Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
mantan


__ADS_3

Yusuf menurunkan Kaila tepat di depan rumahnya.


" masuklah.." suara Yusuf datar,


" Kau mau langsung pulang?"


" iya, aku harus melihat toko cabang baru di luar kota." jawab Yusuf pendek, tanpa menatap Kaila.


" Ya sudah.. hati hati.." Kaila melambaikan tangannya, tapi tak mendapat balasan senyum hangat seperti biasanya,


Yusuf tak mengangguk, tak juga berkata iya, dia langsung masuk ke mobilnya.


Melihat sikap dingin Yusuf, Kaila tak berkata apapun, gadis itu langsung masuk ke dalam rumahnya, Kaila tau benar.. Yusuf sedang kecewa kepadanya, dan ia tak berani bertanya tentang apa yang sudah membuat Yusuf kecewa.


Yusuf yang sudah berniat pergi itu tiba tiba saja keluar lagi dari mobilnya, saat ia melihat seorang wanita dan seorang anak sedang berjalan dari rumah Yoga kearah rumah Kinanti.


" Dinda?" panggil Yusuf ragu, karena perempuan yang di kenalnya tidak secantik dan sefeminim sekarang.


" Yusuf?" balas Dinda seperti mendapat kejutan.


Senyum Yusuf merekah, laki laki itu mendekat.


" Kau disini?" tanya Yusuf menjabat tangan Dinda.


" iya.. baru beberapa hari.."


" rasanya lama sekali tak melihatmu.." kata Yusuf dengan mata berbinar.


" tentu saja.. semenjak aku lulus kita tak pernah bertemu lagi.. dan aku tinggal di bandung sekarang.."


" Oh ya? lalu disini? berlibur?"


" Yah, begitulah.. tapi beberapa hari lagi aku akan kembali ke bandung,"


" Wah.. hampir saja aku terlewat kalau begitu, Kinanti tidak mengabariku sih kalau kau kesini?!"


" Untuk apa mengabarimu?" Dinda tertawa renyah.


" Untuk mengajakmu makan tentunya, di tempat yang dulu.. tempat itu tidak berubah meski sudah bertahun tahun..


sisihkan waktumu untukku sebelum kembali.. oke??" Yusuf terlihat senang melihat kehadiran Dinda.


" Baiklah.. tapi jemput aku?"


" tentu saja, kapan.. nanti malam? besok malam?" tanya Yusuf antusias.


" Nanti malam saja bagaimana?" tanya Dinda balik,


" Sipp.. ! nanti malam kujemput dirumah Kinan ya?"


Dinda mengangguk,


" Ngomong ngomong ini anak Yoga kan?" tanya Yusuf tersenyum manis pada Bagas.


" Iya, dia minta main ke Kinan.." jawab Dinda sembari mengelus kepala Bagas yang sedang sibuk dengan permennya.


" Eh.. kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya dinda menyadari sejak tadi Yusuf memandanginya sembari tersenyum senyum.


" Kau berbeda sekali di banding dulu.. lebih cantik.." ujar Yusuf jujur.


Dinda tertawa mendengarnya,


" Jadi dulu aku jelek?" tanyanya memicingkan mata.


" Dulu cantik.. sekarang lebih cantik, lebih matang.. rambutmu pun yang selalu pendek.. sekarang tergerai panjang.."


" Biasanya aku menguncirnya kok.."


" berarti aku beruntung melihatnya tergerai hari ini?"


Dinda tak menjawab, hanya tersenyum.


" Ya sudah.. kita sambung nanti malam ya? aku mau ke luar kota dulu.." ujar Yusuf.

__ADS_1


" Lho? kalau sibuk tidak usah makan malam?"


" ah.. hanya ke surabaya.. sore aku juga sudah dirumah.. pokoknya jam 7 kujemput ya? ingat?"


" iya iya.. sudah berangkatlah.."


Yusuf mengangguk lalu berbalik, tanpa buang waktu ia kembali pada mobilnya.


Yoga melihat melihat mobil Yusuf yang berlalu pergi dari balik jendela kamarnya.


Ada yang perasaan tak enak di hatinya saat melihat Dinda dan Yusuf berbincang begitu akrab.


Bahkan senyum Dinda pun begitu cerah.


Perempuan yang selalu sinis dengannya itu terlihat begitu ramah berbincang dengan Yusuf.


Terbersit sedikit tanda tanya di pikiran Yoga, kenapa galak padaku tapi ramah terhadap orang lain?


kenapa mahal senyum padaku tapi murah senyum pada orang lain, bahkan senyumnya begitu manis.


Menyebalkan sekali.. keluh Yoga dalam hati.


" Aku bertemu Yusuf.. " beritau Dinda pada Kinanti yang sedang sibuk mengunyah sembari menonton drama kesukaannya.


" Dia dari sini?" tanya Dinda mengangkat Bagas agar duduk di pangkuannya.


" Dia kesini bukan kerumahku, tapi mengantar pacarnya.."


jawab Kinanti fokus dengan layar televisi yang besar itu.


" Pacarnya?"


" iya, dia pacaran dengan adik mas Damar,"


" Oh.. yang ikut menjemputku malam itu.. dia manis sekali, masih SMA?"


" Semester dua,"


" Kukira masih SMA?"


" Bagas mau?" Kinanti menyodorkan biskuit coklatnya.


Bagas menatap Dinda,


" Lha kok lihat mama? kalau mau ambil saja?" ujar Dinda.


" Tapi Bagas sudah makan permen, kata papa Bagas tidak boleh makan manis banyak banyak.." jawab bocah itu polos.


" Kalau satu boleh.. kalau lebih tidak.. oke sayang?" Dinda mengambil satu biskuit dari dalam toples lalu memberikannya pada Bagas.


" Wah.. kau benar benar calon ibu sambung yang baik.." gumam Kinanti,


" Jangan ngomong aneh aneh di depan Bagas?" peringat Dinda.


" Memangnya aku ngomong apa? wah.. aku yang hamil kau yang sensi Din.."


" bukan sensi saja, stress juga iya.."


" Itu karena kau tidak mau menerima keadaan.."


" Keadaan yang bagaimana maksudmu?" tanya Dinda serius.


" terima saja lamaran cecungguk itu.." ujar Kinanti santai.


" Mulutmu berubah ubah seenaknya dari kemarin."


" Lihatlah Bagas.. kau tega?"


Dinda tak menjawab, ia malah mengambil satu biskuit dan mengunyahnya.


" Aku tidak ingin bicara itu, ngomong ngomong Yusuf mengajakku makan nanti malam.. dia akan menjemputku disini jam tujuh.." ucap Dinda tenang,


Kinanti sontak memandangnya.

__ADS_1


" Wah.. satu belum selesai, satunya datang?"


" Memangnya kenapa?"


" kalian kan mantan?"


" Pacaran hanya 3 bulan kok.."


" tetap saja pernah pacaran?"


" Itukan iseng iseng buang waktu.. Yusuf juga sama.."


" Ih.. awas ya kau CLBK..!"


" memangnya aku anak SD?"


" Yusuf lebih ganteng lho sekarang?!"


" aku tau, tadi kan bertemu dengannya.."


" awas ada cinta segi empat! bisa gempa bumi lagi keluarga ini!" peringat Kinanti.


" Memangnya aku punya ikatan apa dengan keluargamu?


lagipula aku dan Yusuf sudah seperti teman lama.. tidak ada hubungan apapun selain itu.."


Kinanti mengeluh,


" Terserah saja, aku pusing lihat kalian semua.." Kinanti melanjutkan kegiatan mengunyahnya.


" Aku libur hari ini, ayo kita makan di luar nanti.." ajak Yoga duduk disamping tempat tidur Bagas.


" Aku sudah ada janji.." jawab Dinda pelan, karena Bagas baru saja tertidur.


" Janji? dengan siapa?" tanya Yoga.


" Dengan saudara Kinan,"


" Yusuf?"


" Kok tau?"


" Siapa lagi saudara mbakyu selain dia.." suara Yoga terdengar tidak senang.


" Tidak usah keluar dengannya," kata kata Yoga membuat Dinda heran,


" Kenapa?"


" kok kenapa? ya tidak pantas.."


" tidak pantas?" Dinda bangkit dan duduk.


" Dia sedang berpacaran dengan adikku, bisa bisanya dia mengajakmu makan malam, padahal kau calon istriku,"


Dinda langsung memegangi dahinya mendengar kalimat Yoga yang seakan pasti benar itu.


" Dengarkan.. tidak semua orang yang makan bersama itu pacaran, faham??


kami adalah kenalan baik.. aku pun sudah lama tidak berbincang dengannya,"


" Aku tidak rela," wajah Yoga murung.


" Kenapa tidak rela? jangan katakan kalau karena aku calon istrimu? kau kan yang bilang, bukan aku?" kata kata Dinda sepertinya membuat Yoga kecewa.


Laki laki itu bangkit dengan sorot mata yang ganjil.


" Kau mau bilang kalau kau perempuan yang bebas keluar dengan laki laki manapun yang kau mau?" suara Yoga dalam.


" Kenyataannya memang begitukan?" jawab Dinda.


" Itukah pilihanmu?" tanya Yoga, dengan suara yang lebih tenang.


" pilihan?"

__ADS_1


" Yah.. kau lebih memilih hidup bebas dan berkeliaran dengan laki laki manapun dari pada menikah denganku?!" tegas Yoga sinis.


__ADS_2