Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
pukulan Yusuf


__ADS_3

Damar duduk di ruang tengah sembari membakar rokoknya.


Setelah berbincang dengan Yoga dan Mas Yudi ia malah tak mengantuk.


" Jam berapa ini mas? mau merokok sampai rumah ini terbakar?" suara Kinanti yang setengah mengantuk keluar dari kamar.


Perempuan berdaster pendek itu duduk disamping suaminya.


Damar buru buru mematikan rokoknya,


" Bau asap rokok.." ucap Damar,


" biar.. memang mas sengaja membuat penghuni rumah sesak kan?" ujar Kinanti menyandarkan kepalanya di lengan Damar.


" Katanya mau punya anak, tapi kenapa merokok mu seperti itu..?"


Damar terdiam, ia tiba tiba sadar..


dirinya memang harus mengurangi rokok.


Tapi rokok adalah penenang yang sangat membantu,


ia lebih memilih merokok dari pada meluapkan emosinya.


Karna ia tau, setiap kali ia marah.. segalanya sesuatunya tidak akan berubah menjadi lebih baik.


" Tidurlah lagi.." ujar Damar,


namun Kinanti menggeleng,


" Ayo tidur..." ajak Kinanti,


" Ah, aku masih belum mengantuk Nan.."


" lantas? mau menunggu kantuk sampai pagi?" Kinanti mengangkat kepalanya, memandangi suaminya.


Keduanya berpandangan, saat itu mata Kinanti menangkap bulu bulu halus mulai tumbuh di dagu dan di atas bibir suaminya.


Yah.. kumis tipis dan jenggot yang hanya di tumbuhi beberapa helai rambut saja.


Belum lagi bau tembakau yang kuat yang senantiasa menempel pada Damar.


" Kenapa?" tanya Damar melihat istrinya itu memandanginya tanpa celah.


" Hanya memandangi kumis tipis dan jenggot mas yang mulai tumbuh.." jawab Kinanti menyentuh dagu suaminya.


" ah.. aku lupa bercukur.. kau tidak suka?"


Kinanti tidak menjawab, ia malah kembali merebahkan kepalanya di lengan Damar.


Bagaimana mungkin Kinanti tidak suka, tampilan yang sedikit kurang rapi yang di tunjukkan Damar sekarang malah membuat aura kelaki lakiannya sangat tampak,


apalagi otot lengan Damar, Kinanti bisa merasakannya dengan pasti saat ia merebahkan kepalanya dengan pasrah di lengan Damar yang terbiasa dengan pekerjaan berat itu.


" Apapun itu, selama itu tentang mas.. aku pasti suka.." ucap Kinanti bergelayut di lengan suaminya, dan matanya mulai meredup.


" Mulutmu manis sekali Nan..


tapi bagaimana kau setega ini? setelah merayuku apa yang kau lakukan sekarang..?


lihatlah, kau bahkan sudah tidak sanggup membuka mata.." ujar Damar, ia tau istrinya itu mengantuk sekali, membawanya untuk tidur adalah keputusan paling baik malam ini.


" Ya sudah.. ayo kita tidur.."


Damar meraih tubuh Kinanti dan mengendongnya masuk ke dalam kamar.


" Tidurlah, aku juga akan tidur sebentar lagi.." suara Damar lembut sembari membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Kinanti yang memang sudah sangat mengantuk akhirnya terlelap.


Hingga perempuan itu tak sadar, suaminya kembali bangkit dan keluar dari kamar setelah dirinya tertidur lelap.


Laki laki itu masuk ke dalam kamar kerjanya,


kamar dimana tempatnya dulu sering menghabiskan waktu dan malam malam nya ketika ia masih membujang.


Tempat dimana semua kenangan masa lalunya terpendam.


Entah kenapa ia membiarkan istrinya itu tidur sendirian.


Ia yang biasanya lembut dan tak akan menyia nyiakan waktu sedikitpun untuk berdua an, sekarang seperti kurang memperdulikan itu.


Damar sedang tidak baik baik saja meski ia tersenyum dan bersikap wajar pada setiap orang.


Ada kebimbangan yang sedang ia timbang timbang, ada sesuatu yang sedang ia pastikan.


Umar sedikit tergopoh gopoh mengikuti langkah Damar.


Pagi ini raut wajah Damar tidak menyenangkan.


" Kita berangkat sejam lagi" ujar Damar sembari berjalan ke gedung B,


" Tapi hari libur mas?"


" Lalu kenapa?!" Damar menghentikan langkahnya, suaranya lebih keras dari biasanya.


" Bukankan sudah ku katakan kalau aku merubah rencana?!


percepat pembangunannya" tegas Damar,


Umar tampak kebingungan,


" Mas.. segala sesuatu jika terburu buru itu tidak baik hasilnya?


Damar terdiam, ia melanjutkan langkahnya.


" Aduh..." keluh Umar dalam hati, ia benar benar tidak senang dengan sikap Damar pagi ini.


Yusuf membelokkan mobilnya di pertigaan, lalu melewati lahan lahan kosong bekas kebun jeruk.


Di depan sudah terlihat gapura, pertanda bahwa ia akan memasuki perkampungan yang di diami oleh Saudaranya.


Hari ini Yusuf datang kerumah Kinanti dan Damar karena perintah buleknya, yaitu ibu Kinanti.


Yusuf membawa beberapa kue kering dan sambel teri kesukaan Kinanti.


Yoga yang tau Damar sedang tidak di tempat, berjalan dengan tenang melintasi rumah Winda dan Kaila.


Ia berniat menemui Kinanti yang sedang menyapu teras rumahnya.


" Kok nyapu sendiri? yuk mana?" suara Yoga tiba tiba saja sudah berdiri di teras, tak jauh dari Kinanti.


" Ada, di dalam sedang bersih bersih dapur, ada apa?" suara Kinanti datar.


" Kalau tidak ada perihal yang penting segeralah pergi, aku tidak mau ada kalimat kalimat buruk dari ibu mas Damar lagi" imbuh Kinanti.


" Yah.. aku sudah mendengarnya, mbak Winda yang bilang.."


" Baguslah kalau kau tau, lalu kenapa kau kesini?"


" Jangan ketus.. kau juga terus menghindar dariku, bukankan itu akan membuat mas Damar semakin curiga pada kita?" ujar laki laki yang selalu rapi dan wangi itu.


" Andai kau tidak bersikap seperti itu tentu saja aku tidak akan menghindar"


" Seperti apa?"

__ADS_1


" Seperti aku ini masih ada hubungan saja denganmu?!"


" Bukankan memang masih ada?"


" tidak! tidak ada..!"


" Kau jangan membohongi dirimu sendiri.. kenyataannya memang ada yang belum selesai diantara kita.." Yoga mendekat,


" Kau mulai lagi?!" Kinanti mundur,


" Mas Damar akan memukulmu jika ia tau, pergilah dari sini dan bersikaplah sewajarnya?!" tegas Kinanti.


" Tidak, sampai kapan aku hanya akan melihatmu saja? aku tersiksa Nan?" Yoga benar benar tak bisa menguasai perasaannya.


Ia terus mendekat meski Kinanti mundur.


Dari jauh terlihat mobil sedang mendekat, dan seorang laki laki turun dari mobil itu.


" Kau?!!" tegas Yusuf berjalan terburu buru ke arah Yoga dan Kinanti.


Rautnya tidak penuh kemarahan,


" Kau laki laki tidak tahu diri! berani beraninya kau muncul disini dan menganggu Kinan?!"


Yusuf menarik krah baju Yoga.


" Yusuf?! jangan suf?!" Kinanti berusaha menarik Yusuf, Yoga terlihat tercekik karena kerah bajunya di tarik dengan kasar.


" Lepaskan? jangan ikut campur?!" suara Yoga sedikit sesak.


" Jangan ikut campur kau bilang? kau minta di bikin babak belur rupanya?!" Suara Yusuf keras.


" Jangan Suf? jangan?! kau sedang salah faham?!" Kinanti menarik lengan Yusuf agar tidak memukul Yoga.


" Salah faham apa?! kenapa kau masih membela laki laki yang sudah menyakitimu?!


jangan katakan padaku kau masih mencintainya?!"


Kinanti tercengang dengan kalimat Yusuf,


" Kau gila ya Suf? aku sudah bersuami! jadi lepaskan dia??" mohon Kinanti, ia tak mau ada kekacauan, karena Kinanti melihat Kaila keluar dari rumah dan berlari mendekat.


" Aku masih mencintai Kinanti..


kau tidak berhak mendikte perasaan orang lain.." ucap Yoga masih tercekik kerah bajunya sendiri.


Mendengar itu, amarah Yusuf tak terbendung, ia yang menyaksikan betapa saudaranya itu menderita saat di tinggalkan oleh Yoga merasa tak terima.


Ia merasa laki laki seperti Yoga sudah sepatutnya di hajar.


Dan benar saja, satu pukulan tanpa aba aba mendarat di wajah Yoga.


" Berhenti!!!" teriak Kaila membuat Yusuf yang akan menambahkan pukulan terhenti.


" Aku akan telfon polisi jika kau tak melepaskan mas ku?!" tuding Kaila.


" Kau datang kerumah orang dan membuat kerusuhan! kau preman ya brengsek?! kau penjahat!!" Kaila memukul lengan Yusuf berkali kali.


" Ih! perempuan tidak waras!" kesal Yusuf melepas tangannya dari kerah baju Yoga dengan kasar hingga Yoga kehilangan keseimbangannya dan terjatuh.


Melihat saudaranya di perlakukan kasar seperti itu Kaila tak terima.


" Plakk..!" di jatuhkan tangannya pada wajah Yusuf, satu tamparan yang cukup membuat telapak tangan Kaila sakit.


" Pukulanku tak sesakit pukulan mu pada mas ku, jadi anggap tamparanku itu peringatan kecil!


orang tidak tau aturan sepetimu jangan berani berani menginjakkan kakimu lagi disini!" peringat Kaila dengan telunjuknya di depan wajah Yusuf, gadis itu benar benar marah.

__ADS_1


__ADS_2