Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
istirahat siang


__ADS_3

Hari telah berganti minggu, Damar telah sehat seperti sedia kala.


Tak terlihat sedikitpun oleh orang lain kalau laki laki itu hanya tiduran saja selama seminggu dan berada di bawah perawatan istrinya.


Sosoknya ketika sehat terlalu sempurna bagi orang lain, sehingga banyak orang yang tak percaya ketika Damar jatuh sakit dan hanya tiduran saja.


" Selamat pagi mas.. sudah sehat?" tanya Zahira yang berjalan di belakang Umar.


" Alhamdulillah.." jawab Damar tersenyum manis.


" Baguslah.. pabrik ini sepi sekali tanpa mas.." Zahira mengulas senyum,


" tentu saja, tidak ada yang mengomel di sana sini bukan? hahaha.." Damar tertawa.


" Piye Mar?" Damar beralih ke Umar,


" semua lancar.. semua laporan ada di meja kerja sampean mas.."


jawan Umar,


" Pasti numpuk yo Mar?!"


" ya.. lumayan mas.." jawab Umar nyengir.


" Kalau butuh bantuan, saya bisa membantu mas.. hitung hitung belajar juga.." Zahira menawarkan diri.


" Itu tugasku, kau belajar saja dengan Umar.." jawab Damar kalem,


" Tapi mas.. sejak awal tujuanku kesini kan belajar dengan mas..


Papaku juga sering bertanya kenapa tidak mas sendiri yang mengajariku..?" tuntut Zahira hati hati,


Damar terdiam,


" Aku bisa sesekali mengajarimu.. ketika pekerjaanku tidak banyak,


ya sudah.. hari ini belajar saja dengan Damar,


lusa aku mau melihat kayu yang baru datang, silahkan kalau kau mau ikut.." ujar Damar,


" tentu saja mau mas..?" Sahut Zahira antusias.


" Ya sudah.. lanjutkan pekerjaan kalian.. aku mau ke ruanganku dulu.." Ujar Damar segera berlalu pergi.


Umar yang melihat Zahira terus menatap punggung Damar menepuk lengan Zahira.


" Mbak.. segitunya kalau lihat mas Damar?" tanya Umar dengan raut heran,


" Ah tidak.. kelihatannya semakin kurus, padahal baru seminggu lebih tidak ketemu.."


" ya wajar mbak.. namanya baru sembuh dari sakit.." sahut Umar.


" Istrinya mengurusnya dengan baik kan?"


" ya tentu saja mbak, mbak ini ngomong apa..


mbak Kinan orangnya perhatian,


mas Damar sakit karena mas Damar terlalu kelelahan dan suka terlambat makan saat kami ada urusan di luar,


karena itu mas Damar sekarang mengurangi kegiatannya di pabrik karena saran dari mbak Kinan dan keluarga lainnya..


seperti mbak tau, mas Damar itu pekerja keras, dia tidak seperti pemilik yang lainnya yang suka berpangku tangan saja.." jelas Umar,


" aku tau Mar, karena itu dia menarik sekali..


siapa yang tidak tertarik memiliki pasangan yang semacam itu, apalagi papaku tidak punya anak laki laki..

__ADS_1


bukankan sempurna sekali jika ia memiliki menantu seperti mas Damar?"


Nada Zahira mengandung ketertarikan yang kuat.


" Pasti ada laki laki yang seperti mas Damar di luar sana mbak, yang suka bekerja keras dan tulus hatinya.."


" Jarang sekali Mar.. yah, kau juga sedikit memiliki sikap itu sih.."


" ah, bisa saja mbak Zahira, saya ini buruh.. jadi wajar saja saya rajin.."


" Ah.. aku melihat kau selalu bersungguh sungguh, kau telaten dan disiplin..


kau seperti menyerahkan seluruh hatimu pada mas Damar.."


Umar tersenyum,


" mbak Zahira ini ngomong apa.. ya pasti saya menyerahkan kesetiaan saya kepada pimpinan, apalagi kalau pimpinannya seperti mas Damar..


beliau banyak membantu saya, bekerja dengan baik adalah bentuk balas budi saya.."


Umar tersenyum,


" Ah.. herannya aku.." keluh Zahira,


" heran apa mbak?"


" Kenapa mas Damar susah sekali di dekati, bahkan sebelum dia menikah.."


lagi lagi Umar tersenyum mendengar itu.


" Itulah mas Damar mbak.. banyak perempuan yang patah hati disini saat tau mas Damar yang tidak pernah dekat dengan perempuan tiba tiba menikah.."


" Apa mereka di jodohkan?"


" tidak...mereka saling mencintai mbak.. setau saya,


Zahira mendadak lesu,


" yah.. Wajah yang sulit memberi senyum padaku itu, selalu memandang istrinya dengan wajah yang di penuhi senyuman kebahagiaan..


itu membuat ku iri sekali.." suara Zahira mengandung kekecewaan.


melihat itu Umar tertawa,


" sudahlah mbak.. bangunlah, dan hadapi kenyataan.." ujar Umar.


" Yah.. aku akan menghadapimu.. karena sekarang kau yang ada di hadapanku.." sahut Zahira membuat tawa Umar lebih keras.


" Jangan menghadapi saya mbak.. saya hanya orang miskin yang sesungguhnya tidak pantas berjalan berdampingan dengan mbak jika saja mas Damar tidak memerintahkan saya untuk membatu mbak yang seorang pewaris ini untuk belajar.." Umar mengulas senyum, Zahira tau, kalimat Umar itu hanya sebatas candaan.


" Ah, kau terlalu merendahkan dirimu.." Ujar Zahira menepuk lengan Umar.


" kalau begitu ayo lanjut mbak.. kita ke gudang C yuk.." ajak Umar,


" ayo Mar.." Zahira mengikuti langkah Umar.


Kinanti sedang sibuk mengetik lamaran pekerjaannya saat Damar datang untuk makan siang.


" Ayo disini maem ( makan ) dulu..?" panggil Damar dari ruang tengah pada istrinya yang sedang sibuk duduk di kamar sembari menghadap laptopnya.


" Sedikit lagi mas, tanggung.. mas makan saja duluan, sebentar lagi ku susul.." sahut Kinanti, memang kurang sedikit lagi, ia merasa sayang untuk bangkit.


Namun tidak begitu dengan Damar, ia berjalan masuk ke dalam kamar.


" Aku tidak akan mengantarmu ke kepala sekolah kalau tidak mengindahkan perkataan ku, seperti tidak ada hari saja.." ujar Damar ketika sudah dekat.


" Tapi mumpung semangatku sedang penuh mas..?" sahut Kinanti lagi,

__ADS_1


" Oh.. jadi semangat mu sedang penuh?" ucap Damar sembari tersenyum.


Laki laki itu berjalan ke arah pintu kamar, menutup dan mengunci pintu kamar.


Kinanti yang mendengar suara pintu di tutup dan di kunci langsung menoleh ke arah suaminya.


" Ya sudah ya sudah..? ayo kita makan..?!" Kinanti buru buru bangkit.


Tapi Damar malah mengendongnya dan memindahkan Kinanti ke atas tempat tidur.


" Mas.. ini masih siang..?" ujar Kinanti saat sudah di bawah tubuh suaminya.


" Memangnya ada larangan?" tanya Damar mengecup bibir istrinya,


" Siapa suruh, harusnya saat ku panggil kau buru buru keluar dari kamar.."


" ini jam mas makan siang? nanti sakit lagi kalau telat telat jam makannya? ayo sudah keluar?"


" aku sudah tak ingin keluar kamar..


lagi pula telat telat sedikit tak apa apa kan?"


" Mas?!"


" hemm.." ucap Damar sembari mengecupi pundak istrinya yang sudah terbuka.


" 30 menit saja.." imbuh Damar sembari melanjutkan apa yang sudah ia mulai.


Keduanya mandi bersama, sehingga waktu 30 menit menjadi satu jam lebih.


Tak berhenti disitu, Kinanti yang sudah keluar dari kamar terlebih dahulu dan menuju ke dapur untuk memanaskan makanan di susul lagi oleh Damar yang hanya menggenakan handuk dan belum berganti baju itu.


" Sudah dua kali, cukup?!" Kinanti melotot saat tangan Damar mengangkat Daster Kinanti lagi, dan tangannya merayap masuk ke pangkal paha Kinanti.


" Ada yuk mas?!"


" Yuk di belakang, dia itu peka, tidak akan masuk ke dalam rumah saat tau kita sedang bermesraan.." ujar Damar mematikan kompor, dan menarik Kinanti menjauh dari kompor.


Mata Kinanti terbentur pada lengan dan perut suaminya yang menurutnya cukup berotot itu.


" Aduh..." keluhnya pelan,


" Aduh kenapa.." Damar meraih tangan Kinanti dan meletakkannya di perutnya yang berbuku.


" Sentuh semaumu istriku.." bisik Damar,


" sekali lagi saja.. setelah itu cukup..?" ujar Kinanti,


" aku tidak janji.." Ujar Damar mengangkat pinggang Kinanti dan menggendong istrinya itu di depan, menghadap dirinya.


Keduanya berciuman cukup lama di dapur, seakan tidak takut ada orang yang tiba tiba masuk.


" Disini saja ya?" ujar Damar,


" di dapur?" Kinanti melotot,


Damar mengangguk lalu mencium bibir istrinya itu lagi.


" Jangan Ngawur, bagaimana kalau Yuk masuk?" Kinanti melepaskan diri dari ciuman suaminya.


Damar tak menjawab, lalu berjalan ke pintu depan dan pintu belakang, mengunci kedua pintu itu sembari menggendong istrinya.


" Mas benar benar ya? seminggu saja tidak menyentuhku bisa membuat mas begini?? aku bisa remuk.." gerutu Kinanti di sela sela ciuman Damar.


Dan saat keduanya kembali ke dapur, Damar mendudukkan istrinya di salah satu meja kitchen set yang terbuat dari batu granit hitam itu.


Daster dari dalam lemari yang tadinya licin juga harum, yang di pakai Kinanti setelah mandi tadi jadi lusuh karena kelakuan Damar,

__ADS_1


dan tanpa menunggu lama Damar menyingkirkan daster berwarna coklat muda itu dengan mudah.


__ADS_2