
Kinanti duduk disamping suaminya,
" Kok nyusul?" tanya Damar mematikan rokoknya.
" Dirumah sendiri bosan.." jawab Kinanti sembari menghela lengan suaminya.
" Kenapa.. masa baru di tinggal sebentar sudah kangen.." suara Damar kalem di sertai senyuman yang teduh.
" Kepingin maem apa?" tanya Damar merangkul istrinya.
" Pengen maem rujak manis.. tapi mas yang bikin ya?"
" boleh.. suruh yuk ke pasar cari buah.. biar mas yang buat, nanti apa sekarang?"
" Ya sekarang lah.."
" Lha piye iki.. mas janji sama bapak bapak yang mau mupuk tomat sama cabe..?"
" Ya wes, temui dulu, tapi setelah itu langsung pulang ya?"
" iya iya.." Damar mencubit gemas dagu istrinya.
Dinda terlihat sedang repot di kebun belakangnya.
Wanita berkaos abu abu muda dan bercelana pendek berwana coklat muda sibuk mengangkat ember berisi ikan nila.
Ikan yang baru saja ia ambil dari kolam di tengah kebunnya.
" Mbak mbak?! ono tamu?! ( ada tamu)" keponakan Dinda yang baru saja lulus dari SMP berjalan terburu buru ke arah Dinda.
" Sopo? ( siapa)" tanya Dinda masih mengangkat ember dan berjalan ke arah dapur rumahnya.
" Jarene koncone sampean? ( katanya teman sampean?)"
" konco sopo tho Di? mbak iki ora duwe konco wong kampung kene, lanang po wedok? ( teman siapa Di? mbak tidak punya teman di kampung sini, laki apa perempuan?)" tanya Dinda heran lalu menumpahkan isi ember ke dalam bak berwarna hitam yang ukurannya lebih besar.
" Lanang mbak, ganteng.. pacare sampean paling? ( laki mbak, ganteng.. pacar mbak mungkin?)" goda si Adi,
" Huss! lambemu! cah cilik ngomong pacar pacaran, ora ilok..! ( huss! mulutmu! anak kecil kok ngomong pacar pacaran, tidak baik..!)" Dinda membalas dengan galak.
" Hemm! yowes mbak.. seng penting wes tak kandani lho mbak?! yowes aku moleh..! ( hemm! ya sudah mbak.. yang penting sudah kuberitau lho mbak?! ya sudah aku pulang..!)" Adi berlalu begitu saja, sementara Dinda masih di sibukkan dengan beberapa ikan yang meloncat keluar dari dalam bak.
" Owalah...!" keluh Dinda kesal, saat satu ikan di masukkan tapi ikan yang lain malah meloncat keluar.
" Itu kurang air.. coba tambah airnya.." terdengar suara seorang laki laki tak jauh darinya.
Sontak Dinda mencari asal suara, dan betapa terkejutnya Dinda menemukan sosok Yoga.
Melihat Dinda yang berantakan seperti itu tentu saja Yoga menahan tawa.
" Kau tampak sangat menawan.." goda Yoga melihat sosok Dinda yang benar benar tak ada feminim feminimnya sekarang.
Belum lagi rambut yang di kuncir kebelakang itu sudah mulai berantakan dan helaian helaian rambutnya menempel di wajahnya yang basa terkena air.
" Kau?" suara Dinda tak percaya,
" Kau apa?" sahut Yoga berdiri dengan tangan terlipat di dada, ia tampak rapi dengan celana jeans dan kaos berkerahnya.
Tampilannya benar benar membuat Dinda tampak seperti menyedihkan.
" Kinanti yang menyuruhmu? katakan padanya minggu depan saja aku kesana." tegas Dinda tak fokus karena ikannya loncat lagi.
" Hahahahaha...!" Yoga tertawa melihat Dinda yang benar benar mengejutkannya itu.
Tidak pernah ada perempuan yang berpenampilan sesembrono ini di hadapan Yoga, membuat Yoga semakin gemas saja.
" Sudah ku bilang.. tambahkan airnya," ujar Yoga mendekat dan mengangkat bak itu dan memindahkannya persis di bawah keran air.
Dengan gerakan cepat Yoga menyalakan keran air itu, sehingga bak itu mulai terisi air dan ikan ikan di dalamnya mulai tenang.
" Aduh.. bagaimana sih.." ejek Yoga dengan senyum manis.
Tapi Dinda malah berwajah masam, ia malah sibuk menyingkirkan rambut rambut kecil yang menempel di dahi dan pipinya.
__ADS_1
" Mangkanya.. jadi orang itu yang sabar, bukan hanya aku kan? bahkan rambut saja gemas menggodamu.. sini.." kata Yoga mendekat pada Dinda dan langsung meraih rambut Dinda.
Membuka kuncir kuda yang sudah berantakan itu lalu mengguncirnya kembali dengan lebih rapi.
Saking cepatnya tangan Yoga tentu saja Dinda tak mempunyai waktu untuk menolak,
Dinda yang terkejut dengan kedekatan dan perlakuan Yoga yang menurutnya tidak biasa itu sejak menjemputnya hanya bisa menatap laki laki itu dengan canggung.
" Wah..! ternyata aku pintar juga menguncir rambut..?!" suara Yoga terdengar senang melihat hasil kerjanya yang begitu rapi.
Bagaimana tidak senang, tangannya menyentuh pipi dan dahi Dinda dengan bebas saat merapikan helaian helaian rambut yang berantakan.
Tidak hanya bibirnya yang tersenyum, tapi hati Yoga sedang bersorak sorai.
" Jangan begitu lain kali," suara Dinda setelah keduanya lama saling memandang.
" Kenapa? aku hanya membantumu?"
" iya, tapi kalau ada orang lihat bisa salah faham, ini di kampungku, bukan di bandung,
seperti tidak tau saja pandangan orang kampung pada seorang janda.." jelas Dinda sembari berjalan ke dalam rumah.
" Kau tunggu di depan saja, aku mandi sebentar.." imbuh Dinda lebih tenang.
Dua puluh menit kemudian dinda keluar dari kamarnya, dan menemui Yoga yang sudah menunggu dengan manis di ruang tamu.
" Mau minum apa?" tanya Dinda,
" tidak usah, kita keluar saja.. ngobrol dan makan.."
Dinda terheran heran dengan kata kata Yoga.
" Ngobrol? makan?" tanya Dinda benar benar merasa aneh.
" Kau ini kesini dengan tujuan apa sih? aneh tau sikapmu yang sok manis itu?!" protes Dinda dengan rambut basah tergerai.
Yoga tersenyum mengerti, ia tau..
tak akan semudah itu membuat Dinda mengerti akan perasaannya, karena itu Yoga bertekad untuk pelan pelan tapi pasti.
" Kau ini kesambet apa sih Yog, jangan kira karena di bandung aku bersikap baik padamu lalu kau begini ya?!"
" bukankan sudah ku tegaskan di bandung..
kita bukan anak anak, kita sudah cukup tua untuk bermusuhan..
ku kira kita sudah berdamai.."
" ihh.. kalau kau sedang iseng, janganlah kau iseng padaku?!"
mendengar itu Yoga menghela nafas panjang,
" Jangan terlalu waspada padaku.. kau tau aku bukan tipe laki laki iseng dan suka mempermainkan perasaan orang.." ujar Yoga,
" Lalu yang sedang kau lakukan sekarang?"
Yoga diam, ia ingin berterus terang bahwa
dirinya tertarik, namun dirinya takut di nilai menggunakan Dinda sebagai pelarian karena gagal mendapatkan Kinanti.
" Apapun yang kulakukan, yang pasti aku tidak ada niatan melukaimu..
aku ingin kita rukun dan berdampingan dengan baik.."
Dinda bergidik,
" wah.. rukun dan berdampingan dengan baik?? mengerikan rasanya tiba tiba menerima perlakuan sebaik ini darimu.. pak dokter..."
" ke depannya akan terus baik meski kau terus saja galak padaku.."
" Astaga.. kau sehat??" tanya Dinda benar benar merasa aneh dengan perilaku Yoga.
" Aku kesini juga sudah meminta ijin dari mas Damar.. jadi buanglah pikiran pikiran burukmu.."
__ADS_1
" pikiran buruk? padamu? tentu saja banyak.."
Yoga mengerutkan dahinya mendengar itu,
" Memangnya aku sejahat apa di matamu Din? tidak bisakah kau melupakan kesalahanku pada Kinanti..
itu sungguh sungguh tidak ku sengaja, apa yang kulakukan juga hanya untuk melindunginya..
sedih sekali rasanya jika kau menilaiku buruk tanpa tau sebab di balik itu.."
suara Yoga terdengar serius.
Dinda tiba tiba terdiam, situasi menjadi canggung karena Yoga tiba tiba membahas hal yang berat dan sensitive itu.
Dari luar terdengar suara pintu di ketuk dengan keras.
" Kulo nuwun! ( permisi!)" suara seorang laki laki, terdengar kasar sekali.
Dinda seperti terkejut melihat sosok yang berdiri di depan pintunya.
Laki laki berusia tak jauh berbeda dengan Dinda, perawakannya gagah dan manis.
" Tamu Din?" tanya Yoga ikut melihat ke arah pintu.
" Jangan hiraukan, tetap diam disini.." ucap Dinda dengan raut yang tiba tiba tidak nyaman.
" Ayo bicara Din?!" lagi lagi suara laki laki itu keras.
Dinda bangkit dan berjalan ke arah pintu rumahnya.
" Ada apa lagi, kita sudah tidak ada urusan." jawab Dinda dengan suara terkendali.
" Ku dengar dari orang orang kau pulang, dan tadi aku juga mendengar ada laki laki kaya yang datang kesini, itu pacar barumu?" suara si laki laki terdengar oleh Yoga yang duduk tenang.
" Kendalikan dirimu, itu bukan urusanmu, aku minta tolong, jangan ganggu hidupku lagi, jadi pergilah." pinta Dinda dengan mata berkaca kaca menahan kebenciannya.
" Mana bisa! kau menceraikanku sepihak, sejak dulu aku kan tidak terima?! sekarang kau seenaknya! setelah lama tidak pulang, tiba tiba kau pulang pamer laki laki padaku?!" tegas laki laki itu.
" Wah.. seharusnya kau bersyukur karena aku tidak menjebloskanmu ke penjara dan hanya menuntut cerai.
kenapa sih tidak kau lupakan saja apa yang sudah terjadi, yang berlalu sudah berlalu, jangan membuatku malu, pergi!" geram Dinda.
" Dinda! kowe iku ora tau manut wong tuo!" tiba tiba saja ibunya datang mendekat tergopoh gopoh.
" Roni iki wes suwe ngenteni awakmu mole! iso isone awakmu ngomong koyok ngunu, koyok wong wes sugih sugiho! roni iki arepe ngejak awakmu rujuk?! lek awakmu gelem rujuk awakmu ate di tukokno omah, di tukokno toko! di bandani nduk?! gelemno wes ben uripe awak dewe penak?!
( Roni ini sudah lama menunggumu pulang! bisa bisanya kamu ngomong begitu, seperti orang sudah kaya raya saja! Roni ini mau ngajak kamu rujuk?! kalau kamu mau rujuk kamu mau di belikan rumah, di belikan toko! di beri modal kamu nak?! sudah mau saja supaya hidup kita enak?!)" kata kata ibunya itu benar benar menyakiti hati Dinda, inilah sebab dirinya malas untuk pulang, sesungguhnya ia rindu kampung dan keluarganya, tapi karena hal ini sering terjadi, dia lebih memilih untuk pulang setahun sekali itupun kadang hanya sebentar.
" Kaet biyen ibuk koyok ngene karo aku, ibuk lali aku di gepuk i di idek idek sampe aku keguguran? ibuk lali ben dek e mole mabuk aku di seret,di jambak? ( sejak dulu ibu bersikap seperti kepadaku, ibu lupa aku di pukuli di injak injak sampai aku keguguran? ibu lupa setiap dia pulang mabuk aku di seret, di jambak?)" suara Dinda bergetar menahan air matanya agar tidak tumpah, ia tak mau lagi menunjukkan kelemahannya di hadapan mantan suaminya itu.
sejak dulu di mata ibunya uang lebih berharga dari pada kebahagiaan putrinya.
Luka di hatinya begitu dalam pada mantan suaminya, bagaimana mungkin dia akan kembali menerima penawaran rujuk itu hanya untuk sebuah rumah dan toko.
Ia tak mau lagi menjadi samsak, ia tak mau lagi menderita batin.
Di saat Dinda setengah mati menahan air mata dan kebenciannya, Yoga yang sedang duduk di kursi ruang tamu seluruh tubuhnya menjadi kaku.
Ia terkejut, tak menyangka bahwa Dinda yang galak setengah mati padanya itu sudah mengalami hal semenyakitkan ini.
Rahang Yoga menegang, tangannya terkepal menahan diri agar tidak turut campur.
" Kau jangan seperti perempuan bodoh yang menolak pemberianku Din! kurang enak apa jadi istriku kau tidak perlu menghidupi dirimu sendiri dan keliling merantau seperti orang yang kekurangan uang!
jadilah istriku kembali!
kujamin hidupmu nyaman!" tegas mantan suami Dinda dengan yakin dan sombong, seakan akan dirinya yang paling kaya.
Yah.. memang keluarganya termasuk orang yang kaya di kampung, tapi ia tidak pernah tau bahwa banyak orang yang lebih kaya darinya di luar sana.
" Jangan kembali padanya Din?!" Suara Yoga tegas sembari bangkit dari duduknya.
Yoga berjalan mendekat ke arah Dinda.
__ADS_1
" Kalau hanya dengan rumah dan toko saja bisa mendapatkanmu, maka aku yang lebih layak menjadi suamimu?!" ujar Yoga tegas, ketegasan yang jarang muncul,
" Menikah saja denganku?!" imbuh Yoga dengan amat serius.