Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
tetaplah tak terlihat


__ADS_3

Samar samar terlihat dua head lamp dari kejauhan.


Kedua lampu itu terarah ke ranu gumbolo.


" Ada tambahan penduduk Ded.." Kata Rian sembari menyeruput kopinya.


Sedangkan Dedy tersenyum dengan biskuit di dalam mulutnya.


" Berangkat jam berapa mereka? kok malam malam begini baru sampai sini?" gumam Widiantoro yang sibuk merebus air lagi.


" Mungkin mereka jalan sore.." jawab Dedy sembari mengunyah.


" Mau buat mie?" tanya Rian pada Widiantoro,


" Kopi"


" Kau kan tidak minum kopi? jangan macam macam kau ya Wid, asam lambungmu naik jangan sampai kau menyusahkan kami?!" tegas Rian.


" Eh.. bukan untukku.."


" lalu?" tanya Dedy,


" Kepala suku noh.." Widiantoro menunjuk ke arah dataran yang lebih tinggi,


dimana Damar sedang duduk sendiri di rerumputan sekitar 20 meter dari camp.


" Wih.. jeli sekali matamu Wid? ku kira dia tiduran di dalam tenda?" Rian heran,


" dengan tubuhnya yang tinggi begitu, duduk pun masih terlihat diantara rumput rumput..


ya masa kau tidak lihat? jaketnya saja biru muda begitu.."


Ketiganya tertawa,


" ah.. aku saja tidak komentar dengan raincoat pink dan orange mu.." Dedy mengejek Rian dan Widiantoro.


" Eh.. itu aku pinjam dari istriku, dari pada punyanya nganggur dan aku harus beli lagi,


toh kalian kalian ini yang lihat.." gerutu Widi,


" Baguslah.. istrimu juga satu group angkatan dengan kita, tapi bukannya mengajaknya naik, kau malah menyuruhnya dirumah.." komentar Dedy.


" Kita sudah sepakat kan? hanya bapak bapak saja yang berangkat.. jangan mengeluh, kau tidak tau saja berapa berat badan istriku sekarang..?"


" itu tandanya kau berhasil memberinya makan dengan baik bukan?"


" tentu saja!" tegas Widi.


" Kalau istriku tidak mau gemuk.. dia senam terus setiap minggu..


padahal aku ingin melihatnya gemoy sedikit.." sela Rian.


" Kau curhat?" Dedy tertawa,


" habisnya.. aku suka takut sendiri kalau dia terlalu langsing dan bugar..


kau tau kan mata para anak muda sekarang kalau lihat ibu ibu cantik.."

__ADS_1


" Kau saja itu yang tidak percaya diri.." Widi dan Dedy tertawa.


Setelah air mendidih Widi segera menyeduh kopi untuk Damar.


" Aku antar ya?" ucap Widi,


" Sembari temani dia ngobrol.." ucap Dedy,


" iya, temani dia ngobrol.. aku takut lama lama dia cosplay jadi batu.." sahut Rian,


" huss..! kalau ngomong!" tegas Widi.


" Habisnya.. kalah penyair.. hari hari dia diam dan duduk saja.." lanjut Rian.


" Dia sedang bertarung dengan pikirannya sendiri..


harusnya kau mengerti..


tidak semua yang kita pikirkan tentang orang lain itu selalu benar..


dia tidak sekuat yang terlihat,


apa kau pernah dengar,


kalau sosok yang paling tegar dan kuat di depan orang lain justru memiliki luka lebih dalam..?" Kata kata Dedy membuat Rian dan Widi terdiam sembari saling memandang.


" Sudahlah.. biar ku antarkan kopi untuknya.." Widi buru buru bangkit dengan segelas kopi susunya.


Sementara Head lamp yang sejak tadi bersinar dari kejauhan mulai mendekat.


Terlihat dua sosok laki laki berjalan menuruni jalan setapak ke arah ranu gumbolo.


Keduanya semakin mendekat kearah camp.


Tak terlihat jelas karena hari sudah lumayan malam.


" Permisi mas..?" Suara Wiwit tiba tiba saja berada tak jauh dari Dedy.


" Iya mas, baru datang ya? sini, ngopi ngopi dulu?!" ujar Dedy dan Rian, ketika di gunung semua orang layaknya saudara bagi mereka.


" Iya mas, terimakasih.. numpang tanya kalau boleh?" Wiwit mengulas senyum dalam keremangan cahaya sembari menaruh kariernya dan duduk sejajar dengan Rian dan Dedy yang sedang menghangatkan diri di api unggun yang teman temannya buat semenjak sore.


Di karenakan semua rekannya sudah 'tewas' di dalam tenda masing masing, mereka terlihat begitu lelah setelah submit,


wajar saja, kondisi mereka sudah tidak selincah ketika mereka masih muda,


hingga akhirnya Rian dan Dedy yang bergantian duduk disana sembari ngopi dan ngemil ngemil.


" Mau nanya apa mas?" tanya Rian yang samar samar melihat si penanya di balik pantulan cahaya api unggun.


" Tenda alumni Mapala XX dari universitas negeri X sebelah mana ya mas?"


Dedy dan Rian sontak berpandangan,


" Maaf, tapi ada perlu apa ya mas?" tanya Rian tiba tiba Waspada.


" Saya mencari saudara saya.." Yoga yang sejak tadi diam tiba tiba menyahut, dia menunjukkan wajahnya.

__ADS_1


" kebetulan dia sedang mendaki disini dengan para alumninya.." imbuh Yoga.


" Kami Alumni yang anda maksud.. tapi kalau boleh tau.. siapa saudara anda?" tanya Dedy, ia melihat Yoga dari atas ke bawah untuk memastikan bahwa Yoga orang yang tidak akan menimbulkan masalah.


" Namanya Adamar, tolong bantu saya menemukan tendanya.." Yoga mengulas senyum terimakasih.


Deg..


Dedy resah, sedangkan Rian yang tidak tau apa apa langsung menjawab.


" Oh?! Damar?!" suara Rian ringan.


Dedy mendadak bangkit dari duduknya.


" Maaf.. apa boleh saya bicara.. sekalian saya bantu masnya bisa mendirikan tenda.." Dedy tersenyum menawarkan diri.


Tentu saja Wiwit mengangguk.


" Mari mas.. nanti saya panggilkan Damarnya.." Dedy mengajak Yoga berjalan ke arah spot yang kosong, sekitar 8 meter dari tendanya.


" Maaf, bukan saya ikut campur.. tapi akan lebih baik, jika sekarang anda beristirahat dulu..


tidak bijak rasanya menyelesaikan permasalahan pribadi diantara banyak orang seperti ini..


saya yakin anda tidak mau mempermalukan diri anda dan kakak anda sendiri.." ujar Dedy setelah membantu mendirikan tenda dan berbicara panjang lebar pada Yoga yang sesungguhnya juga kaget karena Dedy mengetahui permasalahan mereka.


" Yang saya takutkan jika anda nekat berbicara malam ini.." Dedy tiba tiba diam, lalu mengarahkan pandangan dan telunjuknya pada dua orang yang sedang berbincang jauh di atas mereka.


" Itu mas Damar?" tanya Yoga dengan mata membesar, menemukan sosok Damar hatinya senang, tapi juga takut.


" Biarkan dia menikmati waktunya dengan baik..


kami juga sudah bertahun tahun tidak bertemu..


anda bisa menghargai itu?"


Yoga tertunduk, hatinya resah sekali.


" tapi ada hal yang harus saya luruskan.." ucap Yoga dengan suara melemah, ia juga terlihat lelah.


" Tentu saja harus di luruskan..


tapi luruskan itu ketika tidak ada kami.." Dedy tersenyum.


" Akan saya bantu, jika memang anda benar benar menyesali perbuatan anda pada Damar dan berjanji tidak akan menyakitinya lagi.."


" Tidak berjanjipun saya tidak pernah ingin hal semacam ini terjadi lagi..


saya sudah menghabiskan banyak waktu dengan datang kemari,


bagaimana bisa anda tidak mengijinkan saya bicara pada mas Damar?" Yoga sedikit frustasi, Damar sudah di tangkap oleh matanya, saudara tercintanya itu sedang duduk tenang seakan dosa bila Yoga mengusik ketenangannya malam ini.


" Akan saya bantu, tapi tetaplah tak terlihat sampai rombongan kami turun..


dan bicaralah ketika kita sudah sampai di ranu pani..


ini semua demi ketenangan kami, dan Damar..

__ADS_1


biar kami selesaikan reuni ini dengan Damai dan nyaman.." ujar Dedy lagi memberi Yoga pengertian.


__ADS_2