
Seperti biasa, Damar bangun pagi sekali, lebih pagi dari Kinanti.
Padahal setelah Kinanti tertidur semalam Damar kembali keluar untuk berbincang bincang dengan tamu tamunya yang datang sedikit lebih malam.
Jingga sudah semburat kemana mana, begitu juga ayam milik tetangga, berkokok bersautan.
Damar yang sengaja membuka jendela, membawa hawa dingin yang sedikit menusuk.
" Uhh..." gumam Kinanti masih dengan mata terpejam,
ia menarik selimut lalu meringkuk demi menghangatkan dirinya.
Melihat itu Damar menutup kembali jendela.
Ia tak mau Kinanti yang mungkin masih lelah itu terbangun gara gara kedinginan.
Damar tersenyum memandangi perempuan yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.
Tentu saja Kinanti harus beradaptasi dengan hawa yang sedikit lebih dingin, karena desa tempat tinggal Damar di kelilingi perbukitan.
Bagi Damar yang sudah terbiasa, hawa dingin ini justru membuatnya lebih bersemangat bekerja saat pagi.
Tidak ada yang lebih baik dari pada udara yang masih murni dan tanpa polusi baginya.
Dan sekarang, lengkaplah sudah.. rumah dengan pemandangan yang cantik, udara yang masih polos dan sejuk,
dan..
seorang istri yang terbaring elok di atas tempat tidurnya.
Rasanya hatinya tak kuat, ingin segera meloncat ke atas tempat tidur dan memeluk Kinanti.
Tapi lagi lagi ia sadar.. bahwa tenaga Kinanti masih terkuras habis karena pesta pernikahan mereka kemarin.
Dengan pertahanan diri yang masih bagus akan pesona polos istrinya yang masih tergolek di atas tempat tidur itu, Damar memutuskan untuk joging saja pagi ini.
Ia segera mengganti bajunya dan keluar dari kamar.
" Mau kemana kau subuh subuh begini?" tanya Damar melihat Yoga memanasi mobilnya.
" Aku ada seminar di luar kota mas.. beberapa hari.." jawab Yoga sedikit kaget dengan kehadiran Damar.
Yoga berpikir kepergiannya pagi ini tidak akan di ketahui Damar, karena mungkin Damar belum bangun.
" Bukankah kau masih sakit?" tanya Damar memperhatikan Yoga dari atas ke bawah.
" Aku sudah enakan mas.." jawab Yoga masih tidak melihat Damar.
" Kau kenapa?" tanya Damar serius,
" Maksud mas?"
" kau tidak mau memandangku sejak kemarin, apa aku menyinggungmu? apa kata kataku terlalu kasar kemarin?" tanya Damar serius,
" Aku tidak mungkin memukulmu.. aku berkata seperti itu supaya kau lekas pergi dan tidak mengomel lagi padaku.." imbuh Damar.
Mendengar itu Yoga menatap Damar sekilas dan tersenyum,
" Aku tau mas, kau tidak mungkin memukulku..
kau sayang padaku kan?
meski aku bukan adik kandungmu..?"
Entah kenapa Damar merasakan ada sesuatu yang berbeda pada diri Yoga, keceriaannya hilang, tatapannya redup, dan nada suaranya penuh kegetiran.
" Apa masih perlu kau tanyakan hal itu? aku menyayangi kalian semua, kau, Kaila, mbak Winda..
__ADS_1
sekarang katakan padaku..
ada apa? ada masalah?" tanya Damar khawatir melihat Yoga yang biasnya penuh energi menjadi layu seperti ini.
" Sudah ku katakan mas.. aku baik baik saja.." jawab Yoga kembali tersenyum.
" Ah! siapa yang mau kau bohongi..?"
Yoga menepuk lengan Damar,
" Aku belum mengucapkan selamat kan mas..?
selamat ya mas.. berbahagialah.. semoga kebaikan selalu meliputimu mas.." suara Yoga tertahan.
Lagi lagi Damar heran dengan ekspresi Yoga yang tidak biasanya itu.
" Terimakasih.. kau juga, lekas lekaslah menemukan pendamping.." sahut Damar menepuk bahu Yoga.
" Iya mas.." jawab Yoga kembali tertunduk.
" Jadi.. kau mau seminar kemana?" tanya Damar kemudian.
" Ke surabaya mas.. mungkin agak lama, karena aku juga sedang ada urusan pribadi..
aku titip Bagas ya mas.. dia sudah ku pindahkan ke mbak Winda tadi,
takutnya ketika bangun langsung mencariku..
Mas libur kan hari ini?"
Damar mengangguk,
" Tentu saja, kan pengantin baru.." ujar Yoga tersenyum.
" Tenanglah.. kalau tidak ada dirimu biasanya dia langsung mencariku.."
" Iya mas.. dia bahkan selalu menganggumu.."
" Mas mau joging?"
" Iya,"
" istri mas tidak di ajak?"
" Dia masih tidur, kepalanya sakit semalam, karena sanggul.."
" Oh..." suara Yoga lagi lagi aneh.
" Berangkatlah, hati hati.. aku joging dulu.. keburu matahari naik.."
" Iya mas..".
Melihat Damar yang berlari menjauh, Yoga juga segera memasuki mobilnya.
Ia sudah mempersiapkan beberapa baju dan keperluannya seminggu ini.
Sesungguhnya tidak ada seminar atau apapun itu.
Ia Sengaja menginap di tempat lain untuk menghindari situasi buruk yang mungkin saja bisa terjadi jika ia bertemu dengan Kinanti sekarang.
Dengan berat hati ia mengemudikan mobilnya ke arah kota.
Ia harua meninggalkan Bagas sementara, karena lebih baik untuk Bagas di bawah perawatan mbak Winda.
" Maafkan papa ya nak.. papa seharusnya tidak lari..
tapi untuk sekarang ini yang terbaik.." keluhnya sembari menyetir.
__ADS_1
Kinanti lagi lagi menyusup ke hatinya, membawa kenangan kenangan manis yang semakin menyayat hatinya.
Herannya, saat ia mengingat ibu Bagas, mantan istrinya itu,
rasanya tidak sesakit dan se nelangsa saat mengingat Kinanti.
Dan karena hal itu ia Yoga sadar,
bahwa hatinya masih tertambat pada perempuan yang sekarang sudah masuk menjadi bagian dari keluarganya itu.
Di tancap gas mobilnya, ia melaju ke arah kota dengan perasaan berantakan.
Damar yang sudah kembali dari joging karena matahari sudah mulai turun dan fajar juga telah menghilang,
segera menuju ke kamar mandi, ia membersihkan dirinya.
Saat keluar Dari kamar mandi ia menemukan Kinanti sudah terduduk di atas tempat tidur dengan baju tidurnya.
" Sudah bangun sayang?" tanya Damar berjalan mendekat sembari menggosok gosok rambutnya yang masih basah.
" Sudah mandi juga rupanya.." ujar Damar melihat rambut Kinanti yang masih basah.
Kinanti diam, tak menjawab.
Bisa bisanya, keluh Kinanti tiba tiba di jalari rasa panas karena malu.
Meski sudah suami istri tapi tetap saja Kinanti tidak biasa melihat tubuh Damar yang hanya di balut handuk saja itu.
" Tidak lucu.." Ujar Kinanti lirih, menundukkan pandangannya demi rasa malu, pikirannya kemana mana gara gara melihat perut yang berbuku buku itu.
" Kenapa?" Tanya Damar duduk disamping Kinanti, dan memainkan rambut Kinanti yang masih basah.
" Di tanya kok diam.." ucap Damar melanjutkan menggosok rambutnya.
" Dimana sisir rambut? aku tidak menemukannya.." tanya Kinanti mengalihkan pikirannya yang kemana mana gara gara lengan kokoh Damar yang naik turun menggosok rambut itu.
" Ada di kamarku.." jawab Damar,
" Lalu ini?"
" ini kamar pengantin sayang.., kamarku tidak layak kau tinggali, karena bercampur dengan ruang kerjaku..
jadi kita pindah kesini saja.." ujar Damar.
" lagi pula, kau masih belum butuh sisir.." imbuh Damar, ia melempar handuknya ke yang di gunakan mengeringkan rambutnya ke atas meja.
" Tentu saja aku butuh mas, rambutku kaku sekali.." keluh Kinanti tak bisa menangkap maksud Damar.
Damar hanya tersenyum mendengar itu, ia bangkit dan mengunci pintu, lalu kembali lagi duduk di hadapan Kinanti.
Kinanti menelan ludah, suaminya itu tersenyum begitu manisnya seperti menunggu sebuah hadiah.
" Apa?" tanya Kinanti gelisah.
" Masih pagi.. ayo tidur lagi.." ucap Damar lembut.
ia meraih tangan Kinanti, mengecupnya beberapa kali.
" Hadiahku mana..?" tanya Damar,
" Ha.. hadiah apa?"
" tentu saja hadiah darimu.. karena aku sudah bersabar semalaman.."
Damar meletakkan tangan Kinanti dadanya.
Lagi lagi, desiran desiran yang tak mampu Kinanti kendalikan datang kembali.
__ADS_1
Kinanti dapat merasakan betapa hangatnya suhu tubuh Damar melalui Dadanya, padahal laki laki itu baru saja mandi, tapi tubuhnya langsung sehangat ini, Kinanti mengeluh dalam hati.
Sepertinya ia tidak bisa lari dari ini, kewajiban yang harus dia laksanakan setelah menjadi seorang istri.