
Adinda berjalan dengan senyum cerah di wajahnya,
jalanan pasar yang sedikit becek dan gelap karena beberapa lampu penjual mulai redup tak membuatnya tidak nyaman, ia justru senang, karena tangannya membawa bungkusan serabi embok embok yang dulu sering ibunya belikan untuknya saat ia masih duduk di bangku Sd dan Smp.
" Walah.. cek senenge awakmu nduk..( senang sekali kamu nduk..)" ujar budhenya sembari mengandeng tangan Dinda menuju parkiran pasar.
Disana sudah ada pak dhe nya yang sibuk memasukkan karung berisi beras dan tepung.
Dinda tak menjawab, hanya tersenyum saja dan mengikuti masuk ke dalam mobil.
" Wes kabeh iki? raonok seng di tuku maneh? ( sudah semuanya ini? tidak ad yang di beli lagi?)" tanya si pak dhe sudah siapa di depan kemudi mobilnya.
" Koyok e uwes kabeh pak.. wes ndang ayo moleh wes peteng iki.. ( sepertinya sudah semua pak.. sudah ayo lekas pulang sudah gelap ini..)" jawab si budhe.
" Bojomu kok gak melok rene nduk..?? wong onok acara keluarga ngene..( kenapa suamimu tidak ikut kesini nduk..?? ada acara keluarga seperti ini..)" tanya budhe dalam perjalanan pulang, mobil pak dhenya melewati jalannan kecil yang gelap.
" Sedang sibuk sibuknya budhe.." jawab Dinda mengulas senyum,
" benar itu karena sibuk??" si budhe sedikit ragu,
" benar budhe.." jawab Dinda meyakinkan.
" Ya seharusnya sesibuk apapun dia, tetap harus mengantarmu..
setelah itu baru di tinggal pulang..
moso istrinya di biarkan naik taksi online.." sahut pak dhe sedikit tak terima.
Dinda berusaha mempertahankan senyumnya,
" Dinda sendiri kok yang ngotot berangkat sendiri pak dhe.. kalau suami Dinda maunya ya kemana mana ngantar..
pak dhe tau kan, Dinda sejak dulu kemana mana sendiri.." jelas Dinda tak mau Yoga di salahkan.
" Kau itu kan bukan janda lagi nduk,
kau menikah juga tidak mudah, mantan suamimu itu kayak setan membayangimu dimana mana,
lha kalau dia tau kau kesini sendiri..
dan mengira ada permasalahan..
apa dia tidak tertawa terbahak bahak dan mengejekmu?" lanjut pak dhe, membuat senyum Dinda mulai menghilang.
" Kami baik baik saja pak dhe.. suami Dinda laki laki yang baik..
berbeda jauh dengan mantan suami Dinda.." jawab Dinda sembari meremas kedua jemarinya.
" Dinda mencintainya.. dan dia mencintai Dinda..
anak sambung Dinda juga sangat menyayangi Dinda.." imbuh Dinda membuat pak dhe dan budhenya saling menatap sejenak.
" Lalu kenapa tubuhmu semakin kurus?" tanya si budhe membuat Dinda terkejut.
" Katakan Din? kami akan selalu mendukungmu.." sahut si pak dhe.
" Saya sungguh sungguh baik baik saja..
__ADS_1
saya kurus karena kondisi kesehatan saya sering turun pak dhe.. budhe.. bukan karena apa apa.."
mendengar itu si pak dhe dan budhe terdiam.
" Ya wes nduk.. pokoknya kalau ada apa apa.. ke pak dhe sama budhe saja.. pulang ke ngawi..
karena pak dhe tau, ibumu seperti itu..
jadi ke kami saja nduk kalau ada apa apa.. saudaramu juga banyak disana.." ujar si pak dhe setelah lama diam.
" Nggih pak dhe.." jawab Dinda mengangguk pelan.
Sekitar Dua puluh menit kemudian mobil pak dhenya memasuki halaman rumah sepupu Dinda, tempat dimana besok diadakan acara selamatan.
" Mbak Din?" panggil Sepupu Dinda yang paling kecil, saat Dinda baru saja turun dari mobil.
" Ono bojomu mbak?! ( ada suamimu mbak?!)" ucap laki laki yang masih berusia dua puluh tahunan itu.
" Bojoku? ( suamiku?)" tanya Dinda dengan raut wajah bingung,
" he em.. lha iku..?!" si sepupu mengangguk sembari menunjuk ke arah rumah sepupunya, terlihat seorang laki laki keluar dari dalam rumah bercat putih itu.
Laki laki yang ia hafal betul postur tubuhnya, cara berjalannya, dan cara tersenyumnya.
Hati berdesir tak karuan melihat sosok Yoga,
yah.. itu yoga, benar Yoga..
ucapnya dalam hati meyakinkan diri.
Laki laki yang sedang berjalan mendekat itu bahkan masih mengenakan kemeja yang ia pakai tadi pagi.
" Iya budhe.. " Dinda mengangguk cepat, namun langkah Yoga lebih cepat, dia sudah mendekat terlebih dahulu dan menyapa pak dhe dan budhe Dinda.
" Sehat pak dhe? budhe? pripun kabaripun?? ( bagaimana kabarnya??)" sapa Yoga sembari mencium kedua tangan pak dhe dan budhe yang senyumnya terkembang saat melihat Yoga.
" Alhamdulillah apik.. sehat lee.. kabarmu dewe? ( alhamdulillah baik.. sehat nak.. kabarmu sendiri?)" si pak dhe menepuk punggung Yoga.
" Sae ( baik) pak dhe.. sehat.." Yoga tersenyum sopan,
" Ayo ayo mlebu sek.. ngobrol ngobrol dek njeru.." ajak si pak dhe,
Yoga mengangguk.
Yoga dan Dinda mengikuti langkah kedua orang tua itu,
keduanya berjalan perlahan di belakang.
" Sudah makan?" tanya Yoga tiba tiba merangkul Dinda dan mencium keningnya.
Dinda tertegun, dan memandang Yoga sekilas,
" kenapa? malah menatapku seperti itu?" Yoga tersenyum.
" Kanapa menyusul?" tanya Dinda canggung,
" kau istriku, tentu saja aku harus menyusul mu kesini.." jawab Yoga lirih di telinga Dinda.
__ADS_1
Susana riuh dengan perbincangan dan canda tawa dirumah sepupu Dinda.
Ibu ibu dan para wanita melanjutkan pekerjaan mereka sampai jam sembilan malam, sementara para laki laki sibuk menata karpet di dalam ruang tamu sampai teras,
setelahnya mereka hanya mengobrol ngobrol saja sembari merokok dan memakan kacang rebus hasil panen dari kebun sebelah.
" Din?! bojone moleh kerjo langsung rene, kesel iku ketok e..
wes di jak mole ndang istirahat..?! ( Din?! suamimu pulang kerja langsung kesini, kelihatannya capek..
ajak pulang lekas istirahat..?!)" ujar Bapak sambung Dinda.
Dinda bangkit, meninggalkan kue yang masih panas pada ibu ibu tetangga sebelah rumah.
" Ayo..?" ajak Dinda berdiri di samping suaminya yang sedang duduk di karpet, di hadapan mertuanya dan saudara Dinda lainya.
" Kalau begitu.. saya duluan pak, mas, pak dhe.." Yoga sedikit menundukkan kepalanya demi kesopannan,
" Ya wes.. ndang turu lee.. ( ya sudah, lekas tidur nak..)" sahut si bapak mertua.
Dinda dan Yoga berjalan melewati kebun singkong untuk sampai kerumahnya.
Jarak rumah Dinda dan sepupunya sekitar dua ratusan meter,
jalanan kebetulan tidak terlalu terang, banyak suara jangkrik, dan tanahnya pun sedikit berkerikil tajam.
" Hati hati, " Yoga memegang lengan istrinya agar berhati hati.
" Kebun singkong siapa Din?" tanya Yoga basa basi, karena istrinya sedari tadi tak bersuara,
" Kebun ibuk.." jawab Dinda pelan.
" Wahh.. enak ya, bisa berkebun.." gumam Yoga.
Dinda tak menjawab, ia meneruskan langkahnya.
Sesampainya dirumah, Yoga langsung mengikuti Dinda ke kamar.
Kamar Dinda tidak terlalu besar, tempat tidurnya pun kecil.
Dinda tak pernah ada niatan untuk merubah ukuran tempat tidurnya, karena dirinya memang jarang pulang dan ini pertama kalinya Yoga tidur dirumahnya.
Selama keduanya menjadi suami istri, pulang kerumah hanya untuk berbasa basi saja,
pling lama dua jam, tak pernah seharian atau pun menginap.
" Mau mandi?" tanya Dinda faham betul suaminya itu belum mandi dan tidak bisa tidur dalam kondisi tidak bersih.
" Iyalah.. mana handuknya?" Yoga mulai membuka kancing kemejanya.
" Tunggu, biar ku buatkan air panas, sekarang sudah malam,
kau bisa masuk angin.." ujar Winda.
" Tidak ada pemanas air, aku mandi air dingin saja.. tidak masalah.." jawab Yoga tersenyum.
" Biar kupanaskan air di kompor sebentar.." Dinda berjalan ke dapur dan mengambil panci besar.
__ADS_1
" Sini, aku saja.." Yoga menyambar panci itu dan mengisinya air.
" Kau tidurlah.. aku bisa mengatasi semua sendiri.." ujar Yoga.