
Damar sedang memakai sepatunya ketika Winda masuk ke dalam rumahnya.
" Semalam tidak pulang dam? aku mencarimu di mbah juga tidak ada?" tanya Winda,
" tidak mbak.." jawab Damar fokus memakai sepatunya.
" Tumben? tidur dimana Dam?"
" dirumah teman.." jawab Damar datar,
" Teman yang mana?"
Damar diam, tak menjawab.
" Dirumah perempuan ya?" Winda penasaran.
" Katakan siapa? biar aku melamarnya untukmu?" ujar Winda dengan raut serius.
Mendengar itu Damar memandang Winda tak kalah serius.
" Aku belum tidur dengannya, nanti kalau aku sudah tidur dengannya, akan ku beritahu pada mbak, oke..
lalu pergilah melamarnya.." jawab Damar tak berminat sama sekali dengan topik perbincangan mereka.
" Arek edan?! tidak pernah serius!" Winda kesal.
" Habisnya, di kira aku apa.. aku bukan orang yang sembarangan mbak, masa tidak kenal adikmu sendiri?" balas Damar.
" Jangan salahkan aku Dam, karena beberapa bulan ini kau sudah banyak berubah..
jadi wajar saja aku mencurigai orang yang matanya sedang tertutup oleh kabut cinta..!"
" Ah, kabut cinta.. apalagi yang mbak bahas.." gerutu Damar segera bangkit dari duduknya,
" Aku ada kelas hari ini, berangkat dulu.." pamit Damar mencium tangan Winda, lalu mengambil tas punggungnya dan berjalan keluar.
" Hati hati jangan ngebut?!" nasehat Winda,
" Iya mbak iya.." jawab Damar menaiki motor trail nya, dan memacu nya ke arah jalan, dengan cepat sosoknya pun segera menghilang di kejauhan.
Kinanti sedang mengambil kebaya untuk acara akad nikahnya di penjahit langganan ibunya.
" Wah.. pas sekali nduk.." komentar si penjahit ketika Kinanti mencoba kebaya berwarna putih itu.
" Iya.. cantiknya pengantinku.." suara Haikal dari balik pintu.
" Lho? kok tiba tiba disini? katanya tadi masih di kantor?" tanya Kinanti,
" iya.. aku ijin, habisnya aku penasaran.. ingin melihatmu, ternyata cantik.." jawab Haikal dengan senyum merekah.
" Oh.. ini calon suamimu nduk?" tanya si ibu penjahit.
" Nggih budhe.. namanya Haikal, teman SD saya dulu.."
jawab Kinanti, dan Haikal memberi senyum santun pada ibu penjahit.
" Lho alah... teman SD? jodoh tidak ada yang tau ya nduk.." si ibu tersenyum.
" Ya sudah.. ukurannya sudah pas bu.." ujar Kinanti, ujar Kinanti buru buru, ia tak ingin mendengar komentar komentar lagi tentang dirinya dan Haikal.
__ADS_1
" Ya sudah.. alhamdulillah kalau sesuai.." jawab si ibu penjahit.
Kinanti segera masuk ke kamar ganti untuk melepas kebayanya.
Dan tak lama kembali keluar dengan baju yang awal dia kenakan ketika datang ke tempat jahit.
Si ibu penjahit membungkus kebaya itu dengan hati hati.
Ketika selesai, Kinanti membawa bungkusan yang berisi kebaya itu dan segera berpamitan.
" Undangannya sudah jadi Nan.." ujar Haikal sembari meminum kopinya,
" Oh ya, baguslah.." jawab Kinanti masih sibuk merapikan baju baju ibu dan anggota keluarga yang lainnya yang sudah selesai diambil juga dari penjahit.
" Kok kurang antusias begitu..?" tanya Haikal,
" Apanya yang kurang antusias.. tidak lihat aku sedang sibuk?"
jawan Kinanti.
" Aku merasa kau kurang bersemangat akhir akhir ini Nan..?"
" Itu karena aku kurang sehat Kal.. bukan karena apa apa.."
jawab Kinanti mencoba tersenyum semanis mungkin, meski wajahnya memang terlihat sedikit pucat.
Haikal diam, ia terlihat sedang berpikir akan sesuatu.
" Kau minta undangan berapa banyak?" tanya Haikal kemudian,
" perkara itu tanya pada ibu.. kalau aku sih tidak punya banyak teman sepertimu.." jawab Kinanti.
" Aku ingin menunjukkan pada mereka, pahlawanku yang selalu menolongku dari hina an mereka kini menjadi istriku!" ucap Haikal dengan rasa bangga.
" Bangga sekali? kau bahkan menikahi seorang pengangguran.." ujar Kinanti.
" Ah, apa gunanya bahu laki laki kalau semua perempuan wajib bekerja?! aku sudah bilang, dan aku sudah berjanji pada mas Damar,
kau tidak harus bekerja..
aku akan memenuhi kebutuhanmu Nan.."
" Tapi aku masih punya ibu yang harus ku hidupi.."
" Ibumu ibuku Nan, lagi pula katamu dia akan ikut kita.."
Kinanti diam,
" Ibu tidak mau.." ucapnya setelah cukup lama diam.
" Kenapa?" tanya Haikal,
" dia bilang nyaman tinggal dirumah ini, kalau kita mau kesini silahkan tapi dia tidak mau kemana mana katanya.."
Haikal berpikir sejenak,
" Ya sudah Nan, apa kata ibu saja.. toh rumah kita dekat.." ujar Haikal kemudian tersenyum mengerti.
" Pernikahan kita kan sudah menghitung hari.. jadi jaga kesehatanmu..
__ADS_1
tidurlah dengan baik, jangan pikirkan apapun..
kau tau, mas Damar sudah mengurus segalanya, dia bahkan menghandle lebih dari kewajibannya.."
Kinanti terdiam,
" Andai kata aku punya kakak yang seperti itu pasti luar biasa ya Nan..
aku tidak menyangka, padahal penampilannya tidak berlebihan, tapi dompetnya cukup tebal..
karena itu aku makin penasaran dengan pekerjaannya.." Haikal antusias,
" Diam diamlah, jangan menganggu mas Damar.."
" iya.. aku tau kita sudah banyak merepotkan nya, tapi itu bukan karena aku sengaja Nan, tapi dia yang memaksa dengan bantuannya.." jawab Haikal.
" Dia hanya merasa bertanggung jawab saja padaku, tapi bukan berarti dirimu ber enak enak Kal, ini pernikahan kita, bukan pernikahan mas Damar.. kita harus tau diri.." nasehat Kinanti.
" Tentu saja calon istriku, aku faham itu.. karena itu aku melakukan bagian ku dengan baik dan tak merepotkan mas Damar.."
" Baguslah jika kau mengerti Kal.." Jawab Kinanti masih tak bersemangat.
" Lalu.. bagaimana dengan bulan madu kita..?" tanya Haikal dengan senyum lebar.
" Bulan madu apa? kita dirumah saja.." jawab Kinanti bersemu merah.
" Eh.. kenapa kau malu begitu.. kita kan mau jadi suami istri?" goda Haikal,
" Siapa yang malu? aku tidak.. hanya saja dari pada buang buang uang, untuk resepsi saja sudah sebesar itu.. masih harus bulan madu..
uang lagi.." gerutu Kinanti,
" Apa kau tidak masalah kalau kita berhari hari dirumah saja? di tempat tidur kita?" lagi lagi, kalimat Haikal membuat Kinanti benar benar malu, ia bahkan tak pernah membayangkan melakukan hal hal semacam itu dengan Haikal meskipun hari pernikahan mereka sudah dekat.
" Sudah ah, aku mau ke dapur dulu, mau bikin susu coklat..!" Kinanti bangkit, ia berjalan dengan langkah buru buru ke arah dapur.
Haikal yang melihat itu hanya tertawa, ia tau kalau Kinanti malu,
tapi Haikal senang sekali menggodanya.
Sedangkan Kinanti yang sudah berada di dapur menyandarkan dirinya di dinding sembari memejamkan matanya.
" Bagaimana ini.." keluhnya pelan,
yang akan ia nikahi adalah Haikal, tapi kenapa isi kepalanya di penuhi dengan Damar.
Saat Haikal mengatakan hal hal intim seperti itu,
malah ingatan ingatan dirinya saat berciuman dengan Damar yang muncul.
Kinanti membenturkan kepala belakangnya ke dinding, sedikit keras,
ia ingin membuang ingatan itu.
Rasanya benar benar menyiksa,
bagaimana jika kelak setelah menikah dengan Haikal dirinya akan tetap seperti ini,
memikirkan hal yang tidak patut di pikirkan oleh istri seseorang terhadap pria lain.
__ADS_1
Bukankan itu termasuk sebuah bentuk pengkhianatan?.