
" Aku tidak menyangka kau bisa berkelahi?" kata Dinda sembari sibuk mengompres ujung bibir Yoga yang robek sedikit karena pukulan Roni.
" Dia memukulku duluan, ya masa aku diam saja.." sahut Yoga sembari meringis merasakan perih di ujung bibirnya yang di tekan Dinda.
" Dia kurang ajar sekali, andai tidak dirumahmu.." imbuh Yoga menggerutu,
" Kenapa? mau berkelahi sampai apa?"
" setidaknya kau tau sekarang kalau aku bisa berkelahi.."
" memangnya penting?"
" Ya pentinglah.. pasti Kinanti pernah cerita soal mas Damar yang menghajarku..
aku diam dan takut karena aku salah saat itu.."
" Yah.. aku tau, baguslah kau sadar kalau salah.."
" tidak usah di bahas.. itu sudah berlalu?!"
" lha kan kau yang bahas dulu?"
" ya hanya supaya kau tau kalau aku bisa membela diri dan tidak hanya diam kalau di pukul orang?!"
Yoga tiba tiba cerewet.
" Hemmm.. iya iya.." jawab Dinda di sertai helaan nafas.
Yoga diam diam memperhatikan perempuan di hadapannya itu, wajahnya terlihat lesu, dan tatapannya sayu.
" Jangan sedih.." ucap Yoga ingin menghilangkan kesedihan perempuan di hadapannya.
" Tidak apa apa.." jawab Dinda pelan,
" Apanya yang tidak apa apa? bisa bisanya kau tahan dengan situasi semacam ini setiap pulang?"
Dinda tak menjawab, hanya tersenyum kecil.
" Aku sudah terbiasa.. sudahlah, jangan ikut campur.." Dinda bangkit, namun Yoga menarik pergelangan tangan perempuan itu.
" Terbiasa bagaimana? kau membiarkan dirimu ditindas dan dianggap tidak lebih penting dari uang??" nada Yoga tak terima Dinda di perlakukan seperti itu.
" Bukankan kau sendiri juga begitu?" sahut Dinda beradu pandang dengan Yoga.
" Maksudmu?"
" Kau sendiri berbicara tentang rumah, toko, dan mana yang lebih layak.. bukankah aku juga tidak begitu berharga dalam kalimatmu?"
__ADS_1
Yoga mencengkeram erat pergelangan Dinda.
" Aku bicara seperti itu bukan untuk merendahkanmu atau menganggap kau bisa di beli dengan hal hal semacam itu?! aku sangat tersinggung dengan kata kata laki laki itu yang seakan memiliki segalanya, dia menganggap ketika memiliki segalanya berarti dirinya bisa berbuat seenaknya pada orang lain?!"
" aku tau.. kata katamu hanya untuk menyelamatkan harga diriku kan? ku hargai kata katamu itu.."
" itu bukan sekedar kata kata kosong, aku serius dengan itu.." Yoga menatap serius,
tapi Dinda malah mengulas senyum,
" Kita hentikan sampai disini guyonanmu..
aku terimakasih karena kau sudah sejauh ini membelaku,
jangan membuat pernikahan menjadi guyonan.. itu tidak lucu Yoga." tegas Dinda tenang, sorot matanya terluka.
Dinda berusaha melepaskan tangan Yoga dari pergelangannya tapi pegangan Yoga terlalu erat.
" lepaskan Yog?"
" tidak, sebelum kau benar benar mengerti kalau apa yang ku katakan itu serius?!"
" Kau mulai tidak wajar?! lepaskan tanganmu? sakit?!"
" Sakit? lebih sakit hatiku yang selalu kau salahpahami.." tatapan Yoga meredup, ia menarik Dinda agar ikut duduk di sampingnya.
" Meski kau sudah membelaku tapi aku bisa marah jika kau seperti ini?!" tegas Dinda meradang, ia kesal, merasa di permainkan.
" ini tidak lucu Yoga!!" sembur Dinda tak terima.
" Kau sama saja, seenaknya mempermainkan orang!" imbuh Dinda.
" Kapan aku mempermainkanmu? aku benar benar ingin kau jadi istriku?! aku tertarik padamu sejak di bandung!" tegas Yoga akhirnya.
Dinda terdiam, dan suasana menjadi hening cukup lama.
" Aku akan menganggap kau tidak pernah mengatakan itu.." kata Dinda lebih tenang setelah lama terdiam.
" Kau laki laki baik.. aku tau, tapi jangan menambah nambah sakit hatiku dengan ajakan menikahmu yang ngawur itu.." imbuh Dinda bangkit.
" pulanglah.." Dinda mundur menjauh, mendengar penolakan itu tentu saja Yoga merasa kecewa, padahal ia mengatakan semua dengan tulus.
" Apa aku tidak layak?" tanya Yoga ikut bangkit,
" apa aku tidak pantas?" tanyanya lagi mendekat pada Dinda.
" Kau layak, kau pantas.. tapi tidak untukku," jawab Dinda.
__ADS_1
" Kenapa aku tidak layak untukmu? apa karena aku seorang duda yang membawa seorang anak? atau karena aku mantan kekasih sahabatmu?"
Yoga menarik tubuh Dinda,
" Kau lebih memilih menghadapi mantan suamimu itu sendiri disini, dari pada menerima lamaranku dan segera pergi dari tempat ini?" Yoga melingkarkan tangannya di pinggang Dinda dengan agresif, entah apa yang di pikirkan laki laki itu, logikanya benar benar tak berjalan dengan baik di hadapan Dinda sekarang.
" Yoga?!!" pekik Dinda antara terkejut dan malu.
" Lepaskan! jangan melebihi batas!!" sembur Dinda mencengkeram kaos Yoga berusaha menjauhkan dirinya.
Namun apa daya, segalak apapun dirinya tetap seorang perempuan, tenaganya kalah jauh di banding Yoga.
" Atau kau memang masih menginginkan mantan suamimu? jangan jangan kau masih mencintainya?"
kata kata Yoga benar benar melukai hati Dinda, di pukulnya dada Yoga berkali kali dengan keras, namun Yoga tak berkutik.
Karena pukulannya tak berimbas apapun, tentu saja Dinda merasa frustasi.
" Cukup, hentikan.. kumohon Yoga?!" suara Dinda bergetar, air matanya tumpah seketika.
Melihat air mata yang mengalir itu Yoga seperti tersadar seketika akan sikapnya yang melukai Dinda.
Di kendurkan tangannya yang melingkar di pinggang dan punggung Dinda, demi mengurangi tekanan di tubuh Dinda.
" Maaf.. maafkan aku.. " suara Yoga lirih, di peluknya perempuan di hadapannya itu hingga tangis perempuan itu habis.
" lepaskan.." pinta Dinda saat dirinya sudah lebih tenang,
" Tidak.." jawab Yoga masih melingkarkan tangannya di pinggang Dinda.
" aku tidak akan melepaskannya sebelum kau menjawab lamaranku?" Yoga rupanya benar benar serius, dan hal itu membuat Dinda kebingungan.
" Tidak," jawab Dinda cepat.
" apa??" Yoga tak percaya pada telinganya,
" Tidak, aku bilang tidak." Dinda masih menolak,
" Dinda??!" suara Yoga memohon.
" kau tidak dengar aku menjawab tidak?" di karenakan kebingungan, Dinda merasa jawaban itulah yang terbaik untuk sekarang.
" aku tanya sekali lagi?"
" tidak, tidak, tiii..mmb" belum selesai Dinda berkata tidak, Yoga membungkam bibir Dinda dengan bibirnya.
Dinda yang di sergap dengan ciuman yang tiba tiba dan panas itu tentu saja gelagapan.
__ADS_1
Yoga yang biasanya kalem, begitu agresif sekarang, ia benar benar tak mau mendengar kata tidak lagi dari mulut Dinda.
" Pokoknya aku tidak rela kau kembali ke mantan suamimu atau kau dengan laki laki manapun, kau harus denganku.." ucap Yoga di sela sela ciumannya yang sudah meluluh lantahkan penolakan Dinda.