
Hari pertama Kinanti mengajar, perempuan itu berangkat menggunakan vespa barunya yang berwarna biru laut. Damar sengaja memilih warna itu karena berharap hari hari istrinya bisa secerah warna motor itu.
Kinanti tampak formal dengan baju batik dan celana kain hitamnya.
Damar pun tak lupa membelikan istrinya itu sepatu flat, untuk mempermudah langkahnya, karena jalanan ke arah sekolah tidak rata dengan aspal.
" Wah.. senang sekali mas..?" tanya Umar melihat Damar masih melihat istrinya dari kejauhan.
" Iya e.. bojoku ayu yo Mar..? ( istriku cantik ya Mar?)" ujar Damar,
Umar tersenyum,
" iya mas.." jawab Umar, umar mengerti benar, tipe tipe Damar yang jarang jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta, tidak akan tertolong.
" Anu mas.. mbak Zahira sampai kapan ya mas mau belajar disini?" tanya Umar kemudian.
" Kenapa memangnya?"
" semua sudah saya ajarkan mas.. mau belajar apalagi?"
" kalau dia masih kesini tandanya dia masih belum memahami sepenuhnya..
sudah, ulang saja apa yang belum dia mengerti.."
Umar mengangguk, lalu mengikuti langkah bosnya itu masuk ke gedung B.
" Kemana si istri Damar?" tanya Ibu tiri Damar pada Kaila yang bersiap siap berangkat kuliah.
" Ngajar bu.." Jawab Kaila mengambil kunci mobilnya.
" Memangnya dia guru?"
" itulah.. menantu sendiri tidak pernah di ajak bicara," Sahut Kaila.
" Eh, seharusnya dia yang datang ke ibu, bukan ibu yang datang?!,
tapi sepertinya Damar itu sudah meracuni istrinya agar tidak dekat dekat denganku"
" ibu jangan berprasangka buruk pada mas Damar?" bela Kaila,
" Buktinya?!" ujar si ibu Kaila sembari duduk cantik di sofa.
" Wajarlah bu, kalau mas Damar ingin melindungi istrinya.."
" Eh! memangnya aku ini monster pemakan manusia? jadi harus selalu waspada padaku?!" omel si ibu.
" Lihat saja, aku sudah memperhatikan.. tingkah Yoga aneh, dia sering sekali datang kerumah Damar, bahkan ketika Damar tidak dirumah,
mereka kira aku tidak memperhatikan apa..?!"
Kaila menatap ibunya.
" Kita bersaudara bu, mas Yoga selalu ramah pada siapapun, jadi ibu jangan membuat asumsi macam macam..
kalau sampai mas Damar dengar..
menurut ibu bagaimana?" peringat Kaila tenang pada ibunya.
" Bijaklah bu.. Kaila malu pada mas Damar kalau ibu terus bersikap seperti itu..
kita ini menumpang hidup..
kalau dia mengusir kita bisa apa?"
" Mengusir?! kau adalah putri kandung bapakmu? punya hak apa Damar mengusir mu?!" si ibu tak terima.
" Mas Damar punya bu, apalagi dengan tingkah ibu yang selalu memprovokasi mas Damar diam diam.."
si ibu diam mendengar kata kata Kaila.
" Sudahlah bu.. jangan neko neko, Kaila berangkat dulu, hari ini hanya kuliah pagi,
mau di belikan camilan apa?"
__ADS_1
tanya Kaila,
" belikan brownies lapis saja, sama varian telo unggu juga.." ujar si ibu.
" Nggih pun.. Kaila berangkat.." pamit kaila mencium punggung tangan ibunya lalu berjalan keluar rumah menuju garasi.
Kinanti pulang sekitar jam 1, karena ini haru pertamanya ia di perbolehkan pulang terlebih dahulu.
Kinanti sengaja berhenti di pabrik, ia memarkir motornya di parkiran dan berjalan masuk ke dalam pabrik.
" Selamat pagi Bu? cari pak Damar??" sapa satpam baru yang di tugaskan untuk menggantikan satpam lama,
karena satpam lama di tugaskan di gedung baru yaitu gedung D.
" Iya mas.." Kinanti tersenyum,
" Langsung masuk saja bu, ada di kantor.." sahut si satpam.
Kinanti masuk ke dalam ruangan yang di penuhi kaca itu.
Ia terus saja masuk ke ruangan yang lebih dalam, disana ada sekitar 7 orang pegawai yang duduk di kursi kerjanya masing masing, mereka hanya di sekat oleh pintu pintu kaca berwarna hitam.
" Suami saya di dalam?" tanya Kinanti pada pak Hartono?"
" Sepertinya ada diruangannya bu?" jawab Pak Hartono,
" Barusan keluar tadi.." sahut yang duduk di meja paling ujung.
" Masa?" tanya oak Hartono,
" bapak terlalu fokus sama layar komputer sih.."
Kinanti Diam, tapi ia kemudian tersenyum,
" coba saya lihat saja dulu di ruangannya.." ujar Kinanti lalu berjalan lurus ke dalam satu ruangan.
Tidak besar, hanya ada meja dan kursi kerja serta komputer,
lalu satu set sofa panjang untuk menerima tamu.
" Tidak ada.. mungkin di luar.." ujar Kinanti berjalan melewati para pegawai Damar.
Kinanti berjalan masuk ke gudang,
namun ia hanya menemukan Umar.
" Mas Damar mana Mar?" Umar bangkit dari kursinya,
" oh.. sedang di ruang pengovenan mbak..
mari saya antar?"
Kinanti mengangguk, lalu mengikuti langkah Umar.
Mereka harus melewati 2 gedung untuk sampai di tempat pengovenan, sesampainya disana, Kinanti malah melihat pemandangan yang membuatnya tak nyaman.
Suaminya itu sedang duduk dengan Zahira.
Mereka bertumpu di meja yang sama, dan sama sama menulis di kertas yang sama sehingga posisi mereka sangat dekat.
Sesekali Zahira melempar senyum pada Damar.
Damar pun begitu, ia tersenyum sesekali sembari menulis entah apa itu di kertas.
" Ini tugas Umar.. ya masa aku yang yang mengajarimu rumus rumus begini..?" Ujar Damar.
" Belajar dari bos itu lebih baik mas, lebih afdhol..." Zahira tertawa.
" Hari ini mas cerah sekali, banyak tersenyum?" tanya Zahira penasaran, laki laki yang mahal senyumnya ini, tiba tiba saja murah senyum.
" Iya, hari ini hari pertama istriku mengajar, melihatnya yang bersemangat.. aku ikut senang.." jawab Damar.
" Oh.." Zahira mengulas senyum, tampak sekali kasih sayang yang besar dari damar untuk istrinya itu.
__ADS_1
Diam diam Ada sedikit kekecewaan di relung hati Zahira, namun Zahira segera membuang rasa yang tidak pantas itu jauh jauh.
" Mas?!" panggil Umar mendekat,
Zahira dan Damar sontak melihat ke asal suara.
" Sayang?!" Damar langsung bangkit melihat istrinya, wajahnya sumringah ( bahagia ).
" Sudah pulang?" Damar mendekat ke arah istrinya.
" Iya.." Jawab Kinanti memaksakan senyumnya, sesungguhnya ia terganggu sekali melihat kedekatan suaminya itu dengan perempuan lain.
" Bagaimana hari pertamanya? seru?" Damar antusias bertanya.
" Yah.. seru.." jawab Kinanti pendek,
" Lho? kok lemes? belum makan siang Nan?" tanya Damar khawatir.
" Sampun mas..( sudah mas..)"
" Makan dimana?"
" Makan pecel, di belikan kepala sekolah.."
" Alhamdulillah.. baik toh kepala sekolahnya.."
Kinanti mengangguk,
" Ayo kita pulang sebentar, biar Umar yang mengantikanku.." ujar Damar.
" Mengajari mbak Zahira?" Kinanti melirik ke arah Zahira sejenak.
" Iya, sebenarnya itu tugas Umar, tapi ayah Zahira mau anaknya belajar langsung dariku..
yah sesekali denganku tak masalah..
selama aku luang.." jelas Damar,
" Sampai kapan?" tanya Kinanti,
" apanya?"
" Ya belajarnya?"
" Ya sampai dia bisa.." Jawab Damar membuat wajah Kinanti sedikit masam.
" Jadi waktu luang mas banyak dong?" tanya Kinanti kemudian,
" Tidak banyak sayang.. hanya saja setelah makan siang tadi mas belum kembali ke ruangan.."
" oh..pantas, laporanmu menumpuk.." gumam Kinanti.
" Kau melihatnya? iya.. aku harus menyelesaikan nya segera.." jawab Damar mengelus punggung istrinya.
" Mana yang lebih prioritas mas? memeriksa laporan laporan, atau menjadi guru privat mbak Zahira?"
Damar terdiam sejenak, ada nada yang kurang menyenangkan yang di rasakan dari kalimat istrinya.
" Tentu saja memeriksa laporan, memangnya kenapa Nan?
apa ada perilaku ku yang kau rasakan tidak pantas?" tanya Damar serius.
" Tidak.. apapun yang menurut mas pantas, tentu saja itu pantas..
tidak penting apa yang kurasakan.." jawab Kinanti,
" Lho? kok begitu? kita ini suami istri.. tentu saja perasaan dan pendapatmu penting?" Ucap Damar memandang istrinya tanpa celah.
lama suasana hening diantara keduanya,
hanya terdengar suara suara mesin dari kejauhan.
" Aku mau istirahat mas, aku pulang saja..
__ADS_1
mas lanjutkan saja.." Kinanti berbalik dan berjalan dengan tenang.
" Lho lho lho?!" Damar yang merasakan sesuatu yang tidak beres mengejar langkah istrinya.