Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
jauhi istriku!


__ADS_3

mobil Yoga berpapasan dengan mobil Rakha,


Rakha keluar halaman, dan Yoga masuk ke dalam halaman.


Keduanya sama sama terhenti dan keluar dari dalam mobil.


Yoga yang sudah lelah dengan urusannya seharian ini terlihat begitu tidak senang saat melihat Rakha.


Sedangkan Rakha tersenyum sinis.


" Apa yang kau lakukan disini?" tanya Yoga tak bersahabat.


" Aku? tentu saja menjenguk Adinda.." jawab Rakha tenang.


" Jauhi istriku." peringat Yoga tak lagi bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya.


" Kenapa?" tanya Rakha,


" Kau ini tidak tau aturan ya? apa kau tidak di ajari adab?"


" jaga bicaramu,"


" kalau begitu jaga sikapmu!" tegas Yoga.


" Wah.. kau bisa tegas denganku tapi tidak bisa tegas dengan perempuan cantik.." ejek Rakha,


" sudah kubilang Jaga mulutmu!" Yoga berhadapan dengan Rakha, ia tak gentar meski kalah tinggi.


" Hei! hei! apa apaan kalian?!" teriak Winda dari teras rumah Yoga.


Dinda terlihat terburu buru berjalan mendekat.


" Kau tidak bisa mengaturku, aku sudah bilang, kalau kau tidak bisa menjaga Adinda dengan baik, aku akan mengambilnya dengan paksa.." ucap Rakha lirih, nadanya pelan namun menantang,


hal itu membuat Yoga semakin meradang.


" Jauhi istriku! kau ini mengerti bahasa manusia atau tidak?!


jangan menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga kami?!" Yoga menarik kerah kemeja Rakha.


Bukannya takut, Rakha malah tertawa.


" Cukup!" Dinda melerai keduanya, menjauhkan Yoga dan Rakha.


" Biar ku beri pelajaran suamimu Din, biar dia lebih bisa menghargai kehadiranmu.." Ujar Rakha.


" Tidak Ka?! cukup..?! sudah.. tolong pergilah??" Dinda memohon dia memegangi Rakha agar menjauh dari Yoga.


Melihat Istrinya menyentuh laki laki lain Yoga semakin naik Darah.


" Ada suamimu disini?! kenapa kau sibuk dengan laki laki lain! apa kau kira aku tidak punya mata?!!" bentak Yoga menarik tubuh Dinda ke arahnya.

__ADS_1


Dinda yang di tarik dengan penuh emosi tentu saja terkejut dan menabrak tubuh Yoga dengan keras.


Tanpa sadar perempuan itu mengaduh,


" Kau benar benar?!" Rakha tak terima Dinda di perlakukan seperti itu, di kepalkan tangannya berniat memukul Yoga,


Namun lagi lagi Dinda mencegahnya, perempuan itu lagi lagi berdiri di tengah dengan pandangan memohon.


Seakan bicara "jangan pukul suamiku..".


Rakha menghentikan niatnya,


menatap Dinda lama,


lalu dengan kesal berkata ada Yoga,


" kau selamat kali ini, berterimakasih lah pada Adinda..!" tegas Rakha pada Yoga, lalu segera masuk ke dalam mobilnya dengan gerakan kasar dan pergi dari halaman rumah Yoga segera.


Sementara Yoga,


kemarahannya masih terlalu besar,


ia berkobar kobar seperti api yang tersulut bensin.


Dalam hatinya hanya ada kecemburuan, tak bisa berpikir jernih.


" Bisa bisanya kau membela laki laki lain di hadapanku?!" Yoga protes,


Dinda hanya menghela nafas berat,


ia melihat kiri dan kanan, takut kalau kalau ada orang kampung yang lewat dan melihat kemarahan Yoga. Dinda memandang Yoga sejenak, seperti ingin memberinya pengertian,


" jaga emosimu, kau orang terpandang disini.." ucap Dinda setenang mungkin, lalu berjalan masuk ke dalam rumah, dimana Winda masih berdiri di teras memperhatikan adiknya yang masih tak mampu meredakan dirinya itu.


Setelah malam menjelang, dan Bagas sudah tidur,


Yoga yang belum juga terima memulai lagi perbincangan yang sesungguhnya sangat di hindari oleh Dinda.


" Apa salahku sebenarnya? kenapa seakan akan aku menjadi orang yang pling bersalah dalam hal ini?" Yoga berdiri di samping tempat tidur, tepat di hadapan Dinda yang sedang berbaring.


Dinda berbalik, ia menghindar dengan tak menjawab.


" Jawab aku?" suara Yoga tertahan,


" aku lelah, sebaiknya kau juga istirahat.." jawab Dinda sembari menutup matanya.


Yoga yang sudah menahan diri sejak sore tak sanggup lagi,


Di rengkuh tubuh istrinya yang sedang terbaring di atas tempat tidur itu,


Dinda sontak terkejut dan berusaha melepaskan diri karena sentuhan Yoga berbeda dari biasanya.

__ADS_1


" Kenapa?! tidak suka sentuhanku sekarang?!" Yoga sedikit kasar.


" Yoga?? jangan begini??!" Dinda berusaha mendorong tubuh Yoga dari atas tubuhnya.


" Lihat aku?! aku suamimu!" tegas Yoga memegangi kedua tangan Dinda sehingga perempuan itu tidak bisa bergerak.


" Bisa bisanya kau menyentuh laki laki lain saat aku disampingmu? kau kira aku tidak punya hati?!"


Yoga seperti bukan dirinya, tak pernah Dinda melihat Yoga semarah dan sekasar ini.


" Aku melakukan hal itu untukmu?! agar Rakha tidak menyakitimu?!" jawab Dinda dengan air mata menggenangi matanya.


" Untukku?! kau takut aku kalah dari laki laki itu?!


atau kau tak ingin aku melukai laki laki yang kau suka?!" Yoga menghentakkan kedua tangan Dinda.


" Jangan seperti ini.. kumohon..??" suara Dinda bergetar menahan tangis.


" lihatlah, kau bahkan mengeluh saat kusentuh sekarang..


kenapa istriku? kenapa? apa karena ada laki laki lain yang lebih dariku menawarkanmu kasih sayangnya padamu?!!" bentak Yoga keras.


laki laki yang sudah buta karena kecemburuan itu mencium paksa istrinya,


memaksa dan bertubi tubi, hingga Dinda kesulitan untuk bernafas.


" Lihatlah, sekarang kau menolak dan mendorong ku?!


kenapa?! ada apa sesungguhnya diantara kalian?!


kenapa dia mencarimu sampai seperti itu?!!


omong kosong kalian tidak pernah memadu kasih di masa lalu!!" Yoga lepas kendali, bayangan bayangan akan masa lalu istrinya dan Rakha berputar putar di kepalanya, jangan jangan begini, jangan jangan begitu,


hal hal buruk merayap begitu saja di kepalanya.


Diangkat daster yang di kenakan istrinya itu dengan gerakan kasar,


diangkatnya kedua kaki Dinda, di tarik dan di pegang erat kedua paha istrinya itu dan di tindihnya, sembari kedua tangan kirinya memegang erat kedua pergelangan Dinda yang mungil, sehingga perempuan itu tak bisa berontak dan banyak bergerak.


" Berhenti meronta..? aku ini suamimu!" bentak Yoga.


Seakan ingin menunjukkan, bahwa Dinda hanya miliknya seorang, tak ada laki laki yang boleh meliriknya,


dan Dinda pun tak boleh melirik laki laki lain.


Semetara Dinda, perempuan yang biasanya tegar itu hanya bisa menangis di bawah tubuh suaminya,


sungguh..


suaminya itu telah salah paham terhadap maksudnya dan keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2