Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
kau bukan pengganti aji..


__ADS_3

Damar baru saja turun dari motor, tapi Kinanti buru buru keluar menghadangnya.


Damar mundur, tentu saja kaget karena ia tak pernah melihat Kinanti berlari seperti itu kearahnya.


" Ada apa?" tanya Damar Khawatir,


" jangan masuk dulu..?" Kinanti menghadang langkahnya.


" Kenapa? tingkahmu aneh.." komentar Damar,


" Ibu pasti akan memarahimu.."


" kenapa?"


" Dia melihatmu mencium tanganku mas..?"


berbeda dengan wajah Kinanti yang cemas, mendengar itu Damar malah tersenyum.


" Santai sekali?!" Kinanti menekan suaranya agar lebih kecil,


" Biarkan ibu tau.. toh setelah kau menikah aku tak akan menganggumu..


aku juga tau diri..


kecuali kau mau aku menjadi selirmu.." jawab Damar sembari tersenyum, namun itu bukan senyum kebahagiaan.


" Apa apaan kata katamu itu mas, apa mas kira aku perempuan yang bisa bertindak semacam itu?, aku hanya takut ibu memarahimu, karena aku sudah mendapatkan kemarahannya?!,


apa yang sudah terjadi adalah sebuah kesalahan.." tegas Kinanti dengan suara yang masih di tekan agar terdengar lebih lirih.


Damar lagi lagi tersenyum,


" Ibu itu marah mas?? mas itu faham tidak sih??"


" pastinya, karena saat kau ku ajak menikah baik baik kau tidak mau.. dan sekarang saat kau akan menikah dengan orang lain kau malah berciuman dengan ku.." ujar Damar membuat wajah Kinanti memerah.


" Jadi.. kalau ada yang harus di salahkan, tentu saja itu kau..


jika ibu memarahimu itu wajar..


kau mengambil hati dua laki laki sekaligus..


sedangkan aku..


aku hanya memperjuangkan perasaanku yang sesungguhnya sudah di ketahui ibu sejak lama..


semarah apapun ibu padaku..


dia akan memahaminya.."


Kinanti menatap Damar tak percaya, bagaimana bisa ia di salahkan sekarang.


" Kenapa jadi aku yang salah? mas yang mendorong diri mas sendiri kepadaku, dan sudah sering kali aku memperingatkan mas..!" Kinanti kesal.


Damar tertawa kecil tiba tiba, ia menyentuh rambut Kinanti,


" Tidakkah kau terlalu galak untuk ukuran tubuhmu yang kecil itu.." ucap Damar lalu berjalan melewati Kinanti begitu saja.


" Ibu memanggil saya kesini untuk kue ini bu?" tanya Damar ketika sudah duduk di ruang tamu dengan ibu, sedangkan Kinanti di dapur membuat minuman untuk Damar.


" Tentu saja nak.." jawab ibu tenang,


" Terimakasih bu, karena selalu mengingat saya.." jawab Damar dengan senyum sedih.


" Dengarkan.. meski Kinanti menikah dengan orang lain, ibu tetaplah ibumu.." ujar Ibu, nadanya kalem namun berisi ketegasan.

__ADS_1


" Ibu tau perasaanmu.. tapi semua sudah seperti ini.." imbuh ibu,


Damar tersenyum,


" Maafkan Damar bu, Damar egois sejenak.. ingin memiliki apa yang tidak seharusnya Damar miliki.."


Damar tertunduk,


ibu menghela nafas berat, ia sungguh sungguh sayang pada Damar, andai saja Kinanti tidak bebal, mungkin saja Damar yang akan menjadi menantunya sekarang.


" Ibu tidak marah padamu, karena di mata ibu kau tidak murni bersalah..


ingatlah untuk berhenti memberi uang lagi,


sudah cukup segala bantuanmu,


ibu tak akan menerima apapun lagi darimu setelah pernikahan Kinanti.."


ujar Ibu,


" Jangan begitu bu.. katanya saya tetap anak ibu..?


kenapa ibu bersikap seperti ini kepada saya?


untuk Kinan mungkin saya akan berhenti,


tapi untuk ibu.. saya tidak bisa,


seorang anak laki laki harus bertanggung jawab sampai akhir pada ibunya..


itu yang akan Aji lakukan, dan saya adalah pengganti Aji,


meski ibu mencaci saya atau melarang saya kesini..


saya akan tetap melakukan tugas saya sebagai seorang anak.."


" Jangan mempersulit dirimu sendiri Dam.." ujar ibu tak kuasa, mata nya berkaca kaca, ia tiba tiba mengingat sosok putranya.


Dulu Aji sering membawa Damar kerumah ini saat libur kuliah, teman pertama yang Aji ajak setelah masuk ke universitas, dan ternyata teman terakhir yang Aji bawa juga,


namun ternyata meski Aji tidak ada tempat ini tetap menjadi rumah yang Damar kunjungi.


" Hidupmu tidak mudah setelah Aji pergi, ibu tau..


karena itu ibu tak mau kau menderita karena adiknya sekarang..


kau menahan perasaanmu sebegitunya tanpa Kinan menyadarinya..


anak bodoh itu, terlambat menyadari semuanya.." ibu tertunduk, mengusap sesuatu yang turun di pipinya dengan cepat, karena ia tak berharap Damar melihatnya.


" Pergilah nak.. menjauhlah dari kami..


bukan karena ibu benci..


tapi karena ibu sayang kepadamu..


sejak Aji membawamu kesini, ibu sudah merasa mempunyai satu putra lagi, jadi jangan selalu menganggap dirimu sebagai pengganti Aji, dirimu tetap dirimu.. kau bukan pengganti nak.." imbuh ibu.


Damar terdiam, mulutnya terkatup rapat, ia ingin menjawab, tapi dia takut kalimatnya akan menambah kesedihan untuk ibu.


Suasana hening untuk sesaat, hingga terdengar suara Kinanti yang sedang berbincang.


Tak lama kemudian Damar menemukan Kinanti yang masuk ke ruang tamu dengan dua Mug minuman.


Di belakangnya tiba tiba muncul Haikal yang mengikuti langkah Kinanti, laki laki itu terlihat kusut selayaknya orang yang baru saja terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


" Ada mas Damar toh?" ujar Haikal duduk di sebelah Damar.


Damar terhenyak, ia menatap Kinanti tajam, ada kilat kemarahan di matanya, bagaimana bisa Haikal keluar dari kamar Kinanti, ujarnya tak terima dalam hati.


Namun ia kembali teringat oleh kata kata ibu, dan dengan segera ia menundukkan pandangannya, bersusah payah menguasai diri.


Mungkin Haikal yang sedang mengantuk dan duduk disamping Damar tidak menyadari pandangan Damar, namun ibu dan Kinanti sudah pasti menangkap pandangan penuh kemarahan sekilas tadi dari Damar.


" Sudah lama mas?" tanya Haikal meminum kopinya.


" Belum terlalu lama.." jawab Damar datar.


" Saya padahal mau main main ke tempat mas, tapi belum sempat..


sibuk sekali soalnya mas.." ujar Haikal memecah kesunyian.


" Tidak apa apa.. kesibukanmu dinas saja kan?" tanya Damar tenang.


" Iya mas, tapi beberapa hari ini ada hal hal yang harus saya urus di tempat dinas saya yang lama.."


" Oh.. menyangkut pekerjaan juga pastinya.."


" Iya mas.." jawab Haikal tersenyum.


" Lalu bagaimana dengan persiapan nikah kantormu?"


tanya Damar lagi,


" Alhamdulillah mas.. Kinan hanya perlu dua kali lagi ke kantor dan terakhir untuk tanda tangan..


biasanya sih begitu prosesnya..


dua minggu sebelum hari H semua pasti sudah beres mas.." jelas Haikal,


" kau pasti capek ya ku bawa ke kantor beberapa kali.. tapi biasakanlah.. kelak kau akan sering sering kegiatan disana.." Haikal melempar pandangannya pada Kinanti sembari tersenyum.


Kinanti diam tak menjawab, ibu yang peka dengan situasi mulai masuk ke tengah pembicaraan.


" Sekarang sudah malam, pulang lah Dam..


bukan ibu mengusir.. tapi kasihan kau besok masih harus bekerja.." ujar ibu,


Damar tersenyum dan mengangguk,


" Iya bu, saya sedikit sibuk karena terjadi beberapa hal di luar ekspetasi saya.." jawab Damar,


" Karena itu.. saya mohon diri dulu bu.. kue nya saya bawa.." imbuh Damar lalu membawa dua kotak kue buatan tangan ibu sendiri.


" Hati hati mas.." ujar Haikal ketika Damar bangkit dari kursinya.


" Iya.." jawab Damar,


" saya pamit bu.." Damar mencium tangan ibu, lalu berjalan berlalu keluar dari ruang tamu.


Haikal juga ikut bangkit, ia akan mengikuti Damar keluar dan bermaksud untuk mengantar.


" Mau kemana?" tanya Kinanti,


" Mau mengantar mas Damar.." jawab Haikal polos.


" Antar saja dirimu sendiri.. ini sudah malam, mau menginap disini memangnya?" ujar Kinanti,


Haikal tersenyum mendengar itu dan melirik ibu.


" Kalau boleh bu, tapi sudah pasti tidak boleh.." ujar Haikal,

__ADS_1


" ya sudah.. saya pulang saja, tapi ingat ya nan, besok kita ke kantor ya.. jam 8 ku jemput.." imbuh Haikal sebelum pamit pada ibu dan akhirnya pulang.


__ADS_2