
" Apa aku berbuat sesuatu hal yang salah?" tanya Kinanti setelah meyakinkan dirinya selama berhari hari, ia tak sanggup lagi melihat sikap yang Damar seadanya itu.
Laki laki itu memang tersenyum, dan tetap ramah,
namun hanya seadanya.
Setelah malam itu,
keesokan harinya,
menjelang malam Damar kembali tidur di kamar berdua dengan Kinanti.
Tetap menyediakan lengannya sebagai bantal, mengecup kening dan bibir Kinanti.
Namun sorot matanya yang penuh dengan luka tak bisa di sembunyikan.
Tentu saja hati Damar begitu nelangsa,
ketidakjujuran dari adik dan istrinya sungguh menyakiti batinnya.
Dirinya merasa tidak dianggap penting perasaan dan keberadaannya.
" Salah? misalnya?" Damar balik bertanya,
ia mematikan rokoknya di asbak.
" Aku tidak tau mas, karena itu aku bertanya..
jika memang ada sikapku yang tidak benar marahlah..
jangan menyimpan segalanya sendiri.." ucap Kinanti sembari menundukkan pandangannya, ia tau suaminya itu sedang memendam sesuatu yang besar di hatinya.
Mata yang biasanya penuh kasih sayang itu sayu beberapa hari ini,
bahkan tak bersinar lagi setiap memasuki kamar dan menemukan Kinanti.
" Tidak ada yang salah sayang.." ucap Damar setelah menekan kekecewaannya dalam dalam.
Sesakit apapun perasaannya, selama Kinanti tak meninggalkannya dan tidak memilih laki laki lain, ia akan menahannya.
Ia sanggup.. ia sungguh sanggup, meskipun ia harus menelan kekecewaan ini sendiri tanpa harus protes pada Kinanti.
Sesungguhnya ia bisa saja bertanya, dan meminta sebuah penjelasan,
namun lidahnya tak sanggup berkata, apalagi membayangkan akan timbulnya pertengkaran yang besar.
" Tenanglah.. aku hanya lelah, kau tidak salah dalam hal apapun sayang.." Damar tersenyum, dan mencium pipi Kinanti.
Deg..
" Cium pipi..?" ucap Kinanti dalam hati,
biasanya suaminya itu mencium keningnya, dan tak pernah mencium pipi.
Tapi kenapa sekarang pipi?.
Kinanti bertambah resah,
"ada apa ini, apa mas Damar sudah tau masa laluku dengan Yoga? apakah kasih sayangnya mulai berkurang? atau bahkan mas Damar mengira aku dan Yoga dulu berhubungan sampai di luar batas, sehingga dia sekarang merasa jijik padaku?" batin Kinanti bergejolak.
__ADS_1
" Tidak.. mas Damar tau dengan jelas kalau dia yang pertama..
lalu kenapa,
kenapa perlakuannya berbeda??" batin Kinanti terus saja bergejolak, pertanyaan pertanyaan yang tak sanggup ia tanyakan pada Damar memenuhi dadanya.
" Mas ke pabrik dulu.. mungkin mas akan mengawasi orang orang yang lembur,
karena hasil produksi seminggu ini menurun..
jadi kalau mas belum pulang, tidurlah duluan ya..?"
Damar menyentuh kepala Kinanti, membelainya sejenak.
Lalu dengan cepat ia mengambil HP dan rokoknya di atas meja.
" Jangan lupa minum susu segarmu sebelum tidur.." ucap Damar mengingatkan, lalu segera bangkit dan berjalan dan menghilang di balik pintu rumah.
Kinanti Terdiam di tempatnya, rasanya seluruh tubuhnya lemas.
Apa yang terjadi, pikirannya terus berputar.
suaminya berbeda sikap, meskipun masih ramah dan lembut namun terlihat jauh sekali perbedaannya.
" Dia pasti sudah tau.." keluh Kinanti sembari menutup kedua matanya, rasanya benar benar putus asa dan frustasi.
Di tundukkan kepalanya, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca kaca.
" Apa yang harus kulakukan jika mas Damar salah faham, atau bahkan salah menilaiku..?
harusnya aku bicara sedari awal,
tapi aku terlalu pengecut..
Tak sanggup ia berpikir, tubuhnya bahkan baru saja pulih,
namun beban pikirannya bertambah lagi.
Damar yang awal mula berniat ke pabrik, tiba tiba berbelok, ia berjalan ke arah persawahan.
Ia penasaran dengan bapak bapak yang sedang berkumpul di tengah sawah.
" Ada apa pak dhe? kok rame rame?" tanya Damar mendekat, bukankah senja hampir turun, kenapa orang orang malah ramai berkumpul.
" Walah?! iki mas Damar.. parine rusak ( padinya rusak)"
jawab salah satu bapak disitu.
Damar melongok kearah beberapa petak padi.
Benar saja, padi padi rusak karena angin dan hujan lebat semalam.
Semua tanaman padi itu dalam posisi rubuh, bahkan tomat dan cabe pun rubuh, tercabut buahnya.
Damar tercengang, ternyata tidak hanya milik orang lain, tapi miliknya dan mbah uti juga rusak.
" Saya kira tadi malam hanya hujan angin seperti biasanya, tidak sampai merusak..
ternyata ada kiriman air dari atas..?!" Ucapnya sembari menatap ke arah perbukitan, persis di atas area persawahan.
__ADS_1
Damar menggeleng gelengkan kepalanya saking kaget dan tak percayanya dengan apa yang ia lihat, tanaman tanaman itu benar benar rusak.
" Lha inggih mas.. pripun ngeten niki...( lha iya mas.. bagaimana ini..)" seorang bapak menimpali.
Para laki laki itu melempar pandangannya pada sawah yang membentang, yang hampir keseluruhannya rusak, hanya tersisa sepetak dua petak saja yang selamat.
Ekspresi mereka benar benar layu,
harapan panen sebulan dua bulan lagi hancur sudah.
Mungkin saja orang orang semacam Damar bisa bertahan,
namun untuk para petani petani kecil, hal semacam ini seperti bencana, dan hal ini bisa membuat mereka kesulitan.
Karena sawah dan ladang untuk mereka adalah segala galanya, setengah dari hasil panen bisa untuk di makan sendiri, dan setengahnya di jual untuk kebutuhan lain sehari hari.
Melihat beberapa wajah dari bapak bapak itu bahkan memerah karena sangat sedih dan kecewa, Damar tertunduk.
Mulutnya berdecak, karena harus melihat kesedihan di depan matanya.
Dirinya juga rugi, bukan berarti tidak sedih juga.
Namun Damar mempunyai matapencaharian lain, sedangkan bapak bapak yang kebanyakan sudah lanjut usia ini...
Damar mengeluh dalam hati, dirinya tak nyaman dengan wajah wajah yang kecewa dan sedih itu.
" Bapak bapak.. karena ini sudah sore, njenengan njenengan pulang dulu..
biar saya bantu memikirkan solusinya nanti nggih..
sekarang saya mau ke pabrik dulu.." ujar Damar.
" Solusi piye tho mas.. ini ndak ada solusinya, tanamannya sudah rusak mas, beberapa hari lagi sudah pasti mulai membusuk..?" sahut salah satu bapak frustasi.
" Yang masih bisa di selamatkan ya di selamatkan pak.. biar ruginya tidak terlalu..
tapi karena baru taunya sore, ya besok pagi saja kembali ke sawah..
pun, njenengan wangsul sedoyo.. ( sudah, bapak bapak pulang saja dulu..), saya bantu berpikir.." ujar Damar lagi memberi pengertian dengan caranya yang kalem dan mudah di terima.
" Ya sudah mas..." ucap beberapa bapak,
Damar mencoba tersenyum mengerti, ia mengangguk pelan.
" Besok pagi ketemu saya lagi disini nggih..?!" ujar Damar,
dan Bapak bapak itu mengangguk,
lalu satu persatu bapak bapak itu pergi dengan wajah masih penuh dengan kekecewaan.
Damar melanjutkan langkahnya ke pabrik.
Setelah masuk ke kantor selama 30 menit, dia keluar lagi,
" Mar?! Umar?!" suara Damar memecah keheningan di gedung C, para ibu ibu yang sedang mengelem triplekpun serempak menoleh ke arah pintu masuk gedung, dimana Damar berdiri.
Umar yang mendengar suara bosnya buru buru datang.
" Apa mas?" tanyanya siaga, sudah pasti ada perintah kalau dirinya di panggil dengan suara keras seperti itu.
__ADS_1
" Ayo keruanganku, kita bicara.." ucap Damar dengan raut kurang sedap di pandang.
Beberapa hari ini senyumnya memang hilang, keramahannya pun juga, itu menyebabkan para pekerja menjadi tegang.