
" Huekk!!" Damar buru buru berlari ke kamar mandi.
" Yukk? masak apa sih yukk?!!" teriak Damar dari kamar mandi.
" Huekk..!!" ikan yang biasanya menjadi makanan favoritnya kini menjadi makanan yang paling anti ia makan, bahkan bau nya setelah di goreng saja bisa membuat Damar lemas.
" Aduh..! piye ini mas? biasanya mas suka ikan ini??" si Yuk bingung.
" Gak yuk! singkirkan dari sini! semprot dapurnya pakai pewangi?! cepat Yukk...???!" Damar menutup hidungnya dengan kaos yang ia kenakan, lalu berlari ke teras.
Kinanti yang baru saja pulang dari belanja sayuran di warung ujung menatap suaminya heran.
" Kenapa?" tanya Kinanti melihat wajah suaminya pucat.
Damar tak menjawab, ia bersandar di kursi sembari memejamkan matanya.
" Kenapa kok?" tanya Kinanti berjalan mendekat dan duduk disampingnya suaminya.
" Si Yuk..!, jangan suruh dia masak ikan lagi?!" keluh Damar sembari memijat mijat kepalanya.
" Ikan itu kan kesukaan mas?"
" Sekarang tidak suka..!" jawab Damar masam.
Ia tersiksa sekali, hidungnya jadi sensitive sekali sekarang, bahkan banyak bau bau yang mulai mengganggunya.
Kinanti diam diam tersenyum, ia menyadari apa yang di rasakan Damar seharusnya dia yang merasakan.
" Terimakasih ya mas.." ucap Kinanti mencium pipi suaminya mesra.
" Terimakasih untuk apa?" tanya Damar sembari mengelus perutnya sendiri yang serasa di aduk aduk.
" Terimakasih, karena sepertinya mas yang menggantikan morning sickness ku.."
Damar menatap istrinya bingung,
" morning sickness??" Damar menepuk jidatnya sendiri, pantas saja.. tubuhnya sering tak bisa diajak kompromi, nafsu makannya juga sangat terganggu.
" Mas ternyata suami yang benar benar pengertian..
kalau bisa sekalian saat aku melahirkan nanti, mas juga yang gantikan sakitnya ya mas?
jarang jarang lho mas ada suami yang bisa gantikan rasa sakit istrinya saat melahirkan..
hadiahnya surga..?!" Kinanti mencubit pipi suaminya gemas,
" kata siapa hadiahnya surga??" tanya Damar serius,
" kataku kan tadi.." jawab Kinanti tersenyum lebar.
Damar tak berkomentar, ia hanya menarik nafas panjang, membuang perasan kesalnya, bau ikan bahkan masih menempel di hidungnya.
" Melahirkan sepuluh anakpun tidak masalah.. asal tiap hamil mas yang menggantikan rasa sakitnya..?"
" aku yang menggantikan atau tidak, cukup dua saja..!" jawab Damar tegas.
" Aku tidak mau makan, aku langsung ke pabrik saja..?!" Damar bangkit dan berjalan keluar dari teras.
Langkahnya begitu lebar dan cepat, seperti ada rasa kesal yang ia lampiaskan pada tanah yang ia injak.
" Lihat ayahmu nak.. gemas ya.." Kinanti mengelus elus perutnya.
" Aku akan menikah bulan depan.. tidak, kalau bisa minggu depan.." ujar Yoga di depan Winda.
Winda dan Yudi saling berpandangan,
" tidak boleh ada yang menentangku pokoknya, ingat janjimu mbak?" tegas Yoga.
" Apa perempuan itu sudah kau hamili?" tanya Winda heran.
" Astaga? aku masih waras mbak?!" jawab Yoga tak terima,
" lalu kenapa kau buru buru?" tanya Winda penasaran.
" Perempuan ini sulit ku dapatkan, aku tidak mau dia berubah pikiran karena terlalu lama.." jawab Yoga.
" Itu saja?"
" Ah.. mbak ini? masa di tanya lagi kenapa aku ingin cepat cepat?!"
Winda tertawa melihat wajah adiknya yang gelisah itu.
" Oh.. sudah tidak tahan rupanya.." kata Winda dengan nada setengah menggoda adiknya yang sedang di mabuk cinta itu.
" Kenapa tidak kau bawa kesini dia?"
" Masih menemani Bagas tidur siang.." jawab Yoga cepat.
Winda memandang adik kandungnya itu baik baik, kemudian bertanya,
" kau yakin ingin menikah secepatnya?"
Yoga mengangguk pasti,
" lalu bagaimana dengan pekerjaannya di bandung?"
" Dia akan memindahkan semua kesini,"
" Kesini?"
" Yah.. awalnya aku yang akan ikut kesana, ternyata dia yang mengalah.."
" Kau biarkan dia tetap bekerja?"
" itu syaratnya.. dia bilang dia tidak mau murni menjadi ibu rumah tangga,"
" lalu Bagas?"
" aku akan mencarikan ruko yang tidak terlalu jauh, dia juga bilang tidak akan di toko setiap hari..
jadi dia tetap bisa merawat Bagas, bahkan bisa membawanya saat ke toko," jelas Yoga.
" Kenapa tidak kau carikan dia tempat di pasar besar atau di area yang lebih ramai?" Yudi mulai bertanya.
" Tidak.. aku tidak ingin dia terlalu sibuk mas..
aku juga ingin konsep tokonya lebih ke arah butik, bukan grosir seperti di bandung.."
" tidak ingin terlalu sibuk atau tidak ingin dia bertemu orang banyak?"
" dua duanya.. tidak mungkin kan laki laki datang ke butik," jawab Yoga mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
" Hemmm.. kalau punya istri seorang pedagang, jangan suka cemburuan.." sahut Winda.
Yoga diam, tapi ia menjawab tak lama kemudian.
" Aku sebenarnya lebih suka dia kembali ke profesi awalnya sebagai guru,
tapi mau bagaimana lagi, dia bilang dengan berdagang lebih cepat menghasilkan uang,"
" betul itu.." sahut Yudi yang juga terjun ke bisnis perdagangan yang berskala besar.
" Bisa kita didik sayang.." kata Yudi pada istrinya.
" Tentu saja, Yoga payah perkara bisnis.." sahut Winda.
" Jangan ajak calon istriku bisnis aneh aneh! aku tidak mau dia sepenuhnya jadi wanita karier?!" protes Yoga.
" Kenapa tidak? bisnis yang besar selalu berawal dari bisnis yang kecil.." ujar Winda,
" ruko yang ku beli hanya boleh di pergunakan untuk butik, bukan toko baju grosir yang akan menghabiskan waktunya dan akan membuatnya bertemu dengan banyak orang, aku tidak mau dia terlalu sibuk, sudah kubilang kan?!" tegas Yoga serius.
" Wah.. ternyata adikku yang berpikiran sempit, bisa bisanya kau melarang calon istrimu mengembangkan sayapnya? kau takut dia punya uang lebih banyak darimu?"
" tidak boleh, nanti kalau terbangnya terlalu tinggi dia lupa daratan," raut Yoga terlihat masam.
" Wah.. belum belum kau sudah ketakutan.. kau dapat lawan yang seimbang ya?" Winda tertawa senang sekaligus mengejek adiknya.
" Dia terlalu ulet dan mandiri mbak, aku tidak mau dia lupa peranku sebagai suami,"
Yudi dan Winda hanya tersenyum.
" Kau benar benar jatuh cinta rupanya.." gumam Winda.
" cinta boleh sebesar gunung.. tapi juga harus seluas lautan..
kau harus mendukung kemajuannya, jangan karena ketakutanmu kau mematahkan sayapnya..
itu tidak bijak,
cintailah dia dengan cara yang sehat, itu kunci yang utama untuk kelanggengan hubungan.." sela Yudi dengan nasehatnya yang membuat Yoga diam sembari berpikir.
" Ya sudah.. akan ku carikan hari yang bagus..
tapi, kau serius mau menikah biasa biasa saja?" ujar Winda.
" Dinda tidak mau ada pesta yang bermewah mewah.. dia bilang biasa saja, asal pernikahan kami langgeng dan bahagia.."
Winda dan Yudi lagi lagi berpandangan,
" aminn.. baiklah...aku turuti kalian.." Winda mengangguk setuju, kebahagiaan Yoga tentu saja kebahagiaannya juga.
Meski Winda tak pernah bertanya, bukan berarti dirinya tak memperhatikan selama Dinda disini.
Jadi sedikit banyak ia tau apa yang terjadi, karena Damar selalu menjadi tempatnya untuk bertanya.
Melihat Dinda yang tertidur di atas sofa ruang tengah Yoga berjalan melewatinya begitu saja.
" Mbak, hari ini pulang setengah hari saja," ujar Yoga pada si mbak pengasuh.
" Oh, iya mas.." jawab si mbak yang sedang membersihkan dapur itu.
" Bagas masih tidur?"
" mas Bagas baru tiga puluh menit yang lalu tidur mas..
Yoga mengangguk,
" Ya sudah.. pulang saja mbak.."
" iya mas.. terimakasih.." kata si mbak menaruh sapunya.
Setelah si mbak pergi barulah Yoga menghampiri Dinda yang sedang tergolek di atas tempat tidur.
Yoga menggeleng pelan setelah memandangi Dinda beberapa saat,
" Bahaya.." gumamnya.
Bagaimana bisa, perempuan yang bertahun tahun lalu berambut begitu pendek, dan berpenampilan serampangan seperti laki laki bisa berubah secantik ini.
Rambutnya sekarang panjang, tampilannya pun sederhana dan manis.
Ia lebih sering memakai kaos dan celana jeans, berbeda dengan Kinanti yang selalu rapi dengan atasan Tunik atau kemeja wanita.
Sedikit liar, dan susah di atur, namun itulah yang membuat Yoga sulit berpaling awal mereka bertemu di bandung.
Yoga mengangkat pinggang ramping itu, berniat memindahkan Dinda ke dalam kamar.
" Aku bahkan baru memejamkan mataku.." suara Dinda lirih.
Di buka matanya yang berat karena kantuk.
" Sudah bicaranya?" tanya Dinda melingkarkan tangannya pada leher Yoga.
Yoga mengangguk dan duduk disamping Dinda, di urungkan niatnya memindahkan perempuan itu.
" Bagaimana hasilnya?" Dinda yang masih di serang kantuk merebahkan dirinya di dada Yoga.
" Keluarga mendukung apapun keputusan kita," jawab Yoga.
" Baguslah.. bulan depan kan?"
" aku maunya sekarang.." Yoga membelai rambut Dinda.
Dinda yang masih terpejam itu tersenyum.
" Mauku juga sekarang.. bagaimana ini.." Dinda yang masih belum sepenuhnya sadar itu malah iseng menggoda Yoga.
" Aku sungguh sungguh.. aku maunya sekarang.." suara Yoga lirih.
" Panggil saja penghulu sekarang.."
" ah.. sialan... orang akan mengira kau hamil duluan kalau kita grusa grusu.." Yoga kesal.
" Hemmm.. aku bahkan tak yakin kau bisa menghamiliku.." Dinda tersenyum tipis ada kegetiran di dalamnya, tapi kali ini matanya sudah sepenuhnya terbuka.
Yoga diam, di pandanginya Dinda yang sedang rebah di dadanya itu serius.
" Akan kubawa kau ke dokter ahli kandungan yang paling bagus..
kalau perlu kita ke surabaya.." kata Yoga dengan suara tak kalah serius dari tatapan matanya.
" Tidak usah.. aku pasrah saja.." jawab Dinda.
__ADS_1
" Memangnya dokter mana yang memvonis mu bahwa kau tidak akan bisa punya anak lagi?"
" Ada dokter, yang di bawa oleh keluarga mantan suamiku saat itu..
dia berkata mungkin akan sulit bagiku mempunyai anak lagi di kemudian hari, dia bilang bisa...tapi kemungkinannya kecil.."
" berarti ada secercah harapan.. asal kau di rawat dengan baik.."
Dinda bangun dari dada Yoga,
" Apa kau mengharapkan anak dariku?" tanyanya saat wajahnya dan wajah Yoga sudah berhadapan dan keduanya saling berpandangan.
" Aku pernah bilang.. bahwa itu tidak penting.." jawab Yoga,
" lalu kenapa kau masih menginginkan aku mendapatkan perawatan?"
" itu karena aku sayang padamu.. kau memberiku anak atau tidak terserah.. tapi tubuhmu perlu di periksa dan di obati jika memang ada yang tidak benar..
mengingat kau pernah mendapatkan perlakuan perlakuan yang keras??"
Dinda tak menjawab, matanya berkaca kaca seketika.
Di jatuhkan lagi kepalanya di bahu Yoga,
" Kau benar benar mau menikahiku yang tidak sempurna ini?" tanya Dinda lirih, di sembunyikan air mata yang mengalir dari sudut matanya.
" Kau sempurna, kau sudah cukup sempurna sebagai seorang wanita..
kau punya Bagas, dia akan mencintaimu layaknya ibu kandungnya sendiri.. dia yang akan melindungimu kelak.. lihatlah betapa sayangnya dia padamu sekarang.. jangan racuni pikiranmu dengan hal hal yang belum pasti terjadi.." Yoga melingkarkan tangannya, memeluk Dinda dengan sepenuh hati.
" Aku heran.. bagaimana bisa aku jatuh cinta pada perempuan yang sejak dulu selalu mencaci maki aku.." gumam Yoga membelai rambut Dinda,
Dinda tak menjawab, hanya terdengar tawa kecil yang renyah.
" Aku juga heran, padahal dulu aq benci sekali padamu.." suara Dinda lirih di telinga Yoga.
" Kebencianmu padaku hanyalah cintamu yang tertunda untukku.." Yoga mengeratkan pelukannya, sementara Dinda tersenyum sembari berkata,
" sombongnya laki laki ini.."
" aku hanya sombong di hadapanmu.."
" sejak dulu kau tak mau kalah dariku.."
" itu dulu.."
" sekarang?"
" Aku sudah kalah.." jawab Yoga mendorong tubuh Dinda, hingga keduanya rebah di sofa.
" Jangan ngawur, ada si mbak?" Dinda menghindar ketika Yoga mendekatkan wajahnya.
" Sudah kuperhitungkan.." jawab Yoga dengan senyum lebar,
" maksudnya?"
" si mbak sudah kusuruh pulang sejak tadi.."
" bisa bisanya..?"
" bisalah, apa yang tidak bisa ku usahakan demi perempuan yang sudah menolakku berkali kali ini?" Yoga mendekatkan wajahnya, dan bertemulah kedua bibir itu.
Ciuman yang tidak pernah tidak hangat dan bergairah,
semakin di balas, Yoga semakin tidak bisa berhenti.
" Sudah, berhenti, nanti kita kebablasan?!" Dinda berusaha mendorong Yoga saat laki laki itu sudah menjelajahi leher dan bahunya.
Tapi laki laki itu sudah tak bisa mengendalikan dirinya,
" Aku tidak bisa berhenti.." suara Yoga sudah berbeda dari biasanya.
Dinda yang sudah setengah mati menahan diri tak bisa berbuat apa apa ketika tangan Yoga menelusup masuk ke dalam kaos longgarnya.
Tanpa bertanya laki laki itu menarik kaos Dinda.
Hingga laki laki itu bebas mendaratkan bibirnya dimana saja.
Dinda mengigit bibirnya, tak berani bersuara.
Yoga merasa dirinya sudah di ujung tanduk, melepas kaos yang ia kenakan dengan cepat dan melemparkannya ke atas meja.
" Papa?" tiba tiba terdengar suara Bagas, sontak Yoga menoleh, ia tersentak melihat Bagas yang berdiri di depan pintu yang terbuka setengah itu.
Begitu pula dengan Dinda, ia buru buru mencari kaosnya, tapi entah Yoga melemparnya kemana.
Dengan gerakan cepat Yoga mengambil kaosnya dan menutupi tubuh Dinda.
" Kok sudah bangun anak papa?" Yoga meloncat turun dari sofa dan berjalan terburu buru ke arah Bagas.
" Kita tidur lagi ya?!" Yoga mengendong Bagas dengan cepat dan membawanya kembali ke dalam kamar.
" Mama mana?" tanya Bagas,
" mama di dapur.." jawab Yoga membaringkan putranya itu kembali di atas tempat tidur.
Syukurlah, Bagas tidak melihat Dinda karena mereka berdua rebah di sofa yang arahnya berlawanan dengan pintu kamar, sungguh beruntung tubuh Dinda tertutupi oleh sandaran sofa.
Jantung Yoga berkejaran tak karuan, rasanya campur aduk.
Di tepuk kepalanya dengan keras berkali kali untuk menenangkan dirinya.
" Papa tidak pakai baju? mau mandi?" tanya Bagas polos, melihat papanya yang hanya bercelana pendek saja.
Karena selama ini meski dirumah, Yoga pantang bertelanjang dada.
" Iya, tadi papa mau mandi.." Yoga tersenyum lebar.
" Bagas mau sama mama saja, mama dimana?" ujar Bagas.
Yoga buru buru bangkit,
" Ya sudah.. di panggilkan mama ya?" Yoga segera keluar dari kamar.
Disana sudah ada Dinda yang duduk dengan gusar, pakaiannya sudah lengkap.
" Dia mencarimu.." kata Yoga duduk di samping Dinda.
" Hampir saja jantungku copot.." keluh Yoga berniat merebahkan kepalanya di bahu Dinda, tapi Dinda dengan cepat memukul paha Yoga, keras, sampai laki laki itu mengaduh aduh.
" Sakit tau Din??"
__ADS_1
" tau rasa! kan kubilang berhenti dari tadi?!" tegas Dinda lalu bangkit, meninggalkan Yoga yang masih menggosok gosok pahanya.