
Winda sedang duduk bersama paman pamannya dari pihak ibunya dan mbah utinya.
Kebetulan selepas kirim doa mereka punya kebiasaan berkumpul dirumah mbah uti untuk sekedar berbincang, bertanya kabar dan membicarakan sesuatu hal yang sesungguhnya tidaklah penting,
hanya saja hal itu perlu mereka lakukan untuk tetap menjalin keakraban.
Damar yang menggunakan sarung berwarna hitam dan baju koko di sertai kopyah hitam berjalan melewati Winda.
" Mau kemana?" tanya Winda,
" Pulang.." jawab Damar datar, tanpa menatap Winda.
" Pulang apa keluar?" tanya Winda yang sadar Damar jarang dirumah beberapa hari ini.
" Kalau tidak bisa tidur aku ya keluar.." jawab Damar berlalu begitu saja dan menghilang setelah melewati pintu depan, bayangannya tertelan kegelapan sekitar.
Winda menatap sekitarnya, dan semuanya tersenyum.
" Anak itu sedang di landa kegelisahan yang besar sepertinya.." komentar pak dhe Darwis.
" Itulah pak dhe.. saya bingung meladeninya, sulit membaca isi hatinya, tidak seperti Yoga yang selalu terang terangan..
Kadang perhatian, kadang acuh pada orang.. sering membuat orang yang tidak mengenalnya salah faham.." Winda mengeluh,
" Berapa usianya Win sekarang?" tanya budhe prapti, istri pak dhe Darwis.
" Bulan depan ini 30 tahun budhe, kurang 2 minggu.."
" Lho...? ku kira Damar masih 27 atau 28 tahun?"
" mboten dhe.. 30 tahun dua minggu lagi.." jawab Winda.
" Win...Winda.." panggil mbah uti,
" Dalem mbah?" Winda mendekatkan dirinya pada mbah utinya itu.
" Tadi siang itu ngomong sama mbah..
adikmu iku.. mau bawa lari anak orang katanya.." ujar mbah sembari tersenyum di barengi gelengan pelan.
" siapa mbah? Yoga?"
" Lha.. ndak kaget mbah kalau Yoga.. lha wong Damar yang ngomong.." jelas mbahnya.
Winda tertegun,
" Kaget tho.. mbah yo kaget, hahaha.." si mbah tertawa.
" Kok mbah malah tertawa tho mbah?" Winda heran,
" baguslah.. adikmu sudah punya rasa ingin memiliki seseorang..
sebelumnya mana pernah dia menginginkan sesuatu..
bocah e nrimo..
sampai sampai di salahkan atas sesuatu yang tidak dia perbuat pun dia menerima..
pukulan yang tidak seharusnya dia terima, nyatanya dia terima tanpa bertanya apa salahnya.. iya tho?"
__ADS_1
Winda tertunduk, semua orang selalu menjadi sedih ketika mengingat hal hal yang sudah Damar lalui.
" Mumpung mbah masih Hidup Win..
cari perempuan yang mau di bawa lari itu..
apa yang harus kamu lakukan sebagai kakak lakukan.." imbuh si mbah.
" Contohnya mbah? Damar itu sulit sekali di ajak kompromi.."
" Yo moso tho Win... kamu itu lahir duluan, ya bagaimana caramu mencari tahu..
kui sopo... Umar..?"
Winda langsung mengangguk,
" iya iya mbah.. Umar pasti tau.." ucap Winda.
" Nah.. kalau adikmu itu tidak bisa mengambil kebahagiaannya sendiri.. maka sebagai kakak kewajibanmu membantunya mengambil itu.." ujar si mbah dengan nada mantab.
" mbah ini pusing kalau lihat Damar begitu.. untung rumah e mbah iki nggak kebakaran.." keluh si mbah,
" Lah kenapa mbah?!"
" yo kelakuane Damar, kayu bakar di tumpuk semua di atas api.." jelas mbahnya sembari menyandarkan dirinya di bahu kursi.
Damar yang tidak bisa tidur terus saja duduk di depan teras sembari merokok,
wajahnya menengadah ke atas langit yang gelap, mencari cahaya bulan yang tidak tampak malam ini.
Beberapa suara kodok yang bersautan dan berserta suara jangkrik seperti menghibur dirinya,
Damar mengangkat sarungnya hingga ke lutut, duduk bersila agar lebih nyaman.
" Sedang apa Kinanti ya.." ucapnya setengah bergumam.
Hatinya di rasa resah sekali, ingin sekali menemui Kinanti, tapi ia takut tak mampu menahan diri.. apalagi dengan situasi seperti sekarang.
Sesungguhnya.. peluangnya begitu besar jika ingin merebut Kinanti dalam kekacauan ini.
Tapi dirinya tidak seperti itu.. ia mau Kinanti menerimanya karena dirinya memang layak di pilih.
Rokok yang kedua.. Damar mengeluh diam diam,
ia sudah tidak tahan.
Ia bangkit dari duduknya, masuk ke dalam kamar dan mengganti sarungnya dengan celana.
Kinanti mendengar suara motor terhenti di depan rumahnya,
" Tok tok tok..?!" suara pintu di ketuk,
" Nan..?" Kinanti yang mengenal suara itu segera bangkit dan membuka pintu.
" Mas?" ia menemukan sosok Damar.
" Dari mana?" tanya Kinanti,
" Dari rumah lalu kesini.." jawab Damar,
__ADS_1
" ya sudah.. masuklah mas.." ujar Kinanti menyuruh Damar masuk.
" Seperti tidak punya lelah saja.. malam malam begini.." komentar Kinanti menaruh segelas kopi panas di meja agar di minum oleh Damar.
" Ibu kemana? kok sepi..?" tanya Damar tak mendengar suara ibu sama sekali.
" Ibu sedang dirumah pak dhe dan budhe.. mungkin sedang membicarakan masalahku mas.."
Damar terdiam mendengar kalimat Kinanti,
" Aku kesini tidak untuk melihatmu bersedih.." ujar Damar setelah lama diam, kalimatnya itu memecah kesunyian yang tiba tiba saja tercipta karena kalimat terakhir Kinanti.
" Aku tidak bersedih mas.." jawab Kinanti datar.
" Kalau kecewa iya... yah manusia mana yang tidak kecewa?" imbuhnya.
" Aku harap kekecewaan itu cukup memberitahumu, keputusan apa yang harus kau ambil.." nasehat Damar samar samar.
" Aku mau tidur disini.." ujar Damar cepat, membuat Kinanti terhenyak.
" Kenapa begitu?" Kinanti tersenyum tidak mengerti dengan jalan Pikiran Damar.
" Aku tidak bisa tidur dirumah.. tidak melihatmu membuatku seperti kehilangan sesuatu.. jadi aku tidur disini saja.."
Kinanti tertawa kecil mendengarnya,
" Jangan kekanak kanakan mas..?" cemooh Kinanti di selimuti canda.
" Dadamu belum pernah sesak ya gara gara memikirkan seseorang?" tanya Damar serius, menatap wajah Kinanti teliti tanpa celah.
" Ah.. Dagu yang cantik itu.." keluh Damar, Kinanti terlihat cantik sekali malam ini meski tanpa polesan bedak.
Tidak ada yang berubah di hati Damar, meskipun ia menemukan Kinanti yang kecel dan tidak mandi beberapa hari karena sakit..
Kinanti tetap saja menggemaskan baginya.
Belum selesai keduanya berbicara, HP kinanti berdering.
Damar mengintip siapa yang menelfon malam malam begini.
Saat melihat nama " pak Tyo" tiba tiba saja dirinya merasakan hawa panas entah dari mana.
Damar tidak menyadari bahwa hal itu yang dinamakan kecemburuan.
Saat Kinanti ingin menerima panggilan itu , HPnya tiba tiba di sambar oleh Damar.
" Kinannya sudah tidur, sudah ya jangan telfon telfon lagi..!" Damar menjawab panggilan telfon itu, nadanya sinis sekali.
Kinanti yang tertegun dengan kelakuan damar tidak bisa melakukan apapun hingga HPnya itu di taruh kembali di hadapannya oleh Damar.
" Mas?!" tegas Kinanti setelah sadar beberapa menit kemudian.
" Marahlah.. ! tidak apa apa, tapi aku tidak suka dengan pak guru itu!" tegas Damar.
Kinanti menggeleng pelan,
" Mas kesambet ya?! bisa bisanya bersikap seperti itu?"
" Biar..?! biar kau kata aku seperti anak anak, atau seperti remaja puber, terserahlah..
__ADS_1
yang jelas aku tidak suka kau menerima telfon dari laki laki lain?!" tegas Damar, ia mulai menampakkan keinginan memilikinya.