
Kinanti tajam menatap Yoga dengan kedua tangannya yang sengaja di lipat di dada.
" Sekarang jelaskan padaku?" Kinanti bersikap lebih tenang karena nasehat suaminya.
Yoga melirik Dinda yang entah kenapa duduk jauh sekali darinya.
" Aku kan menyuruhmu menjelaskan, bukan menyuruhmu melirik Dinda?" suara Kinanti benar benar tak enak di dengar.
Yoga menghela nafas,
" Tidak kau ceritakan Din? kenapa kau sampai tidur dirumah?" tanya Yoga.
" Tentu saja sudah.." jawab Dinda datar,
" Lalu apa lagi yang mbak ingin tau, jika Dinda sudah menjelaskan semua?" ujar Yoga tak berdosa.
" Aku ingin tau kenapa kau tidak mengantarnya kesini malah memaksanya tidur dirumahmu?"
Lagi lagi Yoga melirik, tapi bukan melirik Dinda, kali ini melirik Damar.
Tatapannya seakan meminta pertolongan pada Damar, " selamatkan aku dari istrimu mas?!".
" Jangan melirik suamiku! coba saja kalau dia berani membelamu?!" sahut Kinanti tegas, ia menatap suami yang sedang duduk disampingnya.
" Silahkan sayang.." ujar Damar sembari tersenyum manis mungkin.
Yoga tertunduk seketika, habislah aku.. batinnya.
Kinanti sekarang lebih mirip induk ayam yang setengah mati menjaga anaknya, dia bahkan tidak segan menyerang siapapun yang mendekati anaknya untuk saat ini,
dan lihatlah disampingnya.. si jantan yang paling kuatpun menjadi patuh dan tak berdaya.
Yoga menyandarkan punggungnya di bahu sofa, entah kenapa kepalanya sedikit pening.
Semua orang yang berada di ruang tamu itu tentu saja bisa melihat betapa lelah ekspresi laki laki itu, sorot matanya sama sama lesu seperti Dinda, bahkan lebih.. namun Kinanti tak mau tau akan hal itu.
" Aku merasa tidur dirumah adalah pilihan terbaik semalam, karena mbakyu sedang hamil..
aku takut mbakyu kaget, karena kami datang di jam yang tidak nyaman untuk mengetuk pintu.." jawab Yoga akhirnya.
" Itu alasanmu?!"
" itu bukan sekedar alasan mbakyu..
tapi di dasari dengan kekhawatiranku..
usia kandungan sampean masih muda, masih rentan, dan si ibu tidak boleh stress atau mendapat tekanan berlebihan..
tentunya mbakyu mendengar hal itu dari dokter kandungan saat kalian periksa bukan?"
" tapi kenyataannya aku malah stress sekarang karena perbuatanmu?" Kinanti terus saja mencari kesalahan Yoga.
" Sudah sayang.. sudah..
__ADS_1
mereka kan sudah sama sama tua, bukan anak remaja lagi.." ujar Damar menenangkan sembari mengelus perut istrinya.
" Aku wajib melindungi Dinda dari adikmu yang selalu membuat masalah ini mas?!" Kinanti menatap Damar serius, membuat Damar menarik tangannya dari perut Kinanti dan kembali duduk tenang.
" Benar kata mas Damar, kami sudah cukup tua untuk mengambil segala keputusan sendiri,
kuharap mbakyu bersikap bijak,
aku dan Dinda sudah dewasa..
ada hal hal pribadi yang tidak bisa mbakyu dan mas Damar campuri.."
" Wah.. kau bicara seakan kalian sudah dekat saja.." ejek Kinanti.
" Memang sudah.." jawab Yoga tenang sembari melirik Dinda yang sedari tadi membisu dan membuang pandangannya ke arah lain.
" Memangnya kau tak menjelaskan pada mbakyu sudah seberapa dekat kita dan apa saja yang sudah kita lakukan?" Yoga menatap Dinda terang terangan sekarang.
" Maksudmu?!" Dinda terbelalak, beradu pandang dengan Yoga.
" jangan bicara omong kosong?! jangan pula menyebabkan kesalahpahaman!" Dinda tiba tiba saja gugup.
Kinanti mengawasi keduanya, begitu juga Damar.
" Kesalahpahaman bagaimana?" Yoga menatap Dinda tegas.
" Memangnya apa yang sudah kalian lakukan?" tanya Kinanti sungguh di buat penasaran.
" Sayang.. jangan melebihi batasmu.." suara Damar pelan mengingatkan istrinya.
mendengar itu Damar tak bisa berkata apapun, kecurigaan Kinanti terhadap Yoga begitu besar, melawan kata katanya sekarang sama saja dengan mengibarkan bendera perang.
" Kau sengaja memanfaatkan Dinda dan merayunya? iyakan?!" tuntun Kinanti,
" Sebelum menuduhku merayu atau semacamnya, sebaiknya mbakyu bertanya terlebih dahulu pada teman mbak ini,"
" Maksudmu?"
" Jika memang dia tak mau kenapa dia tak menolak..?" suara Yoga tak gentar
Seluruh ruangan tiba tiba menjadi senyap.
Kinanti sontak menatap Dinda,
" Aku.. aku tidak tau apa yang dia bicarakan Nan, dia melantur..?" Dinda memberi penjelasan dengan sikap yang ganjil.
" Melantur? aku? melantur? kenapa sih kau tidak mau mengakui di hadapan Kinanti kalau kau membalas ciumanku sama bergairahnya subuh tadi?,
kau bahkan jatuh ke pelukanku dengan pasrah?, dan.. kau bahkan terlihat begitu manis saat bangun dari lenganku tadi pagi, tapi kenapa di depan Mbakyu kau tidak mau mengakuinya?" Yoga mengatakan semua hal yang terjadi diantara dirinya dan Dinda dengan begitu enteng di depan Kinanti dan Damar.
" Katakan pada mbakyu dan mas Damar kalau kita tidur berdua di satu tempat tidur tadi su..embbh.." Dinda membungkam mulut Yoga dengan cepat.
" Biar kujelaskan Nan.. itu.. itu salahpaham..?" Ucap Dinda pelan,
__ADS_1
Namun Kinanti tak menjawab, wajahnya berubah memerah, perempuan yang sedang hamil muda itu terlihat meradang.
Kinanti tiba tiba saja bangkit dari duduknya,
tatapannya benar benar tak bisa di remehkan.
Melihat Kinanti yang bangkit dan mendekati dirinya, tentu saja Yoga mundur dan spontan menutupi kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya.
Ia mengira dirinya akan mendapatkan sebuah tamparan,
tapi ternyata bukan tamparan yang ia dapat, tapi sesuatu yang tak pernah di bayangkan dan di terima Yoga sebelumnya dari siapapun.
" Kau!! harus di beri pelajaran!!" tangan Kinanti melayang ke kepala Yoga, menangkap rambut di kepala Yoga dan menariknya dengan keras.
Yoga yang tak menyangka bahwa dirinya akan di jambak tentu saja tidak punya waktu untuk menghindar.
" Mas?!" terdengar Yoga yang memohon pertolongan pada Damar.
Damar dan Dinda tercengang melihat pemandangan di hadapannya.
" Mas?! tolong aku?!" pinta Yoga lagi keras menyadarkan Damar.
Damar bangkit seketika dan memegang pergelangan istrinya.
" Nan?! lepaskan Nan?!" Damar berusaha melepaskan cengkraman istrinya pada rambut Yoga itu.
" Kau hamil Nan? jangan begini??" suara Damar yang cemas benar benar tak di gubris, Kinanti tetap saja menarik rambut Yoga dengan sekuat tenaganya.
Sesungguhnya Yoga bisa saja melepaskan diri, tapi Yoga tak mau menyakiti Kinanti, karena itu dia meminta pertolongan Damar, dan Damar faham akan hal itu, sesuatu hal yang tidak di duga, atau bahkan buruk bisa saja terjadi jika Yoga melawan dan melepaskan diri.
Melihat istrinya itu tak kunjung melepaskan tangannya yang terus saja menarik rambut Yoga dengan Kasar,
Damar terpaksa bertindak nekat, ia tak perduli jika ia harus ribut Nanti
dirinya sudah tidak tega melihat Yoga yang meringis menahan sakit.
Di tarik lengan istrinya itu sekuat tenaga dan segera di gendongnnya perempuan itu ke dalam Kamar.
" Kenapa mas membelanya?! dia itu kurang ajar! dia sudah merusak Dinda! dia bahkan pantas mendapatkan pukulan yang lebih keras!! dia mau mempermainkan Dinda setelah mendapatkan apa yang ia inginkan dari Dinda mas?!
dia hanya ingin balas dendam pada kita melalui Dinda?!" terdengar suara Kinanti yang masih berapi api dari dalam kamar.
Sementara Yoga yang masih kaget hanya bisa menahan sakit di kepalanya.
" Kau bahkan tidak membelaku?" tuntut Yoga pada Dinda yang duduk tak jauh darinya.
" Siapa yang membuat Kinanti salah faham? itu kau.. jadi rasanya pantas kau menerimanya" jawab Dinda pelan, tubuhnya tiba tiba saja lemas karena pemandangan yang di lihatnya tadi terlalu tegang.
" Astaga.. bisa bisanya dia menjambakmu.." keluh Dinda tak percaya dengan apa yang ia lihat, semakin di pikir semakin tidak masuk akal.
Biasanya laki laki itu di tampar, bukan di jambak?.
Diam diam Dinda melirik Yoga yang masih menggosok gosok rambutnya, laki laki itu benar benar tampak kesakitan, raut wajahnya pucat seketika.
__ADS_1
Tiba tiba saja Dinda ingat, dulu.. saat masih kuliah,
Kinanti pernah menjadi juara satu tarik tambang.