
Winda bahkan bingung harus bersikap bagaimana pada adik kandungnya itu.
Melihat bekas pukulan di wajah Yoga semua kalimat kemarahan yang sudah Winda siapkan mendadak hilang.
" Astaga.." keluh Winda sembari memegangi kepalanya yang tidak pusing.
" Kenapa kau seperti ini?" tanya Winda pada adik kandungnya itu.
Sementara Yoga hanya diam sembari mengompres wajahnya.
Laki laki itu duduk di atas tempat tidurnya sembari menatap keluar jendela.
" Inikah yang kau maksudkan bahwa kau masih mencintai mantan kekasihmu dan tidak bisa melupakannya?" tanya Winda saat dirinya tak mendapatkan jawaban.
" Bicaralah! aku ini kakak kandungmu!" tegas Winda, kesabarannya mulai habis.
" Oh.. ku kira adik kandung mbak adalah mas Damar.." jawab Yoga pelan, masih tidak menoleh ke arah Winda.
" Yoga!!"
" Jangan berteriak padaku mbak, setidaknya tunjukkan sedikit kasih sayangmu padaku"
kata kata Yoga membuat Winda terdiam, ia memang lebih berat sebelah pada Damar selama ini,
dan semua orang tau, karena Winda merasa kasihan pada Damar,
kehidupan Damar di penuhi kesulitan,
tidak semudah hidupnya dan hidup Yoga yang bahkan tidak pernah mendapatkan satu pukulan dari orang tua mereka.
" Aku menyayangimu dengan caraku sendiri.. harusnya kau mengerti itu.." suara Winda lebih tenang.
" Carilah perempuan manapun, jangan menganggu Kinanti lagi.. mbak mohon.." imbuh Winda,
" mbak memohon padaku?" Yoga menoleh ke arah kakak perempuannya itu, pandangannya sinis.
" kubur masa lalu kalian dalam dalam, buka lembaran baru.. sebelum Damar menyadari ini semua..?"
" wah.. mudah sekali mbak berbicara, seperti perasaan mas Damar saja yang paling penting di dunia ini.."
Winda terpaku, ia seperti tak mengenal adiknya, bagaimana bisa kalimat seperti itu terlontar dari mulut Yoga.
" Ini bukan dirimu.. sadarlah.. ini semua tidak benar untuk di teruskan..?" bujuk Winda,
" tidak benar? lalu menurut mbak apa yang benar? mengalah dan pergi dari sini, membiarkan mereka bahagia sementara aku terlunta lunta dan terpuruk sendiri?
mbak lupa? aku menanggung kepedihanku sendiri selama ini, aku bertahan demi putraku..
tapi apa yang ku dapatkan,
sekarang untuk memandang orang yang kucintai saja sudah menjadi sebuah aib dan dosa?!"
" karena perempuan itu istri saudaramu lee..? banyak perempuan di luar sana, cobalah membuka hatimu?"
" tidak!" tegas Yoga berdiri di hadapan Winda.
" Kau tidak pernah mengerti perasaanku mbak, sejak dulu kau begini terhadapku..
acuh, dan menganggap aku selalu mampu mengatasi semuanya sendiri..?!"
Winda menutup wajahnya sejenak, ia benar benar bingung bagaimana lagi, dan harus dengan cara apa menyadarkan Yoga.
" Aku tidak tau lagi bagaimana agar kau mengerti, tapi yang jelas, jangan muncul di hadapan Kinanti untuk sekarang,
Aku akan mencari solusi untuk ini semua.."
" Hah... solusi.. kurasa solusi diantara kami hanyalah pergi, salah satu dari kami harus pergi,
dan pastinya mbak akan memilih aku yang pergi bukan?"
" Tutup mulutmu Yoga?! aku lelah dengan omong kosongmu! aku tidak menginginkan siapapun pergi! entah itu kau, entah itu Damar! karena itu tahan dirimu sendiri! agar tidak memperumit keadaan?!" tegas Winda, ia benar benar berkata dengan keras pada Yoga.
" Apa kau benar benar akan berebut wanita dengan saudaramu sendiri?" suara Winda lebih rendah sekarang.
" Aku tau, cinta itu rumit, tidak mudah menghapus perasaan begitu saja.. aku tau itu..
aku juga merasakan hal yang sama denganmu..
tapi aku tidak punya pilihan selain menjalaninya..
jadi tolong, tegarlah Yog..? tegarlah dengan ini semua??" suara Winda benar benar memohon sekarang.
Yoga terdiam,
" Aku ingin kalian semua bahagia.. percayalah..
aku bahkan ingin melihatmu jatuh cinta lagi dan membangun rumah tangga yang baru..?" imbuh Winda.
" Aku mencintai Kinanti mbak, lihat aku.. mbak bisa melihat betapa masih besarnya perasaan itu..
andai aku bisa mengatasi perasaanku sendiri, aku tak akan tersiksa seperti ini..
aku meninggalkannya dulu karena terpaksa, bukan karena keinginanku..
jadi maklumi aku jika tak bisa melepaskannya sekarang mbak" suara Yoga lirih, ia juga meyakinkan Winda akan perasaannya.
" Kau mau merebutnya..? atau dengan sengaja ingin menjadi yang kedua tanpa sepengetahuan Damar?" Winda benar benar tak percaya dengan apa yang di katakan adiknya, ia seperti seorang laki laki yang rela membuang jauh jauh harga dirinya sekarang.
" Aku akan melakukan apa saja, asal aku bisa tetap disampingnya, meski aku harus berbagi dengan mas Damar.."
ucap Yoga dengan nada tertekan.
Winda terhenyak, ia benar benar tak mampu bicara sekarang.
__ADS_1
Kalimat Yoga membuatnya kehabisan kata kata.
Yusuf berjalan melewati kursi kursi dan lemari lemari yang terbuat dari kayu jati tua itu.
Ia membawa ia membawa setumpuk nota di tangan kanannya.
Masuk ke ruang kerjanya dan menaruh tumpukan nota itu di atas meja.
" Yan?! katakan pada ayah aku pergi dulu, melihat bahan baku!" ucap Yusuf dengan suara keras pada pekerjanya.
" Lihat bahan baku dimana mas? takutnya nanti pak Sis tanya,
nanti saya kena marah mas?" sahut si pekerja mendekat.
" Bilang saja ke pabriknya suami Kinanti..!" tegas Yusuf lalu berjalan keluar dari toko mebelnya.
Beberapa hari ini hati Yusuf tidak tenang, ia harus bicara lagi pada Kinanti.
Kaila berjalan perlahan, langkahnya ragu.
" Mbak Kinan mana Yuk?" tanya Kaila pada Yuk yang sedang membersihkan dapur.
" Ada di kamar mbak, sakit kepala katanya.." jawab si Yuk.
Mendengar itu Kaila berjalan perlahan ke dalam kamar Kinanti,
ia menemukan Kinanti yang sedang berbaring.
" Mbak? sakit?" tanya Kinanti mendekat,
" eh.. La.. tidak hanya sedikit pusing saja.." Jawab Kinanti bangkit perlahan dan duduk, wajah Kinanti tampak lesu.
" Jangan bangun, tidur saja.." ujar Kaila,
" mbak tidak apa apa, sudah banyak rebahan sejak tadi.. sudah waktunya bangun.." jawab Kinanti lirih.
" Ada apa La?" tanya Kinanti kemudian,
Kaila tak langsung menjawab, ia terlihat berpikir sebelum bicara.
" Apa benar itu? aku ingin mendengarnya langsung darimu mbak...?"
" tentang?"
" mas Yoga.."
Kinanti menghela nafas panjang, lalu tersenyum seadanya.
" Apa yang ingin kau dengar..?" tanya Kinanti kemudian,
" Apakah mbak benar benar ada hubungan dengan mas Yoga?" wajah Kaila khawatir.
Kinanti mengangguk,
Kaila terlihat shock dan tak percaya,
" Apa mbak masih mencintainya?" tanya Kaila setelah lama terdiam.
" Yoga?" tanya Kinanti,
Kaila mengangguk,
" Dia hanya bagian dari masa lalu mbak nduk.." jawab Kinanti tenang.
" Tapi.. kenapa ini bisa terjadi?"
" hahh..." Kinanti membuang nafas berat,
" Mbak juga tidak tau.. andai mbak tau kalau mas Damar bersaudara dengan Yoga mungkin mbak akan berpikir ulang untuk menikah, bukan karena aku tidak berat pada mas Damar..
tapi aku takut hal seperti ini terjadi.."
jelas Kinanti.
" Sejak kapan mbak tau?"
" Sekitar sebulan atau dua bulan setelah pernikahanku..
aku mengantar kue untuk Bagas saat itu,
dan sepertinya Yoga yang selalu sembunyi, tertangkap basah olehku.."
" pantas saja.." gumam Kaila terdengar oleh Kinanti,
" pantas saja apa?"
" sewaktu resepsi pernikahan, mas Yoga yang sehat sehat saja mendadak sakit dan mengurung diri di kamar.." ucap Kaila,
" benarkan??"
Kaila mengangguk,
" dan setelah itu dia keluar kota selama seminggu, setelah itu aku jadi jarang melihatnya..
dan aku sering melihatnya lagi setelah kulihat dia mengantarmu pulang kerumah ibumu mbak.."
" Iya.. maafkan aku, karena tidak jujur.. tapi aku takut bicara pada mas Damar.. aku takut dia kecewa.."
Kaila menyentuh tangan Kinanti.
" Apa mas Yoga masih mengharapkan mu mbak?" tanya kaila,
" Aku tidak tau, bertanyalah sendiri padanya.."
__ADS_1
Kaila menghela nafas panjang, hatinya resah sekali..
ia sesungguhnya tau, tapi ia hanya ingin memastikan pada Kinanti.
" Jika benar mbak adalah wanita yang di tinggalkan mas Yoga dulu..
maka semua ini tidak akan mudah,
sekarang aku bisa melihat dengan jelas..
bagaimana beratnya cinta itu.."
" Aku berharap bisa hidup berdampingan dengan Yoga sebagai seorang saudara..
dan memang itu yang harus terjadi,
aku tidak mau mas Damar kecewa..
pengorbanan nya untuk ku tidak main main..
meskipun aku juga baru tau, kalau Yoga meninggalkanku karena sebab sebab tertentu..
tapi.. yang lalu biarlah berlalu,
waktu tidak bisa di putar..
aku mencintai mas Damar sekarang,
mas Damar adalah sosok yang luar biasa untukku..
rasanya dadaku sesak jika membayangkan hal yang buruk menimpanya..
percayalah La...aku ingin segalanya baik baik saja..
bahkan aku ingin Yoga juga bahagia.."
" semua orang berharap sama mbak.. tapi perasaan sungguh sangat menyiksa..
andai kata keluarga kami tidak berpikir tentang harta saja..
mungkin hidup mas Yoga dan mbak Winda akan berjalan sesuai keinginan mereka.."
" mbak Winda?" tanya Kinanti mengerutkan dahinya.
" Yah.. mbak Winda juga sama seperti mas Yoga mbak,
mbak Winda juga terpaksa meninggalkan laki laki yang di cintainya dan menikah dengan mas Yudi..
mbak Kinan tau kan, mas Yudi punya usaha yang besar dan ladang tebu berhektar hektar..
di bandingkan kekasih mbak Winda yang anak seorang buruh,
tentu saja orang tua mbak Winda lebih memilih mas Yudi..
mungkin mbak Kinan mengenalnya?"
" Aku? tidak mungkin lah.."
" Dia kuliah dengan susah payah, dan menjadi seorang guru..
dia mengajar di SD yang sama dengan mbak kalau tidak salah.."
" benarkah??!" Kinanti mengangkat kedua alisnya tak percaya.
" iya.. namanya pak Daud.." Kaila mengangguk,
" wah.. pak Daud? guru kelas 6 itu?!"
" Mungkin mbak, aku hanya tau namanya saja.. Daud.."
" Astaga.." keluh Kinanti benar benar tercengang.
" Sekarang tersisa ibuku.. dia juga seperti itu.. mencoba menjodoh jodohkan aku dengan orang yang menurutnya pantas untukku.." Kaila sayu,
" Lalu kau mau?"
" tidak, terakhir kali mas Damar membatuku bicara dengan ibu.."
" lalu?"
" tentu saja ibu marah.. tapi ibu punya rasa takut terhadap mas Damar..
mas Damar punya posisi yang kuat sebagai kepala keluarga,
ibu harus berpikir ulang jika mau melawan keputusannya.."
" Karena itu aku yang tidak punya apa apa ini bisa menikah dengan mas mu.."
"Jika aku bisa aku ingin seperti mas Damar mbak..
menikah dengan orang yang kucintai.. meski aku harus pergi dari rumah dan mengikuti suamiku yang tidak punya apa apa.."
mendengar ucapan Kaila Kinanti tersenyum,
" nduk.. jangan berpikir sembarangan, berhati hatilah pada setiap laki laki..
mencintai boleh, tapi harus tetap rasional..
hidup tidak melulu isinya cinta,
ada kesabaran dan usaha yang keras dan pengorbanan..
tidak semua laki laki mampu melaksanakan itu..
__ADS_1
jadi..
berhati hatilah memberikan hatimu.." nasehat Kinanti sembari mengelus kepala Kaila.