
Laki laki itu bangun karena seseorang menepuk lengannya beberapa kali.
Ia terduduk dengan wajah kusut, masih terlihat sisa sisa sembab di matanya.
" Sudah waktunya mas mandi dan bersiap siap.. mandilah dengan air hangat agar badan mas tidak tegang dan lebih rileks.." suara Yoga yang terbangun lebih dulu.
" Jam berapa ini?" suara Damar masih serak.
" Jam 5 pagi, segeralah bersiap siap, akad nikahmu jam 8.." jawab Yoga.
Tapi Damar masih tidak bangkit, ia duduk diam tanpa berkata apapun, dan dengan pandangan kosong ia menatap ke arah lantai.
Yoga menghela nafas, lalu duduk disamping Damar.
" Jangan merusak hari bahagia mu mas.." ujar Yoga,
" kasihani calon istrimu mas.. sekarang dia pasti sedang sibuk di rias, hatinya pasti sedang berbunga bunga membayangkan bagaimana reaksimu melihat bagaimana cantiknya dia hari ini.." imbuh Yoga.
Diam diam di liriknya jemari Damar yang mulai gemetar kembali.
Yoga menyentuh nya dengan kesal, menekannya sekuat tenaga agar tidak gemetar lagi.
" Kuasai dirimu mas?! apa sih yang kau takutkan sampai gemetar begini?!" Yoga mulai tidak sabar, sekarang Yoga tau kenapa Winda sering marah marah ketika keluar dari rumah Damar.
" Kesabaranku habis melihatmu mas?! kau terus saja menghidupi lukamu di masa lalu!
kau biarkan hati dan pikiranmu di geroti rasa bersalah yang berlebihan!
kau seakan sengaja membiarkan dirimu untuk tidak bahagia!" suara Yoga keras, padahal biasanya seujung kukupun dia tidak berani bertindak sekeras ini di depan Damar.
Karena ia tau, laki laki pendiam lebih menyeramkan ketika marah.
Dan dia tidak ingin memancingnya, namun di karenakan kondisi sekarang sedang mendesak dan hatinya benar benar jengkel, beranilah dia bertindak seperti itu.
" Kau mau membahagiakan calon istrimu? mana bisa mas?! kau lemah begini! trauma masa lalu saja tak bisa kau kalahkan!" Tegas Yoga,
Mendengar itu Damar menarik tangannya dari pegangan Yoga, ia terlihat kesal.
Jari jarinya yang semula gemetar, kini mengepal.
" Tubuhmu saja yang gagah mas, mentalmu lemah?! sudah menyerahlah, tidak usah menikah, serahkan calon istrimu pada lelaki yang lebih bisa melindunginya..!" imbuh Yoga membuat Damar berdiri seketika.
" Keluar dari kamarku kalau kau tak ingin babak belur pagi ini.." desis Damar menahan diri.
Suasana senyap beberapa lama,
Yoga yang merasa sudah berhasil mengusir kecemasan Damar bangkit dari duduknya, sekarang hatinya yang cemas karena melihat tangan Damar yang mulai mengepal, firasatnya mengatakan ia harus segera pergi dari kamar itu sebelum ia di hadiahi sebuah tinju.
" Nah! begitu dong.." ujar Yoga sembari memperlihatkan giginya.
Dengan langkah cepat ia kabur dari kamar Damar.
Setelah lama terdiam, Damar baru menyadari, tidak selayaknya dia marah seperti itu pada Yoga.
Karena sesungguhnya kata kata Yoga pahit seperti itu hanya untuk membuat dirinya sadar kembali dan membuang kecemasannya.
Dan benar saja, saat kecemasannya hilang, beban yang di rasakan tubuhnya juga berangsur menghilang.
__ADS_1
Kepalanya yang sakit, pundaknya yang berat, tangan dan kakinya yang gemetar berangsur menghilang.
Hanya tersisa sedikit nyeri di dadanya.
" Adus (mandi) Dam! Adus!! jam piro iki ( jam berapa ini)?!!" Sekarang gantian Winda meneriakinya dengan geram.
" Aduhh..?" keluh Damar lirih sembari menutup matanya,
telinganya sakit menerima teriakan Winda yang menggema di kamarnya.
" Kenapa aku harus di kelilingi perempuan galak sih..." gumamnya sembari mengambil handuk, lalu berjalan ke arah kamar mandi.
Suara gending gending jawa sudah di putar sejak pagi, hal itu bertujuan untuk memberi tahu bahwa di tempat ini sedang diadakan pesta perkawinan.
Tenda berwarna putih itu terlihat indah dan megah, di hiasi dengan lampu lampu kristal dan bunga bunga hidup di setiap sudutnya.
Tidak berlebihan namun terkesan indah dan hangat.
Sementara nuansa pelaminan begitu romantis.
satu kursi pelaminan berwarna putih yang di hiasi dengan bantal bantal berwarna emas.
Jajaran bunga melati yang di ronce seperti tirai berjajar di belakang pelaminan, di lengkapi dengan lengkungan bunga hidup yang terangkai elok.
Bunga mawar dan anggrek menjadi primadonanya.
Anggrek bulan yang cantik itu menjuntai kemana mana membuat tangan ibu ibu sungguh gemas ingin mengambilnya.
Tapi sayangnya segemas apapun ibu ibu, si perangkai berjaga semalaman agar bunganya tetap rapi dan segar.
" Apa kau senyum senyum?!" Yoga menepuk pundak Kaila yang sudah rapi dengan sanggul modern dan kebaya coklat mudanya, senada dengan beskap yang di gunakan Yoga.
" Membayangkan yang tidak tidak ya?" imbuh Yoga usil.
" Ihh! apa sih mas?! aku hanya membayangkan bagaimana rasanya duduk disana.." jawab Kaila ketus.
" Ya tinggal duduk, tapi jangan lama lama.. takutnya nular.." sahut Yoga.
" Nular?? emoh ah! kalau begitu mas Yoga saja, supaya ada yang mengurus Bagas?!"
Yoga nyengir mendengar itu,
" Emoh juga ah.." ujarnya lalu berjalan pergi.
Damar di beri sedikit polesan di wajahnya,
ia sesungguhnya tidak nyaman.
Pengantin pria yang pernah ia lihat tidak ada yang memakai bedak di wajahnya, tapi kenapa ia harus di pakaikan bedak dan lip gloss.
Ia geli sekali melihat bibirnya yang kemerahan di kaca.
Tapi ia terpaksa diam karena Winda berkali kali melotot padanya.
Dan akhirnya setelah Winda pergi barulah Damar berani bertanya pada si mbak perias.
" Mbak, harus ya saya pakai bedak?" tanyanya dengan raut tidak senang.
__ADS_1
" Cuma pakai foundation tipis tipis kok mas, biar nggak njomplang sama pengantin wanitanya.." jawab si mbaknya.
" Jadi maksudnya saya jelek mbak, karena itu saya di bedaki?" tanya Damar lagi dengan nada tidak senang.
" Masnya ganteng, manis malah.. tapi ini kan hari spesial mas, mas harus lebih ganteng dari pada hari hari biasanya.. kalau mas kelihatan sama seperti biasanya saya di marahi mbaknya mas nanti.." jawab mbak perias sabar.
" Nah.. sudah.. coba lihat di kaca, natural kan gantengnya.." si mbak tersenyum.
Damar bangkit, ia menghadap kaca.
Mengawasi dirinya sendiri.
Ia terlihat bersinar dengan setelan baju pengantin berwarna putih.
" Sebentar, blangkonnya.." si mbak menyematkan bros permata di blangkon itu, lalu menyerahkannya pada Damar agar Damar memakainya sendiri.
Itu karena Damar yang bertubuh tinggi tidak mau berbaik hati duduk kembali.
" Begini mbak?" tanya Damar membetulkan letak blangkonnya agar pas.
" Nah betul.." jawab si mbak mengambil keris yang sudah di balut roncean melati itu.
" Sudah mas, ayo keluar.. sebentar lagi pengantin wanitanya datang kok..
mas duduk saja di depan sembari latihan dengan pak penghulu.." ujar si mbak,
" Kerisnya?"
" nanti saya pasang di luar, sekarang mas keluar saja dulu.."
mendengar ucapan si mbak Damar berjalan keluar, tapi karena jarik yang di kenakannya begitu sempit, langkahnya jadi tidak bebas.
Beberapa ibu ibu yang melintas memandangnya sembari tersenyum.
" kok jadi kayak pinguin jalannya mas?!" ujar Kaila sembari tertawa keras membuat Damar malu.
Ia tidak menjawab, tapi melotot pada Kaila, sehingga gadis itu bungkam seketika.
" Aduh gantenge awakmu Dam..?!" ujar ibu ibu yang sengaja keluar dari dapur dan berjalan ke depan untuk melihat Damar.
Damar yang kikuk memutuskan segera duduk di depan pak penghulu yang sudah datang sejak 15 menit yang lalu.
Sementara ibu tiri Damar yang sudah berkebaya rapi dan di rias juga hanya duduk mengawasi.
Ia tidak berkomentar sepatah katapun karena dari jauh jauh hari sudah di peringatkan oleh Winda agar tak berkata atau berkomentar apapun yang bisa merusak suasana.
" Biarkan cucuku bahagia.." ujar Mbah uti yang duduk di sebelah ibu tiri Damar.
Nadanya halus namun penuh peringatan.
" Kenapa ibu ikut ikutan mengancamku?" ujar si ibu tiri kesal.
" Aku memperingatkan mu nduk, cukup cukup selama ini kau membuatnya dia timpa kesedihan,
mumpung kau masih hidup, cobalah menjadi ibu yang baik meski kau bukan ibu kandungnya,
Kasih sayangmu yang dia tunggu selama belasan tahun, tampakkanlah sedikit di hari bahagia ini" tegas mbah Uti sembari memberi senyum pada tamu dan keluarga jauh yang berdatangan.
__ADS_1