Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Ibu tiri


__ADS_3

Damar masuk ke dalam rumah, ia langsung duduk di ruang tamu.


Diam cukup lama, entah apa yang ia pikirkan, raut wajahnya sedikit muram.


" Damar?" terdengar suara seorang perempuan memasuki pintu rumahnya.


" Nggih bu?" Damar sontak bangkit dari duduknya saat melihat ibu tirinya masuk.


" Ibu menunggumu sejak tadi, dari mana kau pulang semalam ini?" tanya ibu tirinya itu sedikit sinis sembari duduk.


Damar ikut duduk, ia menarik nafas dalam dalam, menguasai hatinya.


" Saya dari kota, ada janji dengan teman, sekalian membeli buku dan kebutuhan saya, ada apa bu?" suara Damar tenang,


" baiklah, ku dengar sekarang kau sering keluar, kau punya kekasih? calon istri?" tanya si ibu tiri bertubi tubi, apapun tentang Damar ia pasti ingin tau, karena sesungguhnya ia tidak suka Damar terlalu berkembang.


Ia juga tidak suka jika Damar menikah dengan perempuan yang tidak bisa ia kendalikan, itu akan mempersulit posisinya di keluarga ini karena damar adalah anak pertama.


" Tidak ada bu.." jawab Damar tetap menjaga nada suaranya agar sopan dan tenang.


" Baguslah.. kalau begitu akan ibu kenalkan pada putri teman arisan ibu"


" Tidak usah bu.." jawab Damar cepat.


" Jangan menolak, kau sudah mau 30 tahun, mau membujang terus?! tidak capek apa kau mengajar dan mengurusi pabrik?!" nada suara ibu tirinya meninggi, perempuan berusia 50 tahun itu sungguh sungguh tidak bisa bersikap sebagai ibu selayaknya, ia hanya kesana kemari dengan teman temannya dan menghabiskan warisan bapak Damar sedikit demi sedikit.


Penampilannya sama seperti keinginannya, mencolok, selalu ingin terlihat mewah.


Gara gara perempuan ini juga Hidup Damar kurang baik sejak SMA.


Sejak bapak nya menikah lagi, bapaknya menjadi sosok yang berbeda, apapun yang di lakukan Damar semuanya tampak salah.


Sehingga Damar memutuskan pergi dari rumah setelah lulus SMA, ia menggunakan alasan kuliah di luar kota sebagai alasan, ia bahkan tak mau kembali setelah kuliahnya lulus.


Ia bekerja serabutan untuk menambah penghasilannya,


selain mengajar dia bekerja di beberapa tempat di akhir pekan untuk memenuhi biaya kuliah Kinanti.


Untunglah, Damar termasuk orang yang telaten dan punya banyak pengetahuan, sehingga ia selalu mendapat posisi yang bagus dan gaji yang layak.


Sampai dengan setahun yang lalu, bapaknya meninggal sehingga ia di paksa pulang oleh mbah, pak dhe dan budhe nya.

__ADS_1


Ia di paksa mengurus aset yang di tinggalkan bapaknya.


Mau tidak mau ia pulang, ia mengambil alih semuanya, tapi tetap saja..


ia merasa tidak nyaman harus hidup berdampingan lagi dengan ibu tirinya itu.


Yah.. seperti sekarang, ibu tirinya itu selalu berusaha menekan dan mengaturnya secara tidak langsung, agar semua berjalan sesuai dengan keinginannya.


" Saya pasti menikah.. tapi saya hanya akan menikah dengan perempuan yang sesuai dengan keinginan saya, bukan keinginan ibu.. maaf bu.." jawab Damar,


" Kau tidak mempercayai penilaianku?! aku ini ibumu, setelah ibu kandung dan ayahmu meninggal tentu saja aku yang menjadi pengganti orang tuamu, seharusnya kau percaya pada penilaian ku, setidaknya aku merasa kau hargai sebagai ibu" ucap ibu tirinya panjang lebar.


Damar menghela nafas, ia diam sejenak.


" Menikah itu bukan hal remeh yang bisa saya serahkan pada ibu begitu saja, jangankan saya.. bahkan untuk pernikahan kaila pun ibu tidak boleh memaksanya.." ujar Damar, ini kesempatannya untuk membahas persoalan Kaila juga.


" Meskipun kami beda ibu, dia tetap adik saya..


saya harap ibu mengijinkan dia melanjutkan pendidikannya sampai selesai dulu,


jangan paksa dia mengenal laki laki dulu, kecuali.. itu keinginan dia sendiri.." imbuh Damar.


Pandangan dari ibu tirinya itu menajam.


sekarang sifat aslimu keluar setelah bapakmu meninggal?" tegas ibu tirinya dengan nada menjengkelkan.


" Ibu salah faham.." suara Dimas tenang, ia menekan dirinya agak tidak terpancing emosi.


" Saya perduli dengan Kaila, karena itu saya bicara seperti ini, andai ibu tidak menamparnya dan dia menangis menghampiri saya di depan para pekerja,


saya tidak akan membahas hal ini dengan ibu..


saya meminta maaf sekaligus memohon pada ibu..


tolong, mengertilah dimana tempat ibu,


kalau memang ibu ingin di singgasana..


maka duduklah dengan baik disana, bertindaklah bijaksana mulai dari sekarang.." suara Damar tenang namun penuh ketegasan.


Ibu tirinya yang merasakan penekanan itu diam seketika, wajahnya kesal, dan itu tidak bisa di sembunyikan.

__ADS_1


" Harusnya aku tau kalau kau tidak akan pernah menurutiku!" ucap si ibu tiri lalu berhamburan pergi di penuhi emosi.


Melihat itu Damar bersandar di sofa sembari menghela nafasnya.


" Sampai kapan aku harus menghadapi hal hal semacam ini.." keluhnya pelan, lalu menutup matanya, dirinya di rasa lelah sekali.


" Kemana bu?" tanya Tyo berjalan di belakangnya, pak Tyo terlihat baru saja pulang dari lapangan.


" Mau beli nasi bungkus, di suruh kepala sekolah buat makan istirahat kedua" jawab Kinanti menuju parkiran.


" Tidak usah keluarkan motor, ayo saya antar.. tuh motor saya masih di luar pagar.."


" Tapi itu pak.." belum selesai Kinanti bicara ia di ganggu dengan suara bu Ninik.


" Wes, berangkat berdua sana!" ujar bu Ninik dari depan kantor.


" Nah.. ayo.." senyum pak Tyo lebar.


Kinanti mengangguk dengan terpaksa, keduanya berboncengan, mengundang suara suara iseng dari guru guru muda lainnya.


" Jangan di dengar.. biasa mulut mereka itu.. " ujar pak Tyo di tengah jalan sembari mengendarai motornya.


" Iya.. heran pak, untung saja anak anak sudah masuk kelas semua.." suara Kinanti kesal.


Sementara dua orang itu berangkat membeli makanan, orang orang di kantor sibuk membicarakan mereka.


" Kenapa tidak di jodohkan saja, wong sama sama muda?" ujar kepala sekolah,


" Yang susah itu perempuannya pak kepala, jaga jarak terus..." sahut pak Hartono dengan panggilan sayangnya pada pak kepala sekolah.


" Tapi kalau pak Tyo mau lebih agresif mungkin bisa merebut hati bu Kinan.." sahut bu Ninik juga.


" anak itu saya dengar dengar pernah di selingkuhi.. jadinya begitu, mungkin sakit hatinya belum hilang sampai sekarang.." ujar pak Hartono.


" Faham sekali pak Har?" tanya bu Ninik.


" Ya Faham, biasanya kami ngobrol di UKS.. dia itu pernah kecewa sekali, karena itu dia takut di kecewakan lagi.. jadinya seperti enggan membangun hubungan baru.." jelas pak Har.


" Wah, kalau pak Tyo serius berarti harus siap bersusah payah ini.. " sahut kepala sekolah.


" Nantilah.. kalau ada waktu senggang, saya akan coba bicara padanya pak.. yah semoga saja ada pemikiran pemikiran yang bisa sedikit di rubah, sehingga ada sedikit celah untuk pak Tyo,

__ADS_1


toh usaha pak Tyo bukan sebulan dua bulan, tapi sudah setahun an.." ujar pak Har serius.


" Boleh itu pak Har.. kasian juga kalau dia tidak menikah sampai tua.." ujar Bu Ninik dengan raut wajah sedih.


__ADS_2