Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
bunga ilalang


__ADS_3

Keduanya berlari kecil menembus kabut, tampak senyum teduh yang beberapa kali di lempar Damar ke arah istrinya.


" Masih kuat?" tanya Damar sedikit mengurangi tempo larinya agar sejajar dengan istrinya.


" Baru 30 menit.." jawab Kinanti.


" Wah.. semangat sekali istriku, bagaimana kalau kita sedikit menanjak? ke arah bukit?" tawar Damar.


" Menurut mas..?"


" kau pasti kuat sayang.. nanti kalau capek ku gendong..


mumpung aku tidak ada kelas hari ini, aku juga bisa ke pabrik sedikit siang.." ujar Damar.


" Aku manut saja.." jawab Kinanti mengangguk.


Dan 500 meter kemudian keduanya berlari ke arah pertigaan, yang satu menuju dusun sebelah, dan yang satunya menuju perbukitan yang dimana disana juga banyak di huni oleh penduduk penduduk desa, hanya saja jarak ke desa itu terlalu jauh jika harus di tempuh dengan jalan kaki.


" Ada air terjun.. tapi tempatnya masih sangat wingit.."


ujar Damar di tengah perjalanan.


" Yang benar mas?"


" kau tertarik?"


" Tentu saja.."


" tapi tidak sekarang sayang.. disana masih wingit.. dan masih terlalu gelap kalau kita menembus jalanan berbatu dan berlumut..


selain aku takut kau jatuh,


aku juga takut banyak pacet dan ular.."


Kinanti terdiam, sedikit kecewa.


" Kalau aku libur besok besok ya.. kita kesana ketika matahari lumayan cerah..


kau lihat kabut ini bukan? jalan yang datar saja tertutup olehnya, apalagi kalau kita masuk ke tempat yang masih setengah hutan.." Damar menjelaskan lagi.


" Iya mas.. aku faham ke khawatiran mu.. aku akan menunggumu sampai mas punya waktu luang mengajakku.." ujar Kinanti mengerti.


Damar tersenyum sembari mengelus punggung istrinya.


Ketika keduanya sampai di atas bukit, pagi sudah mulai menggeliat,


puncak puncak gunung mulai terlihat kebiruan dengan semburat semburat jingga yang berbaur cantik dengan putihnya awan.


Damar melirik istrinya yang berdiri disamping hamparan bunga ilalang, seakan menambah kecantikan pada pandangan Damar.


Bunga berwarna putih itu bergerak terbawa angin kesana dan kemari dengan riangnya, seriang hati Damar yang bisa berdiri di tempat setinggi ini dan menatap keindahan yang terbingkai di hadapannya disamping wanita yang ia cintai.


" Cantik?" ujar Damar,


" Iya mas.. cantik.." sahut Kinanti mendekat dan bergelayut di lengan suaminya.


" Mana saja yang cantik?"

__ADS_1


" tentu saja pemandangan yang kita nikmati sekarang.."


" ada lagi.."


" tentu saja.. burung burung yang sedang berarak di langit itu juga.." Kinanti menunjuk langit, disana banyak burung yang sedang melintasi fajar yang mulai menghilang.


" Kau juga.." ujar Damar mengecup kening istrinya,


" Kau juga cantik sayang.." imbuh Damar.


" Aduh.. bukankah ini terlalu pagi untuk mengombal mas?" ujar Kinanti dengan wajah bersemu merah.


Ia menyembunyikan wajahnya di dada Damar, tak bisa menahan perasaan betapa bahagianya dirinya sekarang, bisa hidup berdampingan dan memiliki laki itu sebagai suaminya.


Damar hanya tersenyum melihat ekspresi Kinanti yang tersipu itu.


Ia memeluk Kinanti, sembari menciumi rambut istrinya itu.


Sejam kemudian keduanya turun, melihat istrinya yang mulai payah kakinya,


Damar berinisiatif untuk mengendong Kinanti, seperti janjinya di awal tadi.


" Ayo.. naik.." ujar Damar.


" Jangan, tidak enak di lihat orang mas.. malu..?" tolak Kinanti.


" Malu ku gendong? malu punya suami aku?"


Kinanti menggeleng,


" ya sudah.. naik ke punggungku.." paksa Damar.


Keduanya berjalan turun perlahan, sementara Kinanti yang memang lelah menaruh kepalanya di salah satu bahu Damar.


" Enjing ( pagi ) mas Damar?!" sapa para penduduk yang sibuk mencari rumput.


" Nggih pak..?" sahut Damar,


" mlampah mlampah tho mas?( jalan jalan tho mas?)"


" Nggih pak.. olah raga.." sahut Damar lagi melempar senyum lebih cerah.


" Hawane manten anyar ( hawanya pengantin baru ).. gendong terus nggih mas.. hahaha..?!" sahut si ibu yang juga duduk mencari rumput tak jauh dari suaminya.


" Owalah.. nggih bu..?! monggo rumiyen ( mari duluan ).." pamit Damar segera, ia tau kalau pipi istrinya itu sudah pasti memerah karena malu.


Jarak kerumah sudah dekat, namun entah kenapa Kinanti merasakan langkah suaminya itu menjadi pelan, nafasnya pun terdengar berat.


Laki laki itu tergopoh gopoh.


" Mas? kenapa??" Kinanti memaksa turun,


ia menemukan wajah suaminya itu sedikit pucat dengan keringat yang bercucuran.


" Ayo mas? rumah sudah dekat..?!" Kinanti membantu Damar berjalan.


Umar yang dari jauh melihat bossnya berlari mendekat.

__ADS_1


" Kenapa mbak?!" tanya Umar mengambil alih Damar,


" tidak tau mas, tiba tiba suami saya lemas, tolong mas, bantu kerumah?!" ujar Kinanti khawatir.


Damar di baringkan di atas sofa, kaki dan tangannya gemetar.


Winda yang melihat Damar di bopong oleh Umar, menyusul masuk ke dalam rumah.


" Ambil obat Nan, di kamar suamimu?!" ujar Winda,


" Kamar yang mana mbak?" Kinanti bingung karena ia hanya tau kamar yang mereka tempati berdua.


" Kamar paling depan, ambil di laci meja warna hitam, disana ada kotak obat suamimu..?!"


mendengar itu Kinanti segera berjalan menuju kamar yang di katakan Winda.


Kinanti membuka pintu Kamar itu, betapa kagetnya ia melihat kamar yang penuh dengan buku yang berjajar di dinding.


Suaminya pastilah seorang yang suka membaca, batinnya.


Ia mencari dimana meja hitam yang di katakan Winda, ia menemukan meja itu tepat di letakkan di depan sebuah jendela yang menghubungkan langsung dengan teras, sehingga pemandangan di depan rumah terlihat begitu bebas dan jelas jika Damar duduk di meja itu.


Kinanti membuka laci meja itu,


ada sebuah kotak putih, dan setelah Kinanti membukanya, itu memang berisi obat obatan.


Namun rasa penasaran Kinanti yang tinggi membuat Kinanti menarik sebuah album foto.


Dengan mata memerah Kinanti keluar dari kamar itu, membawa kotak obat di tangannya yang di pegang erat erat.


" Ini mbak, obatnya?"


setelah memberikan obat itu Kinanti mengambil lagi segelas air hangat dan kembali kepada Winda.


Setelah Damar meminum obat, tak berselang lama laki laki itu terdiam tenang dan tertidur.


Winda dan Kinanti saling bertatapan, keduanya seperti ingin membicarakan sesuatu,


" Nanti saja.. biar suamimu bangun dulu.. setelah itu aku akan tanya apa yang terjadi.." ujar Winda,


" Apa karena menggendongku mbak?" tanya Kinanti merasa bersalah.


" Tidak mungkin, tubuh Damar itu kuat, kayu saja dia angkat dengan mudah, apalagi tubuhmu yang kecil itu.."


" lalu kenapa suamiku mbak?"


" Nanti saja.. sekarang biarkan suamimu istirahat, dan kau bersihkan dirimu dulu.. nanti kita bicara ya.. mbak kerumah sebentar.." ujar Winda bangkit dan berjalan pergi.


Dan tinggallah Umar saja yang duduk tak jauh dari tempatnya dan tempat Damar berbaring.


" Kau tau sesuatu? tolong katakan padaku?" tanya Kinanti dengan raut cemas.


" Aku tidak pernah melihat suamiku selemah ini..?" imbuh Kinanti,


Umar hanya terdiam, ia tak berani berkomentar apapun.


" Mungkin tanya mbak Winda saja mbak.. saya tidak berhak berkomentar tentang atasan saya..

__ADS_1


saya takut salah bicara mbak.." jawab Umar tertunduk.


__ADS_2