
" Mama.. Bagas pijit ya ma?" Bagas yang baru saja pulang sekolah langsung masuk ke kamar mamanya.
Bocah laki laki itu benar benar menyayangi Dinda sepenuh hatinya.
Melihat mamanya sudah terbaring selama dua hari membuatnya tak nyaman di sekolah dan ingin buru buru pulang.
" Bagas baru pulang sekolah kan, ganti baju dulu.. cuci tangan dan kaki.. lalu makan.." ujar Dinda pelan.
" tapi Bagas mau pijit mama?"
" si mbak mana? panggil kesini.. mama mau bicara.." Dinda mencari pengasuh Bagas,
" mbak di dapur.."
" coba panggil mbaknya kesini.."
Mendengar itu Bagas berjalan pergi, dan tak lama ia datang bersama si mbak.
" Dalem mbak Dinda?"
" Bagas di ganti dulu bajunya, lalu siapkan makanan yang dia inginkan.. hari ini saya mau tidur saja supaya lekas membaik.. jadi tolong dampingi Bagas belajar juga.."
" nggih mbak.." angguk si mbak,
" ayo mas Bagas.. sama mbak dulu, mama biar istirahat..?" ajak si mbak,
" tapi Bagas mau pijit mama?"
" nanti ya sayang.. kalau Bagas sudah selesai makan.. tapi sebentar saja.." sahut Dinda masih dengan kepala yang lekat dengan bantal.
" Ayo mas.. ganti dulu..?" ajak si mbak keluar kamar.
Melihat putra sambungnya itu keluar dari kamar, Dinda terdiam..
matanya tertuju ke atas,
menatap langit langit kamar.
Pikirannya tak karu karuan,
baru dua tahun ini ia merasa begitu bahagia..
memiliki Bagas di sampingnya membuatnya merasa menjadi perempuan seutuhnya.
Yoga memang laki laki yang baik.. bohong jika dirinya tidak mencintai Yoga, namun kehadiran Bagas lebih luar biasa baginya.
Karena itu kekhawatirannya sangat besar saat ibu kandung Bagas tiba tiba muncul dan bertingkah seperti itu.
Meski perempuan itu sudah bersuami, tapi tingkahnya seakan akan bisa menelan Yoga kapan saja.
Parasnya yang tentu saja lebih cantik dari Dinda membuat kekhawatiran Dinda bertambah.
Bagaimanapun juga Yoga dan perempuan itu pernah menjadi suami istri, bahkan sampai melahirkan Bagas..
rasanya kepercayaannya terhadap Yoga sedikit goyah, bagaimana mungkin Yoga tidak terpikat dengan perempuan secantik itu..
bohong jika tak ada perasaan sama sekali..
mana mungkin dua orang bisa tidur bersama tanpa di dasari rasa cinta.
Memikirkan masa lalu Yoga membuat dadanya bergemuruh,
ia tak menyukai perasaan semacam ini, kekhawatiran membuatnya berantakan.
Yusuf dan Kaila menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Damar.
Yusuf keluar dari dalam mobil dan mendorong pagar besar yang menghalangi jalannya.
" Ya Allah ndukk...?! alhamdulillah..! mas mu pasti seneng iki..?!" Kinanti buru buru keluar saat mendengar suara pagar rumahnya terbuka.
" Ibuk.. ibuk..!" suara Gendhis mengejar langkah ibunya.
Kaila tersenyum cerah sembari berjalan ke teras rumah, dimana kakak ipar dan keponakannya berdiri disana menyambutnya.
__ADS_1
" Ututututu... ponakan tante seng ayu dewe..." Kaila menggendong Gendhis setelah mencium tangan dan memeluk Kinanti.
" Ini dari Madiun langsung kesini??" tanya Kinanti ketika Kaila dan Yusuf sudah duduk di ruang tamu yang bernuansa tradisional dan di penuhi hiasan kayu itu.
" Iya mbak.. kami langsung kesini.." jawab Kaila.
" Mas mu masih di pabrik.. biar ku telfon ya.. kalian makan dan istirahat dulu.." beritahu Kinanti,
" Santai saja.. biarkan mas Damar bekerja, besok kami akan kemari lagi.." sahut Yusuf,
" Tidur disini saja, kamar banyak.. sekali kali kalian tidur disini?"
" Kami tidur dirumah kami saja, di perumahan.. sekalian di bersihkan.."
" barang kalian mana?" tanya Kinanti mencari bawaan Kaila dan Yusuf, karena keduanya tampak santai tanpa membawa apapun,
" Di mobil?" tanya Kinanti lagi.
" Tidak.. kami tidak membawa barang, hanya liburan seminggu.." jawab Yusuf.
" Lho? piye tho Suf? mas Damar maunya kalian kembali kesini?!"
mendengar kata kata Kinanti Yusuf dan Kaila berpandangan.
" Kami masih harus berpikir.." jawab Yusuf,
" aku lebih nyaman disana mbak.. jujur saja.. ibu selalu mengangguku.." Kaila menambahi.
" Ibu??"
" Mbak tidak tau, selama aku tinggal di perumahan ibu selalu datang.. dia memaksaku bercerai dari Yusuf..
dan hal itu sering membuatku dan Yusuf bertengkar.."
mendengar itu Kinanti benar benar tak menyangka,
" benar itu?" tanyanya memastikan,
" Iya.. ibu mertuaku sudah menyiapkan laki laki yang lebih baik dariku untuk menjadi menantunya mbak.." Yusuf ikut menjawab.
" bukankah mas tidak mau bicara padaku? lalu bagaimana aku mengadu.."
Suasana menjadi hening sesaat, wajah Kinanti tampak resah setelah tau kenyataan yang sesungguhnya.
Sesungguhnya dia sudah tau kalau sikap mertuanya semacam itu, tapi dengan kejadian terakhir kali Kinanti mengira ibu mertuanya itu sudah kapok dan tidak akan ikut campur lagi perihal rumah tangga anaknya.
" Biar aku yang menyampaikan pada mas mu.." ucap Kinan kemudian,
" tidak usah mbak.. aku dan suamiku sudah bertekad untuk tidak mengubris apapun yang di katakan ibu.."
" Tapi tekad masmu untuk membawamu pulang kali ini sungguh bulat,
dua tahun ini dia memang acuh, karena dia ingin kalian berdua belajar dari kesalahan masa lalu..
tapi saat dia tau kalian mengalami kemunduran,
hatinya seperti sakit sekali..
mungkin dia akan marah besar jika mendapat penolakan dari kalian..
jadi pikirkanlah..
ini bukan perkara harga diri atau rasa malu..
mas mu bukan orang yang malu dengan kehidupan yang sederhana..
mungkin..
sebagai seorang kakak.. dia merasa wajib mengangkat kalian ke arah yang lebih baik.."
Yusuf dan Kaila terdiam,
" aku tidak mengatakan kalian tidak mampu..
__ADS_1
kalian masih punya mobil dan bisa mengontrak rumah..
tapi mas mu merasa kalian tidak mempunyai progres yang jelas..
mas mu melihat kemunduran.." lanjut Kinanti.
" Kami memang mengalami kemunduran.. aku mengakuinya.. tapi kami tidak sesusah itu.." sahut Kaila sedikit murung.
" Kau harus terus belajar nduk.. mas mu mau kau tetap belajar.." ujar Kinanti kalem dan hati hati.
Yusuf tertunduk, ia tak tau harus bicara apalagi.
Benar.. segala yang di ucapkan Kinanti adalah benar.. mereka mengalami kemunduran..
Hujan turun lagi, sore ini cukup deras.
Dinda membuka matanya perlahan, pandangannya tertuju keluar jendela kamarnya yang lebar itu,
Samar samar ia melihat kilat yang menghiasi langit, tepat di atas rumah Kinanti dan Damar yang kini menjadi rumah kosong.
Ia menghela nafas pelan, kondisi tubuhnya sudah lebih baik sekarang, hanya saja masih terasa sedikit lemas.
" Sayang.." terdengar suara Yoga, suara itu terdengar dekat sekali.
Dinda menoleh ke arah samping, mencari asal suara, ekspresi kaget tersirat di wajahnya saat menemukan Yoga terbaring dekap disampingnya.
" Kenapa..?" tanya Yoga saat melihat ekspresi Dinda yang aneh, ia sudah merasa heran saat melihat istrinya terbangun dan langsung melamun,
dan sekarang.. ia semakin heran melihat Dinda yang seperti terkejut melihatnya.
" Bukankah kau berangkat ke klinik tadi siang? kenapa sudah pulang?" tanya Dinda terlihat bingung.
" Iya.. seharusnya aku pulang nanti malam, tapi aku ijin..
entah kenapa hatiku tidak tenang ketika melihat mendung yang begitu pekat.." jelas Yoga menggeser tubuhnya lebih dekat pada istrinya.
" Bagaimana kondisi tubuhmu.. sudah enakan?" tanya Yoga sembari membelai pipi Dinda.
" Sudah.." jawab Dinda Lirih, lalu di balikkan tubuhnya membelakangi Yoga.
" Selain tubuh.. pikiran juga harus di jaga..
banyak penyakit yang berasal dari pikiran..
tolong.. jangan banyak berpikir tentang hal hal yang belum pasti..
karena itu hanya akan membuatmu terus menerus cemas dan tidak sehat.." ujar Yoga sabar sembari melingkarkan tangannya di perut Dinda.
" Kau tau.. kenapa aku selalu bertengkar denganmu dulu..?" Yoga memeluk Dinda dari belakang membuat suasana yang sedari tadi dingin mendadak menjadi hangat.
" Kau terlihat sangat mendominasi.. tubuhmu juga yang paling tinggi diantara yang lainnya..
karena itu aku selalu kesal saat melihatmu..
kau enerjik, dan sulit di gapai.." Yoga mengecup bahu Dinda yang beraroma minyak kayu putih itu.
" Kau mulai mengada ngada demi merayuku.." Dinda membuka suara.
" Mengada ngada?"
" jangan kira karena kau tampan lalu kau bisa seenaknya berbicara.."
" lho lho lho..?? kau bicara seakan akan aku ini musuhmu dan bukan suamimu..??" Yoga bangkit dan menarik tubuh Dinda perlahan agar memandangnya.
" Adinda.. ku ingatkan.. aku suamimu.. aku ini suamimu..
aku milikmu dari ujung kaki sampai ujung kepala..
jangan berkata seakan akan aku ini laki laki yang bisa berbuat seenaknya..?" Yoga setengah memohon, ia sungguh sungguh rindu pada sosok Dinda yang seperti biasanya..
sosok Dinda yang hangat.
Dinda diam tak menjawab, matanya beralih tak mau menatap Yoga yang berada tepat di hadapannya.
__ADS_1
" Kau tidak mencintaiku lagi ya? kau sudah bosan padaku?" tanya Yoga sedih, tingkahnya seperti kucing yang ingin di belai oleh majikannya, namun di majikan acuh acuh saja.