
Tentu saja pagi ini nampak begitu cerah seperti biasanya.
Hidung Damar yang peka bisa menangkap aroma tubuh Istrinya yang segar karena sabun dan lotion yang di pergunakan Kinanti.
Diam diam Damar cemberut,
ia kesal sekali melihat Kinanti sesegar itu.
" Tidak apa apa, biar aku naik motor saja.." Ujar Kinanti sembari merapikan rambutnya.
" Tidak, aku akan mengantarmu sebentar, tapi jangan marah kalau aku langsung kembali..
aku tidak tau kenapa rekan bisnisku dari surabaya malah datang hari libur begini.." wajah Damar tidak bersemangat.
" Apa kata ibu kalau ku biarkan kau naik motor sendiri, pagi pagi begini lagi.." lanjut Damar.
" Aku sudah biasa, mas saja yang terlalu memanjakanku.." ucap Kinanti,
" Tidak.. aku punya waktu sejam sebelum mereka datang, aku akan mengantarmu.."
" ngebut? tidak.. aku tidak mau..?!" ucap Kinanti khawatir.
" Sudah, ayo..?!" Damar bangkit, dan berjalan keluar.
Sementara Kinanti hanya bisa mengikutinya dengan sedikit berat hati.
Kinanti tau suaminya itu ada janji dengan salah satu rekan bisnisnya.
Satu jam waktu yang sangat mepet untuk mengantar Kinanti kerumah ibunya dan kembali ke pabrik.
Yang pasti Damar akan ngebut di jalan, tentu saja ia tak mau suaminya itu sampai ada apa apa dijalan hanya karena terburu buru.
Tapi tak ada yang bisa ia lakukan dengan suaminya yang ngeyel itu, dengan terpaksa Kinanti mengikuti langkahnya ke garasi.
" Lho..??" suara Damar bingung, mobilnya itu tak kunjung menyala meski di starter.
" Kenapa mas?" tanya Kinanti mendekat ke arah Damar yang duduk di kursi kemudi.
Wajah Damar muram seketika,
" Jangan sekarang dong mogoknya? aku mau antar istriku?!" kesalnya pada mobil.
Sekitar 15 menit Damar mencoba, mobil itu menyala, tapi mati lagi, dan itu terjadi beberapa kali.
" Sudah mas.. biar aku naik motor saja.." ujar Kinanti melihat suaminya itu sudah kesal dengan mobilnya.
" Di perbaiki sekarang juga makan waktu.. biar kenapa sih mas, aku akan baik baik saja naik motor.." Bujuk Kinanti.
Namun Damar tak menjawab, ia keluar dari mobil dan berjalan ke arah rumah mbak Winda.
" Mbak Win?! pinjam mobil?!" Belum lagi sampai di pintu Damar sudah memanggil Winda dengan suara keras, nampaknya Damar kesal sekali.
" Kenapa mobilnya mas?!" Yoga yang baru saja keluar dari rumahnya mendengar suara Damar.
Ia tampak rapi dengan celana kain dan kemeja.
" Mobilku purik ( ngambek )..!" jawab Damar melanjutkan langkahnya ke ke pintu rumah Winda yang masih tertutup.
" Memangnya mau kemana mas?" tanya Yoga lagi,
" Ini ngantar mbak yu mu, mau kerumah ibu..?!" jawab Damar.
" Pakai mobilku saja mas? kebetulan sudah ku panasi subuh tadi.." Yoga menawarkan.
" Opo e Dam? bengok bengok.. ?! ( apa sih Dam? teriak teriak..?! )" Winda keluar dari dalam rumahnya, ia masih terlihat kusut karena ini hari minggu,
__ADS_1
ia bersantai karena anak anaknya libur sekolah.
" Pinjam mobil.. mau antar istriku?"
" Duwe pabrik, montor kok nyeleh, ngisin ngisini.. ( punya pabrik, mobil kok pinjam, bikin malu saja..)" bukannya di pinjami mobil, Damar malah di omeli oleh Winda.
Melihat suaminya itu di omeli Winda Kinanti mendekat.
" Tidak usah mbak?!" ujar Kinanti,
" sudahlah mas, waktumu sudah habi banyak.. mas ke pabrik saja, aku naik motor..?!" Kinanti sedikit memaksa.
" Jangan?!" jawab Damar,
" malah ribut..?" gumam Winda menguap.
" Kalau tidak keberatan biar mbak yu ku antar saja mas, sekalian aku mau ke kota memang, aku ada janji beberapa jam lagi,
jadi sekalian antar mbak yu nggak masalah mas.." Yoga menengahi.
Damar berpikir sejenak,
" Wes, biar diantar Yoga, kamu ke pabrik sana!" tegas Winda.
Kinanti tertunduk, ia menarik lengan suaminya,
" Biar naik motor saja.." ucapnya setengah berbisik.
Damar menghela nafas berat, ia seperti kecewa dengan kondisinya.
" Ya sudah, diantar Yoga saja ya? tidak apa apa.. aku tidak tenang kau naik motor, belakangan banyak pengendara yang ugal ugalan.." ucap Damar mencium kening istrinya.
" Sudah, ambil tas mu, lalu berangkatlah dengan Yoga.."
" Mas??" Kinanti menarik lagi lengan Damar.
" Ya sudah Yog, antar istriku ya? antar sampai masuk ke dalam rumah lho?" ujar Damar pada Yoga.
" Siap mas...tenang saja, kalau perlu nanti pulang nya saya ambil juga, saya pulang jam 3 an? bagaimana? biar mas tidak wira wiri?",
" Yah.. boleh, asal tidak menganggu jadwalmu saja.." sahut Damar,
" tidak mas.. tapi mbak yu mau pulang jam berapa?" tanya Yoga memandang Kinanti.
" Mbak yu mu pulang sore, tapi untuk amannya, kau hampiri saja mbak yu mu sekalian dan bawa pulang.."
Yoga tersenyum,
" Baik mas.." ucapnya.
" Ya sudah, ambil tas mu sayang.." ujar Damar.
Kinanti berjalan kembali ke dalam rumah dengan langkah berat untuk mengambil tas tangannya.
Damar yang melihat istrinya masuk ke dalam mobil Yoga merasa sedikit aneh, ada rasa tidak senang dalam hatinya, tidak seperti biasanya.
" Istriku cantik begitu.." keluhnya, diam diam ia mempunyai rasa was was juga melihat sikap Yoga yang ramah sekali pada Kinanti.
Apalagi saat di sawah waktu itu Damar sempat melihat Yoga menyentuh Kinanti, meskipun itu hanya untuk membantu Kinanti yang terjatuh agar kembali berdiri.
Apalagi tampilan Yoga seperti itu, cukup tampan dan menyenangkan..
perempuan mana yang tidak senang berdampingan dengan laki laki seperti Yoga.
Semakin was was saja hati Damar.
__ADS_1
Tapi kemudian ia sadar, bahwa Yoga adalah adiknya, dan Kinanti adalah istrinya, bagaimana bisa pikirannya sekotor itu.
Di buangnya jauh jauh pemikiran yang tidak masuk akal itu.
" Belum ke pabrik juga?" tanya Winda keluar lagi dari rumahnya,
" Wes mbak.. ojok ngomel ae.. ( sudah mbak.. jangan ngomel saja..)" ujar Damar lalu berjalan kembali ke dalam rumahnya, meninggalkan Winda yang terheran heran dengan kalimat Damar yang tidak biasa terhadapnya.
Sementara si ibu tiri yang sejak tadi mengawasi dari jendela rumahnya hanya tersenyum, entah apa maksud dari senyumnya.
" Apa mau mampir ke pasar lagi?" tanya Yoga di tengah perjalanan.
" Tidak usah, langsung kerumah saja" sahut Kinanti datar.
" Oke.." jawab Yoga kembali fokus pada jalan raya.
Namun tak lama konsentrasinya terganggu,
Kinanti yang tiba tiba membuka jendela, membuat angin masuk ke dalam mobil, sehingga menerbangkan rambut Kinanti yang terurai panjang itu.
Bau harum yang berasal dari rambut Kinanti tentu saja sampai pada hidung Yoga.
Deg..
hati Yoga berdesir..
aromanya masih sama, keluh Yoga dalam hati.
" Seleramu tak berubah ya..?" ucap Yoga,
" Maksudmu?" Kinanti menoleh ke arah Yoga.
" Shampomu.. aromanya tetap sama.. seperti saat kita pacaran dulu..
apa lotionmu juga tetap sama? dan sabun kesukaanmu juga?"
" Cukup.. tidak sopan membicarakan tentang hal itu padaku yang kau panggil mbak yu," Kinanti ketus.
Yoga tertawa,
" Siapa suruh kau membuka kaca jendela, rambutmu berkibar begitu saja ke arahku..
membangkitkan kenangan masa lalu yang manis.." ujar Yoga,
" Manis?! omong kosong.. " tukas Kinanti.
" Setidaknya hubungan kita selalu baik baik saja sebelum petaka itu terjadi.." gumam Yoga terdengar oleh Kinanti.
" Diam sajalah, dan antar aku pulang sesuai perintah mas mu"
Yoga tersenyum tipis mendengarnya, rasa getir menelusup di hatinya.
" Andai laki laki itu bukan mas Damar, apa kau kira aku akan sesabar ini?"
" Apalagi maksud perkataan itu??!"
" andaikata suamimu laki laki lain, aku pasti akan merebut mu dengan cara yang brutal..!
rasanya aku tidak tahan setiap melihatmu,
darahku seperti naik ke ubun ubun, rindu, marah, kecewa, bercampur menjadi satu..
apa kau tau, aku mengendalikan diriku dengan sekuat tenaga agar tidak menarikmu ke dalam pelukanku..?"
suara Yoga bergetar menahan perasaan.
__ADS_1
Terlihat sekali betapa pedih perasannya, namun tidak ada yang bisa Kinanti lakukan.
Kinanti hanya diam dan membuang pandangannya pada jalan raya.