
Dadanya seperti di tusuk tusuk oleh kekecewaan dan ketidak percayaan, bukan karena hubungan adik dan istrinya di masa lalu,
tapi sakit yang di rasakan Damar lebih karena ketidakjujuran keduanya.
Damar merasa segalanya akan lebih bisa di terima jika mereka jujur sedari awal.
Dan harusnya jika memang itu hanya sebatas masa lalu saja tidak perlu semua orang menutupinya seperti ini.
Kecuali salah satunya masih terikat perasaan, atau justru keduanya.
Damar memukul dadanya,
nyeri yang sudah tak pernah muncul lagi setelah ia hidup bersama Kinanti mulai muncul kembali.
Di pukulnya, lagi.. lagi.. dan lagi demi menghilangkan rasa nyeri dan sesak itu.
Andai kata ia bisa menangis maka ia akan menangis demi melepaskan kekecewaannya.
Namun kekecewaan yang besar ini membuat hatinya terasa keras dan air matanya pun kering.
Damar adalah sosok laki laki yang tegar, itu terbukti dengan mampunya ia melewati masa kecil yang kurang menyenangkan namun tetap bisa tumbuh menjadi laki laki yang ramah dan bijaksana.
Namun entahlah, tiba tiba bahu yang selama ini kuat terasa berat.
Yoga adalah saudara terdekatnya, temannya bercerita dan bercanda saat ia bosan dengan rutinitas.
Bagaimana bisa hal semacam ini terjadi..
Damar terus saja memukul Dadanya.
Rasanya semakin tertekan ketika ia mengingat cerita cerita Yoga padanya,
bahwa ia masih belum bisa melupakan mantan kekasih yang ia tinggalkan,
dan ternyata perempuan itu adalah Kinanti, istrinya.
" Bagaimana ini, bagaimana aku harus bersikap.." keluhnya lirih.
Di sandarkan kepalanya di bahu kursi kerja di kamar pribadinya.
Otaknya tumpul, dan hatinya yg terus saja mengambil alih, sehingga semuanya terasa sakit.
Tak ada bandingannya dengan cemburu, kemarahan ini sesungguhnya lebih besar, namun setengah mati ia tahan.
Marah, berarti memperburuk keadaan..
marah, berarti membuat istrinya tidak nyaman..
marah dan menyebabkan keributan.. bisa jadi akan menyebabkannya kehilangan istrinya di masa depan..
kekecewaannya pada Damar, bisa membuat Kinanti kembali ke pelukan Yoga.
__ADS_1
Pikiran Damar berputar putar disitu saja,
dia seorang dosen, seorang pemimpin juga meskipun berskala kecil, namun logikanya tak berjalan dengan begitu baik sekarang.
Ketakutan, kekecewaan mengisi dirinya sampai penuh.
Yoga yang bagai sahabat baik, sekarang menjadi momok yang menakutkan untuk rumah tangganya.
"Hah.. tentu saja... Yoga setampan itu, mereka bahkan betahun tahun berpacaran..
sudah pasti keduanya sulit melupakan.. dan mungkin..." gumaman Damar terhenti, pikiran yang membuat hatinya seperti di aliri racun hadir, terus.. terus.. dan terus.
Kinanti yang sudah mulai membaik berjalan perlahan keluar dari kamar.
Ia tak menemukan suaminya kembali ke dalam kamar sejak kembali dari kota tadi petang.
" Biarkan suamimu sendiri dulu.." Suara Winda mencegah Kinanti yang berniat mengetuk kamar Damar.
" Ada yang menganggu pikirannya, lebih baik biarkan dia tenang dulu.." lanjut Winda.
Kinanti mengangguk dengan berat, dan kembali berjalan ke kamarnya.
" Baiklah.. 3 bulan saja.." ucap Kaila setuju ketika keduanya sudah duduk di dalam mobil dan berencana untuk pulang, karena ini sudah cukup malam.
Yusuf tersenyum tipis,
" Memangnya kau tidak punya pacar? kok mudah sekali menyetujuinya?"
" Ah.. kurasa itu tidak penting, toh kita pura pura saja kan?"
" Maksudmu jika kau punya pacar kau akan berjalan dengan dua laki laki sekaligus?!" Yusuf tiba tiba tidak tenang.
" Memangnya kenapa? ada masalah?" tanya Kaila naif,
" bukankah itu yang di namakan berselingkuh?" suara Yusuf kesal.
" Meski kau menganggap kita pura pura, tapi aku tidak suka di duakan" Yusuf benar benar menggerutu.
" Kenapa kau ribut sendiri? seperti kau tidak ada perempuan lain saja.."
" Memang tidak ada..?!, perempuan di hidupku hanyalah kakak perempuanku dan ibuku.." jelas Yusuf dengan nada suara sedikit meninggi.
Kaila tertawa geli mendengarnya,
" bisa bisanya si om om ini menebar jala..
meski aku masih semester dua, tapi aku ini faham sekali dengan tipe tipe buaya seperti om.." suara Kaila mencemooh.
" Om lagi, jatuh cinta padaku tau rasa kau nanti ya? jangan salahkan aku kalau suatu hari kau menempel terus pada om om ini.." Yusuf menyalakan mesin mobilnya.
Dengan perasaan sedikit terganggu ia mengendarai mobilnya menyusuri jalanan kota batu yang gemerlapan.
__ADS_1
Sejam kemudian keduanya sampai di halaman rumah Kaila,
" Masuklah, kujemput...kan mobilmu belum selesai hari ini.." ujar Yusuf.
" Memangnya kau pengangguran apa? mau menjemputku kesana kemari setiap hari?"
" Aku bisa menjemputmu setengah 7 pagi, toh arah tokoku dan kampusmu searah..
nanti pulangnya telfon aku saja, di bawah jam 4 aku bisa menjemputmu..
biasanya aku bisa keluar sesukaku, asal alasannya berhubungan dengan pekerjaan atau keluarga,
namun boss ku yang juga ayahku itu tidak akan mau terima alasan ku pergi untuk pacaran..?"
jelas Yusuf membuat Kaila tersenyum.
" Tidak usah, biar aku diantar Umar saja.. bekerjalah, jangan berubah perhatian seperti ini dalam waktu sehari.. menakutkan tau.."
" Umar? umar admin gudang di pabrik?" tanya Yusuf mengingat sosok Umar yang lebih muda dari dirinya.
" Suka sekali ya bersama laki laki lain?" Gumam Yusuf lagi lagi membuat Kaila tertawa geli.
" Iyalah, Umar itu orang kepercayaan mas Damar, apa yang kuragukan darinya?"
" oh.. jadi perjanjian kita tadi percuma?
dan kau lebih senang di antar Umar?"
Keduanya berpandangan sejenak, dan tak lama Kaila tersenyum ringan.
" Baiklah.. biar Umar yang antar, lalu kau yang jemput, bagaimana?" tawar Kaila.
" Hemm.. ya sudah ya sudah.. masuklah sudah malam.." Yusuf mengalah.
" Kau tidak mampir ke mbak Kinan? pintu rumahnya masih terbuka tuh.."
" Ah.. ketemu mas Damar dong??" Yusuf menggeleng.
" Aku langsung pulang saja.." ujar Yusuf benar benar tak mau bertemu Damar, karena ia takut salah bicara.
" Tidurlah disini..! temanni mbak mu..?!" perintah Winda pada Kaila yang berjalan baru sampai teras rumahnya.
Kaila berbalik, mencari asal suara, rupanya winda sedang berdiri beberapa meter darinya.
" Ganti baju dulu, setelah itu ku tunggu dirumah Damar, sepertinya ada yang tidka beres dengannya..?" jelas Winda dengan wajah serius.
Kaila mengangguk, ia tau bukan saatnya untuk menolak, jika mbak Winda sudah berekspresi serius, maka hal itu serius.
" Kinanti baru pulih, dan Damar bersikap aneh dengan mengunci diri di kamarnya sendiri..
harus ada yang tidur disana..?"
__ADS_1
" iya, biar aku saja mbak..".