Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
hatiku tak sekuat itu..


__ADS_3

" Sebaiknya mas istirahat.. jangan minum kopi dulu, asam lambung mas naik.." ujar Yoga pada Damar yang sedang terbaring tak berdaya.


" Jangan di forsir tenaganya mas.. kalau bisa menyuruh anak buahmu suruhlah mereka,


jangan semua muanya mas yang turun tangan,


bagus juga sih jadi atasan yang membumi..


tapi ada kalanya mas harus tau, mas itu seorang pimpinan, seorang pimpinan dengan duduk saja bisa menggerakkan semuanya.."


nasehat Yoga.


" Aku tau itu.. tapi aku tidak harus bersikap seperti itu pada para buruh, mereka berkerja siang malam untuk ku, meninggalkan anak istri dirumah, bahkan tak jarang ku paksa lembur.."


" Tapi mas memberikan gaji yang layak untuk mereka, jadi bersikaplah sewajarnya saja, biar Umar yang mengatur produksi.. mas terima laporan saja dari orang kantor selama mas sakit,


setidaknya seminggu istirahatlah..


aku tidak mau sehari dua hari mas kembali ke pabrik lagi.."


" Kau kira aku hanya ke pabrik, aku juga punya tanggungan di kampus.."


" Yah, tapi mengajar tidak menghabiskan terlalu banyak tenagamu mas, aku masih bisa maklum soal itu..


tapi kalau soal pabrik, semua orang bisa melihat..


tenaga yang mas keluarkan terlalu banyak..


bukankah begitu mbak Kinan..??" Yoga melirik Kinanti yang berdiri tak jauh dari suaminya.


Sepertinya Yoga sengaja,


Kinanti diam saja tak menjawab, ia membuang pandangannya ke arah lain.


" Apa kau keberatan dengan pola kerjaku sayang?" tanya Damar dengan suara lirih.


" Tentu saja tidak mas.." sahut Kinanti mendekat, ia menyentuh tangan suaminya.


" Tapi ada baiknya mas beristirahat seminggu ini..


aku tidak suka melihat mas sampai sakit begini.." imbuh Kinanti dengan raut wajah yang benar benar sedih.


Ia memang tak suka melihat suaminya sakit, karena tiap sakit laki laki yang biasanya serba bisa dan sigap itu tiba tiba saja seperti bayi yang lemah dan tak berdaya.


" Nah.. lihat mas, jangan buat istrimu yang cantik ini bersedih.. jadi beristirahatlah dengan baik.. aku akan meresepkan obat.."


ujar Yoga lagi lagi melempar pandangannya pada Kinanti.


Kinanti tertunduk, ia sama sekali tak ingin melihat wajah Yoga yang sengaja membuatnya kesal itu.


" Biar Umar saja yang ke apotik, kalau begitu.. aku kembali dulu ya mas.." pamit Yoga,


" Terimakasih Yog.." ucap Damar sembari menutup mata, ia terlihat lelah.


" Lekas sembuh mas.. nanti pulang dari klinik aku akan kesini lagi.." Yoga bangkit.


" Saya pamit dulu.. mbak Kinan.." ujar Yoga seperti menekan kalimat mbak pada Kinanti, sengaja membuat Kinanti tidak nyaman dengan panggilan itu.


Tapi Kinanti sadar, dan tak bisa protes, karena memang sudah seharusnya Yoga memanggilnya mbak.


" Wes Yog?" tanya Winda ketika Yoga keluar dari kamar Damar.


" Sampun ( sudah ) mbak ee..." jawab Yoga,


" Kenapa dia?"

__ADS_1


" kecapek an, kehujanan.. asam lambung juga naik, lengkap.."


" Aduh.. anak itu sudah di nasehati tetap saja,


katanya kemarin mobilnya juga terjebak di lumpur dan mogok..?!" Winda mengomel.


" Kok mbak ngomelnya sama aku?"


" lha mau ngomel sama dia, dianya lagi sakit..?!"


" ya mbak kan bisa menyimpan omelan mbak sampai dia sembuh?, lalu setelah dia sembuh suruh dia beli mobil baru,


memangnya mau di apakan uangnya yang banyak di bank itu..


mobil butut terus di pakai sampai menyusahkan dirinya sendiri.."


" Nah.. kau juga mengomel padaku?"


" Yah.. setidaknya mbak bisa menasehatinya, kalau aku kan tidak pantas.." ujar Yoga.


" Kekuatanku sekarang berkurang, dan berpindah pada Kinanti.. jadi kalau mau memberi masukan, berikan pada Kinanti agar di sampaikan.."


" Begitu ya.. jadi tidak apa apa dong kalau aku sering ngobrol dengan mbak Kinan mbak Win?"


" siapa yang melarang? aneh aneh saja.." Ujar Winda lalu segera masuk ke kamar untuk melihat Damar.


Mendengar kata kata Winda Yoga mengulas senyum.


" Baguslah.. setidaknya aku bisa berbicara padamu dengan leluasa.." gumam Yoga lalu berjalan pergi.


Sore sudah pekat, dan langit mulai menghitam ketika Yoga melangkahkan kakinya ke teras rumah Damar.


" Sudah enakan Damar Yog?" tanya ibu Kaila tiba tiba keluar dari dalam rumahnya.


" Belum tau budhe, ini baru mau lihat.. budhe tidak lihat mas Damar?" Yoga menghentikan langkahnya.


Yoga hanya bisa diam melihat itu, ia lalu kembali berjalan ke dalam rumah Damar.


" Jangan ribut, semua orang sedang tidur.." Suara Winda yang setengah berbisik mengejutkan Yoga yang baru saja melangkah ke ruang tamu.


Rupanya Winda baru saja keluar dari kamar Damar.


" Bagaimana mas Damar?" tanyanya,


" Sudah turun demamnya sepertinya.. dia tidur.."


" bangunkan mbak, magrib magrib.."


" Kasian.. jangan ramai lho Yog, ada Kinanti juga sedang tidur..?!" peringat Winda.


" Kok magrib magrib di bolehkan tidur sih mbak? coba aku.. habis mbak omeli?" protes Yoga,


" Dia ketiduran barusan, padahal ku suruh keluar untuk makan, malah ketiduran di kursi.."


" lha si yuk sudah pulang?"


" Ya sudah pulang sejak jam 5 tadi Yog.."


" apa dia bisa merawat mas Damar sendiri? mas Damar kalau sakit kan seperti anak anak.. rewel..


susah makan susah minum.."


" karena itu aku melihatnya sejak tadi, tapi Kinanti memaksanya makan kok,


aku mau pulang sebentar, jaga Damar dulu sebelum istrinya bangun.."

__ADS_1


ujar Winda,


" Kapan bangunnya?"


" Sebentar lagi juga dia bangun Yog..?!"


" Maksudku.. apa tidak lebih baik kalau biarkan saja mereka tidur, tidak usah di bangunkan,


aku bisa tidur disini malam ini.."


Winda terdiam, memandang adiknya baik baik.


" Wah...baik sekali, ada angin apa rupanya, wajahmu juga ceria lagi..?" tanya Winda sedikit heran.


" Ah.. repot, ada keluarga baik di bilang tumben, ada keluarga sakit tapi tidak menunggu di bilang acuh dan tidak perduli orang lain,


aku ini mana pernah benar di mata sampean mbak...?"


"Bukan begitu arek ganteng.. tapi sikapmu ini benar benar membuatku bertanya tanya.. padahal kemarin kemarin kau menghilang bagai angin, dan sekarang kau malah clingak clinguk setiap waktu..?"


" Kemarin aku sibuk mbak.. dan sekarang mas Damar sakit.. wajarlah.." alasan Yoga.


" Hemm.. yowes.. tunggu disini dulu, nanti kalau aku sudah kesini kau pulanglah.." ujar Winda berjalan pergi.


Yoga tersenyum dan berjalan ke dalam kamar, menengok Damar sejenak, wajahnya sudah tak sepucat tadi, tidurnya pun terlihat pulas.


Yoga kemudian keluar dari kamar,


dengan langkah perlahan ia menuju ruang tengah.


Sorot matanya berubah teduh menemukan sosok Kinanti yang sedang tidur tergolek di atas Sofa panjang.


Wanita itu menggenakan daster berwarna biru muda dengan motif bunga bunga berwarna putih, membuat kulitnya tampak segar dan bersih.


Rambut hitamnya pun tergerai panjang sampai pinggang.


Wajahnya polos tanpa make up apapun sehingga terlihat jelas bibir dan dagu yang menjadi daya tarik Kinanti itu.


Alis yang tidak begitu lebat, namun bulu matanya cukup panjang dan lentik.


Yoga mendekat, duduk setengah berjongkok di depan wajah Kinanti.


Hatinya berdesir desir tak karuan melihat Wanita yang pernah di rasakan manis kasih sayang dan bibirnya itu terbaring begitu saja di hadapannya.


" Kinanti..." bisiknya lirih, namun tak ada gerakan apapun dari Kinanti.


Melihat Kinanti yang tak terbangun meskipun sudah di panggil,


di beranikan dirinya,


Di sentuhnya helai demi helai rambut Kinanti yang terurai jatuh di bahu wanita itu.


" Apa bisa waktu kita putar kembali..? sungguh.. aku ingin mengulanginya.." ucap Yoga lirih,


" tau kah kau..? hatiku sakit sekali melihatmu dalam dekapan laki laki lain..


bagaimana aku bisa melewatkan mu yang ternyata bagai mutiara ini..


kilau mu lembut, namun selalu berhasil menarik hatiku.." imbuh Yoga,


di tekan perasaan nya itu sebisa mungkin,


ia masih tau tata krama, meskipun hatinya ingin menarik Kinanti dalam pelukannya,


meskipun bibirnya tak kuasa untuk merenggut bibir mungil yang pemiliknya sedang tertidur lelap itu,

__ADS_1


Ia harus menghormati mas Damar, batinnya, tapi...


" Hatiku tidak sekuat itu.." keluhnya sembari menutup matanya, ia sedang bertarung, akal sehat dan hatinya tak sejalan.


__ADS_2