
Beberapa orang terkadang tidak menyadari, bahwa tidak hanya dirinya yang terluka sendiri..
Kadang saat ia merasa terluka dan beranjak pergi,
tanpa sengaja ia juga melukai hati orang lain yang mengharapkan kehadirannya.
Kekecewaan menjadi suatu alasan yang tepat, layaknya senjata tajam yang kapan saja bisa menusuk dada seseorang.
Perasaan.. terkadang begitu dalam membawa kita larut dalam kesedihan, tanpa bisa kita hentikan.
Kita terus saja menghidupinya.. layaknya kita adalah manusia yang paling terluka.
Kinanti turun dari bus yang sudah ia tumpangi selama 13 jam.
Jalanan terlihat lumayan ramai meski masih dini hari.
" Hallo?, kau sudah sampai di Luwih panjang? tunggu aku disana ya?" terdengar suara seorang perempuan menjawab panggilan Kinanti.
Kinanti melihat kanan dan kiri, situasi yang berbeda sekali dengan malang, terminal ini begitu ramai dengan taksi dan tukang ojek yang menawarkan diri untuk mengantar.
Namun Kinanti hanya menggeleng sembari tersenyum,
ia di wanti wanti sahabatnya semasa kuliah untuk diam dan menunggu.
Lima belas menit kemudian datang seseorang dengan motor matic berwarna putih.
" Nan?!" suara perempuan di atas motor itu begitu riang sembari melambai lambaikan tangan ke arah Kinanti.
" Din?!" Suara Kinanti tak kalah senang, senyumnya merekah lebar sembari berjalan mendekat ke arah si pengendara motor.
" Selamat datang di Bandung wahai orang malang!" Ucap Dinda sembari memeluk Kinanti erat.
" Sepeti kau bukan orang malang saja?!" balas Kinanti, dan keduanya tertawa.
" Ayo sudah naik, kita cari sarapan di tempat langgananku!" ucap Dinda,
" Subuh subuh begini?"
" wes tho Nan.. cepat naik..!" ujar Dinda, dan Kinanti segera naik dengan tas punggungnya yang tidak begitu besar itu.
Setelah 15 menit berkendara melewati daerah Buah batu,
Winda berhenti di salah satu tempat makan tenda di pinggir jalan yang bertuliskan 'Lalapan lamongan'.
Dinda menarik satu kursi untuk Kinanti duduk setelah keduanya masuk.
Terlihat seorang laki laki sedang sibuk menanak nasi, dan satu laki laki lainnya sibuk membuat teh hangat.
" Lho?! dari mana mbak Din? hayooo..?!" kata si tukang lalapan sembari tersenyum menggoda Dinda.
" Eleh.. anak muda, yo dolan (main).." jawab Winda sekenanya.
" Dolan kok subuh..!" sahut si tukang lalapan.
" Dari luwih panjang cak Wito.. jemput temanku dari malang.." jawab Dinda.
" Lho? tiang ( orang )malang tho mbak?" tanya cak Wito mengalihkan pandangannya pada Kinanti yang hanya mengangguk saja.
__ADS_1
" Kulo ( saya ) tiang ( orang ) lamongan mbak.. badhe ( mau ) liburan tho?"
" Iya.." jawab Kinanti tersenyum.
" Wes luwe iki cak Wit, maem seng biasa e yo? 2 porsi.. teh tawar satu, teh manis satu..!" sela Dinda.
Damar turun dari mobil Yoga dan segera berjalan kearah rumahnya.
Winda yang melihat Damar segera mengejar langkah Damar.
" Nan? Nan??" Damar mengetuk pintu dan mendorong pintu, namun pintu itu terkunci.
" Nan??!" panggil Damar lagi, ia ingin buru buru melihat wajah istrinya lalu memeluknya.
Rasa rindu yang sempat di tekannya dalam dalam sekarang sudah menguasainya.
" Nan? Kinan??!" panggilnya lagi tapi tak ada sahutan.
" Ini kunci rumahmu..!" suara Winda tiba tiba saja di belakang Damar.
Dengan sigap Winda membuka pintu rumah Damar dengan kunci yang ada di tangannya.
Damar tampak bingung,
" Kenapa kunci rumah di sampean?" tanya Damar,
" Memangnya istriku kemana?" tanya Damar.
" Sudahlah, masuk dulu dan bersihkan dirimu.." kata Winda tenang.
Ia bahkan meninggalkan motor trailnya di kontrakan yang ia tinggali saat ia keluar dari rumah, hanya karena ingin buru buru pulang.
Damar berjalan memasuki rumahnya yang terlihat sepi,
Ia masuk ke kamar, ke dapur, bahkan ke ruang kerjanya.
Mencari sosok perempuan yang sudah ia tinggalkan selama hampir tiga minggu.
" Yoga bilang istriku sakit? apa dia membohongiku?" tanya Damar berjalan kembali mendekat kepada Winda yang berdiri di ruang tamu sedari tadi.
" Kinanti memang kurang sehat seminggu ini.. Yoga tidak bohong.." jawab Winda.
" Lalu dimana istriku mbak?" Damar khawatir.
" Dia pulang kerumah mertuamu.."
" Kenapa mbak mengijinkannya?!" suara Damar meninggi,
" Lalu apa yang bisa ku lakukan? kau bahkan tidak kunjung pulang?
apa kau tidak tau apa yang orang bicarakan di luar sana ketika kau tak kunjung kembali?"
Suara Winda tajam, ia kesal sekali pada Damar.
" Kau harusnya lekas kembali saat semua sudah mulai mereda, bukannya bermain di luar sana?!"
Damar terdiam, ia merasa salah dalam hal ini, seharusnya ia memang tak terlalu lama tinggal di luar, dan seharusnya ia memberi sebuah kabar agar orang orang tak berpikir buruk atau khawatir tentangnya.
__ADS_1
" Bersihkan dirimu, lalu makan, setelah itu jemput istrimu.." ujar Winda setenang mungkin, lalu berbalik meninggalkan Damar.
Setelah membersihkan dirinya, dan mengganti baju, tanpa makan atau apa Damar segera mengambil kunci mobilnya dan menuju garasi.
" Minta maaf pada istrimu, dan bicaralah baik baik,
jangan singgung lagi perkara kalian kemarin,
kau dengar Dam?" Winda datang kembali untuk memberi saran, sebelum Damar akhirnya pergi dari rumah dengan mengendarai mobilnya.
" Kemana bu??!" suara Damar meninggi, darahnya seperti berkumpul di kepalanya.
Wajahnya memerah seketika.
" Dia bilang mau jenguk temannya, mungkin sekitar 3 hari.." jawab ibu kalem, tentunya si ibu sudah tau apa yang terjadi.
" Kenapa ibu mengijinkannya? bukankah dia sedang kurang sehat?" tanya Damar dengan suara lirih kembali, matanya mendadak sayu.
" Dia sesedih itu, bagaimana ibu tidak mengijinkannya le? ibu kira akan bagus baginya untuk mencari suasana yang baru,
tempat baru biasanya membuat pikiran lebih tenang.."
" Apa maksud ibu dengan tempat yang baru? dia istri Damar, kenapa tidak ada yang mencegahnya untuk pergi??" Damar tak terima dalam hati.
" Istrimu bukan lari.. istrimu hany menenangkan diri..
tentu saja ibu memberi ijin, karena sebagai suaminya kamu tidak ada disampingnya," ujar ibu membuat Damar tertunduk.
" Saya memang salah bu, kemarahan membuat saya tidak bisa mengambil langkah yang benar sesaat,
tapi bukan berarti saya mengabaikan istri saya..?"
" Lalu.."
" Lalu.. lalu saya menyadari, bahwa saya harus belajar bersikap lebih dewasa lagi dengan segera menyelesaikan sebuah permasalahan,
menundanya atau lari dari masalah itu hanya akan membuat timbulnya permasalahan yang baru.." Damar menyatukan kedua telapak tangannya dan saling meremasnya.
" Jadi.. tolong beri tahu saya bu..
istri saya kemana?" tanya Damar dengan hati gelisah.
" Dia bilang kerumah Dinda, teman baiknya saat kuliah dulu, dia juga bilang hanya akan beberapa hari saja.. setelah itu dia pulang..
jadi jangan khawatirkan dia,"
" Jangan khawatirkan bagaimana bu??! tolong beri tahu saya alamat si Dinda itu bu??" Damar tak tenang.
" Kalau tidak salah Dinda tinggal di malang juga, setau ibu, dulu sering main kesini..
daerah yang dekat bendungan.."
Damar diam, ia mendengus pelan, perasaannya campur aduk.
" Tolong telfon Kinanti bu, tanyakan alamat Dinda.. karena nomornya tidak aktif sejak tadi pagi,
biar saya menjemputnya bu..?" Damar memohon pada mertuanya.
__ADS_1