Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
pagi buta


__ADS_3

Hujan subuh ini cukup lebat, suara air yang bertabrakan dengan atap rumah terdengar cukup keras.


Membuat Damar yang sudah bekerja keras semalaman itu membuka matanya.


Ia melihat kearah jendela kamar, cahaya lampu teras menembus redup karena lampu kamar selalu dalam keadaan mati saat mereka tidur.


Di luar juga tampak masih gelap, mungkin masih jam 3 atau jam 4 pagi, pikir Damar.


Damar menggerakkan tubuhnya, berniat untuk bangun, karena ia selalu terbiasa bangun pagi buta.


Namun tangan Kinanti yang hangat melingkar di dadanya.


Damar terdiam, merasakan tubuh istrinya yang polos tanpa sehelai kain pun itu benar benar membuat dirinya merasa hangat kembali.


Ia menelan ludah, semalam sudah lebih dari cukup, kenapa ia seperti laki laki yang tidak ada kenyangnya,


ia menghujat dirinya sendiri.


Rasanya ingin menyentuh Kinanti lagi, semakin di sentuh semakin tak ingin lepas dan berhenti.


Namun ia ingat, terakhir kali dirinya tak bisa mengendalikan diri dan membuat kesehatan istrinya itu memburuk karena lelah.


Di hempaskan hasrat yang mulai di rasakannya.


Di pindahkan tangan istrinya perlahan lalu bangkit, dan berlalu ke dalam kamar mandi.


Setelah mandi dan mengganti bajunya, Damar membuat secangkir kopi dan duduk di teras rumahnya.


Sembari menikmati hujan dan fajar yang mulai menyambut Damar dengan semburat jingganya yang indah.


Tak terasa sebatang rokok sudah habis ia bakar, di sandarkan kepalanya kursi sembari terpejam sesaat.


Ia tak menyangka, sentuhan istrinya bisa membuat gejolak hatinya mereda.


Bahkan kalimat Kinanti yang tidak panjang itu seperti obat penenang dosis tinggi, yang mampu membuatnya begitu melambung hingga ia lupa cara untuk kembali berpijak sesaat.


Suara gemericik air yang jatuh ke tanah membuatnya tersadar kembali dari pikiran pikiran dan lamunannya.


Tak Dapat di pungkiri, cintanya pada Kinanti benar benar mengalahkan kekuatan berpikirnya, dan melumpuhkan logikanya.


Laki laki manapun sewajarnya akan marah, namun saat tau ketidakjujuran yang di lakukan istrinya bukannya marah, ia justru takut kehilangan.


Normalkan aku seperti ini.. batin Damar dalam hati.


Saat Damar mengambil sebatang rokoknya lagi dan berniat membakarnya, terdengar suara langkah kaki mendekat, bersama dengan aroma manis dan gurih yang menyentuh indra penciumannya,


membuatnya berbalik dan menunggu si pemilik langkah.


" Pisang goreng madu, masih hangat mas.." Sosok Kinanti keluar dari pintu rumah membawa sepiring camilan pagi.


Wanita itu tampak cantik dan segar dengan rambutnya yang masih basah, bahkan harum dari shampo yang ia pakai tercium pekat di hidung Damar saat Kinanti meletakkan piring berisi pisang goreng itu di meja yang persis terletak di sebelah Damar.


Damar menatap istrinya, dan disambut senyuman manja dari Kinanti.


" Ku tinggal masak dulu ya mas.. mataharinya sudah mulai turun, aku takut kesiangan.." ujar Kinanti sembari menghela tangan suaminya.

__ADS_1


Bau tembakau bercampur dengan aroma maskulin dari pomade Damar menyentuh hidung Kinanti.


" Jangan merokok terus.." suara Kinanti pelan, lalu melekatkan telapak tangan suaminya itu di pipinya.


Damar tercekat dengan kemesraan yang Kinanti suguhkan padanya.


Dan Mungkin jika kelakuan mereka terlihat oleh orang lain, mereka akan menghasilkan cemoohan, karena ini bahkan terlalu subuh untuk bermesraan di teras rumah, dan rambut keduanya pun juga masih basah.


Damar mengulas senyum, demi menahan dirinya,


" Sudah, segeralah memasak.." ujar Damar tenang menutupi bunga bunga di hatinya, kelembutan Kinanti benar benar menyergapnya hingga tak bisa berkata kata.


Kinanti mengangguk, namun sebelum itu di kecupnya telapak tangan suaminya itu lembut,


kemudian wanita itu berlalu masuk kembali ke dalam rumah.


Meninggalkan Damar yang tersenyum sembari melemparkan pandangannya pada perbukitan yang mulai terlihat karena tersentuh oleh fajar.


" Mas? mas?!" panggil si pegawai di depan pintu, namun tak mendapat sahutan sejak tadi.


Padahal yang di panggil sedang duduk tenang di atas meja kerjanya sembari menghadap laptop.


" Mas?!" panggil si pegawai lagi,


" Mas!!" suara pegawai itu lebih keras,


" Ya?" akhirnya yang di panggil menyahut juga.


" Mas Yusuf dari tadi lho saya panggil? melamun yo mas?"


" Melamun apa? aku sedang memeriksa laporan.." sanggah Yusuf, padahal ia memang sedang tidak fokus, entah apa yang ia pikirkan beberapa hari ini.


" Di panggil bos..?!"


Yusuf mengangguk, setelah menutup laptopnya ia bangkit dan berjalan keruangan atasannya, ruangan yang sebenarnya paling malas ia kunjungi itu jika tidak ada hal hal yang mendesak perkara pekerjaan.


" Iya pa?" Yusuf langsung duduk di sofa panjang begitu masuk ke ruangan papanya.


Laki laki setengah baya yang sudah banyak ubannya itu memandang putranya dengan serius.


" Ambil bahan baku siang ini, penjualan kita meningkat, kau tau kan?"


Yusuf mengangguk, ia tak berniat bicara apapun, yang penting semua pekerjaan dan perintah dari papanya sudah ia kerjakan dengan benar.


" Saya berangkat satu jam lagi pa.." sahut Yusuf sembari berdiri.


" Tunggu dulu?!" suara papanya mencegahnya untuk pergi.


" Duduk.." perintah papanya,


tentu saja Yusuf menurut dan duduk kembali.


" Kulihat selain bekerja kau sibuk kesana kemari tidak jelas juntrungannya.." keluh papanya diam diam memperhatikan Yusuf.


Apalagi rautnya yang tidak bersemangat terlihat begitu jelas beberapa hari ini.

__ADS_1


Anak yang biasanya suka beradu argumen tiba tiba jadi pendiam.


Tentu saja itu membuat tanda tanya besar di hati papanya.


" Berapa usiamu sekarang?"


mendengar pertanyaan papanya Yusuf sedikit kesal.


" Papa bahkan lupa usiaku?" tanyanya balik.


" Hei.. jangankan usiamu, usiaku sendiri saja aku lupa, saking banyaknya yang harus ku pikir..?!" tukas papa Yusuf.


" 27? 28?" tanya papanya lupa lupa ingat,


" 27, beberapa bulan lagi 28.." jawab Yusuf berat.


" Anak mbak mu saja sudah 3, lalu kau kapan mau menikah? menungguku tidak ada?" suara papanya tenang namun serius.


" Karena mbakmu tidak mau mengurus toko ini, jadi sudah pasti toko ini kau yang mengurusnya nanti.


Papa tidak mau kau menikah dengan perempuan sembarangan..


maksud papa yang bisa membawa kemunduran kinerjamu dan menyebabkan bisnis keluarga kita tidak berkembang dengan baik kelak.."


" Aku tidak memahami maksud papa," ujar Yusuf tak tertarik dengan pembahasan papanya.


" Maksud papa, carilah wanita yang bisa mengimbangimu, tentu saja yang berpendidikan dan dewasa..


yang sekiranya bisa memberimu saran saran yang baik dalam hal pekerjaan.."


nasehat papanya.


Yusuf terdiam, entah apa yang sedang ia pikirkan.


" Jika kau tak mempunyai calon, papa akan merekomendasikan seseorang.."


" merekomendasikan seseorang maksud papa?" Yusuf memandang papanya teliti dan tidak senang.


" Aku bukan anak kecil pa? tidak ada dalam kamusku di jodoh jodohkan." jiwa pemberontak Yusuf akhirnya muncul, dan itu membuat papanya tersenyum.


" Papa tau kau pasti menolak, tapi setidaknya pikirkan dulu.. dan coba bertemu.."


" Tidak!" tegas Yusuf,


" ini pilihan mamamu.. kau mau mengecewakan dia?"


Yusuf terdiam, ia begitu sayang pada ibunya itu, tapi ia tak ingin menikah tanpa dasar cinta.


" Cobalah mengenal dulu.. temuilah dia beberapa kali, jika tetap tidak ada rasa nyaman dan ketertarikan dari dalam dirimu.. ya sudah,


bicarakan dengan mamamu.." ujar papanya,


" jangan egois Suf...pikirkan kami yang sudah tua ini..


aku juga ingin menggendong anakmu.." imbuh papanya membuat Yusuf benar benar tak bisa berkata kata.

__ADS_1


__ADS_2