
Damar duduk disamping Kinanti, ia menunggu Kinanti bicara, namun Kinanti hanya diam dan menyandarkan dirinya di bantal yang di tumpuk di atas tempat tidur.
" Maafkan aku.." ujar Damar setelah lama menimbang nimbang.
" Kenapa minta maaf.." tanya Kinanti pelan, ia sungguh tak mempunyai semangat.
" Aku sudah memukul calon suamimu.."
mendengar itu Kinanti hanya tersenyum tipis.
" Katakan padaku mas, kenapa mas merahasiakan ini.."
Damar terhenyak,
" dari kata katamu saat memukul Haikal, sebenarnya mas sudah tau kan, tapi mas menutupinya.." ujar Kinanti.
Damar tertunduk, wajah garangnya di hadapan Haikal tadi menghilang tiba tiba di hadapan Kinanti.
" Aku bingung Nan..." jawab Damar dengan perasaan campur aduk,
" apakah menurutmu berada dalam posisiku tidak sulit?
aku takut kau menuduhku yang tidak tidak karena sedikit banyak aku mempunyai perasaan padamu..
apalagi.."
" apalagi mas sudah tau dia berbohong tapi masih menutupinya..?" potong Kinanti membuat Damar semakin merasa bersalah.
" Jangan marah.. kau sedang sakit.." ujar Damar.
" Kalian bersekongkol membohongiku?!" ujar Kinanti tajam.
" Tidak Nan..?!" Damar menyentuh tangan Kinanti, menggenggam nya dengan lembut.
" Aku adalah orang yang paling tidak terima jika kau di sakiti.. tolong, jangan berkata kata seperti itu..
aku memang salah tidak jujur padamu..
tapi mereka hanya mantan pacar..
aku bisa apa?"
Kinanti diam, ia tak berkata apapun hingga suasana di dalam kamar itu senyap.
" Sekarang semua terserah padamu..
aku tidak akan memberimu saran apapun..
akan ku biarkan kau mengambil keputusan sendiri berdasarkan hatimu.." ujar Damar.
" Apa mas tau apa yang dia lakukan di luar kota selama ini?" tanya Kinanti.
Damar mengangguk pelan,
" Aku juga baru tau beberapa saat yang lalu.. kalau dia merawat perempuan itu di rumah sakit..
dengan susah payah aku menyuruh Umar mencari informasi..
__ADS_1
dan setelah ku tanya Haikal mengaku kalau mereka sudah putus hubungan 8 bulan yang lalu.." jelas Damar.
" Baguslah.. pengakuan perempuan itu juga sama, mereka terpaksa putus 8 bulan yang lalu..
tapi sayangnya hanya hubungan yang putus, bukan rasa cintanya.." ujar Kinanti seperti lelah sekali.
" Apa aku harus menikah dengan Haikal yang masih belum menyelesaikan hubungannya di masa lalu?"
" aku tidak tau..." jawab Damar tertunduk lagi,
" dia berkata padaku kalau kau cinta pertamanya.. itu sebabnya ketika putus dia langsung mengajakmu menikah..
aku ingin egois, tapi tentu saja sebagai seorang yang sudah kalian anggap kakak aku tidak bisa bertindak seperti itu..
aku menyuruhnya menyelesaikan hubungannya dengan jelas..
kukira dia sudah melakukan itu..
tapi kenyataannya perempuan itu malah menemuimu disini.."
Damar menggenggam erat tangan Kinanti.
" Perempuan itu datang kesini dengan tujuan memohon padaku.. agar aku membatalkan pernikahanku dengan Haikal,
ia bahkan menunjukkan luka di pergelangan tangannya" ujar Kinanti,
" dia bunuh diri Nan.. karena itu Haikal datang untuk merawatnya.." sahut Damar.
" Berarti kelak, kalau dia bunuh diri lagi, Haikal akan datang lagi dan merawatnya meski dia sudah menjadi suamiku?" tanya Kinanti pada Damar, keduanya beradu pandang.
" Maumu bagaimana.. katakan, akan ku lakukan..?" pandangan Damar begitu gelisah.
" Tidak.. kita ke dokter ya?"
" aku ini baru pulang dari dokter mas.." jawab Kinanti membuat Damar bingung harus bagaimana.
" Sudahlah mas.. aku pingsan karena tubuhku memang sedang lemah..
jadi jangan terlalu khawatir..
aku hanya ingin tidur sekarang.."
Damar diam,
" Pulanglah mas.." ujar Kinanti lagi,
" kau benar mau tidur? tidak akan menangis kan setelah aku pergi?" Damar benar benar tak tega.
" Mas..?" ujar Kinanti lagi membuat Damar menyerah,
" Ya sudah.. aku pulang dulu.. nanti aku kesini lagi ya..?" ujar Damar melepas tangannya yang menggenggam Kinanti.
Melihat Damar yang berjalan keluar Kamarnya Kinanti hanya terdiam,
entah apa yang sedang di rasakannya sekarang ia tak begitu tau, yang jelas ia sakit hati karena tiba tiba saja ada seorang perempuan yang datang meminta calon suaminya.
Meskipun tak ada cinta dalam hatinya untuk Haikal, tetap saja harga dirinya terluka.
__ADS_1
Apalagi sekarang ia tau bahwa Haikal keluar kota untuk menemui perempuan itu.
Kinanti memejamkan matanya, bisa bisanya Haikal membohonginya seperti itu..
padahal hari pernikahan sudah dekat,
kebohongan kecil yang fatal, pikir Kinanti.
Gara gara hal ini kenangan buruk di masa lalu menyeruak kembali.
Dulu ia juga di khianati dengan alasan yang hampir sama,
perhatian kecil yang berubah menjadi perselingkuhan dan pengkhianatan.
Yusuf dan ibu duduk diam di ruang tamu, melihat ibu yang shock Yusuf berusaha mengajaknya bicara dan menenangkannya, namun tetap saja gurat kekecewaan ibu terlihat sangat jelas.
" Jangan bagikan dulu undangan itu Suf.." ujar ibu membuat Yusuf yang tidak bisa berkomentar apapun tertunduk.
" Tolong besok liburlah bekerja.. antar bulek kerumah orang tua Haikal" imbuh ibu Kinanti,
" bulek mau apa?"
" Orang tuanya harus tau tentang sikap putranya, apalagi perempuan itu sudah berani menemui Kinanti, ini bukan hal yang bisa di lupakan dengan mudah..
bulek tidak mau Kinanti di salahkan di kemudian hari.." ujar ibu Kinanti serius.
Yusuf mengangguk, diam diam dirinya juga merasa bersalah karena selama ini sudah mendukung hubungan Haikal dengan Kinanti tanpa mencari tau dulu bagaimana hubungan Haikal di masa lalu dengan mantan kekasihnya.
Benar kata bulek, pikir Yusuf, ini bukan hal yang bisa di anggap sepele.
Hubungan yang belum selesai di masa lalu bisa menyebabkan hal hal buruk yang mungkin terjadi di masa depan.
Apalagi saat ia melihat Haikal yang seperti kebingungan antara memilih menenangkan Kinanti atau perempuan itu, jika memang dia sudah tidak memiliki perasaan apapun pada mantannya itu, seharusnya ia menampik tangan perempuan itu dan beralih pada Kinanti.
Namun yang di lihat Yusuf malah tak ada penolakan sama sekali dari Haikal,
ia seperti ingin menenangkan keduanya, mana bisa begitu.
Bisa bisa Kinanti di duakan setelah menikah nanti.
Yusuf menghela nafas, ia memang harus mengantar buleknya besok untuk menemui orang tua Haikal.
Dia adalah saudara laki laki Kinanti, kalau bukan dirinya siapa lagi yang melindungi Kinanti.
Ia juga harus bicara pada Haikal tentang ini semua, banyak pertanyaan yang harus Haikal jawab nantinya.
Dan yang paling jelas akan ia lontarkan adalah pertanyaan tentang siapa yang akan Haikal pilih,
perempuan itu, atau saudaranya Kinanti yang tinggal menghitung hari untuk menjadi istrinya.
" Sekarang kita awasi Kinanti dulu, sembari kita tunggu juga bagaimana sikapnya nanti..
bulek takut dia menyalahkan dirinya sendiri dan bersikap kurang logis..
apalagi pernikahan sudah dekat seperti ini..
sesungguhnya kita bisa melupakan hal ini dan meneruskan pernikahan,
__ADS_1
tapi bulek tidak bisa bermain main dengan nasib Kinan Suf.." ujar ibu Kinanti yang mendapat anggukan dari Yusuf, pertanda Yusuf setuju dengan pemikiran ibu.