
Suasana rumah terlihat tak seperti biasanya.
Damar lebih banyak diam di kamar kerjanya.
Sejak sore pun ia terus saja merokok,
Kinanti sedikit heran melihat suaminya itu, pasti ada masalah pikirnya.
" Aku ke rumah mbah uti dulu.." ujar Damar ketika baru saja keluar dari kamar kerjanya.
Tanpa menunggu jawaban Kinanti Damar langsung berlalu saja pergi.
Beberapa menit kemudian setelah Damar pergi,
Winda dan Kaila datang.
" Suamimu kemana nduk?" tanya Winda duduk di sofa ruang tengah.
" Kerumah mbah uti mbak.. kenapa mbak?" tanya Kinanti ikut duduk disamping Kaila.
Kinanti sedikit heran melihat raut wajah Kaila yang tidak seperti biasanya, ia terlihat takut.
" Ada masalah mbak?" tanya Kinanti,
" tidak ada nduk.. kau sendiri baik baik saja?" tanya Winda balik.
" Maksudnya mbak? aku baik baik saja.. memangnya kenapa?"
Winda dan Kaila saling beradu pandang.
" Ya sudah nduk.. baguslah kalau tidak ada apa apa.. takutnya Damar marah marah padamu.."
" Marah? kenapa harus marah mbak?"
Kinanti heran.
" tidak nduk.. hanya kesalahpahaman saja kukira, dan jika dia tidak marah itu berarti dia hanya menganggapnya selewat..
alhamdulillah kalau begitu nduk.." ujar Winda.
" Tolong jelaskan mbak?" Kinanti malah penasaran.
" Saya tidak akan bisa tidur nyenyak kalau mbak tidak membuka apa sesungguhnya permasalahannya..?"
Winda dan Kaila lagi lagi saling memandang.
" Maafkan aku mbak.." ucap Kaila tiba tiba,
" Ibu berkata yang tidak tidak tentang mbak..." lanjut Kaila.
Kinanti diam sejenak,
" Tentang aku?" lanjut Kinanti bertanya.
Kaila mengangguk pelan sembari menundukkan pandangannya.
" Ibu.. ibu salah faham.. ibu kira mas Yoga punya perasaan pada mbak.." ujar Kaila.
Deg...
Kinanti membeku, raut wajah Kinanti berubah kaku.
" Mbak pasti kaget kan? maaf ya mbak? maafkan ibuku.. mungkin karena mbak bersikap baik pada siapapun jadinya ibu berpikir seperti itu.." ucap Kaila benar benar merasa bersalah.
Sedangkan Kinanti tak menjawab apapun, raut wajahnya tak berubah, tetap sama seperti semula.
" Nduk?" panggil Winda, membuat Kinanti sadar dan mulai menguasai dirinya kembali.
Ada rasa takut dan gelisah yang tiba tiba menyergapnya.
" Iya mbak.." jawab Kinanti berusaha tersenyum.
" Jangan di pikir ya nduk.. Yoga memang orangnya gampang ramah dengan siapapun..
__ADS_1
dia pasti tidak ada pemikiran yang aneh aneh..
wajar jika dia akrab denganmu, kita saudara bukan.. dan Bagas pun lengket sekali denganmu.." ujar Winda panjang lebar, dan Kinanti hanya mengangguk pelan.
" Ya sudah nduk.. istirahatlah.. kami pulang dulu ya?" pamit Winda, ia bangkit dari kursi, begitu juga Kaila.
Setelah keduanya pergi Kinanti terduduk lagi di sofa.
Tubuhnya di rasakan lemas,
" bagaimana ini.." keluhnya sembari mengepalkan tangannya yang sedikit gemetar.
Tapi tiba tiba ia ingat suaminya,
pantas saja, sikap suaminya sedikit aneh sejak ia pulang mengajar, lebih banyak diam dan terus terusan merokok.
Kinanti segera bangkit, ia berjalan ke kamar untuk mengambil jaket dan senter.
Dengan langkah cepat ia segera keluar dari rumahnya.
Setelah mengunci pintu, Kinanti berjalan melewati area persawahan,
yah.. ia akan menyusul suaminya, demi ketenangan hatinya.
Mana mungkin ia diam saja setelah tau ada hal semacam ini.
Kinanti terus mengarahkan senternya ke jalan setapak di hadapannya.
Suara kodok ramai bersautan, di buang rasa takutnya, karena ia tau ular bisa muncul dan melintas kapan saja.
Sesampainya di depan rumah mbah uti, Kinanti langsung masuk, karena mbah uti sedang duduk di ruang tamu dengan pak dhe Darwis.
" Lho.. nyusul ( jemput ) tho nduk?" tanya si mbah uti,
" Inggih mbah.." jawab Kinanti mencium tangan mbah uti dan pak dhe Darwis.
" Bojomu dek mburi nduk, di tinggal diluk padalo, wes kangen yoo..? ( suamimu di belakang nak, di tinggal sebentar padahal, sudah kangen ya..?)"
Goda pak dhe Darwis, dan Kinanti hanya tersenyum saja.
Ia berjalan langsung ke belakang,
tentu saja ia menemukan sosok suaminya yang sedang duduk tenang di depan pawon ( perapian ).
Laki laki berbahu bidang itu terlihat sedang menikmati kopi dan rokok, suasananya tenang sekali,
hanya bunyi letupan letupan dari kayu yang terbakar yang terdengar di telinga Kinanti.
" Mas..." panggil Kinanti sembari memeluk bahu suaminya dari belakang.
" Kok malah disini sendirian?" tanya Kinanti mendekatkan wajahnya pada suaminya.
Damar berbalik, seketika mengulas senyum ketika menemukan wajah istrinya.
" Mas.. kalau mau marah, marah saja.. aku tidak suka melihat mas diam.. rasanya malah menakutkan.."ujar Kinanti.
" Kenapa aku harus marah?" Damar menarik Kinanti dan mendudukkan istrinya itu di pangkuannya.
" Aku boleh bertanya Nan?" suara Damar lirih,
" tentu saja boleh.."
" apa kau mencintaiku?" tanya Damar dengan raut yang tidak seperti biasanya, ada kesedihan dan keseriusan di dalamnya.
Tatapan Kinanti meredup, ia tak menyangka, pertanyaan yang tak pernah terlontar itu, akhirnya terlontar juga.
" Apakah hal semacam itu perlu mas tanyakan? tentu saja aku mencintaimu mas.. jangan meragukan aku?" jawab Kinanti.
Keduanya beradu pandang, seperti sama sama ingin meyakinkan.
" Meskipun kelak akan ada laki laki yang mungkin lebih dariku?" tanya Damar.
" Jadi maksud mas aku bisa berpindah pada siapa saja dengan mudah kelak?" Kinanti balik bertanya.
__ADS_1
" Maafkan aku.." ucap Damar tiba tiba memeluk istrinya, laki laki itu sedang gusar, sedang khawatir, lebih tepatnya sedang ketakutan.
Ia begitu takut kehilangan istrinya,
ia tak pernah risau dengan laki laki lain,
namun Yoga,
saudaranya itu membuatnya sungguh tidak tenang.
" Aku yang harus minta maaf.. membuat mas gelisah.."
" Aku hanya takut kehilangan dirimu..
bukan hal yang mudah untukku hingga akhirnya bisa menikahimu..
kau tau itu..?"
Kinanti mengangguk, dan rasa bersalahnya timbul kembali.
" Apa mas kira aku juga tidak takut kehilangan mas?"
" Tidak ada yang akan merebutku dari tanganmu.."
" Siapa yang bilang?"
" aku.. aku yang bilang, aku tak akan goyah pada wanita manapun!" tegas Damar.
" Aku percaya mas.. " jawab Kinanti,
" mas tidak perlu bersumpah, lagi pula jika mas sampai meninggalkanku mas yang akan rugi..
kenapa coba?
karena mas sudah susah payah menghidupiku.. menyekolahkan aku.. bukankan mas rugi besar?"
Damar mencubit Hidung istrinya itu,
" Tidak ada untung rugi dalam hal ini sayang.. itu adalah kewajibanku..
di luar kau jodohku atau bukan.." jelas Damar,
" Oh.. jadi mas rela jika aku berjodoh dengan yang lain saat itu?"
" Tentu saja tidak?!" tegas Damar membuat Kinanti tertawa.
" Nah kan.. ?"
" Nah kan apa? perasaan tentu saja berkembang seiring waktu..? kau saat itu malah pacaran dengan orang lain,
di saat aku bekerja keras untukmu?"
" Lalu sekarang aku harus bagaimana? aku bahkan tidak tau mas bersusah payah seperti itu, kalau aku tau aku tak akan mau menerima uangmu..?"
" tidak menerimanya dan membuat aku semakin frustasi karena tidak bisa menyekolahkan mu dengan baik?"
" Jangan begitu.. mas Aji tidak mewajibkan untuk semua itu.."
" Tidak.. Aji menitipkan mu padaku..
bagiku kalimat titip itu berat sekali, awalnya aku hanya ingin melihatmu sampai lulus dan menikah..
tapi melihatmu yang seperti tidak berminat pada laki laki setelah patah hati itu membuat hatiku tergerak.."
" Menggoda calon istri orang misalnya?" goda Kinanti,
" Hei.. aku hanya menciummu.." Damar malu,
" Berapa kali?"
" Hemm.. aku lupa.." laki laki itu benar benar malu mengingat tingkahnya sendiri.
" Toh sekarang dari ujung kaki sampai ujung rambut milikku..
__ADS_1
jadi jangan membahas kelakuanku di masa lalu yang memalukan itu.." ujar Damar mengecup bibir istrinya itu, dan keduanya berbincang lama sekali di dapur mbah uti, sembari menghangatkan diri.