Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
bubur ayam


__ADS_3

" Papa?!" Bagas berlari masuk, sontak membuat Yoga kaget dan Kinanti yang sedang tertidur itu terbangun.


Betapa terkejutnya Kinanti melihat Yoga berada tepat di depan wajahnya.


" Papa?!" Bagas berjalan mendekat ke arah dimana Kinanti dan Yoga sedang dalam posisi yang sesungguhnya tidak pantas.


Mendengar langkah Bagas,


Kinanti bangkit, wajahnya masih belum lepas dari keterkejutan.


" Tante..?!" Bagas menarik daster Kinanti.


" Iya sayang?" jawab Kinanti cepat.


" Pergilah, sebelum aku menamparmu di depan anakmu.." desis Kinanti menahan diri.


" Aku tidak berniat buruk.." jawab Yoga berusaha tenang.


" Tidak berniat buruk?? sungguh? apakah kalau aku tidak terbangun kau hanya akan memandangiku dalam tidur??" nada Kinanti lirih namun tajam.


" Kau berbicara seperti aku tidak pernah merasakan bibirmu saja.. bukankah selama 3 tahun bibir itu menjadi milikku?"


" kau sudah tidak waras rupanya!" wajah Kinanti sudah merah padam setengah mati menahan diri, rasanya ia ingin berteriak dan mengusir Yoga, tapi ia takut Damar mendengarnya.


" Cari perempuan lain kalau kau haus!" tegas Kinanti.


" Aku tidak seburuk yang kau pikirkan?!" tukas Yoga, namun Kinanti tak mengubrisnya.


Ia mengendong Bagas dan buru buru berjalan ke arah dapur untuk menghindari Yoga.


Melihat Kinanti yang berjalan ke arah dapur Yoga tak mau mengejar,


ia merasa harus berhenti sekarang karena bagas sedang bersama Kinanti dan mas Damar mungkin saja bangun.


Dengan langkah tenang Yoga berjalan ke arah pintu depan dan duduk tenang sampai Winda datang.


Hujan sedang deras di luar, Kinanti terbangun karena merasakan gerakan gerakan tidak wajar dari suaminya.


" Mas??" Kinanti menyentuh pundak suaminya yang masih terpejam, namun kepalanya bergerak kesana kemari, dan mulutnya mengigau tak karuan.


" Mas?!" Kinanti mengguncang bahu suaminya lebih keras.


Tak lama Damar membuka matanya, ia menatap istrinya dengan tatapan gusar dan ketakutan.


" Ini aku mas.. istrimu..?" ucap Kinanti mendekatkan wajahnya ke wajah Damar, lalu memeluk suaminya itu.


" Mimpi apa?" tanya Kinanti lirih,


" tidak..." jawab Damar tak kalah lirih lalu membalas pelukan istrinya,


" Maafkan aku.. selalu membuatmu khawatir.." ujarnya kemudian.


" Aku istrimu mas.. merawat mas adalah kewajibanku..


bukankan susah senang kita harus selalu bersama sama..?" sahut Kinanti,


Damar mengangguk,


" Jam berapa ini?" tanya Damar,


" Jam satu malam.. kenapa mas?"


" Aku ingin minum air hangat, tenggorokanku sakit.."


mendengar itu Kinanti bangun,


" Tunggu sebentar ya mas.. ku ambilkan.." Kinanti berjalan keluar kamar, tak lama kemudian kembali ke dalam kamar.


Saat itu Damar sudah dalam posisi duduk di atas tempat tidur.

__ADS_1


" Kok bangun? masih pusing mas?" tanya Kinanti sembari menyerahkan segelas air hangat pada Damar.


" Mendingan.." Jawab Damar tersenyum,


" Besok besok jangan bersikap seperti superman lagi ya mas.."


" superman bagaimana..?"


" Seperti manusia yang paling kuat saja.. aku tidak akan mengijinkan mas terlalu banyak mengeluarkan tenaga lagi, serahkan apa yang menjadi tugas anak buahmu.."


" Ah.. jangan begitu, ini karena aku telat makan dan kelelahan saja Nan.."


" Itulah.. kalau mas susah di nasehati lebih baik kita pulang ke ibu saja,"


" kok pulang ke ibu?"


" Kalau pulang ke ibu jam kerja mas jadi jelas, berangkat pagi pulang sore, malam pun mas bisa istirahat, tidak harus sedikit sedikit ke pabrik.."


Damar tersenyum sembari membelai rambut istrinya.


" Ya sudah, aku janji.. akan menguranginya.." ujar nya pelan,


" Betul ya?"


Damar mengangguk.


Jam masih menunjukkan jam 6 pagi, Kinanti yang sedang sibuk di dapur kaget dengan kehadiran Yoga yang tiba tiba.


" Bisa minta teh hangat mbak?" ujarnya tersenyum.


" Kau sengaja mengangguku pagi pagi?" Kinanti ketus,


Yoga berdiri menatap Kinanti sembari melipat kedua tangannya di dada.


" Aku hanya minta teh hangat, bukan mau menganggu..


bagaimana mas Damar?" ujar Yoga sudah terlihat tampan dan harum.


" Sudah mendingan katanya.." jawab Kinanti mencoba tenang dan biasa saja.


" Baguslah, aku akan memeriksanya, jangan lupa ya pesananku mbak? teh hangat.. masih hafal kan seleraku? tidak terlalu manis.." Yoga melempar senyumnya pada Kinanti dan berjalan pergi ke arah kamar Damar.


" Pagi mas..?!" sapa Yoga pada Damar yang masih tiduran di atas tempat tidur.


" Katanya sudah mendingan?" tanya Yoga sembari mengeluarkan peralatannya untuk memeriksa Damar.


" Yah, tapi pandanganku masih sering berputar putar.." Jawab Damar memandangi langit langit.


" Tidur mas nyenyak kan?"


" Yah.. lumayan.."


" kok lumayan? sudah ada istri.."


" kita membicarakan sial penyakit, bukan istri.." ujar Damar,


" tapi setidaknya penderitaan berkurang ketika istri disamping kita.." gumam Yoga.


" Kau sepertinya sudah tidak tahan hidup sendiri?" tanya Damar peka.


" Ah.. biasa saja, aku tidak buru buru mas, apalagi sekarang ada istrimu yang begitu sayang pada Bagas..


aku jadi tidak perlu buru buru mencari ibu pengganti untuk Bagas.."


" Wah.. jadi istriku kau jadikan pengasuh kedua?"


" Bukan begitu.. tapi kulihat, mereka begitu cocok.. dia bahkan lebih memilih berlari ke arah istrimu sekarang, dari pada ke arahku..


aku mau bagaimana coba memisahkan mereka.."

__ADS_1


" jangan di pisahkan, biarkan saja.. hitung hitung Bagas sebagai pancingan untuk kami..


aku ingin Kinanti segera hamil,


apalagi usiaku sudah tidak muda lagi.." ujar Damar tersenyum.


Sementara Yoga hanya terdiam, entah kenapa hatinya pedih saat Damar mengatakan ingin Kinanti segera hamil.


Rasanya hatinya tak begitu terima,


ia tau perasaan yang ia rasakan saat ini adalah sesuatu yang tidak di benarkan.


Harusnya dirinya turut bahagia kalau Kinanti hamil anak Damar.


" Ya kalau memang mau program hamil, mas juga tidak boleh terlalu lelah.." nasehat Yoga menutupi kepedihan hatinya.


" Wah.. tensi mas rendah.. pantas kliyengan.." ujar Yoga melepas alat tensinya dari lengan Damar.


" Jangan jalan jalan dulu lah.. vitaminnya ku ganti ya mas, nanti Umar suruh ke apotik.."


" jangan terlalu banyak memberiku obat, rasanya aku mau muntah.." ujar Damar


" ah, mau cepat sembuh tidak.. badan saja yang tinggi besar, giliran minum obat.. kalah sama Bagas..!"


" kenapa kau membawa bawa fisik sih?"


" Ya memang..!"


di tangah perdebatan Kinanti masuk ke dalam kamar dengan segelas besar teh hangat di tangannya.


" Teh hangatnya mas, mau sarapan sekarang mas?" tanya Kinanti sembari menaruh teh hangat itu di meja kecil samping tempat tidur.


" Jadi buat bubur ayam?" tanya Damar,


" Jadi mas.. diambilkan ya?" Kinanti mengulas senyum pada suaminya.


" Lho.. teh hangat ku mana mbak?" celetuk Yoga.


Kinanti diam, tak berniat menjawab.


" Sarapan disini Yog, bubur ayam..?" tawar Damar,


" Wah.. boleh, asal mbak Kinan tidak keberatan.." Yoga menatap Kinanti,


" Ah, ada ada saja bicaramu.. ambilkan untuk Yoga juga sayang.." Ujar Damar,


" ah.. aku ambil sendiri saja mas, ndak enak merepotkan.." Yoga bangkit dan berjalan keluar.


Sesampainya di dapur Kinanti mengambilkan semangkuk bubur beserta kuahnya dan memberikannya pada Yoga.


" Lho? topingnya mana?" tanya Yoga melihat bubur itu polos hanya berisi kuah.


" Ambil sendiri, kacang dan ayam suwirnya di meja makan!" Kinanti ketus.


" Aduh.. galaknya, untung cantik.." ujar Yoga duduk di kursi meja makan.


" Kerupuknya?" tanya Yoga,


tapi Kinanti tak menjawab, ia berjalan menjauh ke arah kamarnya sembari membawa semangkuk bubur untuk suaminya.


" Ealah..." Keluh Yoga lirih sembari menyendok buburnya.


Ia makan dan duduk sendiri untuk beberapa lama.


" Taruh saja disitu mangkuk nya, biar aku yang cuci.." Ujar Kinanti berjalan melewati Yoga dengan membawa mangkuk bekas makan suaminya.


" Wah.. sempurna sekali hidup mas Damar.." gumam Yoga sembari tersenyum tipis.


" Ya sudah, aku berangkat ke klinik dulu ya.. tolong nanti beri Bagas bubur juga ya kalau kemari.." Yoga bangkit.

__ADS_1


" Tidak usah berbicara seperti sedang pamit bekerja padaku, aku bukan istrimu" suara Kinanti tenang namun tegas.


" Yah.. aku tau, tapi tidak ada seorangpun yang bisa memastikan masa depan akan seperti apa.." ucap Yoga tenang lalu berlalu pergi meninggalkan Kinanti yang terlihat sekali menahan kekesalannya mati matian.


__ADS_2