Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
perbincangan Mapala


__ADS_3

Pagi ini kampus ramai sekali dengan kegiatan para himpunan mahasiswa, mereka beramai ramai mencari anggota baru dengan berbagai metode mereka.


Setiap tahun ajaran baru hal seperti ini merupakan sesuatu yang wajar.


Damar sesungguhnya tidak mempunyai kelas hari ini, tapi ada beberapa hal yang mewajibkan ia datang.


Langkahnya terhenti tepat di sebelah wall climbing, ia melihat beberapa himpunan mahasiswa pecinta alam sedang memanjat dan ber atraksi untuk menggali minat mahasiswa baru.


Dan hal yang paling ia benci datang lagi,


itu adalah kenangan..


ia benci bukan karena kenangan itu buruk, tapi kenangan itu selalu menimbulkan kepedihan di hatinya.


Ia ingat betul, Aji yang bertubuh kecil itu begitu lincah meski saat itu baru pertama kali ia memanjat.


Ia bahkan dengan sombongnya mengolok olok Damar dari atas wall dan meluncur turun dengan kepala di bawah.


" Anak kecil sombong!" cemooh Damar ketika Aji sudah sampai di bawah, Damar mengakui, meskipun tubuhnya kecil tapi semangat dan keberaniannya melebihi Damar.


" iyalah.. dari pada punya kaki panjang tapi lamban, sedekahkan saja kakimu itu.." balas Aji,


" Eh.. lambemu!" Damar memberi sebuah tinju pada Aji, tinju yang lumayan keras, namun itu semua hanya sebatas gurauan diantara mereka.


" Kita muncak lagi ya bulan depan?" ujar Damar sembari merangkul Aji, keduanya berjalan menuju kantin.


" Aku kan belum punya peralatan lengkap.. jangan muncak dulu.." jawab Aji yang bagaikan seorang adik itu jika berdiri berdampingan dengan Damar.


" Alah.. ada aku.. jangan bingung, ku pinjamkan barangnya anak anak.." ujar Damar.


" Pak?! pak Damar?!" panggil salah seorang mahasiswi membuyarkan lamunannya,


" andaikan aku tidak mengajakmu saat itu.. kau pasti masih hidup Ji..


semua memang kesalahanku.." keluh Damar dalam hati, masih belum sepenuhnya sadar dari lamunannya.


" Pak...? bapak..?!" suara mahasiswi itu lebih keras.


" Iya?" jawab Damar cepat.


" Bapak mau coba? mumpung talinya belum kami bereskan?"


" Tidak.. memandangi kalian bukan berarti aku ingin ikut juga,


sudah lanjutkan saja.." ujar Damar segera berlalu pergi.


Para mahasiswa yang ada di bawah wall saling berpandangan.


" Dia dulu juga mapala kata kakakku.." sahut salah satu mahasiswa yang kakaknya teman kuliah Damar.


" Pantas saja dia selalu memandangi kita saat latihan,


tapi kenapa dia tidak pernah mau saat kita menawarkan, tidak seperti pak andri..


dia seperti menjaga jarak dari mahasiswa.."


" Biar di kira keren mungkin, sok cool.." para mahasiswa itu saling bersahutan.


" Jangan begitu.. biasakan hati hati dalam berbicara kalau tidak tau apa imbasnya, kalau dia dengar bagaimana menurutmu.." nasehat lainnya.


" Ah.. serius sekali..?!"


" benar, jangan asal bicara.. dia itu berhenti dari kegiatan pecinta alam karena sahabat baiknya meninggal saat mendaki,


bahkan meninggal di depan matanya..


itu sih cerita dari kakakku.."


Semuanya tiba tiba terdiam.


" Kalau aku jadi dia mungkin aku tidak akan sanggup ke gunung lagi.." sahut salah satu mahasiswa.

__ADS_1


" Sepertinya itu terjadi padanya..


dia bahkan sempat depresi, dia di rawat selama sebulan di rumah sakit karena sering tidak sadarkan diri, dan sempat di ikat juga karena mengamuk.."


para pemuda dan pemudi itu terdiam lagi, tampak kesedihan di wajah mereka.


" Itu jadi pembelajaran buat kita, kita harus lebih berhati hati dan lebih survive.."


" Iya benar.. berangkat bersama.. pulang bersama.." semua yang ada di tempat itu mengangguk.


Ibu sedang melipat sebuah kain dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.


Kinanti yang memperhatikan sejak tadi akhirnya bertanya karena penasaran.


" Kain apa bu, kalem warnanya.."


" kebaya.. mau ibu bawa ke bulek buat di jahit.." jawab ibu,


" kebayanya ibu?"


" Iya, buat bulekmu juga.. ada kain untuk baju Yusuf dan pak lekmu juga.. seragam lah.."


" lho.. kapan belinya? Kinan kok tidak di ajak bu??" protes Kinanti.


" Lha.. waktu keluar dengan Damar, di kira ibu beli apa...ya beli ini.."


Kinanti diam,


" Bukan ibu yang minta, Damar sendiri yang ngotot.. ya masa keluarga kita tidak terlihat kompak seperti lainnya.. begitu katanya.." imbuh ibu menjelaskan.


" Iya bu, aku tau.. apa mas Damar juga pakai?"


" tentu saja, dia juga membeli kain yang sama.. tapi entah di jahit dimana.."


Kinanti tak menjawab, entah apa yang sedang dia pikirkan.


" Keluarga Haikal bagaimana?"


toh Haikal sibuk sekali, dia ke luar kota lagi minggu ini.. aku hanya sempat berbincang dengannya di telfon.."


" Keluar kota lagi?, apa dia tidak lelah.."


" mungkin saja lelah bu, tapi kalau ada urusan yang harus segera di selesaikan mau bagaimana.."


" Ya sudahlah.. ibu mau ke bulekmu ya.. sekalian ke penjahit ngukur baju sama sama.." pamit ibunya.


" Hati hati nyebrangnya bu.."


" Iya nduk.." jawab si ibu lalu berjalan keluar.


Alhamdulillah semenjak mendengar Kinanti akan menikah, ibu tampak lebih sehat, semangatnya untuk kegiatan sehari hari makin tinggi.


Kinanti bersyukur melihat itu, tapi ada kesedihan yang menelusup dalam hatinya.


Perasaan yang sama sekali tidak bisa di ajak kompromi.


Dirinya terganggu setiap mendengar naman Damar di sebut.


Padahal dia sudah janji, tidak akan ada rasa semacam itu lagi di dalam hatinya, karena pernikahannya sudah menghitung hari.


Yusuf kebetulan ikut ayahnya ke pabrik Damar hari ini, namun dia tak menemukan Damar meski sudah mencari cari.


" Mas? permisi.." Yusuf memasuki ruangan admin.


" Iya mas?" jawab Umar.


" Yang punya pabrik kemana ya?"


" oh.. mas Damar?"


" iya iya.." Yusuf mengangguk.

__ADS_1


" mas Damar masih kerja mas.."


" kerja disini?"


" Tidak mas, kerja di luar.."


Dahi Yusuf berkerut, ia tak mengerti.


" Mas Damar ke pabrik kalau pekerjaannya di tempat lain sudah selesai..


kalau tidak salah mas Damar ke pabrik agak sorean nanti.."


Yusuf mengangguk angguk saja.


" njenengan siapa? nanti biar saya sampaikan.."


" ah.. saya putra pak Rahman.. kebetulan kenal Dengan mas Damar.."


Mendengar nama ayah Yusuf di sebut raut wajah Umar berubah lebih ramah.


" Owalah.. yugane pak Rahman tho.. monggo monggo mas.. lenggah.." umar mempersilahkam duduk.


" nggak usah mas, saya mau kembali ke sebelah saja, lihat stok barang.."


jawab Yusuf lalu berjalan.


" Mas Umar?!" tiba tiba Kaila datang, ia berjalan setengah berlari masuk ke ruangan Umar, terlihat tampak buru buru.


"Aduh?!" ia menabrak lengan Yusuf di karenakan buru buru.


" Sakit tau, sudah tau ada orang lewat? geser sidikit?!" Kaila melempar pandangan ketus.


" Apa?" tanya Yusuf tak percaya, dirinya sudah di tabrak tapi bukannya minta maaf, Kaila marah memarahinya.


" Kan sudah di bilang, minggir..?!" Kaila belum menyadari kesalahannya, sikapnya selalu se enaknya di mana mana, itu karena semua orang memanjakannya.


" Kaila!" tegas seseorang dari jauh.


Dari suaranya saja Kaila sudah tau kalau itu suara Winda.


Winda jalan mendekat.


" Ngapunten ya mas.. mohon maklum masih anak anak.." ujar Winda,


" Anak anak?" Dahi Yusuf berkerut, ia memandangi Kaila dari atas ke bawah.


" Maksud saya dia masih ke kenak kanakan.." imbuh Winda.


Yusuf melempar pandangan tak kalah sinis pada Kaila dan berlalu begitu saja.


" Ih! anak ini cari masalah terus, ku jewer telingamu nanti?!" Winda menarik lengan Kaila dan memaksanya pulang.


" Aku mau cari mas Damar?!"


" Damar di kampus! mangkannya apa apa itu tanya dulu?! jangan asal?!"


Tegas Winda.


" Jangan karena Damar tidak pernah memarahimu mangkannya perbuatanmu se enaknya, tidak ada dewasa dewasanya?!"


" Aku cuma mau menjelaskan pada mas Damar soal pacarnya itu?! habisnya mas Yoga pakai acara ngomong ngomong ke mas Damar, sekarang mas Damar pasti marah padaku..?!" rengek gadis manja itu.


" Kau itu tidak ada kapoknya, sukanya membuat keputusan sendiri, bagaimana kalau langkah langkahmu semakin menyulitkan Damar?!, sudah mulai sekarang aku tidak akan memberitahumu tentang apapun! merepotkan!" tegas Winda melepaskan tangan Kaila dan pergi begitu saja, ia terlihat marah.


" Haduuu mbak Kaila ini..." komentar Umar sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


" Kok mas Umar ikutan?!"


" ikutan opo.. saya nggak ikut ikut.. cuma mbak Kaila ini bukan anak anak lagi..


berpikir sebelum bertindak mbak..

__ADS_1


kasian mas Damar kalau harus terus menahan diri melihat sikap mbak yang sangat tidak dewasa ini..?" nasehat Umar yang sudah hafal betul dengan sikap keluarga Damar satu persatu.


__ADS_2