
Damar memandangi vespa yang terparkir di garasinya.
Lalu masuk dengan gusar ke kamarnya,
di buka lemari lemari itu satu persatu.
Baju baju istrinya masih ada disana, tak ada setengahnya yang hilang.
Itu berarti.. dia tak akan pergi lama bukan?, batin Damar.
Laki laki itu terduduk di atas tempat tidurnya sembari menarik narik rambutnya sendiri dengan jemari jemarinya.
Seakan kesal dengan apa yang terjadi.
Harusnya ia lekas pulang,
harusnya juga ia tak marah terlalu lama, berkali kali ia mengeluh, bahkan beberapa kali ia mengepalkan tangannya dan memukul apa yang ada di sekitarnya.
" Bangun! ayo kita bicara?!" suara Winda menembus dinding kamar Damar.
Dengan gerakan malas laki laki itu bangkit dan berjalan ke ruang tengah, dimana Winda duduk.
Damar Duduk, tapi tangannya langsung mengambil sebatang rokok dan membakarnya.
Winda hanya menghela nafas melihat perilaku Damar.
" Jadi dimana istrimu?" tanya Winda serius.
" Tidak tau.." jawab Damar membuang pandangannya yang sayu ke arah lain.
Ia tak mau Winda menemukan penyesalan dan kesedihannya.
" Bagaimana bisa?!"
" Dia pamit kerumah temannya pada ibu, dan ibu tidak tau kalau temannya itu sudah tidak tinggal di malang lagi semenjak bercerai dari suaminya beberapa tahun yang lalu.." Jawab Damar masih menyembunyikan matanya yang penuh dan kemerahan.
" Kau ini bagaimana sih?!" Winda mulai kesal.
" Sudah kau periksa lemarinya?! berapa banyak baju yang ia bawa?!"
" sudah.. bajunya sama seperti biasanya.. kurasa dia tidak membawa banyak baju..
bahkan make up nya pun tetap di meja rias.." ujar Damar tertunduk.
" Lalu kau mau diam saja dan menunggunya pulang?!"
Damar tertunduk lebih dalam, tak menjawab.
" Bagaimana jika dia memilih tidak kembali?" ujar Winda, membuat Damar sontak memandang Winda.
" Kenapa dia tidak ingin kembali?" tanya Damar dengan suara serak tiba tiba.
" Bukankah aku sudah pulang??
tidak bisakah mbak bicara dengannya? telfon istriku, kumohon..
karena dia tidak mau mengangkat telfonku?
katakan padanya aku sudah dirumah,
atau dia ingin aku menjemputnya, katakan padanya untuk memberi tahu alamatnya mbak??"
Air mata yang di tahan tahan oleh Damar akhirnya turun dengan sendirinya.. melewati pipi Damar.
Winda terdiam, cukup lama melihat betapa deras air mata itu meleleh..
hatinya ikut sakit melihat wajah tertekan Damar.
Belum lagi air mata itu..
air mata yang jarang turun itu, dada Winda serasa sesak..
ia kesal dengan permasalahan yang tak ada habisnya.
__ADS_1
Masalah yang seharusnya kecil jika di selesaikan segera, sekarang sudah luber kemana mana..
bahkan keberadaan Kinanti sekarangpun tidak jelas ada dimana.
Dan Damar yang biasanya tegar, sekarang sedang meratapi ketidak hadiran istrinya disampingnya.
Keadaan seperti berbalik, bahkan mungkin ini lebih mengagetkan untuk Damar.
Ia tak pernah menyangka kalau istrinya itu akan mengambil langkah berani untuk pergi dari rumah.
Damar dengan percaya diri menganggap bahwa Kinanti akan selalu menunggunya sampai kemarahannya mereda.
" Harusnya dia menungguku pulang kan mbak..?" suara Damar lirih,
" Bukannya menungguku.. dia malah pergi.." imbuhnya dengan suara masih serak.
Di buang rokok yang masih belum sempat di hisapnya itu di atas asbak.
" Itu karena kata katamu sendiri,
apa kau lupa sebelum pergi kau berkata apa?" Winda mengingatkan Damar.
" Me.. memangnya aku bicara apa mbak? aku bahkan tidak lagi mengingatnya saking marahnya.." Damar kebingungan.
Yoga yang baru saja bangun dari tidur panjangnya karena kepayahan itu kaget begitu mendengar Kinanti tidak ada.
Dengan langkahnya yang sedikit tergopoh gopoh di karenakan kelelahan,
ia berjalan ke arah Damar yang baru saja datang dan memarkirkan motornya di depan rumah.
" Apa yang mbak Winda katakan benar?!" tanya Yoga menyentuh lengan Damar.
Damar hanya mengangguk tanpa memandang Yoga, tentu saja masih tersisa kesal di hatinya, dan sekarang malah bertambah.
" Siapa nama temannya?" tanya Yoga,
" siapa tau aku kenal mas? aku banyak kenalan teman kuliahnya?" tanya Yoga dengan niat baik, tapi malah menambah kesal di hati Damar lagi.
" Aku tidak ada maksud mas.. yang lalu sudah berlalu, biarlah kami menjadi saudara dan sahabat..
tentu saja aku kenal banyak temannya karena dulu aku yang menemaninya,
dan sekarang mas yang bertugas menemaninya.. bahkan sampai akhir hayatnya..
tak perlu mas merasa kesal padaku.. karena mas adalah pemilik hatinya,
mas suami yang luar biasa..
semua orang tau itu,
ini semua terjadi karena diriku..
jadi biarkan aku yang menyelesaikannya.." ujar Yoga memberi Damar pengertian.
" Siapa temannya itu mas?" tanya Yoga pelan pelan,
" Dinda," jawab Damar pendek.
" Dinda?? ayo kuantar kerumahnya mas?!" ucap Yoga cepat.
" Tidak ada.."
" maksudnya?"
" aku baru saja kerumah Dinda itu, tapi Kinanti tidak ada, bahkan Dinda pun tidak ada."
" Sek sek mas? mungkin mas salah rumah?" Yoga tak percaya, karena semasa dia pacaran dengan Kinanti, Yoga sempat beberapa kali mengantarkan dan menjemput Kinanti saat menginap dirumah Dinda.
" Rumah nya itu melewati bendungan besar itu lho mas?!"
Damar mengangguk,
" Dia sudah 3 tahun pindah, hanya orang tuanya saja disana" jawab Damar.
__ADS_1
" Lha terus? kata orang tuanya Dinda kemana??"
" tidak jelas, mereka bilang dia sempat ke kalimantan, ke bandung, lalu ke kalimantan lagi.. setahun sekali pulangnya."
" Lho?!" Yoga kaget.
Kinanti yang terlihat masih pucat itu terlihat cukup senang.
Dinda mengajaknya mencari sarapan di dekat area universitas, universitas itu terletak di daerah Bojong soang.
Banyak sekali makanan yang belum pernah Kinanti lihat.
Seperti karedok, mie kocok dan asinan bandung yang cukup terkenal di malang.
Ada lagi.. seblak, seblak disini lebih banyak variannya, tidak seperti yang biasa ia lihat di malang yang hanya itu itu saja isinya.
" Beli apapun yang kau mau, takutnya kalau sudah sampai rumah kau menyesal.." kata Dinda melirik Kinanti.
" Ah.. aku sudah tidak begitu.." sahut Kinanti,
" ah.. masa..?" ejek Dinda.
" Ngomong ngomong kau tidak kerja? mau menemaniku terus?" tanya Kinanti sembari mengunyah ciloknya.
" aku bisa libur hari ini, tapi besok aku harus kerja.. ada barang baru datang, aku harus mengeceknya di pasar.."
" Aku ikut ya?"
" Pasar baru itu ramai sekali, kau tidak sumpek apa?"
" Ah.. tidak, aku ingin melihatmu bekerja..
penasaran sekali pada mantan bu guru yang banting setir jadi pedagang baju ini.."
" ya ya ya.. ikutlah, tapi jangan mengeluh kalau nanti panas atau ini itu.. di tokoku hanya ada kipas angin..!"
" Ah kau ini, seperti aku siapa saja, kita ini sama.."
" Sama apa? kau menikahi laki laki yang kaya ku dengar dari anak anak?"
" Kaya apa? tidak.. hidup kami biasa bisa saja dan sederhana.."
" Kayanya orang kampung kan beda Nan..
kelihatannya biasa..
tapi kalau kebun sama tanahnya di hitung.. bisa bikin orang cegukan sembuh mendadak.."
Kinanti tertawa,
" Suamiku tidak begitu.. percayalah.." ujar Kinanti.
" Ya wes, kita beli nasi saja buat sarapannya.. atau bubur ayam?"
" bubur sepertinya enak ya Din? jangan ada goreng gorengan lah.."
" Ya sudah.. kita cari bubur.. setelah itu mau jalan kemana?"
Kinanti diam,
" Kemana?" tanyanya bingung,
" Harusnya kau yang memberitahu aku harus kemana?" imbuhnya,
" ke gedung sate? ke alun alun? ke jalan braga yang terkenal itu? atau ke pusat oleh oleh?" tawar Dinda.
" Aku masih ingin lama disini, tidak usah ke pusat oleh oleh dulu.."
" Kau ini sengaja kabur ya?"
" Tentu saja.." Kinanti tersenyum,
" Dasar.. ya sudah.. kita gedung sate saja setelah itu ke alun alun.." Dinda tersenyum sembari menggandeng lengan Kinanti.
__ADS_1