
Damar terbangun, matanya tak menemukan sosok istrinya yang semalam tertidur di sampingnya.
Laki laki itu bangkit, dan membuka tirai jendela, sehingga terlihat jalanan di depan rumah.
Ia duduk kembali di atas tempat tidur, lalu diam diam tersenyum.
Meski semalam ia hanya mencium dan memeluk istrinya saja, tapi hatinya sudah sebahagia ini.
Terlalu baginya jika ia meminta lebih, karena tubuh istrinya terlihat ringkih, matanya pun sama sekali tak mau menatap Damar.
Yah.. Damar paham, mungkin kekecewaan masih belum hilang, Damar tak akan memaksa apapun, yang terpenting adalah dia sudah menemukan Kinanti dan akan selalu bersamanya.
" Temanku kemana?" suara Kinanti tiba tiba masuk ke kamar.
Damar menoleh ke arah istrinya yang rambutnya tergerai itu, dan bangkit.
" Aku juga tidak tau, apa mereka tidak pulang?" tanya Damar mendekat,
" mereka?" Kinanti mengerutkan dahi.
" Iya, aku dengan Yoga kesini.." jawab Damar.
Raut Kinanti berubah masam, ia berbalik dan meninggalkan Damar begitu saja.
Damar yang melihat itu mengikuti langkah Kinanti.
" Maaf, tapi Yoga memaksa ikut, dia bilang mengenal temanmu dengan baik?" kata Damar mengikuti istrinya itu berjalan ke arah dapur.
" Saking baiknya mereka selalu ribut setiap bertemu." sahut Kinanti pendek.
" Suruh Yoga pulang, aku tidak mau melihatnya."
suara Kinanti tak main main.
Damar terdiam sejenak, lalu memeluk istrinya itu dari belakang, sehingga langkah Kinanti terhenti.
" Dia ikut kesini hanya karena merasa bertanggung jawab pada kita,
aku juga tidak semudah itu memaafkannya..
dia sudah kurang ajar padamu..
selain hubungan saudara, sudah tidak tersisa apapun lagi dariku untuknya.." jelas Damar.
Suasana hening, Damar yang tak mau diam menciumi rambut istrinya.
" Bagaimana mas bisa menemukan tempat ini?" suara Kinanti masih dingin.
" Tentu saja kesalahanmu sendiri yang menggunakan nomor temanmu untuk menelfon Yusuf.." jawab Damar masih dengan bibirnya yang tak mau diam mengecup disana sini.
" Tidak mungkin Dinda memberitahukan keberadaanku dengan mudah?"
Damar tersenyum,
" Aku ini suamimu, bagaimana mungkin dia tidak memberi jalan untukku.."
" Dinda tidak semudah itu sejak dulu,"
" yah.. aku mengancamnya sedikit sih.."
Kinanti berbalik menatap Damar,
" mas mengancam temanku?!" Kinanti terlihat tidak senang.
" Hanya.. akan melaporkannya ke polisi jika tidak memberitahukan keberadaanmu, itu saja.." jawab Damar sembari tersenyum semanis mungkin.
" Sejak kapan mas jadi orang yang seperti itu?"
keduanya bertatapan,
" Sejak kau meninggalkanku, aku seperti kehilangan arah.." jawab Damar dengan sorot mata sayu.
" Lalu aku? apa mas pernah berpikir bagaimana perasaanku saat mas tinggalkan sendiri dirumah?,
mas bahkan mengusirku sebelum pergi.." Kinanti membuang pandangannya.
" Aku.. aku tidak mengusirmu sayang?, aku hanya ingin Yoga menyingkir?"
" bohong! mas mengusirku.."
" Aku tidak bermaksud seperti itu...
ohh Kinanti, suamimu ini memang kadang keterlaluan saat marah.. apa yang keluar dari mulutku hanya luapan kemarahan saja, itu tidak sungguh sungguh...??" mohon Damar menghela wajah istrinya itu agar menatapnya.
" Aku mencintaimu.. dadaku seperti terbakar melihat Yoga bergelayut sembari memeluk kakimu..
suami mana yang tak meradang,
dari ujung rambut sampai ujung kaki kau adalah milikku,
tak ada laki laki lain yang berhak mendekat, apalagi menyentuhnya..
pahamilah aku sayang..
__ADS_1
aku juga tersiksa dengan apa yang terjadi pada kita..?"
" lalu itu menjadi alasanmu pergi berminggu minggu? atau.. sudah ada yang menggantikanku di luar sana?" Ucapan Kinanti menusuk.
" Huss!! bicara apa kau Nan..?" tegas Damar,
" Kau mencurigaiku mencari perempuan lain di luar??" lanjut Damar.
" Lalu? apa yang membuat seorang laki laki betah berlama lama di luar meninggalkan istrinya?" Kinanti masih sinis, hatinya benar benar tak tenang saat mimpinya tentang Damar itu melintas lagi.
" Suamimu ini bukan laki laki murahan..! tak semudah itu aku mencari perempuan lain..?!" suara Damar tegas, namun Kinanti seperti tak mendengarkannya.
Melihat kediaman Kinanti yang seakan tak percaya itu membuat Damar kesal.
" Hanya laki laki bodoh yang pergi keluar untuk mencari perempuan lain ketika dirinya sedang bermasalah dengan istrinya..
aku tidak pulang lama bukan karena senang di luar tanpamu,
aku hanya banyak memikirkan permasalahan kita, dan bagaimana caraku menghadapimu saat pulang.." jelas Damar.
" Apa kau kira tanganku ini bisa menyentuh perempuan lain dengan mudah?"
Kinanti masih diam,
" Yah.. memang aku pernah menyentuh tangan perempuan setelah aku pergi dari rumah, tapi itu hanya tangan ibu kantin, itupun karena tidak sengaja.."
Kinanti melotot,
" ibu kantin, limapuluh tahunan usianya.. aku tidak sengaja menyentuh ibu jarinya saat menerima piring.." jelas Damar.
" Menyebalkan.." gerutu Kinanti sembari berusaha melepaskan diri dari pelukan Damar.
" Lho? kok malah marah?" tanya Damar mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang istrinya.
" 3 minggu bukan waktu yang sebentar untuk hidup di luar?! kalau memang masih mencintaiku kenapa harus membuatku tersiksa tiga minggu?!
jangankan tiga minggu, tiga hari mas tinggalkan saja pikiranku tak karu karuan?!" Kinanti meledak.
Mulut yang sedari semalam diam akhirnya bicara panjang lebar.
Matanya kembali penuh dan memerah,
" Jangan menangis lagi, jangan..." kata Damar pelan, ia tak mau ada air mata lagi pagi ini.
" Aku sudah disampingmu, jangan menangisi apapun lagi..
dan jika kau.. istriku ini.. merasa tidak tenang aku berada diman selama pergi dari rumah,
aku bisa meyakinkanmu bahwa aku tidak bertemu atau menyentuh perempuan lain.." ucap Damar serius.
" Aku naik ke semeru.."
Kinanti tersentak, semeru..
" Yah.. pendakian terakhirku bersama Aji.." kata Damar bergetar sembari memeluk istrinya itu.
" Aku mengikuti pendakian bersama alumni, temanku.. teman teman Aji juga..
mereka berusaha membantu menyembuhkan traumaku,
kau tau kan, sejak mas mu meninggal.. aku tidak berani menginjakkan kakiku di gunung lagi..
awalnya aku lemah dan gemetar, tapi mereka bersabar menemaniku hingga Ranu gumbolo,
meski masih belum sanggup untuk naik ke puncak, dengan diam di ranu gumbolo saja aku sudah bersyukur..
disana tidak seharipun aku tidak memikirkanmu..
setiap Aji melintas di pikiranku..
bayanganmu juga ikut hadir..
ijin pendakian, dokumentasi.. semua ada..
kau bisa memeriksanya istriku..
Kau adalah tambatan hatiku..
titipan Aji,
bagaimana mungkin aku akan menodainya dengan menghadirkan perempuan lain dalam hidupku..
aku setengah mati bersabar menunggumu dari usiamu masih belia..
bekerja keras demi agar bisa terus melihat senyummu,
lalu kenapa aku harus menyianyiakanmu sekarang?
Aku berbeda.. berbeda..
pengkhianatan bapak yang kulihat sejak kecil pada ibu,
banyak mengajariku..
__ADS_1
air mata yang ibu keluarkan tiap malam, tak akan bisa ku lupakan..
aku berusaha mati matian agar menjadi laki laki yang tidak seperti bapakku?!
aku tidak akan mencari perempuan lain hanya karena kecewa padamu..
kau boleh marah? tapi jangan menuduhku mencari perempuan lain...?" Damar memeluk erat istrinya itu, ia benar benar tak ingin istrinya itu berpikiran buruk tentangnya.
Benar ternyata apa yang di katakan Yoga saat Ranu pane saat itu.
Ia tak akan sanggup menerima kecurigaan Kinanti.
Dan sekarang.. istrinya benar benar curiga tentang apa yang ia lakukan selama tiga minggu di luar rumah.
" Aku akan hubungi teman temanku sekarang jika kau tidak percaya?
selama tiga minggu ini yang ku sentuh hanya pohon, rumput dan tanah..
Aku hanya lari ke gunung..
tidak lari keperempuan lain, jadi jangan membayangkan atau berpikir yang tidak tidak..
tolong.. jangan berpikir buruk tentangku..?" pinta Damar sungguh sungguh.
Yoga dan Dinda sedang sarapan di restoran hotel yang mereka tempati semalam.
" Makan yang kenyang.." kata Yoga yang melihat Dinda terlihat lelah.
" Kau tidak bisa tidur nyenyak?" tanya Yoga sembari mengelap mulutnya dengan tissue.
" Tentu saja, pikiranku lari kerumah, hari ini aku juga sudah harus bekerja lagi, tapi aku bahkan masih disini.. bersamamu lagi." wajah Dinda masam.
" Mas Damar akan mengganti segala kerugianmu.."
" aku tidak butuh, aku hanya ingin Kinanti hidup di hargai dan bahagia, katakan pada saudaramu." tegas Dinda,
" Tidak kau minta pun mas Damar sangat menghargai dan mencintai Kinanti, mereka begitu karena aku..
jadi jangan menilai mas Damar buruk,
dan Mas Damar tipe orang yang pengertian.. dia akan mengganti kerugianmu, termasuk dengan tidak bekerja hari ini.."
Dinda diam, tak menjawab.
" Kau bekerja dimana?"
" jangan banyak tanya." jawab Dinda pendek, membuat Yoga menghela nafas panjang.
" Ayolah.. kita sudah bukan remaja.. sudahi permusuhan kita..
aku dan kau sudah cukup tua untuk keributan keributan kecil seperti saat kita masih muda.." kata Yoga.
" Aku tidak membencimu, hanya sebal saja dengan kelakuanmu, kau mengejar Kinanti mati matian sampai ribut setiap saat denganku, tapi akhirnya kau meninggalkan Kinanti begitu saja,
semua orang disamping Kinan pasti sakit hati melihatmu."
Yoga terdiam mendengar itu, ia tak bisa menjawab, karena dirinya memang bersalah.
" Aku ingin menebus semuanya.. dengan melihat saudaraku berbahagia..
aku mulai menyadari bahwa segala rasa sakit yang sudah kami lewati adalah proses pendewasaan diri..
ada hal hal yang tidak bisa di ubah, karena jalannya memang sudah begitu.
Jodoh, mati, rejeki.. aku berusaha menerimanya dengan lapang dada.."
Dinda juga menghela nafasnya, menyadari bahwa yang Yoga katakan sepenuhnya benar, ia pun sudah melewati proses kesakitan itu, hingga akhirnya bisa menerima segalanya dengan ikhlas.
Pengkhianatan suaminya, kehancuran rumah tangganya..
suami yang sempurna sosoknya itu, sudah menginjak injak hatinya dan mencoreng coreng wajahnya, hingga ia memutuskan angkat kaki dari malang.
Namun seiring waktu dirinya mulai menyadari, yang terpenting adalah menerima,
karena pergi kemanapun..
hidup dimanapun,
jika kita belum bisa menerima kenyataan, maka hidup kita tidak akan pernah tenang.
" Jadi.. kau kerja dimana? sudah berhenti mengajar ku dengar.." suara Yoga tenang.
" Aku menjadi pedagang sekarang, aku mengontrak sebuah toko di pasar baru." jawab Dinda.
" Wah, kau cukup cermat juga.. pedagang berurusan dengan uang setiap hari.."
" Biasa saja,"
Yoga tersenyum melihat tingkah Dinda yang masih waspada dan sinis terhadapnya.
" Aku berjanji padamu.. Kinanti akan bahagia hidup bersama saudaraku.. jangan khawatir..
jadi.. kita kembali kerumahmu sekarang?" tanya Yoga sembari melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jam sembilan pagi.
__ADS_1