Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
kalian memang saudara


__ADS_3

Dinda berjalan kearah rumah Kinanti sembari menuntun Bagas.


Bocah itu terlihat senang sekali, matanya tak henti memandangi Dinda dengan kepolosan dan kekaguman.


" Om?!" Bagas melepaskan tangan Dinda sesampainya di teras rumah, ia lari terburu buru ke dalam rumah.


" Om! om! om?!" bocah itu menemukan omnya yang sedang sibuk memijit kaki tantenya.


" Wehh.. jagoan? sudah mandi?" tanya Damar mengelus kepala Bagas.


" Sudah! sama mama..!" jawab Bagas riang.


" Mama?" tanya Damar, ia dan istrinya saling berpandangan.


" Mama siapa nak?" tanya Kinanti menurunkan kakinya.


" Itu..! itu mama Bagas..!" Bagas kembali lari keluar, kemudian masuk kembali dengan menggandeng Dinda.


" Bagas punya mama..!" begitu polosnya bocah itu, menarik narik tangan Dinda sembari meloncat kegirangan.


Sementara Dinda hanya menghela nafas pasrah saat Damar dan Kinanti menatapnya bingung.


" Biarkan Bagas bermain di depan TV, kita bicara sebentar?" ajak Kinanti pada Dinda keruang tamu, dimana sudah ada Damar yang duduk terlebih dahulu disana.


" Mama kemana?" tanya Bagas saat tau Dinda bangkit.


" Sebentar sayang.. mama di pinjam sebentar sama tante ya?, di sini saja kok.. Bagas main dulu ya?" sahut Kinanti karena Dinda terlihat bingung untuk menjawab.


Bocah itu mengangguk patuh lalu tersenyum pada Dinda.


Lagi lagi, senyum Bagas padanya membuat hatinya merasa aneh.


" Sekarang katakan pada kami.. sesungguhnya bagaimana kalian?" suara Damar kalem.


" Kalian?"


" Ya dirimu dan Yoga?!" sambar Kinanti gemas.


" Lho kan? lho kan? baru tadi pagi.. sekarang marah lagi?" Damar memandang istrinya.


" Ya sudah.. jelaskan saja, aku tidak akan marah.." ujar Kinanti lalu melipat kedua tangannya di dada, wajahnya masam.


" Aku tidak tau harus mengawalinya dari mana?" jawab Dinda bingung.


" Kalian sudah?" tanya Damar hati hati,


" sudah apa mas?"


" itu.." Damar tak enak mengatakannya.


" Maksud suamiku tidur, kau sudah tidur dengannya?" lagi lagi Kinanti menyambar, tapi nadanya lebih tenang.


" Tidur apanya?! jangan percaya mulut Yoga?!" sanggah Dinda dengan wajah memerah.


" Lalu yang dia katakan tadi pagi?" kejar Kinanti.


" Tidur dalam arti yang sesungguhnya, benar benar tidur, menutup mata?!" jelas Dinda sama tak sabarnya.


" Tuh kah.. Yoga tidak mungkin ngawur.." sahut Damar.


" selain tidur?" lanjut Kinanti,


Dinda terdiam, ia malu harus mengakuinya.

__ADS_1


" Wah.. kediamanmu sudah menjelaskan segalanya.." ujar Kinanti yang sudah mengenal sifat Dinda luar dalam itu.


" Aku tidak menginginkannya, dialah yang selalu mendekatkan dirinya padaku.." jawab Dinda benar benar malu.


" Kalian seperti anjing dan kucing selama ini.. bisa bisanya? astaga..." Kinanti memegangi dahinya, ia sudah cukup terkejut hari ini.


" Apa mba Dinda merasa perbuatan Yoga perlu di pertanggung jawabkan? yah.. maksudku.. meski tidak sampai tahap itu, tapi tetap saja kurasa hal itu belum pantas.." Damar sesungguhnya risih bertanya, tapi ia wajib tau sejauh mana perbuatan Yoga, karena ia tak ingin nama baik keluarganya tercemar hanya karena perbuatan Yoga yang mungkin saja menyakiti Dinda.


" Jujur saja Din?! kalau harus ku botakkan kepalanya akan ku botakkan?!" tegas Kinanti membuat Damar menatapnya,


" Iya iya mas.." ujar Kinanti sembari mengelus perutnya.


Dinda memandang Kinanti dan Damar bergantian,


" Aku tidak perlu tanggung jawab, meski kelakuannya seperti laki laki mesum.." ujar Dinda.


" Mesum?" tanya Kinanti,


" setiap ada kesempatan dia selalu menciumku..


setiap aku menolak keinginannya untuk menikah dia selalu memaksa menciumku, aku bahkan tidak punya kuasa untuk menolaknya.." Dinda tertunduk malu.


Sontak Kinanti menatap suaminya, kata kata Dinda benar benar mengingatkan Kinanti akan masa lalu.


" Apa??" tanya Damar pura pura tidak mengerti arti padangan istrinya.


" Wah..kalian benar benar saudara ya? kelakuan kalian benar benar sama.." cemooh Kinanti dengan raut masam.


" Kelakuan apa, ah mana ada aku begitu?" Damar mengalihkan pandangannya karena malu.


" Wah.. mas lupa kelakuan mas yang mirip Yoga itu ya? setiap aku menolak lamaran mas, mas selalu saja menciumku dengan paksa, yang paling parah adalah sebelum kita menikah..?" Kinanti memicingkan matanya menatap Damar, ia kembali mengingat apa yang pernah terjadi.


" Huss.. memaksa apanya, kau juga menyukainya, membalasnya?" Damar tak terima,


" tapi ujung ujungnya kan mau?!" Damar tak mau menjadi tersangka pemaksaan.


Keduanya malah ribut sendiri, membuat Dinda semaki pusing saja.


" Penting ya kalian meributkan hal itu? sementara kalian sudah membuahkan hasil.. tidak malu padaku?" tanya Dinda dengan wajah serius membuat keduanya terdiam.


" Ya sudah.. aku memaksamu deh.. sampai hamil.." ujar Damar mengalah,


" tapi aku juga senang mas paksa sampai hamil.." balas Kinanti sedikit tersipu,


mendengar pengakuan istrinya Damar tentu saja tersenyum, ia bahkan tak menyadari ekspresinya sekarang mirip anak kecil yang di beri permen yang manis.


Dinda bergidik, astaga.. pasangan ini.. keluh Dinda dalam hati.


" Apa pembicaraan kita sudah selesai?" tanya Dinda menyadarkan pasangan di hadapannya.


" Belum lah!" saut Kinanti,


" Apa kalian mau masuk ke kamar dulu? aku akan menunggu.." ujar Dinda membuat Damar dan Kinanti malu.


" Sudah sudah, kita langsung saja.. bagaimana dengan Bagas?" tanya Damar serius.


" Itulah.. Yoga yang membuatnya memanggilku mama,


aku yang di panggil seperti itu, mana tega menolak dan berkata tidak padanya..


lihat matanya yang polos dan penuh harap itu.." Dinda melirik keruang tengah, dimana Bagas bermain.


" Itu karena dia tidak mengenal sosok ibu sama sekali..

__ADS_1


dia di tinggalkan sejak usia bayi,


dan sampai sebesar ini ibunya tak pernah menemuinya.." jelas Damar.


Dinda terdiam, entah apa yang ia pikirkan.


" Jujurlah padaku, tidak apa apa, aku akan merestuimu jika kau memang suka pada Yoga.." suara Kinanti melunak sekarang, itu semata mata demi Bagas.


" Dia sudah memanggilmu mama.. mana tega aku memisahkanmu? meski aku kesal dengan bapaknya.. tapi aku menyayangi anak itu..


aku lega jika kau yang menjadi ibunya.." imbuh Kinanti.


" Begitu mudahnya keputusanmu berubah? kau lupa dengan apa yang kau lakukan tadi pagi?" tanya Dinda heran.


" Aku tidak boleh memprovokasi hubungan kalian.. aku juga sudah bisa berpikir lebih jernih dari pada tadi pagi..


suamiku cukup banyak memberiku masukan, bagaimana harusnya aku berpikir..


harusnya aku tidak egois dengan menghalangi niat baik orang lain.." jelas Kinanti tenang.


Dinda tak menjawab, hanya diam.


" Tolong di pikirkan baik baik mbak Dinda..


adikku bukan seorang yang suka mempermainkan perempuan..


apa yang dia lakukan berdasarkan keseriusan, aku menjamin itu.." sekarang Damar yang meyakinkan.


" Apapun yang kalian katakan, aku tidak akan mengubah keputusanku..


aku akan tetap kembali ke bandung dan melanjutkan hidupku seperti semula.." ujar Dinda, membuat Damar dan Kinanti saling memandang dengan bingung.


" Tapi Din?" Kinanti menyela,


" Aku akan menganggap hal hal semacam ini tidak pernah terjadi.." lanjut Dinda.


" Bagas?" tanya Damar,


" Aku akan menjaganya layaknya putraku sendiri selama aku belum kembali ke bandung," jawab Dinda.


" Aduh..." keluh Damar menyandarkan punggungnya ke bahu sofa.


" Kalau akhirnya begini harusnya kau tidak di perkenalkan sebagai ibunya..


kasihan dia.." gumam Damar terdengar oleh Dinda.


" Salahkan papanya mas.. jangan salahkan aku, dia yang mengawali semuanya.." jelas Dinda.


Damar lemas, membayangkan Bagaimana respon Bagas nanti.. rasanya dia tidak sanggup.


Dinda menuntun Bagas kembali kerumah, saat melewati rumah Winda, Dinda terhenti.


" Mama?" Bagas menarik ujung baju Dinda.


" Kerumah budhe..!" ajak Bagas sembari menunjuk rumah Winda.


" Mama sakit perut.. langsung pulang saja ya? oke?" Dinda tak mau menambah masalah, berkenalan dengan kakak Yoga adalah hal yang harus sekali di hindari untuk saat ini.


" Mama sakit?" tanya bocah itu,


Dinda mengangguk, sungguh terpaksa ia berbohong.


" Ayo pulang mama, cari obat papa.." Bagas menarik Dinda dan kembali berjalan.

__ADS_1


__ADS_2