
Yusuf masuk ke dalam Kantor Damar dengan langkah ragu.
Ia sudah tau dari buleknya kalau Damar sesungguhnya sudah tau tentang hubungan Kinanti dan Yoga di masa lalu.
Namun sesuai apa kata buleknya, Damar berpesan agar mertuanya itu merahasiakan pertemuannya dengan Damar dari Kinanti, karena tidak ingin membebani Kinanti dengan pikiran yang berat.
" Bagaimana kabarmu?" tanya Damar berpindah duduk dari kursinya ke sofa panjang dimana Yusuf juga duduk disana.
" Baik mas.." jawab Yusuf datar.
" Kau tidak keluar dengan Kaila lagi sekarang?" tanya Damar iseng, ia tau Yusuf sedang tidak baik baik saja.
" Tidak mas.. coba tanyakan saja padanya sendiri.."
" Lho.. kenapa harus bertanya padanya sementara kau di hadapanku sekarang..?" Damar mengulas senyumnya.
" Mungkin baginya aku tidak setara.." Yusuf tersenyum tipis, ada kekecewaan yang dia sembunyikan.
" Kesetaraan semacam apa yang kau bicarakan ini?" tanya Damar, namun Yusuf tak menjawab.
" Sejak awal, yang kuperdulikan adalah perasaan kalian, untuk hal lain itu tidak menjadi masalah bagiku..
kau adalah laki laki baik, aku mengenal orang tuamu,
aku juga tau kau bekerja dengan giat meski kau mengikuti orang tuamu..
jadi kesetaraan macam apa yang kau bicarakan?" Damar mulai serius, karena Yusuf terlihat benar benar terganggu.
" Yang dia inginkan adalah seseorang yang lebih dari diriku..
seperti mas mungkin,
laki laki yang jelas jelas mapan,
yang sumber penghasilannya tidak hanya dari satu tempat, dan mempunyai banyak kemampuan seperti mas mungkin.." jawab Yusuf.
" Kau tidak serius pada adikku.. benar kan?" pertanyaan Damar membuat Yusuf sontak menatap Damar.
" Mas cukup mengenalku? aku yang terlebih dulu tertarik padanya, jadi mana mungkinkan aku yang tidak serius dalam hal ini?" tegas Yusuf.
" Kalau begitu Kaila yang tidak serius?" tanya Damar, dan Yusuf mulai tertunduk.
" Baiklah.. jika perasaan kalian hanya sepihak.. aku bisa apa..
tapi, apa kau yakin dia tidak mempunyai perasaan yang sama padamu?" tanya Damar memandang Yusuf dengan teliti.
" Dia sudah menolakku mas, untuk apa kita bicarakan ini lagi?
tujuanku kesini sehubungan dengan pekerjaan, bukan untuk membicarakan perasaanku." Nada suara Yusuf berubah tegas.
Damar lagi lagi tersenyum,
" Hei.. apa kau lupa? saudaramu itu..? berapa kali dia menolakku?
__ADS_1
bahkan dia memilih laki laki lain untuk di nikahi olehnya..
tapi Tuhan tidak diam, ketulusanku di baca dengan baik..
dan sekarang, setiap malam dia tertidur disampingku..
jodoh itu luar biasa bukan.."
Yusuf masih terdiam,
" Hei.. jangan berwajah masam seperti itu..?" ujar Damar memberi semangat.
" Sudahlah mas, adikmu sudah menolakku, aku bukan laki laki yang tidak tau diri.." Yusuf kesal.
" lagi pula orang tuaku sudah memilih seorang wanita untukku.."
" dan kau mau?"
" aku harus apa? perempuan yang kuharapkan tidak mengharapkanku.."
" hemm.. kau sakit hati sekali dengan penolakan Kaila rupanya..
tapi kau harus menyadari, di usia Kaila sekarang masih sangat sulit untuk benar benar mengetahui isi hatinya,
emosinya juga rentan tersulut karena pemikirannya belum begitu matang.."
" Itu karena mas selalu memanjakannya.."
asal kau tau, di bisa meminta apapun yang dia inginkan di usianya sekarang, seperti teman temannya,
tapi dia hanya cukup dengan uang saku dan mobilnya saja..
yah memang, itu masih sedikit berlebihan, tapi aku tidak bisa membatasi itu, karena akan ada rumor buruk yang tersebar, kalau aku tidak menghidupi adik tiri ku dengan baik.." jelas Damar.
" Ah.. sudahlah.. aku memang tidak ada harapan dengan adikmu mas, usiaku juga sudah cukup untuk menikah, sedangkan dia baru kuliah dan masih semester dua.." keluh Yusuf.
" Kau menyerah?"
" Yahh.. aku juga akan berusaha bertemu dengan perempuan pilihan ibuku.. setidaknya aku sudah berusaha..
bisa gila aku kalau terus memikirkan adikmu yang tidak memikirkanku mas..?!"
Ucap Yusuf sembari mengacak acak rambutnya yang rapi dengan tangan kanannya.
Damar melintasi halaman rumah dengan motor trailnya.
Matanya tak sengaja menemukan mobil Yoga yang rupanya sudah terparkir di garasi.
Entah sudah sejak kapan Yoga pulang, yang jelas dia tak menemui Damar seperti biasanya.
Ada sedikit rasa kurang menyenangkan yang melintasi hati Damar.
" Ah sudahlah.. toh Kinanti juga sedang di sekolah.." ucap Damar dalam hati.
__ADS_1
Ia berusaha mengusir semua pikiran pikiran buruknya.
Dan lagi pula ia harus segera sampai di kampus, karena jadwal mengajarnya cukup padat hari ini.
Di pacu trailnya agar lari lebih kencang melewati perbatasan desa ke arah kota, ia tak ada waktu untuk bergundah gulana.
" Apa yang kau bawa?" tanya Winda membolak balik plastik yang berisi pakaian yang sengaja di letakkan Yoga do atas meja ruang tengah Winda.
" Aku tidak menemukan oleh oleh yang lebih baik untuk para perempuan disini selain daster.." ucap Yoga sembari duduk di hadapan kakak kandungnya itu.
Laki laki itu tampak lebih kurus dari sebelumnya, padahal hanya beberapa hari saja dirinya pergi.
" Kau jauh jauh ke Jogja tapi pulang hanya membawa daster untukku?" protes Winda.
" Aku tidak sedang dalam rangka berlibur mbak.. mengertilah.." Yoga tersenyum cerah.
" Oh ya, aku juga membeli untuk Kaila dan Kinanti..
aku akan mengantarnya nanti, seusai dia mengajar.."
mendengar itu Winda berubah serius, ia memandangi adiknya itu tanpa celah.
" Damar mungkin sudah tau, jadi jaga kelakuanmu.." ucap Winda membuat Yoga membeku, ekspresinya tercekat, tak ada kalimat yang keluar dari mulutnya.
" Biar aku yang mengantar Daster ini, kau jaga jarak saja mulai sekarang.."
" A...apa..? jaga jarak?" Yoga terbata, ia benar benar shock.
" Tidak, mas Damar belum tentu tau, dan..
kalau pun mas Damar tau, aku.." Yoga terhenti, ia terlihat bimbang.
" Aku apa? kau mau jadi saudara yang dengan terang terangan menggoda istri saudaramu??" suara Winda tajam.
" Mbak?!" Yoga tak terima,
" Memangnya apa namanya? kau terus saja mengingatkan Kinanti akan masa lalu kalian,
kau tidak mau bangkit dari perasaan dan kenanganmu,
apa kau tau, apa yang kalian lakukan ini, akan benar benar melukai Damar."
" Aku dan Kinanti tidak melakukan hal di luar batas mbak?!, dan jika ada yang harus di salahkan.. akulah orangnya,
Biar aku bicara pada mas Damar saja.." Yoga terlihat serius dan nekat.
" Kau jangan gila?! Damar saja pura pura tak tau demi keutuhan keluarga kita!" tegas Winda, ia benar benar geram dengan pemikiran Yoga yang tak bisa di terimanya.
" Kalau mas Damar mau menghajarku silahkan saja,
tapi kenyataannya aku tidak bisa mengabaikan Kinanti.."
" Kau tidak waras Yoga?! kau mau merusak rumah tangga saudaramu?!" Winda naik pitam, di lemparnya daster daster di atas meja itu ke arah Yoga dengan keras.
__ADS_1