Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
suamimu cemburu padaku,


__ADS_3

Yoga mengantar dan menjemput istrinya sesuai jam yang ia berlakukan.


Keduanya tak banyak bicara setelah pertengkaran terakhir kali.


Kegiatan suami istripun hanya di lakukan satu pihak secara aktif,


kadang Yoga ingin marah, melihat Dinda yang mematung saja dan hanya menerima sentuhan Yoga dengan dingin,


namun Yoga sudah tidak berani lagi untuk marah, dia tau.. dirinya sudah sangat bersalah.


Dalam hati, sesungguhnya Yoga ingin mengucapkan maaf,


tapi Dinda seperti tak memberinya jalan, padahal hanya bentakan, tapi sikap Dinda seperti sudah di perlakukan lebih dari itu.


Raut wajahnya selalu menunjukkan ekspresi tertekan setiap berdekatan dengan Yoga.


Yoga duduk di ruangan prakteknya,


hari ini jarang pasien,


ada beberapa namun yang pasien tuju adalah dokter gigi dan dokter anak.


Yoga yang diam diam saja cukup jenuh, apalagi pikirannya selalu tertuju pada istrinya.


" Kau ini, lihat wajahmu yang kusut itu.." si senior yang sudah siap menggantikan Yoga 30 menit lagi duduk di hadapan Yoga.


" Apasih yang kau takutkan Yog?" tanya si dokter yang lebih senior.


Yoga tak menjawab, ia hanya menghela nafas berat.


" Istrimu tidak berselingkuh atau main gila dengan siapapun, tapi kau bingung sendiri begini..


bisa bisanya kau mendadak paranoid begini.."


Yoga masih diam, ia malah merebahkan kepalanya di atas meja kerjanya yang berwarna putih.


" Hei..?! aduhhh..." keluh si senior gemas melihat Yoga yang lesu.


" Aku capek.." ujarnya tiba tiba masih dengan kepala terbaring di atas meja.


" Kau capek karena pikiranmu sendiri.."


" ah.. kenapa istriku mudah sekali menarik perhatian laki laki.." gumamnya,


" lho..?! kalimat itu seharusnya juga di katakan oleh istrimu.."


" aku tidak pernah main perempuan, meski banyak yang ingin berhubungan denganku.."


" sama halnya dengan istrimu mungkin,ia tak ingin berhubungan dengan siapapun meski ada yang menginginkannya,"


" ah.. aku tidak kuat, ku tidak mampu menanggung perasaan cemburu ini.."


" Hehhh!" si senior menepuk punggung Yoga.


" Berapa kali aku menasehatimu? astagaa... manusia satu ini benar benar.." si senior sampai mengeluh.


" Masalahnya perasaanku sedari awal sudah tidak enak melihat laki laki itu,


dia agresif.. aku kesal sendiri melihatnya.." Yoga membenamkan wajahnya diantara kedua lengannya.


Dinda terlihat membolak balik gamis yang baru saja di pajang manekin,


raut wajahnya sedikit tidak senang melihat jahitan dan benang yang kurang rapi.


" Kembalikan saja, dari pada resiko tidak laku.." suara Rakha tiba tiba saja terdengar begitu dekat,


ternyata laki laki itu sudah berada di depan pintu ruangan Dinda.


" Tidak bisa mengucapkan salam? atau mengetuk pintu?" Dinda kesal,


" bukan tidak bisa, tapi tidak mau..," Rakha mendekat sembari tersenyum.

__ADS_1


" Ada apa Ka?" tanya Dinda dengan wajah itu begitu senang,


ia takut kehadiran Rakha menimbulkan permasalahan lagi,


namun Dinda tidak punya alasan yang tepat untuk menyuruh Rakha pergi, karena bagaimanapun keduanya pernah menjadi teman baik saat kuliah.


" Ingin melihatmu saja, tidak boleh?"


" tidak boleh.. kalau suamiku melihatmu lagi disini dia akan marah, jadi sebaiknya kalau tidak ada urusan atau hal yang mendesak kau pulang saja.." jelas Dinda dengan suara di rendahkan dan hati hati, ia tak mau Rakha tersinggung.


" Wahh.. suamimu marah?" Rakha tersenyum mengejek,


Dinda hanya menjawab dengan anggukan, ia masih sibuk meneliti baju baju di hadapannya.


" Posesif sekali.. pemarah pastinya?"


" tidak.. dia bukan pemarah.." jawab Dinda,


" aku tidak tau, beberapa waktu ini.. dia seperti bukan dirinya, kecurigaannya begitu besar padaku.." Dinda mengeluh,


" apalagi saat melihatmu.."


" melihatku?"


" iya.. dia banyak bertanya tentangmu..


" Hahahahah..! suamimu jelas cemburu padaku..


peka sekali dia.." Rakha tertawa tanpa beban,


" dia sadar rupanya kalau aku menyimpan keinginan terpendam pada istrinya.." senyum Rakha masih tersungging.


" Berhenti bercanda! pulanglah sana!" tegas Dinda,


" sebentar lagi.. aku sedang mengisi baterai.."


" lagi lagi kau bercanda dalam situasi yang seperti ini?!" Dinda melempar bunga plastik yang terpasang di dinding pada Rakha.


" Aduhh! galak!" Rakha menghindar sembari tertawa.


" Cake kesukaanmu.. rasanya masih sama.." Rakha melempar senyum yang berbeda dari biasanya pada Dinda,


" makanlah, jangan biarkan dirimu di tekan dan di kalahkan oleh keadaan..


ingatlah..


aku selalu menyediakan diriku untukmu..


meski kau selalu menjaga jarak dariku.." imbuh Rakha lalu berbalik.


Dinda termanggu sembari menatap cake yang di letakkan Rakha tadi di atas meja.


Hatinya sungguh aneh sekarang, rasanya tak karu karuan.


" Ya ampunn.." keluhnya pelan lalu duduk di kursinya.


Rakha yang baru saja keluar, berpapasan dengan seorang wanita,


penampilannya cantik dan modis,


kulitnya putih dan menarik.


Namun raut wajahnya yang seperti menyimpan rasa kesal itu membuat Rakha tak nyaman.


" Hei..!" perempuan itu masuk begitu saja ke ruangan Adinda,


mengejutkan Dinda yang sedang sibuk dengan pikirannya.


" Ada apa?" jawab Dinda setenang mungkin,


" aku mau bicara dari hati ke hati denganmu, sebagai sesama perempuan harusnya kau mengerti kesulitanku?!" ujar perempuan itu dengan sinis dan angkuh.

__ADS_1


Dinda menghela nafas, menekan emosinya,


" bicara dari hati ke hati? dengan nada yang kurang sopan seperti ini?" balas Dinda.


" Aku tidak punya waktu untuk berlemah lembut denganmu,


dan jangan mentang mentang Yoga dan Bagas sayang padamu kau jadi besar kepala,


kau lupa terakhir kali aku menegaskan apa?


Relakan putraku kembali padaku, kau hanya ibu tiri yang mengharapkan kenyamanan hidup, dan lagi, Yoga hanya menjadikanmu pelarian saja,


buktinya setelah berpisah denganku dia tidak perhubungan dengan perempuan manapun, jadi sadarlah..


mengalah akan jauh lebih baik dari pada akhirnya ku di campakkan..!" tegas Vania.


Dinda terdiam, ia benar benar menjaga dirinya agar tak membalas dengan kata kata kasar, namun matanya tak bisa berbohong, saking marahnya mata itu mulai memerah.


" Apa kau sudah bicara dengan suamiku?" Dinda bertanya, masih dengan nada yang tenang.


" Tentu sudah, dia memang masih mencintaiku dan ingin kembali padaku, kau saja yang menjadi penghalang kami," jawab Vania sambil membuang pandangannya ke arah lain.


" Begitukah? dia berkata masih mencintaimu?"


" tentu saja!"


" lalu suamimu sendiri? bagaimana?"


" jangan urusi urusanku, biar ku selesaikan sendiri! yang jelas kau harus merelakan Bagas dan Yoga!"


" haruskah aku mempercayaimu? sementara suamiku selalu berkata dia tidak pernah mencintaimu.. bahkan terpaksa menikah denganmu.."


Wajah Vania memerah,


" Omong kosong! tidak mungkin ada Bagas jika dia hanya terpaksa?!" tukas Vania dengan menutupi rasa malunya.


" bukankah seharusnya kita bicara berempat, aku suamiku, kau dan suamimu.. agar segalanya jelas..


aku tidak takut untuk melepaskan seseorang yang tidak mencintaiku..


tapi aku takut kebohongan merusak kehidupan Bagas..


bukankan kau yang melahirkannya, harusnya kau bisa menghargai perasaannya..?"


" Kau sudah meracuni anakku, bagaimana bisa dia melihat ke arahku?!


kau kira aku tidak tau?


perempuan sepertimu hanya mendambakan kehidupan yang nyaman,


jujurlah! kau menikahi Yoga hanya karena materi dan status keluarganya kan?!


perempuan miskin sepertimu apalagi yang di cari?!" sembur Vania, Dinda bangkit dari kursinya, ia tampak sudah meradang dengan penghinaan Vania.


" Wajahnya saja yang cantik, tapi mulutnya seperti sampah.." Rakha yang sejak tadi diam mendengarkan dari samping ruangan akhirnya bersuara, ia sudah tidak tahan dengan hinaan perempuan yang baru saja datang itu.


" Siapa kau! jangan ikut campur urusan perempuan!" tegas Vania.


" Perempuan? kau? ah.. mana ada perempuan yang mulutnya sampah sepertimu.." Rakha menyeringai,


" pergilah.. jangan ikut campur.." ucap Dinda lirih pada Rakha, namun Rakha hanya tersenyum saja.


" Kau itu.. mantan istri suami Adinda ya?" tanya Rakha,


" Ya!"


" owh.. pantas saja.."


" pantas kenapa?!"


" pantas untuk di tinggalkan.." Rakha tertawa,

__ADS_1


" Kau!" tangan Vania terangkat, ia bermaksud menampar Rakha, namun tangan Vania di tahan oleh Dinda.


" Jangan keterlaluan.." desis Dinda memperingatkan.


__ADS_2