
Menjelang hari pernikahan, Kinanti malah kurang sehat.
Kondisinya menurun, entah karena lelah atau pikirannya yang terlalu berat.
Ibu sangat menyadari itu, ibu juga tau apa penyebab Kinanti berpikir seberat itu, tapi ibu tidak bisa berbuat apapun, karena semua hal ini terjadi atas dasar keputusan Kinanti sendiri.
Dan Kinanti harus bertanggung jawab dengan pilihannya.
Ibu hanya mampu memberi nasehat demi nasehat, bahwa semuanya sudah kepalang basah..
gedung, dan semuanya sudah siap, dan undanganpun sudah akan segera di bagikan.
Mau tidak mau Kinanti harus menjalani segalanya dengan baik, meskipun hatinya bimbang dan resah.
Sedang kan Damar, ia hanya sesekali kerumah, dan itu hanya sebentar, sebatas mengawasi apakah perkembangan rencana pernikahan Kinanti berjalan dengan baik.
Ibu bersyukur, Damar benar benar menjalankan peran nya sebagai seorang kakak, meskipun ibu tau hati Damar begitu memendam kepedihan.
Tidak hanya waktu,
namun biaya yang besar ia kerahkan demi ke baikan Kinanti.
Damar selalu berkata pada ibu, akan menikahkan Kinanti dengan pesta yang sepantasnya, ia tak mau berpelit pelit sehingga memberikan kesan buruk pada para tamu, terlebih teman teman Kinanti yang datang nanti.
" Dia tidak mau ke dokter.." beritahu ibu pada Yusuf.
" Harus di paksa bulek, hari pernikahan sudah dekat?! ada ada saja anak ini?!" Yusuf buru buru masuk ke kamar.
" Nan, kau mau ku antar atau Haikal?" tanya Yusuf pada Kinanti yang terbaring lemas.
" Aku hanya demam biasa, sehari dua hari lagi juga sehat.." jawab Kinanti.
" Ah..! kau ini... biar ku panggil Haikal..!" Yusuf gemas.
Ia segera mengambil HP di sakunya dan menghubungi Haikal.
30 menit kemudian Haikal datang, ia masih memakai seragam dinasnya, karena ia meminta ijin dari kantornya sebentar.
" Kau ini juga, sudah tau bakal istri sakit begini diam saja..!" omel Yusuf.
" Bukannya aku tidak mengajak Suf, tapi susahnya setengah mati, sudah sejak seminggu yang lalu dari awal dia batuk batuk,
sudah ku paksa ke dokter, tapi katanya beberapa hari lagi juga enakan?" jelas Haikal.
" Ah, pokoknya bawa ke dokter, sekarang dia masih bisa jalan jalan dan makan, takutnya menjelang hari pernikahan ambruk karena tenaganya habis?!"
" Itu juga yang ku takutkan.." ucap Haikal.
Ia segera masuk ke dalam kamar, memaksa Kinanti untuk bangun dan mengikutinya untuk pergi ke dokter.
Dengan susah payah Haikal memaksa, akhirnya setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, Kinanti bertemu juga dengan dokter.
" Yang ini di minum kalau terasa pusing saja, kalau pusingnya sudah hilang tidak usah di minum lagi..
__ADS_1
tapi untuk obat yang lainnya tetap di minum ya.." si ibu dokter memberikan beberapa obat.
" Pikirannya di kurangi, tidak boleh stress ya.. " imbuh dokter sembari tersenyum.
" Baik dok.." Haikal yang menjawab, sementara Kinanti hanya diam saja.
Hingga akhirnya keduanya pulang, Haikal terus saja mencuri pandang pada Kinanti saat sedang menyetir.
Ia bingung, apa yang sebenarnya di pikirkan calon istrinya itu hingga kondisinya seperti ini.
" Mikir apa sih?" tanya Haikal sudah tidak sanggup menahan lagi.
" Dokter saja sampai bilang begitu.." lanjut Haikal.
" Mikir apa? kepalaku hanya pusing sekali.." jawab Kinanti menatap ke arah jendela samping.
Mobil yang di kendarai Haikal dan Kinanti itu terus melaju, namu Haikal mengurangi kecepatannya.
" Kita ini akan hidup bersama sama nanti dan seterusnya..
jadi tidak apa apa jika ada sesuatu yang memang ingin kau ungkapkan atau ceritakan padaku..
aku akan bertindak sebagai sahabatmu..
aku tak akan menghakimi sebagai seorang suami..
jadi katakan... apa hal yang mengganjal pikiranmu?" tanya Haikal dengan suara tenang.
aku lelah itu wajar, kita sudah dekat dengan hari pernikahan,
aku tegang juga wajar, perempuan mana yang tidak tegang menjelang hari pernikahan?" jawab Kinanti sembari menyandarkan kepalanya ke kursi mobil, kepalanya di rasa sakit sekali.
" Aku sayang padamu Nan.. kalau memang kau sakit, kita undur saja pernikahan.."
" Jangan berlebihan, aku baik baik saja.." ujar Kinanti sembari memejamkan matanya.
Sembari menunggu Kinanti pulang dari rumah sakit, ibu dan Yusuf memilah milah undangan yang sudah di beri nama.
Yusuf memasukkan undangan yang sudah siap diantarkan itu ke dalam tas pinggangnya.
" Kalau tidak selesai hari tidak apa apa Suf, besok masih ada hari.." ujar ibu menyadari betapa banyaknya undangan itu, tapi untunglah tidak ada yang terlalu jauh jaraknya.
" Iya bulek, tenang saja.. toh dekat dekat saja.. saya juga tidak sendiri, nanti saya bawa pekerja di toko dua orang.." jawab Yusuf sembari meminum kopinya.
" Ya wes le.. bagus kalau begitu.." jawab ibu Kinanti.
Keduanya melanjutkan memilih nama nama yang lain dan mengelompokkannya berdasarkan tempat.
" Tok tok tok..!" terdengar suara ketukan di pintu tiba tiba, membuat ibu dan Yusuf langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu.
" Selamat siang.. benar ini rumah mbak Kinanti?" tanya seorang gadis berkulit putih dan berambut pendek sebahu.
" Iya benar.. silahkan masuk mbak?" persilahkan ibu.
__ADS_1
Gadis itu melangkah masuk, terlihat sekali senyum dan langkahnya yang canggung.
" Ada perlu apa?" tanya ibu, dan Yusuf hanya memperhatikan saja.
" Mbak Kinantinya ada?" tanyanya sembari melirik tumpukan undangan yang ada di atas meja.
Tatapannya tiba tiba saja berubah menjadi sedih.
" Kinannya masih ke dokter.. apa ada perlu penting?" tanya ibu,
Gadis itu mengangguk dengan pandangan sedih.
Ibu dan Yusuf berpandangan sejenak, seperti menyiratkan sesuatu yang tak mengenakkan.
Ekspresi sedih macam apa yang tamu ini suguhkan pikir ibu.
" Ya sudah mbak.. di tunggu saja, sebentar lagi mungkin Kinannya pulang.." ujar ibu.
Kinanti baru saja turun dari mobil di susul dengan Haikal,
" Mobil siapa ya?" tanya Kinanti pada Haikal, ia melihat sebuah mobil berwarna merah terang terparkir di depan rumahnya.
Haikal terpaku di tempatnya, tak menjawab.
Wajahnya tegang seketika melihat mobil itu,
" Kal?" Kinanti memanggil Haikal untuk menyadarkannya.
" I.. iya..?!" jawab Haikal terbata bata.
" Malah bengong.. ayo masuk, ada tamu sepertinya.." ajak Kinanti sembari melangkah.
Namun Haikal menarik pergelangan tangan Kinanti, seakan tak memperbolehkan Kinanti masuk.
" Jangan masuk.." suara Haikal tidak tenang.
" Kenapa?" tanya Kinanti, melihat ekspresi Haikal dia semakin penasaran.
Haikal yang biasanya santai, kenapa bisa tiba tiba se tegang ini hanya karena melihat sebuah mobil.
Di karenakan rasa penasarannya yang besar Kinanti terus saja berjalan masuk ke dalam rumah.
Dan dengan langkah terpaksa Haikal mengikuti Kinanti di belakang.
Sesampainya di dalam Kinanti menemukan Yusuf dan ibunya beserta seorang perempuan yang mungkin usianya tak jauh berbeda dengan Kinanti.
Gadis itu seperti terkejut melihat Kinanti, ia tersenyum canggung, terlihat ada ada keraguan dan keterpaksaan dalam gerak geriknya.
Sedangkan Haikal yang baru saja masuk tak kalah aneh ekspresinya.
" Mas?!" gadis itu langsung berdiri dari tempat duduknya ketika melihat Haikal masuk.
Tidak hanya Kinanti, namun ibu dan Yusuf juga heran dan kaget, kenapa tamu yang mencari Kinanti malah memanggil Haikal dengan nada yang manja dan gelisah seperti itu.
__ADS_1