Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
aku tidak menyalahkan ibu


__ADS_3

" Aku akan menuruti apa kata mas Damar.." Kaila berdiri dari posisi duduknya, dan berjalan menuju kamar.


" Jadi kau akan meninggalkan ibu??" si ibu mengejar langkah putrinya.


" Aku tidak meninggalkan ibu..


sudah sewajarnya aku mengikuti suamiku.." jawab Kaila masih meneruskan langkahnya.


" Kau bisa hidup disini dengan suamimu?! lagi pula suamimu belum tentu bisa menjamin kenyamananmu?!"


" Ibu?!" langkah Kaila terhenti, di tatap ibunya dengan perasaan campur aduk.


" Aku akan belajar bertanggung jawab atas apa yang sudah kulakukan dan kupilih,


biarkan aku tumbuh menjadi lebih dewasa bu,


sesulit apapun aku di luar.. biarkan saja, anggap ini semua hukuman untuk mendewasakanku.." ujar Kaila pada ibunya.


Gadis itu terlihat begitu pasrah pada keadaan, tak ada ekspresi manja dan merajuk seperti biasanya.


" Jadi kau lebih patuh pada Damar dari pada ibumu yang melahirkanmu?!" si ibu tetap saja tak mau mengerti dan menerima.


" Bu.. aku ini bersalah dan berdosa besar, aku tau ibu sayang padaku..


tapi kasih sayang ibu kadang membingungkanku..


ibu juga tak pernah mencegahku selama aku senang.."


" Ibu tak pernah mencegahmu karena ibu tau kau bahagia dengan apa yang kau lakukan?!"


" tapi tidak semua kebahagiaan itu benar bu??"


" Bagus.. sekarang kau menyalahkanku?"


" aku tidak menyalahkan ibu.. tidak bu, aku yang sepenuhnya bersalah..


aku harusnya lebih bisa bersikap dewasa dan bertanggung jawab pada diriku sendiri.." Kaila melanjutkan langkahnya.


" Tidak! jangan pergi kemanapun setelah menikah?! ibu tidak mau hidup sendiri disini!" tangan Kaila di tarik oleh ibunya.


" Aku susah payah masuk ke keluarga ini tidak untuk hidup susah?! tidak untuk melihat anak kandungku menderita?! ini rumahmu, setengah dari harta Damar juga hartamu?!


kau tidak boleh pergi dan menyerah begitu saja!" tegas si ibu membuat Kaila mau tidak mau menangis.

__ADS_1


Sedih rasanya dalam kondisi seperti inipun yang terpikirkan oleh ibunya adalah harta.


" Ibu?, jadi benar kata orang orang? kalau ibu memang mengambil posisi nyonya dirumah ini dengan cara yang tidak benar?" tanya Kaila membuat ibunya membeku, raut wajahnya ibunya berubah bingung seketika.


" Benarkan bu??" tanya Kaila lagi, namun tak juga mendapat jawaban.


Ibu Kaila melangkah mundur,


" Baiklah.. tak usah menjawab bu, lebih baik aku tak tau apa yang sudah ibu lakukan di masa muda ibu.." ujar Kaila sembari menyeka air matanya sendiri.


" Jangan pernah lagi membahas tentang hakku di keluarga ini bu..


aku sudah cukup malu dengan kelakuanku,


jadi..


jangan menambah rasa maluku dengan ambisi ibu yang sudah keterlaluan itu..


mas Damar,


dia sudah terlalu baik pada kita..


dia benar benar bersikap tulus padaku bu..


layaknya dia tidak pernah kecewa pada ibu..


ibu tenanglah.. aku akan menjenguk ibu dengan rajin setelah menikah,


maafkan aku.. mungkin aku juga tidak akan bisa menjadi sarjana seperti saudara ku yang lain..


setelah menikah aku sepenuhnya tanggung jawab suamiku,


dan aku tak mau terlalu membebani suamiku..


aku akan bekerja.."


mendengar itu si ibu tidak menjawab, tapi air matanya mulai berjatuhan.


Perempuan yang sudah tidak bisa di katakan muda lagi itu terduduk lemas di lantai dan terisak isak.


Suara tangisnya begitu menyakitkan, entah apa yang di tangisi.. keputusan Kaila yang menyerah dengan pendidikannya, atau takut putrinya itu tidak bisa hidup bahagia karena menikah dengan laki laki yang biasa biasa saja.


" Ini yang ku takutkan.. ini yang kutakutkan..?! dan ini semua telah telah terjadi padamu.." ucap ibu Kaila di sela isak tangisnya, suara terdengar begitu kecewa dan tak berdaya.

__ADS_1


Yoga turun dari mobilnya, dan masuk ke butik langganan Winda.


" Mas Yoga?" tanya pemilik butik,


" Iya, saya sudah ada janji.." jawab Yoga yang tampil segar dan bersemangat hari ini.


Rambutnya terlihat di potong lebih pendek dari biasanya, dan baju yang ia kenakan pun santai, berwarna lebih cerah dari pada biasanya.


" Adik Winda kan?" tanya perempuan yang seusia dengan Winda itu, namun penampilannya lebih modis dan mencolok.


Yoga mengangguk,


" Istrinya tidak di bawa?"


" tidak perlu, saya sudah faham ukuran tubuhnya.." jawab Yoga dengan percaya diri.


" Ya sudah.. kita ke atas mas.." ajak si pemilik butik itu dengan senyum ramahnya.


Setelah setengah jam Yoga memilih milih gaun untuk Dinda, beberapa pembeli lain masuk, ada dua perempuan yang juga sedang sibuk memilih milih gaun.


" Apa kabar mas?" sapa satu orang perempuan yang kebetulan sejak masuk memperhatikan Yoga yang sibuk membolak balik gaun pilihannya.


" Bicara dengan saya?" tanya Yoga menoleh kearah perempuan yang tau tau berdiri disampingnya.


" Iya.. mas Yoga kan?" perempuan berambut panjang dan berkulit putih itu tersenyum manis.


" Maaf siapa?"


" Saya Arin.."


" Arin siapa?"


" Arin, teman Vania.."


Mendengar nama itu raut Yoga berubah, di taruh gaun yang di tangannya kembali ke tempatnya.


" Maaf, saya tidak kenal.." ujar Yoga tanpa senyum, laki laki itu berbalik begitu saja dan berjalan pergi.


" Tidak ada yang sesuai dengan selera mas Yoga?" tanya si pemilik saat tau Yoga turun dari tangga lantai dua.


" Tolong kirim saja katalognya, lain hari saja saya kembali." jawab Yoga menarik ujung bibirnya, memberi senyum seadanya.


" Baik.. saya akan kirim pada Winda.." jawab si pemilik tetap ramah meski Yoga terlihat sudah tidak nyaman berbelanja.

__ADS_1


__ADS_2