Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Kemana Yoga?


__ADS_3

Haikal terkekeh memandangi Damar, laki laki itu tampak gagah dengan setelan batiknya.


Ia naik ke atas pelaminan dengan menggandeng Adisty, bersalaman bergantian dengan Damar dan Kinanti.


" Kulihat kau tertawa mengejekku dari kejauhan, senggang sekali kau rupanya.." Ujar Damar setelah mereka selesai berfoto.


" Ah! mas saja yang terlalu sensitive, ini hari bahagiamu lho mas?" sahut Haikal tersenyum manis.


" Mas bukannya terimakasih padaku malah marah marah, kalau aku tidak mengalah pasti aku yang duduk disini.. ahahahaa!" imbuh Haikal tergelak.


" Baju pengantin tidak membuatku sulit untuk berkelahi, kau mau mencobanya?" ucap Damar, membuat senyum Haikal langsung menghilang.


" Bercanda mas.. aku kan juga sudah punya istri..?" jawab Haikal merangkul Adisty seketika.


" Jangan galak galak kenapa sih mas?!" Kinanti mencubit lengan Damar sembari melotot.


" Ah, mana ada aku galak, aku sedang bercanda saja.. iya kan Kal..?" Damar seketika merubah sikap, di tunjukkan giginya yang rapi.


Haikal tak sanggup menahan senyumnya melihat betapa mengalahnya Damar di hadapan Kinanti.


" Nah.. segalak galaknya bapak singa, masih lebih galak ibu singa.." komentar Haikal.


" Ya sudahlah.. kami pamit dulu ya mas, Nan.. sekali lagi doa kami yang paling tulus, berbahagilah.. dan menua bersama.." Haikal memeluk Damar dan menyalami Kinanti,


" Terimakasih.. untuk kau dan Adisty juga.." balas Kinanti memeluk Adisty.


Haikal dan Adisty kemudian berjalan meninggalkan pelaminan.


Damar dan Kinanti duduk demi mengistirahatkan kaki nya yang pegal.


mereka duduk mulai siang, dan sudah berganti ganti dengan beberapa baju pengantin.


" Tahan sedikit lagi, jam 9 kita akan masuk dan ganti baju.." ujar Damar menyadari istrinya itu sudah sakit kepala gara gara sanggul yang besar itu, belum lagi hiasan hiasan yang tertancap di sanggul itu.


Di tambah lagi bunga melati yang menjuntai cantik itu.


Pasti berat, pikir Damar.


" Aku inginnya masuk sekarang, tapi mbak Winda menyuruh kita bertahan satu jam lagi.."


" tapi rasanya aku tidak bisa tahan kalau sampai jam 9 mas, Kepalaku cenut cenut.." Keluh Kinanti dengan bibirnya yang di hiasi lipstik merah hati itu.


" Minum obat ya? tapi makan dulu.. nanti akan ku katakan pada mbak Winda kalau kepalamu sakit.." ujar Damar lalu berjalan turun dari pelaminan dengan hati hati.


Semua mata menatapnya, ia memang tampak gagah, membuat tamu tamu wanita tak henti mencuri pandang.


" Kenapa Dam?" tanya Winda mendekat pada Damar yang sedang menggenakan setelan pengantin berwarna hitam berhias warna emas itu.


" Kepala Kinan sakit, kalau bisa jangan sampai jam sembilan, jam 8 saja ya mbak..


terus tolong ambilkan aku makanan dan obat sakit kepala untuknya.." ujar Damar terlihat khawatir, Winda langsung menatap Kinanti yang sedang duduk sendiri di kursi pelaminan.

__ADS_1


" Hemm...ya wes kalau gitu, biar Kaila yang mengambilkan, kau kembalilah.. kasihan istrimu sendirian.."


Damar mengangguk, ia berjalan kembali ke pelaminan.


Tak lama Kaila datang, membawa sepiring makanan dan obat sakit kepala.


" terimakasih La.." ucap Kinanti.


" Sama sama dong mbak.." jawab Kaila dengan senyum manis lalu berjalan pergi.


" Ayo buka mulutmu.." ucap Damar mengambil nasi sesendok dan mengarahkannya ke mulut Kinanti.


" Aku bisa makan sendiri mas.."


" Tidak.. duduklah yang tenang dan buka mulutmu.. "


" Di lihat banyak orang..?"


" lha kenapa? kau istriku.." jawab Damar dengan raut wajah serius.


" ya semua orang sudah tau aku istrimu.." jawab Kinanti sembari membuka mulutnya dan menerima suapan Damar.


Hal seperti ini tentu saja lagi lagi menjadi perhatian banyak orang, sikap Damar yang penuh perhatian dan penuh kasih itu benar benar membuat para orang tua geleng kepala.


" Ya ampun.. anak itu apa mereka merasa dunia hanya milik mereka sekarang..? bahkan plastik saja bisa meleleh melihat kelakuannya.." komentar seorang keluarga jauh yang sedang berkumpul.


" Padahal sejak kecil pemalu dan tidak ada suaranya.."


" eh, ngomong ngomong mana Yoga? kok tidak terlihat batang hidungnya sama sekali?" orang orang baru menyadari kalau tidak melihat Yoga sejak tadi.


" Win?!" panggil salah satu saudara itu.


" Dalem budhe?" Winda yang berkebaya coklat muda juga terlihat lelah.


Langkahnya mulai berat.


" Aku tidak melihat Yoga dari tadi?"


" katanya tiba tiba tidak enak badan.. mungkin dia tidur budhe.." jawab Winda.


" Kalau tidak budhe ingatkan aq pasti lupa, dia pasti belum makan, biar Kaila mengantarkan makanan padanya.." ujar Winda segera berjalan pergi memanggil Kaila.


Kaila yang sedang duduk duduk dengan teman teman sebayanya tak mendengar panggilan dari Winda.


Selain dia sibuk bercanda, suara sound musik juga masih kencang.


" Hei!" Yusuf yang sejak tadi tidak tega melihat Winda kesana kemari, dan sudah beberapa kali Winda meneriaki Kaila, tapi Kaila tak mendengar juga, akhirnya terpaksa ikut campur.


" Sejak tadi kau di panggil panggil oleh kakakmu, tapi kau malah terus saja asik mengobrol!" Yusuf menatap Kaila kesal.


" Apa sih?!" Kaila menjawab ketus.

__ADS_1


" Kau di panggil kakakkmu sejak tadi, lihat?!" tangan Yusuf menunjuk Winda yang berdiri agak jauh.


Untuk ukuran Winda yang sudah payah, ia lebih memilih berteriak dari pada berjalan ke tempat duduk Kaila yang agak jauh di belakang.


" Ishh!!" sahut Kaila masih ketus pada Yusuf sembari bangkit dan berjalan ke arah Winda.


" Ehh..! kalau bukan adik mas Damar habis sudah ku maki maki..?!" dengus Yusuf, ia tak tau kenapa sejak awal bertemu dengan Kaila hawanya seperti musuh lama yang baru bertemu.


Yusuf benci sekali tipe tipe perempuan manja dan semaunya sendiri seperti Kaila, sehingga dengan melihatnya saja sudah cukup bisa membuat Yusuf jengkel.


Sedangkan Di tempat lain,


Kaila membuka pintu kamar yang tak di kunci itu.


Ia menemukan Yoga yang tertidur masih dengan baskapnya tadi pagi.


" Mas?" Kaila menyentuh lengan Yoga, dan mengoyangnya, sehingga laki laki itu terbangun.


" Ini sudah malam, mas belum makan kan mulai pagi?" tanya Kaila.


" Aku tidak lapar.." jawab Yoga dengan suara serak.


" Kenapa?" tanya Kaila melihat keganjilan di wajah Yoga,


wajah laki laki itu tampak murung.


" Aku tidak apa apa.. Bagas sudah makan?"


" Sudah mas.. bagas sudah tidur di kamar mbak Winda sejak tadi..


Mau kuambilkan obat mas?" Kaila khawatir.


" Tidak.. tidak apa apa.." jawab Yoga lirih.


" Aku menaruh makanan di dapur mas.. kalau kalau nanti mas lapar.." ujar Winda.


Yoga terdiam sejenak,


" Apa...mas Damar mencariku?" tanyanya kemudian.


" Iya.. dia mencarimu dari siang mas, tapi sudah ku katakan kalau mas tidak enak badan dan tidur.." jawab Kaila.


" Baguslah... mungkin aku akan rebahan sampai besok, jadi tolong urus Bagas.. kau libur kuliah kan?"


Kaila mengangguk,


" ya sudah.. aku mau tidur lagi.." ujar Yoga.


" Tapi lepas dulu bajumu mas, dan ganti dengan yang lain.." sahut Kaila,


Yoga memandangi tubuhnya, lalu tersenyum tipis, ada kegetiran yang tampak di senyumnya.

__ADS_1


" Iya.. aku sampai lupa, bisa bisanya aku tertidur dengan baju ini.." ucapnya pelan.


__ADS_2