Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
anggrek yang menjuntai..


__ADS_3

Pagi, tepatnya jam tujuh tiga puluh, semua keluarga besar berkumpul.


Teras rumah berlantai dua itu terlihat semakin cantik karena pilar pilarnya di hiasi oleh rangkaian bunga yang di bentuk sedemikian rupa.


Anggrek dan mawar menjuntai indah dimana mana, belum lagi rangkaian melati yang tertiup angin ringan, membuat suasana tampak sakral dan khidmat.


Meski sederhana namun terlihat jelas oleh mata orang kampung bahwa sedang diadakan acara yang spesial di salah satu rumah keluarga besar Damar.


Teras dan halaman rumah di penuhi para keluarga yang sibuk berbincang sembari menunggu penghulu datang.


" Iki piye tho? manten lanange kok mecucu wae.. ( ini bagaimana? kok pengantin laki laki cemberut saja..)" pak dhe Darwis menepuk bahu Yoga yang terlihat tegang.


Laki laki itu tentu saja tampan seperti biasanya, namun hari ini ia tampak lebih cerah dan auranya lebih terpancar dengan setelan jawi jangkep,


jawi jangkep adalah baju pengantin pria klasik, berupa atasan beskap yang biasanya berwarna hitam, namun karena hari ini di khususkan untuk akad, jadi kedua pengganti serasi menggunakan warna putih, tak lupa dengan bawahan jarik, sebagai pelengkap.. tentu saja blangkon dan keris.


" Maaf mas.. melatinya.." si perias mendekat, memakaikan kalung melati segar di pada Yoga, tentu saja Yoga hanya diam dan patuh.


" Sudah mas.." si perias berbalik sopan dan berjalan pergi.


Pak dhe Darwis memandangi Yoga sambil menggeleng gelengkan kepala,


" Pancen ganteng awakmu lee.." ujar si pak dhe dengan senyum lebar.


" Lha bojomu durung mari tho?( lha istrimu belum selesai tho?)" tanya istri pak dhe Darwis mendekat.


" Belum sepertinya budhe.. budhe lihat saja di dalam.." jawab Yoga masih dengan wajahnya yang kaku.


" Malah ganggu nanti budhe, budhe tunggu sajalah.." ujar si budhe duduk di salah satu kursi kosong dekat dengan suaminya.


Damar terlihat berjalan dari kejauhan, sudah rapi dan ganteng dengan celana bahan hitam dan batik lengan panjangnya, rambutnya juga di potong tipis supaya terlihat lebih rapi.


Tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat semua mata mau tidak mau memandangnya.


Kulitnya yang sawo matang,


alisnya yang tebal dan hidungnya yang mancung tentu saja membuatnya tampak sangat maskulin.


Damar tak setampan Yoga yang berkulit cerah, namun Damar mempunyai daya tarik sendiri yang cukup kuat.


Bahkan hanya dengan berjalan di tengah keramaian saja dia sudah tampak menarik, bahkan beberapa rekan sejawat Yoga yang perempuan sampai memperhatikan Damar dari atas ke bawah.


" Penghulu sudah dijalan, suruh Dinda cepat keluar," ujar Damar ketika sudah di hadapan Yoga dan pak dhe Darwis.


" Iya mas.." Yoga bangkit, dan segera berjalan kedalam rumah dengan mengangkat sedikit jariknya agar langkahnya sedikit lebar.


" Wah.. ini dia bapak pengusaha kita..?!" goda si pak dhe menepuk lengan Damar.


" Alah.. pak dhe.." sahut Damar mengulas senyum.


" Istrimu sehat lee?"


" Alhamdulillah pak dhe, sudah jalan tujuh.. minta doannya pak dhe.."


" ya pasti di doakan tho lee.. piye ngidam opo ae..?"

__ADS_1


Damar tersenyum mendengar pertanyaan pak dhe nya itu,


" Lah malah mesem..?"


" lha iya.. wong yang ngidam itu saya bukan dia.." jawab Damar,


" lho iyo tho?! waduh! tanda tanda bakal jadi foto kopimu iki le..?!"


" lha mau mirip siapa pak dhe? wong saya bapaknya.." sahut Damar tertawa lebar.


Dinda sudah siap dengan kebaya putih kutu barunya.


Kebaya yang penuh payet di bagian dada dan lehernya, berkesan mewah namun ringan.


Di tambah dengan sanggul solo putri yang di hiasi sari ayu malangan dan mawar merah di samping samping lekukan sanggul,


Warna lipstik yang senada dengan warna mawar membuat Dinda tampak cantik dan anggun.


Berbeda dengan Kinanti dulu yang tampak anggun dan kalem,


tampilan Dinda terlihat seksi dan menarik, lipstik yang merah membuat Dinda tampak sangat dewasa dan misterius.


" Sudah mbak.. saya pamit dulu.." kata mbak perias setelah menambah lipstik Dinda.


Dinda tersenyum sembari mengangguk,


dan perias itu segera mengangkat barang barangnya keluar dari kamar Yoga.


" Ayu mbak.." ujar Saudara perempuan Dinda yang sedari tadi duduk di ujung ruangan tanpa bersuara.


" Kabeh wong lek di pacak i yo ayu nduk.. ( semua orang kalau di make up ya cantik nduk..)" jawab Dinda.


" Seksi Din.." celetuk Kinanti,


" seksi opo?!"


" Lha memang seksi.. rasanya tidak sabar melihat ekspresi Yoga.." Kinanti terkekeh.


" Sudah lah Nan, jangan bicarakan makhluk menyebalkan itu.."


" hahahahaa..!" Kinanti tak bisa menahan diri, ia tergelak.


" Husss..!" tegas Dinda,


" Lha iya.. sudah mau akad nikah kok masih saja ribut seperti anak anak..?! tapi pantas sih dia bersikap seperti itu,


apalagi jika melihatmu sekarang, wahh.. hatinya pasti gatal dan bibirnya pasti lebih panjang..


kau benar benar tampak luar biasa Din?!" ujar Kinanti serius namun masih di susupi tawa ringan.


" Kan kau dan mbak Winda yang menyarankan make up seperti ini??" Dinda berkaca, wajahnya tampak tegang.


" Benar, dan ternyata pilihan kami tidak salah kan? saking cantiknya dirimu Yoga pasti gatal..


aku tidak membayangkan raut wajahnya saat laki laki di luar sana memandangimu.." Lagi lagi lagi Kinanti tak bisa menahan tawa.

__ADS_1


" Yang datangkan hanya keluarga.."


" Eh.. apa kau lupa ada teman temannya? lagi pula cemburunya Yoga itu tidak pilih pilih, mau keluarga tidak.. pukul rata..!" Kinanti terkekeh.


" Huss..! ada adikku disini?!"


" aduh..! iya?!" Kinanti buru buru menutup mulutnya.


" Tok! tok! tok!" terdengar suara pintu di ketuk.


" Kalau sudah cepat keluar, penghulu sudah mau sampai?!" terdengar suara Yoga dari luar.


" Nah itu pangeranmu?! panjang umurnya!" ujar Kinanti lagi tertawa, sungguh hari ini Kinanti benar benar tampak bahagia dan ceria.


Kaftan berwana unggu muda yang di pakainya menambah keanggunannya.


Pipinya yang di beri blus on bernuansa peach dan pipi yang juga semakin bulat dari hari ke hari itu itu membuatnya tampak ranum, seperti apel merah yang sudah siap petik.


Kinanti tentu saja tampak menggemaskan, tak kalah cantik dengan sang pengantin meski perutnya kini sudah tampak besar.


" Oke! kami keluar sebentar lagi!" jawab Kinanti dengan suara keras.


" Nah.. ayo kita keluar, kembangkan senyummu.. sudahi ngambekmu pada Yoga.." Ajak Kinanti menarik lengan Dinda.


Dinda keluar dari kamar, ia berjalan perlahan karena jariknya yang terlalu sempit.


Disampingnya ada Kinanti dan adik perempuannya.


Yoga, Damar, ayah tiri Dinda dan keluarga tua dari keluarga Yoga dan Dinda sudah duduk rapi berjajar.


Seperti apa yang di harapkan Kinanti, Yoga tertegun sejenak ketika melihat Dinda yang benar benar berbeda hari ini.


Namun Yoga buru buru menundukkan pandangannya saat Dinda sudah duduk disampingnya.


Penghulu yang baru saja datang bersama asistennya duduk di hadapan Yoga dan Dinda.


" Sudah lengkap semuanya?" tanya penghulu,


" sudah lengkap pak.. mas kawin dan saksi," sahut Damar cepat, ia duduk tak jauh dari Yoga.


Saat penghulu sedang sibuk membaca kertas berisi keterangan di atas meja,


Yoga diam diam mengulurkan tangannya kearah Dinda dan menggenggam tangan kanan perempuannya itu.


Dinda tak menyangka Yoga akan melakukan hal yang membuat Dinda trenyuh di saat saat seperti ini.


Tangan laki laki itu terasa dingin dan tegang.


Padahal bukan pernikahan yang pertama, tapi entah kenapa ketegangan yang Yoga rasakan luar biasa.


Melihat Yoga yang tegang dan kaku, Dinda mengelus punggung tangan Yoga, membuat laki laki itu sontak menatap Dinda yang tepat duduk disampingnya.


Keduanya beradu pandang dan saling tersenyum.


Tanpa Yoga dan Dinda sadari, sedari tadi kelakuan keduanya di perhatikan oleh orang di sekitar mereka, termasuk si pak penghulu.

__ADS_1


" Wahh.. mantene wes ora sabar iki..( wah.. pengantinnya sudah tidak sabar ini..)" goda pak penghulu membuat seluruh ruangan riuh tawa.


__ADS_2