
Hari ketiga Dinda kembali ke bandung, tak menunggu waktu lama, semua isi di tokonya ia limpahkan pada pedagang lain, dan toko yang sudah seperti rumah keduanya itu ia tawarkan kepada beberapa pedagang.
Dinda sudah mendapatkan pembeli tapi si pembeli meminta waktu semingu untuk pembayaran.
Dinda yang memang ingin menyelesaikan semuanya bersedia menunggu sembari mendatangi konveksi konveksi langganannya.
Meskipun Yoga sudah melarangnya untuk berjualan dengan sistim grosir, tapi ia merasa perlu untuk tetap menjalin hubungan yang baik dengan para pemilik konveksi.
Karena harga yang di tawarkan tentu saja jauh lebih murah dari harga pasaran di malang.
Barang bagus, harga miring.. Dinda dapat menjaminnya.
Meskipun Yoga menolak, tapi sedikit demi sedikit Dinda dapat merayunya, itu sudah terencanakan oleh Dinda.
Tidak mungkin dia berbisnis asal saja tanpa ada keuntungan yang besar, lalu untuk apa dirinya berdagang jika hanya untuk membuang waktu saja,
tentunya ia ingin punya tabungan sendiri untuk berjaga jaga.
Sepercaya apapun dirinya sekarang pada Yoga, tetap saja ia tidak boleh terlena.
Melawan kehendak Yoga terang terangan sama saja dengan membuat keributan, karena itu ia lebih memilih bersikap, setuju untuk tidak setuju.
Dan perkara Alvian, laki laki itu..
Dinda sudah menemuinya langsung ketika baru saja datang,
sekalian pamit pada ibu Alvian karena bulan depan ia sudah memutuskan untuk tidak mengontrak rumah lagi dan kembali ke malang untuk seterusnya.
Tentu saja Alvian yang kalem itu kaget sekaget kagetnya.
Apalagi setelah Dinda mengatakan apa sebabnya,
laki laki itu seperti tak terima.
" Kau mempermainkan aku ya? saat aku mengajakmu pacaran kau tidak mau,
saat aku ingin mengikatmu lebih serius karena kukira kau tak mau pacaran, kau juga beralasan ini itu,
tapi lihatlah sekarang?
tiba tiba kau akan menikahi laki laki lain.." Alvian tersenyum getir.
" Pantas saja, biasanya hanya seminggu pulang kampung.. sekarang bisa berminggu minggu.." lanjut Alvian memperlihatkan kekecewaannya.
Dinda hanya bisa terduduk diam saat Alvian mencecarnya dengan kalimat kalimat yang membuatnya semakin sedih.
" Apa laki laki itu lebih baik dariku?" tanya Alvian kemudian setelah lebih bisa menguasai dirinya.
" Kau pernah bertemu dengannya.." jawab Dinda,
sontak Alvian memandangnya,
" adik dari mas Damar.. suaminya Kinan, yang kesini waktu itu.." lanjut Dinda.
Alvian terlihat benar benar shock, laki laki itu, yang baru saja muncul.. bisa bisanya menyerobot?! bukankah diriku yang sudah menemanimu disini bertahun tahun? batin Alvian tak terima.
" Dia lebih tampan dariku pantas saja.. dan sepertinya lebih mapan.." suara Alvian terdengar tidak rela.
" Tidak.. bukan karena itu.." sanggah Dinda pelan,
" padahal aku yang ada di hadapanmu setiap hari..
kita mengenal tidak hanya sehari dua hari, tapi kenapa laki laki yang baru saja muncul itu yang kau pilih?" Alvian membuang pandangannya ke arah lain saking kesalnya.
" Kau salah jika mengira aku baru mengenalnya..
aku sudah mengenalnya jauh sebelum aku pindah kesini,
bahkan aku mengenalnya saat aku masih duduk di bangku kuliah..
jadi jangan bicara seakan akan aku mudah jatuh ke pelukan laki laki yang baru saja kukenal..?"
" Tatap saja.. bagiku dia menyerobot, tidak sopan?!"
__ADS_1
" Tidak ada yang menyerobot, karena aku bukan milik siapapun.."
mendengar itu Alvian terdiam, masih tampak tak rela.
" Aku tau, kita tidak punya keterikatan sebagai pasangan,
tapi kukira kau tau dengan benar perasaanku?" ujar Alvian,
" Karena itu, aku tidak pernah menerima ikatan darimu, itu karena aku belum yakin dan selalu di bayang bayangi ketakutan..
aku tidak mau mengecewakan orang lain karena perasaanku belum tentu benar..
kau baik..
aku yang seperti ini tentu saja tidak pantas bersanding dengan laki laki setulus dirimu..
maaf...
bukan aku membela diri, tetap saja aku bersalah karena sudah memberimu harapan meski sedikit..
kau boleh membenciku, tapi kuharap kau dapat berpikir dengan bijak sehingga bisa menerima ini dengan baik.."
" menerima kalau kau memilih orang lain?"
" ingatlah.. aku bukan milik siapapun Vian, jangan melihatku seperti seseorang yang sudah mengkhianatimu.."
" tidak usah kau tegaskan begitu, aku memang tak ada ikatan dan tak ada hak apapun.."
Dinda bukannya marah, ia malah sedih mendengar kata kata Alvian.
" Laki laki itu.. apa dia benar benar mencintaimu?" tanya Alvian kemudian, ia tak menatap Dinda, tapi pertanyaannya terdengar dalam dan serius.
" Cinta.., dia memang mengatakan kalau mencintaiku..
tapi bukan cinta yang membuatku mau menerimanya sebagai suamiku.." jawab Dinda sehalus mungkin,
" lalu apa kalau bukan cinta? materi? dia terlihat berkecukupan dan mapan.."
Dinda tersenyum mendengar itu,
aku lebih percaya keseriusan dan komitmen yang dia tawarkan.."
Alvian hanya menghela nafas mendengar itu, ia sudah tak bisa berkata apapun.
" Aku berterimakasih padamu.. sudah menjadi sahabat yang baik selama aku hidup merantau disini.."
mendengar suara Dinda yang lembut itu rasanya Alvian tidak sanggup menahan diri untuk tidak memeluk Dinda.
Tapi perempuan yang duduk tak jauh darinya itu bahkan tak pernah mengijinkan dirinya di sentuh, baik dulu maupun sekarang.
" Apa.. aku.. boleh memelukmu untuk yang pertama dan terakhir?
pelukan persahabatan?" tanya Alvian memberanikan diri.
Dinda tak menjawab, ia terlihat lama berpikir, mencari kata kata yang pantas agar laki laki yang sudah banyak membantunya itu tidak sakit hati dengan apa yang akan ia ucapkan.
" Maafkan aku.. apa kata orang jika aku memeluk laki laki lain, padahal sebentar lagi aku akan menikah.." jawab Dinda pelan,
" tapi tak ada yang akan melihatmu? disini bandung, laki laki itupun tak akan pernah tau?"
Dinda menggeleng pelan mendengar kata kata Alvian,
" sekali lagi maafkan aku.." ucap Dinda membuat Alvian benar benar sadar sekarang,
bahwa memang tidak ada dirinya di dalam hati Dinda.
Seminggu ini berjalan dengan tenang. Yoga terlihat menyibukkan diri, ia seakan ingin membuang kegelisahannya karena jauh dari Dinda.
Sementara Kaila sudah seminggu lebih berangkat dan pulang sendiri dari kampus.
Gadis itu menjadi tidak banyak bicara dan muram.
Entah kenapa Damar malah merasa kurang nyaman, karena adik adiknya itu terlalu tenang.
__ADS_1
" Mas ini aneh.. bukankah harusnya mas bersyukur mereka tenang dan tidak membuat masalah?" komentar Kinanti yang sibuk membuat kolak pisang nangka.
Mulai dari pagi suaminya itu ngidam kolak pisang nangka,
padahal sulit sekali mencari nangka karena belum begitu musim.
Si yuk harus keliling ke pasar subuh subuh demi mendapatkan nangka yang di inginkan oleh tuannya.
Kinanti heran pada sikap suaminya yang malah risau dengan suasana keluarganya yang terlalu tenang dan damai.
" Sudah.. jangan mikir aneh aneh, nih.. kolaknya.." ujar Kinanti memberi suaminya semangkuk kolak panas.
Damar yang sejak tadi duduk di kursi meja makan, berubah segar wajahnya melihat semangkuk kolak yang ia inginkan sudah ada di hadapannya.
" Alhamdulillah.." ucapnya saat menyendok potongan nangka.
" Kita jadi pindah kan mas?" tanya Kinanti duduk disamping Damar.
" Jadi sayang, setelah Yoga menikah kita cari hari yang baik untuk pindah.." jawab Damar sembari meniup kolak yang masih panas itu.
" Benar ini aku tidak diajak lihat rumah dulu?"
" Sudahlah.. kau pasti suka, nanti saja lihatnya sekalian pindah.."
" Wah.. pendapat istri benar benar tidak penting lagi ya?"
" bukannya begitu.. tapi aku sudah mengaturnya sedemikian rupa..
jika memang nanti ada yang tidak sesuai dengan seleramu, kita bisa merubahnya pelan pelan.." ujar Damar mengunyah pisang di mulutnya.
Yusuf sesungguhnya belum punya rencana untuk menempati rumah yang belum lunas cicilannya itu.
Tapi ia tidak punya pilihan, kemarahan bapaknya juga sungguh sungguh membuatnya kecewa.
Yusuf mengatur bajunya satu persatu ke dalam lemari sederhana yang dia beli dengan terburu buru itu.
Perumahan yang di tempati Yusuf berukuran sedang dengan dua kamar, satu dapur, dua kamar mandi, satu ruang keluarga dan satu ruang tamu.
setelah mengatur baju dan barang barangnya Yusuf yang sudah payah itu merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang ia letakkan begitu saja di lantai.
Tak ada bantal dan selimut, karena ia memang belum membelinya.
" Mau kemana Suf? mau kemana le kok bawa tas besar begitu?!",
ia masih ingat betul betapa sedih ibunya saat tau Yusuf memutuskan meninggalkan rumah.
Sementara bapaknya hanya duduk diam dengan wajah kaku, tak berkomentar apapun, karena dia sadar..
keputusan Yusuf untuk pergi dari rumah karena dirinya.
" Biarkan saja bu!, dia sudah tua! sampai kapan kau akan melindungi dan memanjakannya?!,
biar dia tau arti tanggung jawab dan tidak seenaknya!" terdengar suara bapaknya dari luar, saat itu Yusuf sudah memasukkan semua barang barangnya ke dalam mobil.
" Bapak ini lebih mementingkan kemajuan bisnis bapak dari pada perasaan anak?!" terdengar lagi suara ibunya yang mendebat bapaknya.
Ah sudahlah.. Yusuf tak mau tau lagi, tanpa pamit laki laki itu segera mengendarai mobilnya dan pergi.
Yusuf menatap langit langit kamarnya,
sepintas wajah Kaila muncul, ada getir yang menyerangnya,
sesuatu yang tak bisa di bendung mengalir melalui kedua sudut matanya.
Laki laki yang biasanya kokoh itu benar benar tak berdaya sekarang.
Ia terus saja kecewa dan menyesali apa yang sudah ia terima.
Bagaimana bisa, perempuan yang ia cintai dan tak ingin ia lukai hatinya itu bersikap begitu semena mena tanpa bertanya dan mencari tau kebenaran.
bahkan sampai melontarkan kata putus dengan mudah.
Yusuf tak menghitung tamparan Kaila, sungguh baginya itu bukan apa apa, namun kata putus yang Kaila lontarkan itu, sungguh sungguh menyayat hatinya.
__ADS_1
Seakan apa yang ia perjuangkan selama ini runtuh dalam sekejap.