Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
tipemu?


__ADS_3

Damar dan Kinanti berjalan bersamaan, mereka berdua sengaja berlama lama di jalan karena ingin menikmati cahaya bulan yang cukup terang.


" Apa tidak ada tanda tanda?" tanya Damar sembari menyenter ke samping samping jalan.


Ia menemukan beberapa katak yang meloncat menjauh setelah terkena cahaya senternya.


" Tanda tanda apa?" tanya Kinanti,


" hamil?" ucap Damar ringan membuat Kinanti memandang suaminya itu terheran heran.


" Hamil?" ucap Kinanti mengulangi ucapan suaminya.


" Iya, kenapa? memangnya tidak mau hamil cepat?" Damar menghentikan langkahnya seketika dan memandangi istrinya itu dengan serius, wajah keduanya tampak samar samar di timpa cahaya rembulan.


" Kok tiba tiba bahas hamil? tidak ada angin tidak ada hujan?" Kinanti balik bertanya.


" Aku sudah tua 30 tahun, bukankan sudah terlalu tua? aku ingin melihat anakku tumbuh dewasa.." ujar Damar,


Kinanti tersenyum mendengarnya,


" hemm.. lalu kenapa bapak tidak menikah lebih dini?"


" Karena aku menunggumu selesai kuliah dan cukup matang.."


" Oh.. jadi bapak sudah mengincarku sejak dulu?"


" Yah.. begitulah, meski sesungguhnya tidak begitu juga.. " jawab Damar melanjutkan langkahnya.


" Tidak begitu juga maksudnya?" Kinanti mengejar langkah suaminya.


" Ah, tidak tau ah.." Damar menghindar karena malu.


" Kok tidak tau sih mas?"


" ya masa aku harus menjelaskan bagaimana proses ku jatuh cinta padamu?, sedangkan kau sendiri.. kalau tidak di tanya mana mau bicara.."


gerutu Damar,


" Soal apa?"


" cinta bu.. cinta.."


Kinanti tertawa melihat wajah Damar yang gemas padanya.


" Apa aku harus bercerita juga, bahwa ciuman mas yang sedikit memaksa itu membuatku rindu?"


langkah Damar terhenti lagi, raut wajahnya berubah.


" Cukup.. jangan membuatku merebahkanmu di atas rumput.." ujar Damar dengan raut tertahan.


Kinanti tergelak,


" Ya Ampun mas, tahanlah.. 500 meter lagi kita sampai dirumah?"


" bagaimana aku tahan jika kalimat kalimat mu selalu membuatku mengingat betapa membaranya pertarungan bibir kita waktu itu.." ujar Damar membuat Kinanti kaget,


" huss..!" Kinanti malu.


" Huss apa?? memang iya, padahal kau akan memutuskan menikah dengan Haikal, tapi kau membalas setiap ciumanku, bahkan mengalungkan lenganmu di leherku.."


" Huss!!" Kinanti semakin malu,


" has hus has hus?! aku ini suamimu..


mengakulah padaku kalau kau memang sudah jatuh cinta padaku jauh jauh sebelumnya..


pesonaku terkadang memang keterlaluan.."


Kinanti sebal, Damar tak juga berhenti bicara.


" Kenyataannya mas menggodaku?"


" menggoda?" Damar mengerutkan alisnya,

__ADS_1


" Benar.. saat itu mas adalah seorang penggoda!"


" ah.. aku tidak ingin menggodamu, buat apa menggoda.."


" Lalu??"


" tentu saja aku dalam misi merebutmu.. kalau aku laki laki kurang ajar, sudah pasti aku akan menghamili mu duluan..


tapi lihatlah kesabaranku menunggumu yang berbuah manis.." Damar menarik pinggang istrinya.


" Sudahlah.. ayo lekas pulang?!" Damar mengajar Kinanti mempercepat langkahnya.


" Pelan pelan.. toh besok hari libur.."


" ah.. aku tetap ke pabrik.."


" tapi kan bisa berangkat sedikit siang?"


" tentu saja.. jika aku kau beri bonus pagi hari.."


Kinanti tertawa sembari menggeleng geleng.


" Pokoknya aku akan berkerja keras.."


" apa keturunan sangat penting untuk mas?"


Damar memandang istrinya, ia terdiam sejenak.


" Jika memang kita harus berdua saja sampai tua, aku tidak keberatan.." ujar Damar kemudian, ia tiba tiba tersadar, mungkin saja keinginannya itu membebani istrinya.


" Maafkan aku.. aku lupa, bahwa aku juga harus memikirkan dirimu..


tenanglah, kita baru 9 bulan menikah..


seharusnya aku bahagia, karena di beri waktu berdua lebih lama bersamamu..


mengingat kita tidak pacaran sebelum menikah.." Damar berusaha mengerti.


Damar tersenyum,


" yah.. betul.. tidak ada kata lain yang pas selain aku sedang menggodamu saat itu.." Damar merangkul istrinya dan berjalan berdampingan.


ketika keduanya memasuki halaman rumah, terlihat Bagas berlari ke arah mereka.


Sedangkan Winda, suaminya dan Yoga sedang berbincang di teras rumah Winda.


" Wah? sudah maem?" tanya Damar sembari menggendong Bagas.


" Sudah..!" jawab Bagas,


" Aku masuk ya mas?" ucap Kinanti tiba tiba.


" Heh.. sapa dulu orang orang.. setelah itu pamitlah duluan.." nasehat Damar pada istrinya.


" Hemm.. ya sudah.." jawab Kinanti mengikuti langkah Damar mendekat ke teras rumah Winda.


" Waduh.. acara opo iki..? ( acara apa ini..? )" tanya Damar sembari melempar senyum.


" Saking.. ngobrol ngobrol.. teko endi ( dari mana ) Dam?" tanya suami Winda,


" mbah uti mas.." jawab Damar,


" Nan.. rene ( sini ) lho..?!" panggil suami Winda berusaha akrab karena mereka jarang bertemu.


" Nggih mas.. saya pamit pulang dulu, ngantuk.." ucap Kinanti beralasan.


Tentu saja pandangan Yoga langsung beralih ke Kinanti.


" Iya e mas.. tadi saja di mbah uti menguap terus.." Damar menambahi,


" Ya wes.. istirahato wes.." ujar Winda dan suaminya bersamaan.


Kinanti tersenyum, lalu beralih pergi.

__ADS_1


Sedangkan Damar yang sedang menggendong Bagas mengambil satu tempat duduk dan memangku Bagas sembari duduk.


" Lah ini.. kok ndak bubuk.. sudah malam lho?" tanya Damar pada Bagas.


" Lha wong tas tangi ( baru bangun )Dam.." sahut Winda,


" lha.. tidur jam berapa nanti..? untung papamu besok libur.." ujar Damar mengacak acak rambut Bagas,


" Jangan Om?" protes Bagas karena rambutnya di acak acak.


" Ayo.. masuk yuk, papa ngantuk?" ajak Yoga tiba tiba,


" Lho.. malah papae seng ngantuk.." sahut Damar.


" Capek mas.. banyak pasien hari ini.."


" besok kan libur klinikmu?"


" Iya sih mas.."


" Ya sudah.. ngobrol dulu.. ngopi ngopi.." ujar Damar.


" Mbak Win? endi kopine iki?! ( mana kopinya ini?!)" imbuh Damar.


Winda tak menjawab, tapi langsung bangkit dan masuk ke dalam untuk membuat kopi, sedangkan Bagas tiba tiba turun dari pangkuan Damar dan berlari ke dalam rumah menyusul Winda.


Ketiga orang laki laki itu berbincang, seperti biasanya,


namun Damar dapat menangkap ada hal yang tidak biasa yang ada pada diri Yoga.


Yoga jarang sekali menatapnya saat berbincang.


" Pekerjaanmu baik Yog?" tanya Damar di sela sela obrolan mereka.


" Alhamdulillah mas.. lancar, mas taulah.. perkerjaanku hanya begitu begitu saja.." Yoga tersenyum.


" Wah.. pekerjaan mulai kok di bilang begitu begitu saja.." sahut Suami Winda.


" Iya e mas.. piye pak dokter iki.." Damar menimpali.


" Terus kapan rencana ini..?" tanya suami Winda,


" rencana apa itu mas?" tanya Yoga,


" lho.. menikah lagi tho..?" Suami Winda tertawa, namun bukan tertawa, ekspresi Yoga malah diam.


" Lha.. malah ngelamun.. wes masa lalu gausah di pikir..


coba membuka hati, banyak kok perempuan baik di luar sana yang mau mencintai putramu setulus hati.." lanjut Suami Winda.


Namun bukan menjawab, Yoga malah memandang Damar sejenak.


" Lah.. malah ngelirik Damar, Damar itu sudah adem ayem tentrem..


tinggal kamu ini Yog?" Suami Winda terus saja bicara.


" Saya tidak mau terburu buru mas.. takut salah pilih lagi.." jawab Yoga kemudian, ia mencoba untuk terseyum.


" Boleh aku tau tipemu Yog? siapa tau ada salah satu dari mahasiswi ku yang sesuai dengan tipemu..?" tanya Damar.


Damar yang tidak pernah bertanya tentang tipe itu tiba tiba saja bertanya, dan hal itu membuat Yoga sedikit tegang.


" Ah.. tidak ada tipe mas.. semua perempuan cantikkan?" jawab Yoga sesantai mungkin.


" Karakter maksudku.."


" Karakter?"


" Yah.. yang seperti mbak Winda mungkin, yang tegas dan keibuan? atau seperti Kiala, yang manja dan ceria? atau seperti Kinanti? yang lembut lembut galak.."


Untung saja Yoga tidak sedang minum, andai kata ia sedang minum ia pasti akan tersedak sekarang.


Bisa bisanya Damar berkata semacam itu, apa dia tau sesuatu? batin Yoga.

__ADS_1


__ADS_2