
Damar Masuk ke dalam halaman rumah Kinanti, dimana disitu sudah ada Kinanti, ibu dan Yusuf yang sedang menunggu.
" Hai, saya Yusuf.. sepupu Kinan.." Yusuf memperkenalkan diri dan menjabat tangan.
" Saya Damar.." keduanya berjabat tangan.
" Masuk dulu nak.." ujar si ibu, wajahnya sumringah melihat kedatangan Damar.
" Langsung saja bu, biar Kinannya tidak terlalu malam sampai disana.." jawab Damar.
" Ya sudah, biar kuambil tas dulu di dalam.." Kinanti bangkit dan masuk ke dalam.
Yusuf mengamati Damar dari atas ke bawah.
" Seperti pernah lihat.. dimana ya mas?" tanya Yusuf ragu ragu,
" Mungkin di jalan.." jawab Damar tenang,
" mungkin ya.." jawab Yusuf.
Tak lama Kinanti keluar dengan tasnya.
" Ayo mas" ajak Kinanti,
" Wah.. semangat sekali berangkatnya Nan?" lagi lagi Yusuf menggoda.
" Awas saja kau minggu depan Suf..!" peringat Kinanti masam sambil mencium punggung tangan ibunya, di susul dengan Damar.
" Bu, saya antar Kinantinya.." pamitnya setelah mencium tangan ibu.
" Iya nak.." jawab ibu Kinanti sembari menyentuh lengan Damar, sentuhan yang punya arti, " terimakasih nak karena sudah menjaga putri ibu".
" Nan.. " panggil ibunya saat Kinanti akan segera berangkat.
" Nggih bu?" Kinanti menoleh,
" Baik baik sama nak Damar ya..?"
" Ih ibu, memangnya aku mau berbuat jahat sama dia?" jawab Kinanti,
ibunya tersenyum melihat sikap anaknya yang tak sabaran itu.
" Sebentar lagi panggil penghulu bulek.. jangan lama lama, orang sudah nempel!" imbuh Yusuf.
Wajah Kinanti memerah karena malu, sedangkan Damar tersenyum saja.
Keduanya berangkat seperti kemarin kemarin, di tengah perjalanan Damar selalu mengajak Kinanti makan, ia tak mau melewatkan itu.
" Apa kau suka naik motor?" tanya Damar, ketika keduanya sudah selesai makan.
" tentu saja mas, aku ke sekolah biasanya naik motor.." jawab Kinanti.
" Kalau lain kali ku antar dengan motor bagaimana?"
" Tidak masalah.. asal hati hati saja memboncengku.."
Damar tersenyum mendengar kata kata Kinanti.
" Mana mungkin aku tidak hati hati menjaga adik Aji.." suaranya Damar berubah lembut.
Kinanti lagi lagi terhenyak akan kelembutan itu.
" Nan? apa kau tidak ingin kuliah lagi?"
" S2? siapa yang tidak ingin.." jawab Kinanti setengah bergumam,
" Ambilah.. jangan khawatirkan biaya.."
Kinanti terdiam sejenak,
" Sebenarnya sampai kapan kau mau membiayai ku mas?, dan apakah benar semua ini kau lakukan untuk mas Aji?" tanya Kinanti serius.
" Sampai kau menikah, karena itu jika kau ingin aku berhenti membiayaimu.. menikahlah, maka aku akan berhenti membiayai istri orang.." jawab Damar lagi lagi terlihat santai namun serius.
" Apa aku boleh merokok?" ia menatap Kinanti,
__ADS_1
" sebatang saja, setelah itu kita berangkat.. aku akan duduk sedikit jauh.." imbuh Damar, Kinanti mengangguk tanpa menjawab.
" Mana nomor telfonmu?" tanya Damar di sela sela merokoknya.
" Untuk apa?"
" aku ini walimu, hubungi aku jika ada hal hal yang mendesak.."
" sejak kapan mas menjadi waliku?!"
" sejak ibu menitipkanmu padaku.. sebenarnya sejak beberapa tahun yang lalu, aku sudah menganggapnya begitu..
sudah, mana nomor telfonmu..
pelit sekali, toh aku bukan org yang akan menyakitimu.."
" Mana aku tau.." gumam Kinanti,
" lho, memangnya apa untungnya aku menyakitimu?" tanya Damar dengan mengerutkan dahi.
" Mana aku tau pikiran laki laki.." imbuh Kinanti masih dengan nada tidak enak.
Damar mengehela nafas, menambahkan kesabarannya.
" Kalau aku mau, aku sudah memaksamu untuk di sisiku sejak bertahun tahun yang lalu,
apa kau kira aku tidak bisa?
apalagi ibu sangat menyukaiku, dia tak akan keberatan tentunya.." ucap Damar tenang.
" Aku ini laki laki Nan, tapi aku tidak pernah sembarangan terhadap wanita,
apa kau mau aku di kutuk Aji dari dalam kubur karena membuat adiknya menangis?
ah, sudahlah.. kau tidak akan pernah tau bagaimana usahaku untukmu,
lebih baik sekarang segera temukan laki laki yang baik jika kau ingin lepas dari belenggu ku.."
" belenggu?"
" yah.. anggap saja aku membelenggu mu dengan dalih tanggung jawabku, dan aku tak akan melepaskan tanggung jawabku sebelum ada yang mengambil alih itu" suara Damar penuh penekanan.
" Jadi, mana no telfonmu" suara Damar tidak Ramah sekarang.
Dengan berat hati Kinanti memberikan nomor telfonnya.
" Ya sudah, ayo berangkat.." Damar bangkit dari duduknya, lalu berjalan begitu saja melewati Kinanti yang masih duduk.
Selama perjalanan keduanya hanya diam, perbincangan terakhir mereka sepertinya tidak begitu menyenangkan untuk damar, Sikapnya dingin selama perjalanan, keramahannya hilang, entah apa yang membuatnya kesal.
Damar menghentikan mobilnya di depan rumah Kost Kinanti, tepatnya setelah magrib mereka sampai.
" Bu Kinan..?" terdengar suara seorang laki laki memanggilnya ketika ia baru saja turun dari mobil.
Damar ikut mencari asal suara.
Ternyata pak Tyo, ia sedang duduk di kursi tamu teras kost Kinanti.
Wajah pak Tyo yang tadi cerah melihat Kinanti, menjadi mendung saat melihat Damar turun dari mobil.
" Lho? pak Tyo? ada perlu apa?" tanya Kinanti mendekat dan melupakan Damar.
" Mau berbincang saja dengan njenengan, kalau di sekolah kan tidak enak di lihat guru guru lainnya, begitu kata ibu biasanya.. jadi saya menunggu ibu pulang.." Tyo melempar senyum.
" Owalah.." jawab Kinanti menghilangkan keterkejutannya dengan kehadiran Tyo.
" Aku kembali dulu" suara Damar dari sebelah mobil, tanpa menunggu jawaban Kinanti ia segera masuk ke dalam mobil.
" Siapa? pacar?" tanya pak Tyo setelah Kinanti menaruh tasnya di dalam kamar dan kembali keluar untuk menemui Tyo.
" Bukan pak, teman Almarhum kakak saya.. sudah seperti saudara.." jawab Kinanti, entah jawaban itu cocok atau tidak ia tidak mau ambil pusing.
" Owalah.. saya kira pacar njenengan.."
" Bukan pak.. apa menurut bapak saya ini tipe orang yang minat pacaran.." Kinanti tertawa renyah,
__ADS_1
" kalau begitu langsung di lamar dan menikah?" tanya Tyo ikut tertawa ringan.
" Yah.. Mungkin begitu pak.. hehehe.." jawab Kinanti tak serius, namun sepertinya pak tyo menganggap itu serius.
" Kalau begitu apa boleh kapan kapan saya main kerumah njenengan?" tanya tyo kemudian,
" main kerumah saya?" ulang Kinanti,
" Iya.. saya sebenarnya punya saudara yang tinggal satu kecamatan dengan njenengan, yah.. mungkin kalau sedang berkunjung kesana saya bisa mampir.."
" oh.. begitu ya pak, silahkan saja.. telfon saya kalau njenengan sedang disana.." jawab Kinanti ragu ragu.
" Aduh.. satu pergi, datang satu lagi.." keluh Kinanti dalam hati.
" Sebentar ya pak.. saya buatkan teh hangat dulu.. kasian sejak tadi kan bapak nunggu saya.."
" tidak usah repot bu?"
" ah, kita ini rekan kerja pak.. mana mungkin bapak merepotkan saya, toh bapak banyak membantu saya di sekolah.. sebentar ya ." Kinanti bangkit dan segera berjalan masuk ke dalam dapur kostnya.
" Lagi laris manis rupanya.." suara Dini masuk ke dalam dapur.
" Kau pikir dagangan laris manis!" Kinanti melotot.
" Ahahahaha!" Dini tergelak.
" Habisnya, yang satu belum pergi, eh.. sudah ada yang menunggu disini, dia lama tau.. sejaman duduk di depan.." imbuh dini,
" siapa? pak tyo?"
" Siapa lagi.. kelihatan sekali kalau menyukaimu Nan.."
Kinanti diam mendengar itu, raut wajahnya bingung.
" Nah.. nah.. kau sampai bingung begitu harus memilih yang mana.." Dini salah tangkap dengan ekspresi Kinanti.
" Bukan bingung itu!"
" lalu?"
" Aku bingung harus bagaimana menolaknya, kami kan rekan kerja.. situasi akan berubah tidak nyaman ketika aku menolaknya.." jelas Kinanti.
" Iya juga sih.. kenapa sih tidak mencobanya dulu? sepertinya kau ada sedikit simpati pada pak Tyo?"
" simpati memang ada, tapi hanya sebatas rekan kerja, pak Tyo itu orangnya ramah, ringan tangan.. sederhana lagi, kau tau aku suka sekali laki laki sederhana.. aku tidak suka laki laki sok kaya.."
" lalu yang mengantarmu tadi?"
" Ah.. aku tidak begitu tau, ibuku yang jelas mengenalnya.. tapi sepintas ku lihat dia orang cukup.. tapi penampilannya membuat ku tidak bisa mengukur dia secukup apa.. karena kalimat kalimat yang menjelaskan tentang dirinya minim sekali..
setiap bertemu, yang dia bahas denganku hanya tanggung jawabnya pada almarhum mas ku..
kau tau seberapa menyebalkan itu..?"
" takutnya kalau kau menikah dengannya, itu hanya sebatas tanggung jawabnya pada kakakmu dan bukan cinta.." celetuk Dini membuat Kinanti menghela nafas dalam.
" Ya memang itulah tujuannya.." ucap Kinanti lirih.
" Tapi kau bilang kalau kau punya calon suami sendiri ia tidak masalah.. malah akan membantu biaya pernikahanmu..?"
" Iya, dia mengatakan itu dengan jelas kepadaku.."
" Wah.. sebegitu besarnya penyesalannya atas kepergian kakakmu sehingga dia mampu bersikap seperti itu.."
" Aku tidak tau Din, baru kali ini bertemu dengan laki laki semacam itu..
kalau macam pak Tyo sudah sering.. jadi aku tidak terlalu bingung menghadapinya, tapi kalau seperti mas Damar..
dia itu sulit di tebak, kadang ramah, kadang acuh.. setiap kata katanya santai tapi penuh keseriusan..
dia seperti lautan yang tenang, aku tidak bisa mengukur seberapa dalamnya,
setidaknya itu yang ku nilai beberapa minggu ini.."
" bukankah lebih bahaya laki laki yang seperti itu Nan, dia bisa menghancurkan apa saja ketika marah..
__ADS_1
berhati hatilah, jangan membuatnya tersinggung.."
Kinanti terdiam.