Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
belanja bersama


__ADS_3

Selama di perjalananan Kinanti sengaja menyibukkan dirinya dengan bermain HP.


Kinanti tau dengan jelas Yoga sesekali melempar pandangan padanya.


" Mau belanja apa ke pasar?" tanya Yoga tidak tahan dengan kediaman Kinanti.


" Beli oleh oleh ibu," Jawab Kinanti dengan nada seadanya.


" Owh.. ibu tinggal sendiri berarti?"


" tidak,"


" lalu dengan siapa?"


" dengan asisten rumah tangga kepercayaan mas Damar"


" Orang mana?"


" katanya sepupu si Yuk,"


" menginap?"


" tentu saja," jawab Kinanti sependek mungkin.


" Baguslah.. ibu juga sudah tua.." ujar Yoga.


" Sesampainya di pasar tinggal saja, aku bisa naik ojol," ujar Kinanti,


" Ah, mana mungkin ku tinggal.. kalau ada apa apa bagaimana aku bertanggung jawab pada mbak Winda dan mas Damar? toh aku masuk jam sepuluh.. dan ini masih pagi.." sahut Yoga tak mau meninggalkan Kinanti di pasar.


Kinanti diam, ia tak ingin menjawab lagi.


Sesampainya di pasar Kinanti turun dari mobil Yoga.


" Aku tidak lama," ujar Kinanti,


namun Yoga juga ikut turun,


" aku juga ingin mencari sesuatu.. sekalian saja aku ikut, Bagas suka sekali jajanan pasar.." ujar Yoga,


mendengar itu Kinanti menghela nafas, ia tak bisa berkata apapun jika itu perihal Bagas.


Bocah laki laki yang tumbuh tanpa kasih sayang ibunya sejak bayi itu, tak patut mendapatkan kebenciannya karena perilaku bapaknya.


Jadi apapun itu tentang Bagas, ia bisa mentolelir.


Kinanti berjalan masuk ke dalam pasar, dengan Yoga yang mengekor di belakangnya.


Banyak mata yang memandangi mereka, mungkin karena tampilan Yoga yang berkulit bersih dan tampan itu.


Diam diam Kinanti mengeluh dalam hati,


wajar saja orang mengagumi ketampanan Yoga, karena dulu Kinanti juga mengaguminya.


Namun Diam diam Kinanti juga kesal, suaminya tak kalah tampan, bahkan lebih tinggi dan maskulin.


Setelah mampir ke beberapa toko dan membelikan ibunya bahan bahan pokok Kinanti tidak berniat belanja lagi.


" Sini, itu berat.." ucap Yoga merebut beberapa belanjaan yang memang berat di tangan Kinanti.


" Untung ku antar tadi, belanjaan begini banyak tidak mungkin di bawa dengan motor.." imbuh Yoga.


" Kau berisik.." gerutu Kinanti, namun bukannya marah, Yoga malah tersenyum.


" Kita beli kue kue basah dulu ya.." Damar berjalan berkeliling, mencari penjual kue kue basah.


Dan akhirnya mereka berdua menemukan tempat jajanan pasar yang sudah berpindah lebih jauh.


" Lho Nan? lama ndak ketemu? ini tho suamimu?" tanya seorang teman lama Kinanti di SMP tiba tiba menyapa Kinanti.


" Buk..?" belum sempat Kinanti menyelesaikan kalimatnya, Yoga menyahut,


" Selamat pagi.. teman Kinanti ya?" Yoga melempar senyum,

__ADS_1


" Iya mas.. teman Kinanti SMP.." Jawab teman Kinanti membalas senyum Yoga, rupa rupanya wajah Yoga itu benar benar meresahkan si teman lama.


" Kami sudah selesai belanja, mari kami pamit dulu.." ujar Yoga menangkap ekspresi tidak senang di wajah Kinanti.


Keduanya kembali berjalan ke arah parkiran mobil.


Setelah memasukkan semua belanjaan, keduanya melanjutkan perjalanan kerumah ibu Kinanti.


" Jangan bertindak berlebihan, kalau memang ingin menjalin hubungan baik denganku kembali, perlakukan aku layaknya istri saudaramu,


ini semua demi Bagas, aku tak ingin kita terus bermusuhan di karenakan sesuatu yang sudah lama berlalu.." Ujar Kinanti berusaha bijaksana.


" Berlebihan seperti apa?" tanya Yoga melirik Kinanti yang duduk disampingnya.


" Jangan menunjukkan pandanganmu hang seolah olah kita masih memiliki hubungan, itu akan memicu kesalahpahaman,


aku juga takut mas Damar akan menyadari itu,


jadi tolonglah aku.. aku ingin mempunyai kehidupan rumah tangga yang normal dan tentram dengan mas Damar.." jawab Kinanti.


Yoga menghelas nafas panjang, lalu tersenyum.


" Aku juga ingin.." ucapnya Yoga kemudian,


" Maksudmu?"


" Aku juga ingin mempunyai kehidupan rumah tangga seperi apa yang kau ucapkan.."


ujar Yoga sembari membelokkan mobilnya ke pertigaan ke arah jalanan menuju rumah Ibu Kinanti.


" Kalau begitu carilah ibu yang baik untuk Bagas, jangan sembarangan," ucap Kinanti sekenanya.


Yoga terdiam, sorot matanya tiba tiba sayu dan tak bersemangat.


" Tidak ada yang bisa ku lakukan untuk merubah keadaan.. hatiku rasanya sakit sekali.." Gumam Yoga.


" Sudahlah...hanya dengan dekat dan bisa melihatmu setiap hari saja aku sudah senang..


harusnya aku bersyukur..


maafkan aku.." imbuhnya lebih jelas agar Kinanti mendengarnya.


Kinanti menoleh ke arah laki laki yang sedang fokus menyetir itu.


Andai saja Yoga tidak berkhianat, mungkin mereka akan bahagia sekarang, pikir Kinanti.


Yoga adalah laki laki yang amat berpengaruh di hidupnya, bohong kalau Kinanti bilang tidak, namun Kinanti sudah menyerah dengan perasaannya saat ia tau Yoga menikahi perempuan lain.


Dan sekarang, meskipun ada perasaan yang tersisa di sudut yang paling kecil di hatinya..


saat mengingat Damar ruang di sudut hatinya yang kecil itu lenyap tiba tiba.


Laki laki yang menjadi suaminya itu, tiada dua pengorbanannya..


ia bertindak sebagai seorang ayah, kakak, dan kekasih..


Damar yang sederhana lebih segalanya dari dari Yoga yang tampan populer dan terlihat mahal ini.


Diam diam Kinanti mengeluh,


" Kenapa kau dulu mengkhianati ku?" ucap Kinanti tiba tiba,


kalimat yang tak pernah keluar dari mulut Kinanti itu tiba tiba meloncat begitu saja.


Yoga yang tersentak menepikan mobilnya seketika.


Wajahnya terlihat tak baik baik saja,


setelah tertunduk cukup lama,


ia memberanikan diri menatap mata Kinanti.


" Aku... aku masih sangat muda saat itu, aku hanyalah seorang pengecut dalam tubuh dewasa..

__ADS_1


saat itu papa dan mamaku menentang hubungan kita, namun aku tetap bertahan selama 3 tahun.." ujar Yoga,


" Lalu kau menyerah dan membuang cinta dan kebersamaan kita sedang mudah?" suara Kinanti tajam.


" Tidak..?!" tukas Yoga cepat dengan mata memerah, hatinya sakit sekali.


" Aku sebenarnya tak ingin menyerah akan hubungan kita..?!"


" tapi kenyataannya kau menyerah.." Kinanti membuang pandangannya keluar kaca jendela mobil.


" Aku meninggalkanmu karena terpaksa, keluarga ku mengancam akan mempersulitmu dirimu dan keluargamu,


apa kau ingat saat pulang kuliah tiba tiba kau di ganggu segerombolan laki laki?" Kinanti sontak menoleh ke arah Yoga.


Yah hal itu memang sempat terjadi dua kali, tanpa alasan dan sebab Kinanti di tarik ke tempat sepi dan di paksa di cium oleh beberapa laki laki, bahkan di perlakukan kasar, namun untung saja saat itu Yoga dan teman temannya datang tepat waktu.


" Itu perbuatan almarhum papa.. dia mengancam akan merusakmu jika aku terus bersamamu.."


" Omong kosong?! kau bahkan bermesraan dengan perempuan lain!" tukas Kinanti tajam.


Yoga menutup wajahnya dengan telapak tangan Kanannya,


" Itu ku sengaja.. itu ku sengaja, agar kau mau memutuskan hubungan kita.." ucap Yoga dengan suara bergetar.


" Kau bohong?!" Kinanti tak terima dan tak percaya.


" Aku bersumpah demi Bagas.." jawab Yoga.


" Kau pembohong! dasar tidak waras!" Kinanti sengit,


" kau benar, aku tidak waras.. setelah berpisah darimu aku jadi orang brengsek.. perempuan itu hanya ku gunakan sebagai pelampisan,


dan sikapku seperti laki laki gila yang haus perempuan..


aku tidak bisa melupakanmu?!


karena itu ibu Bagas lelah dengan diriku yang tidak mencintainya dan berselingkuh dengan pria lain yang bisa memberinya kehangatan..


setiap tidur dengan ibu Bagas, yang di pikiran ku malah dirimu..


tak ada satupun yang tau itu, aku rela di pandang sebagai laki laki brengsek..


asal kau aman dan bisa hidup dengan baik..?"


Yoga meraih tangan Kinanti dan menciumnya.


" Apa yang kukatakan adalah kebenaran.. aku bahkan rela bersumpah demi putraku satu satunya.." ucap Yoga lemah.


" Harusnya kau tidak pernah bertanya.. dan aku tidak akan pernah menjawabnya..


harusnya aku tetap menjadi sosok jahat sampai aku mati..


tapi hatiku tidak sanggup melihatmu di depan mataku setiap hari..?"


Dada Kinanti bergemuruh, sedih kecewa dan tak percaya dengan apa yang ia dengar campur aduk menjadi satu,


namun ia tau, Yoga tidak akan berbohong dan bersumpah atas nama Bagas dengan seenaknya.


" Lepas kan tanganku.." ucap Kinanti lirih, ia menarik tangannya, namun Yoga erat memegangnya.


" Aku masih sangat mencintaimu.." ucap Yoga dengan mata yang sudah tak sanggup lagi menahan air mata nya agar tidak jatuh.


" Aku istri mas Damar!" tegas Kinanti dengan mata yang sama sama basah, hatinya terluka sekali dengan kenyataan yang ia terima saat ini.


" Aku tau.. aku tau.. aku tidak meminta kau membalasku, aku tidak meminta kau memperlakukan aku dengan baik..


hanya cukup biarkan aku tetap diam dan tenang disampingmu..


jangan usir aku, itu sudah cukup bagiku Nan...??"


Yoga meletakkan telapak tangan Kinanti di pipinya dan memegangnya dengan erat sehingga Kinanti tak bisa menarik tangannya.


Kinanti seperti tercekat, ia bahkan bingung harus berkata apa, situasi ini benar benar di luar kendalinya.

__ADS_1


__ADS_2