Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
terus berjalan..


__ADS_3

Banyak hal yang tak bisa di paksakan..


karena manusia hidup berdasarkan takdirnya..


Tuhanlah yang menentukan hasil dari segala usaha manusia..


jika takdir tak bisa di rubah..


maka nasib bisa di rubah dengan usaha dan doa yang tulus..


janganlah terus meratapi atau mengeluh..


karena.. jika kita tidak terus berjalan, bagaimana kita bisa tau apa yang akan menyambut kita di depan..


Yusuf termenung dalam kamarnya, memikirkan ucapan pak Raji dari hari ke hari.


" Makan lee.." suara ibunya dari balik pintu,


Yusuf menjadi pendiam sekali beberapa hari ini, tak seorangpun tau..


bahkan Kaila,


apa yang sesungguhnya mengganjal hati laki laki itu.


" Lee... ayo makan le..??" suara ibunya memanggil lagi, namun karena tak juga mendapat sahutan, kakak kandung dari ibu Kinanti itu masuk ke kamar putranya.


Menemukan putranya sedang duduk di atas tempat tidur sembari bersandar di dinding, si ibu mendekat dan duduk tak jauh dari putranya.


" Kenapa? apa yang membebani pikiranmu nak?" suara si ibu lembut.


Yusuf menggeleng sembari mengulas senyum.


" Apa karena paksaan kami? pacarmu tidak mau datang kemari??" tanya si ibu melihat kesedihan di mata putranya.


" Mas?!" Kaila berjalan terburu buru menyusul langkah Damar yang sedang berjalan ke arah sawah.


" Mas?!!" panggil Kaila lebih keras agar langkah Damar melambat.


Dan benar saja, Damar melambat dan menghentikan langkahnya.


" Opo seh La?" Damar berbalik menatap adiknya.


" Aku mau bicara sebentar?"


" ngomong kok disini, ngomong ya dirumah, nanti saja?!" ujar Damar.


" Nggak mau, kalau dirumah ada mbak Kinan, aku sungkan..?"


" mau ngobrol apa sih kok pakai sungkan segala ke mbak mu?!"


Kaila diam,


" Ya sudah, bicara disana..!" Damar melanjutkan langkahnya, menuju gazebo bambu yang di buat seadanya oleh para petani untuk berteduh saat hujan dan makan siang saat terik.


Saat keduanya sudah sampai dan duduk, Kaila mulai menyampaikan segala keresahan hatinya.


" lalu kenapa kau menolak ajakan Yusuf?" tanya Damar sembari membakar rokoknya.


" Aku malu mas.. mas tau kan, selama ini aku hanya asal pacaran saja?"


" jadi maksudmu kau tidak serius dengan Yusuf?" Damar menghisap rokoknya, sementara Kaila sibuk membenarkan rambutnya yang menampar nampar lembut wajahnya di karenakan angin.


" Awalnya tidak..." jawab Kaila sedikit canggung,


" lalu?"


" ku kira aku.. benar benar.. sayang.. pada Yusuf sekarang.." jawab Kaila dengan terputus putus, ia juga takut salah bicara di hadapan kakaknya itu.


" Lalu kenapa kau menolak datang kerumahnya jika kau sudah merasa sayang? kau tidak yakin Yusuf benar benar sayang atau tidak padamu?"


" Aku tau dia sayang padaku, aku juga senang dia mau mengenalkan ku ke orang tuanya.."


Damar menghela nafas mendengar kata kata adiknya itu.

__ADS_1


" Kau takut padaku atau ibu?" tanya Damar tiba tiba, membuat Kaila kaget.


" Aku.. aku.. sebenarnya begini mas.." suara Kaila ragu ragu,


" Ibu mengenalkan ku pada putra temannya, aku tidak ada itikad untuk dekat dalam bentuk apapun dengannya,


tapi kemarin dia datang ke kampus..


aku menolaknya dengan halus, tapi Yusuf menemukan kami sedang berbincang..


kurasa dia salah faham.."


jelas Kaila.


" Apa dia marah?"


" tidak marah.. tapi dia terus diam padaku.."


" Baguslah.. kau menolak ajakannya datang kerumah, lalu dia menemukanmu berbincang dengan laki laki yang di perkenalkan ibu..


kalau jadi Yusuf mungkin aku akan mundur saat itu juga.." nada bicara Damar seperti menyindir akan sikap Kaila yang tidak tegas,


Kaila tertunduk mendengar itu.


" Begini saja La, putuslah dengan Yusuf.." lanjut Damar ringan dan santai.


Kaila terbelalak, ia tak menyangka Damar akan mengatakan itu.


Ia mengharapkan sebuah nasehat yang berisi ketenangan dan kekuatan untuknya, bukan malah kata kata putus.


Kaila terus menatap Damar dengan resah, mengharapkan kata kata baik akan menyusul,


namun Damar tak berkata apapun lagi, ia terus saja merokok dengan tenang, itu membuat Kaila frustasi dan mulai mengigit jarinya.


Sekitar lima belas menit keduanya terdiam dengan Kaila yang tampak canggung karena kata kata kakaknya itu,


terlihat Yoga dari kejauhan berjalan ke arah Damar dan Kaila yang sedang terlihat begitu serius itu.


" Apa aku menganggu?" tanya Yoga saat sudah di hadapan Damar yang berwajah sepeti lelah.


Yoga melirik Kaila sejenak, lalu kembali pada Damar.


" Anu mas.. aq kan ada acara di daerah dekat rumah Dinda.." Yoga sedikit kikuk,


" Lalu?"


" aku boleh ya mas mampir kerumah Dinda??" tanya Yoga dengan wajah penuh harap.


" Jangan membuat masalah, kata Kinanti kau selalu ribut dengannya, toh seminggu lagi dia menginap disini."


" Kalau disini kan aku tidak bisa ngobrol dengannya, dia pasti nempel Kinan, eh..! mbak yu..?"


" aku menyuruhmu mencari istri, bukan mencari perempuan untuk kau goda atau main main." tegas Damar dengan nada datar.


Sebal sekali rasanya, Kaila dan Yoga sama sama membuatnya berpikir di tengah ketenangan yang sudah ia rasakan.


" Kalau mas ijinkan aku tidak akan main main..?" keduanya saling menatap, dan tatapan Damar sangat serius.


" Aku pergi sajalah.." sela Kaila tiba tiba, gadis itu bangkit dengan wajah masam dan berlalu begitu saja.


" Kenapa dia? mas marahi?" tanya Yusuf ,


" kalian berdua itu sudah bukan anak TK, harusnya kalian faham apa yang baik dan tidak untuk diri kalian,


sudah sana, kalau mau pergi pergi saja, tapi jangan buat masalah,


aku sedang memperingatkanmu, tidak ada masalah sekecil apapun yang boleh menganggu istriku."


" Aku tau mas, berarti aku sudah dapat surat jalan?" Yoga mengulas senyumnya yang lebar.


Damar bergidik melihatnya,


" astagaa.. sana sana!"

__ADS_1


mendengar itu tentu saja Yoga berbalik dan pergi dengan langkah cepat meninggalkan Damar yang masih duduk di gazebo sederhana itu.


Laki laki itu menghisap rokoknya, dan melempar pandangannya pada hamparan padi yang terbawa angin kesana kemari.


" Orang sibuk membicarakan cinta.. padahal jodoh tak memandang itu semua.." gumamnya pelan sembari menikmati angin.


Yoga menggendong Bagas dan menyerahkannya pada Winda.


" Inginnya ku ajak, tapi aku takutnya pulang malam.."


" Memangnya kau mau kemana?" tanya Winda menggendong Bagas yang terlihat ngantuk itu.


" Aku mau pergi mbak.. jangan tanya kemana.."


" lho? maksudmu opo kok jangan tanya kemana?!"


" Wes tho mbak.. sing penting niatku ini baik.." Yoga tersenyum lalu mencium pipi Winda, ia terlihat begitu bersemangat, tak seperti biasanya.


" Kau mau bertemu perempuan ya?" tanya Winda seakan mengerti,


" adikmu sedang berusaha ini mbak.. dukunglah..


mas Damar dan Kinanti mengenalnya kok.."


Winda menghela nafas berat,


" Awas kalau kau main main Yog..?!"


Yoga menggeleng pasti, lalu mencium pipi putranya,


" Bagas mau punya mama?" tanyanya pelan pada Bagas,


" Mau papah.." jawab anak itu polos sembari mengangguk, membuat hati Winda nelangsa melihatnya.


" Berangkatlah, kalau kau sudah berkata seperti itu pada anakmu, jangan mengecewakannya.." ujar Winda kalem.


" Aku tidak yakin akan di terima dengan mudah.. tapi aku akan berusaha..


dia adalah perempuan yang mandiri dan sederhana, pekerja keras dan prinsipnya kuat.."


Winda mengangguk,


" berangkatlah.. hati hati dijalan.." dukungan Winda menyertai langkah Yoga, begitu juga putranya, yang menginginkan sosok seorang ibu.


Dengan langkah tenang laki laki berkulit putih itu keluar dari rumah Winda dan segera berjalan ke arah mobilnya.


Dari kejauhan dia tak sengaja melihat sosok Kinanti yang sedang berjalan keluar rumah, ia menggenakan daster sepeti biasanya dengan rambut yang di jepit kebelakang, dan dengan perut yang sudah mulai membuncit.


Mungkin dia akan menyusul suaminya di sawah.


Yoga diam diam tersenyum lega, ia bersyukur perasaannya yang tak karuan setiap melihat sosok Kinanti itu sudah hilang.


Ternyata benar, apa yang dirasakannya selama ini adalah sekedar rasa tidak terima dan obsesi semata,


karena saat ia sudah menerima kenyataan bahwa masa lalu tidak bisa di ulang, dan Kinanti sudah berbahagia dengan Damar, keikhlasan dan ketenangan telah menyelimuti hatinya.


Tak ada lagi gemuruh dan gejolak gejolak tidak wajar yang di rasakan nya saat melihat Damar mendekap Kinanti di hadapannya.


Syukurlah.. batin Yoga, sekarang saatnya ia membuka lembaran yang baru, ada satu sosok perempuan yang menarik perhatiannya, dan mulai mengisi angan angan Yoga.


Yoga tak mau terlambat lagi, atau bersikap malu malu yang tidak jelas, ia harus mengambil langkah cepat.


Ada was was dalam hatinya saat menjemput Dinda dari bandara kapan hari, ia merasa kesal saat beberapa mata laki laki terang terangan melihat Dinda dengan ketertarikan,


entahlah, rasa kesal itu muncul begitu saja.


Setelah berpikir selama beberapa hari, ia akhirnya memutuskan,


akan menemui Dinda demi menyelami perasaannya sendiri.


Tidak hanya menyelami perasaannya, tapi ia merasa tidak ada sosok lain yang secocok Dinda dalam pikirannya.


Setelah lama larut dengan pikirannya, Yoga akhirnya memutuskan untuk segera masuk ke mobilnya, dan segera berangkat,

__ADS_1


ia benar benar nekat sekarang, tak ada yang boleh mencegah niatnya menemui perempuan yang sejak dulu menentang dirinya itu.


__ADS_2