik sekali pemikiranku ini mbah.. dan aku tidak pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya..
tapi.. ku harap mbah bisa menjaga semua keluhanku ini,
aku membicarakan ini dengan mbah saja, tidak dengan orang lain..
karena aku ingin tau, apa yang kurasakan ini sesuatu hal yang normal atau berlebihan.." raut wajah Damar sayu.
" Rene... ( sini...)" si mbah menepuk kursi disampingnya, menyuruh cucunya itu untuk duduk lebih dekat.
" Perihal apa ini le?" tanya si mbah kalem setelah Damar berpindah duduk di sampingnya.
" Aku melihat Yoga memandangi istriku dengan pandangan yang sedikit.." Damar terhenti, rasanya ia tidak sanggup melanjutkan kata katanya.
" Tidak mbah.. mungkin ini hanya pikiranku saja yang picik.." ujarnya kemudian tertunduk.
Si mbah tersenyum melihat cucunya itu, ia bisa menangkap apa yang akan Damar bicarakan.
" Jadi.. akhirnya kau beli mobil karena cemburu pada Yoga?" ucap si mbah membuat Damar membeku,
semua perasaannya sudah ketahuan oleh mbah utinya itu hanya dengan beberapa kalimat.
Si mbah menepuk punggung Damar,
" Apa yang membuatmu begitu cemburu pada adikmu itu le?" tanya si mbah,
Damar tak langsung menjawab, ia masih meraba perasaannya perlahan.
" Tatapannya.. berbeda mbah.." jawab Damar kemudian,
" Yoga memang ganteng, tapi apa kau juga tidak pernah melihat cermin le?"
Damar tertunduk,
" Kau itu juga ganteng, manis.. tinggi, gagah.. apa yang kurang dari dirimu nak..?" lanjut si mbah, namun Damar masih tertunduk.
" Wajar saja Yoga menatapi istrimu..
istrimu itu cantik.. dan Yoga sudah lama menduda..
mbah kira manusiawi jika ia terpesona sedikit,
__ADS_1
tapi mbah yakin.. Yoga pasti tau diri.."
Damar yang masih terdiam itu mengangguk akhirnya.
" Kau sebelumnya tidak pernah seperti ini le.. dan itu bukan hal yang pantas mbah anggap remeh..
mungkin ada sikap yang Yoga kagumi dari istrimu? kedekatannya dengan Bagas mungkin yang membuatnya merasa senang..
maklumilah, Bagas tumbuh tanpa sosok ibu..
dan sekarang istrimu seperti sosok ibu yang sempurna untuk Bagas,
Yoga pasti merasakan itu..
kasih sayang Kinanti yang tulus untuk putranya..
wajar kalau timbul rasa senang atau kagum di hatinya.."
Damar hanya mengangguk saja.
" Damar.. kalau memang ada perasaan semacam itu di hati Yoga,
yang harus kau lakukan adalah memberinya pengertian..
bukan malah berusaha menyainginya..
berpikirlah dengan jernih..
kau bukan saingan Yoga,
dan Yoga tidak bisa menyaingimu..
Yoga pasti sadar itu..
Yoga di besarkan dengan kasih sayang yang melimpah, segala kebutuhannya terpenuhi..
sedangkan kau, meski anak orang mampu kau tetap susah payah lee..
dan itu membuatmu bijak..
tapi mbah lebih menghargai jerih payahmu..
Sebagai sosok yang lebih dewasa, rangkulah adikmu,
buat dia merasakan kasih sayangmu sehingga dia enggan untuk menyentuh milikkmu.."
Damar menatap mbah utinya itu, matanya berkaca kaca.
" Istrimu itu perempuan yang baik.. jadi percayalah padanya.." ujar si mbah lagi.
" Iya mbah.." jawab Damar akhirnya, ia merangkul lengan mbah utinya itu, lalu menundukkan kepalanya dan bersandar pada bahu mbah utinya.
" Owalah le.. seng sabar.. ( yang sabar..) uripmu pasti penak... ( hidupmu pasti enak..)" ujar si mbah sembari mengelus kepala Damar.
Winda mengendong Bagas yang masih tertidur disamping Yoga.
" Kau masuk siang?" tanya Winda pada Yoga yang masih terbaring di atas tempat tidur.
Laki laki itu mengerjap ngerjapkan matanya, lalu bangkir duduk.
" Iya mbak.. mau di bawa kemana?" tanya Yoga,
" pengasuhnya ijin tidak masuk.. jadi biar mandi dirumahku..?" ujar Winda.
" Biar disini saja mbak bersamaku, toh aku masuk siang.." sahut Yoga.
" Ah, biar ku bawa kerumah, kau terlihat suntuk beberapa hari ini, aku jadi tidak tenang meninggalkan Bagas bersamamu.."
" Sesuntuk suntuknya aku, aku tetap ayahnya mbak.. tidak mungkin tidak merawatnya?" tukas Yoga,
" Aku tau itu, ada baiknya kau mulai membuka hati, masa Bagas akan kau biarkan tanpa ibu terus sampai dewasa?"
" Ah, mbak Win, pagi pagi bahas begini?!" Yoga sontak bangun, suaranya meninggi karena kesal.
__ADS_1
" Aku bicara begini karena perduli pada kau dan putramu?"
" Kalau mbak perduli harusnya mbak dulu membantuku?! bukan diam saja!" tegas Yoga,
" Apa maksudmu Yog?!"
" Mbak tau aku tidak mencintai ibu Bagas?! tapi mbak bahkan tidak membantuku di hadapan orang tua kita sama sekali?! aku ini adikmu mbak?!,
dan sekarang setelah nasibku seperti ini kau menyalahkan aku?!"
" Kau bicara melantur kemana mana?!" Winda kaget dengan emosi Yoga yang tiba tiba saj naik, padahal selama ini Yoga sosok yang mengabaikan masalahnya.
" Aku mencintai perempuan lain! sampai detik ini aku mencintainya!
hidupku rusak karena keangkuhan orang tua mu mbak! dan sekarang anakku yang harus menanggungnya?, perempuan itu pilihan orang tuamu mbak!
perempuan yang tanpa perasaan meninggalkan putranya yang masih merah!" Yoga lepas Kontrol, emosi yang sudah di tahan tahan beberapa tahun ini meluap begitu saja.
" Mereka juga orang tuamu Yog! jaga ucapanmu?!" tegas Winda.
" Jangan kau paksa paksa aku menikah lagi! aku masih mencintai perempuan yang ku tinggalkan dulu.." suara Yoga menurun, ia duduk di tepian tempat tidur sembari menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
" Andai tidak ada Bagas, aku pasti sudah menyingkir dari tempat ini.." keluhnya pelan.
" Ini salahmu sendiri, yang tidak menerima segalanya dengan baik..
jika bicara terluka, aku pun juga mempunyai banyak luka,
tapi aku sudah merelakannya,
kau tau.. aku juga menikah dengan ayah anak anak bukan karena cinta,
kau tau dengan benar orang tua kita tidak akan mengijinkan kita menikah dengan orang yang kemampuannya di bawah kita..
harusnya permasalahanku dulu bisa membuat langkahmu lebih berhati hati?!"
tegas Winda tegar.
" Aku tidak bisa bersikap sepertimu?! mengabaikan perasaanku?!"
" Lalu apa yang akan kau lakukan? terus tenggelam dalam masa lalu? bergulat dengan kepedihan dan penyesalan mu?!
kau punya anak yang harus kau pikirkan masa depannya?"
" Tapi aku tidak harus menikah lagi?!"
tegas Yoga keras, membuat Bagas yang berada di gendongan Winda terbangun.
" Uh.. sayang, kaget ya?" Winda mengelus punggung Bagas.
" Kita hentikan pembicaraan yang menguras emosi ini, aku tidak mau pagiku buruk hanya karena kau yang sedang tidak bisa menguasai dirimu!" tegas Winda lalu berjalan pergi sesegera mungkin, ia tak mau berdebat lagi dengan Yoga, meski sesungguhnya hatinya pedih sekali melihat adik semata wayangnya itu.
Ia tau benar, apa yang di lakukan orang tuanya dulu,
dan bukan hanya Yoga saja yang di perlakukan seperti itu, tapi dirinya juga.
Namun seiring waktu ia mampu menerima keberadaan suaminya.
Bukan berarti Winda tidak memiliki seseorang yang ia cintai,
posisi Winda justru lebih menyedihkan.. laki laki yang ia cintai adalah anak salah satu pekerja bapaknya, lebih tepatnya putra dari buruh bapaknya..
dan Winda tau, hubungan mereka tidak akan pernah mendapatkan restu.
karena itu Winda menerima kenyataan, tidak menentang apapun dan berpisah baik baik dengan laki laki itu.
Dan untungnya laki laki itu menyadari sehingga keduanya ikhlas dan rela menerima.
Winda mengeluh dalam hati,
ia tau Yoga begitu menderita dengan perasaannya, tapi sebagai seorang kakak ia tidak harus memikirkan nasib Yoga saja, tapi juga nasib keponakannya Bagas.
Winda mengusir kegaduhan di hatinya dengan segera, ia harus berhadapan dengan anak anak dan suaminya, dan perasaannya tidak boleh teracuni oleh pertengkarannya dengan Yoga,
__ADS_1
ia terus saja berjalan ke arah rumahnya sembari mengendong Bagas yang tertidur kembali di pelukannya.