Damar Untuk Kinanti

Damar Untuk Kinanti
Kemarahan Yusuf


__ADS_3

Kinanti sampai di rumah mungil namun ber halaman lumayan luas itu.


Lagi lagi ia melihat daun daun kering berserakan, itu selalu menjadi pertanda ibunya sakit dan tidak bisa bersih bersih rumah.


Ia mengetuk pintu,


tapi yang membuka pintu adalah Yusuf, si sepupu tersayang dan terdekat.


Wajahnya terlihat tak enak di lihat, bahkan terkesan kesal.


" Bulek barusan tidur, jangan di ganggu" ujar Yusuf datar, ia terlihat benar benar tidak ramah.


" Duduklah dulu, aku mau bicara denganmu" imbuh Yusuf pada Kinanti yang bahkan belum menaruh tasnya.


Kinanti menurutinya, ia duduk tak jauh dari Yusuf.


" Sampai kapan kau mau meninggalkan ibumu sendiri begini?!" Yusuf menekan suaranya, sesungguhnya ia ingin berkata lebih keras, ia kesal sekali melihat saudara sepupunya itu lebih berat pekerjaan dari pada ibumu.


" Maksudmu apa Suf? kau kira aku sengaja meninggalkan ibu?" Kinanti tak percaya dengan kalimat Yusuf yang berbalut emosi itu.


" Lalu apa? coba katakan padaku? kau ingin jadi PNS kan?


untuk siapa kau mengejar itu? ibumu kan, kau ingin dia bangga padamu?


iyakan..?


alih alih mengejar cita citamu demi membahagiakan ibu,


kau tidak mendampinginya..


kau memilih mengajar di sekolah yang bagus dan jauh,


dimana kecerdasan dan pengertian mu sebagai anak?


bagaimana kalau kau menemukan kenyataan ibu mendadak tidak ada?! di tengah keteguhan mu mengejar keinginanmu yang belum tentu itu?!


sebesar apa cita citamu itu di bandingkan ibumu??" tegas Yusuf.


" Hatiku sakit sekali melihat bulek sakit sendirian begini,


kau ini perempuan.. dimana kepekaanmu? meskipun bulek bilang dia baik baik saja dan selalu meyuruhmu kembali ke kost jangan asal kau iyakan! di dunia ini tidak ada seorang ibupun yang akan menghalangi anaknya meraih cita citanya meski ia sendiri kesepian dan terluka!"


Mata Yusuf berkaca kaca, hatinya sakit sekali, buleknya itu benar benar sosok yang tegar baginya, setelah putra nya pergi, tak lama kemudian suaminya menyusul.


Dan sekarang putri satu satunya hanya fokus mengejar keinginannya sendiri, sehingga buleknya itu harus hidup sendirian setiap hari.


Mungkin ia kesepian, namun ia tak pernah mengeluh.


" Aku bicara seperti ini agar kau tak menyesal, terserah kau marah padaku!


harus berapa tahun lagi yang kau habiskan di luar sana? sampai usia berapa bulek harus menunggumu? kau lihat, dia semakin menua, bahkan ia semakin tidak sehat dari hari ke hari!


usianya bahkan lebih muda dari ibuku, tapi malah bulek yang terlihat lebih tua karena pikirannya penuh! ia memikirkan masa depanmu yang tidak bisa di atur ini!


apa tidak bisa sekali saja kau biarkan pikiran bulek tenang?!


penuhi keinginannya di masa tua!" Yusuf mengusap air matanya, wajahnya merah padam menahan kesal pada Kinanti.

__ADS_1


Sedangkan Kinanti, mulutnya bisa saja menjawab kalimat kalimat Yusuf, ia juga bisa menemukan pembelaan pembelaan untuk dirinya,


tapi.. sudahlah..


ia memang bersalah karena meninggalkan ibunya yang sakit sakitan.


" Apa keinginan ibu Suf..?" tanya Kinanti dengan suara pelan, ia benar benar tak ada tenaga untuk adu argumen dengan Yusuf, dan mungkin saja Yusuf sudah banyak berbincang dengan ibu, jadi Yusuf tau apa yang ibunya inginkan sebenarnya.


" Jangan menolak lagi pernikahan! pilihlah laki laki yang baik dan segera menikah sebelum bulek meninggal!" tegas Yusuf membuat Kinanti membeku.


Wanita itu tak bisa berkata apapun.


Ia benar benar diam, hanya terdengar helaan nafas beratnya saja yang beberapa kali.


" hanya itu yang bisa kau lakukan untuk sekarang jika ingin membuat ibumu tenang..!" imbuh Yusuf.


Tak lama Yusuf mengambil rokoknya, membakarnya sebatang dan menghisapnya, seperti ingin menekan perasaan kecewanya pada Kinanti, dan mengusir kemarahannya jauh jauh.


" Aku tidak melarangmu mengajar, karena itu adalah duniamu, setidaknya pindahlah di sekitar sini, bekerjalah sembari mengawasi bulek,


toh jam kerja seorang guru tidak sampai sore,


aku akan mendukungmu dalam hal apapun itu, tapi jangan lagi meninggalkan bulek sendiri..!


kalau kau masih ngotot mengajar disana,


jangan salahkan aku tidak menganggap mu saudara,


karena kau mengacuhkan nasehatku..!" Tegas Yusuf dengan kekesalan yang mulai perlahan mereda.


Kinanti duduk disamping tempat tidur ibunya, memandangi ibunya yang sedang tertidur itu.


Sekarang setelah di pikir pikir..


pantas dan wajar Yusuf marah terhadapnya, ibunya ia mulai renta, dan harusnya di tunggui setiap hari.


Bagaimana kalau tiba tiba ibu jatuh sewaktu masak atau ke kamar mandi.


Siapa yang akan menolongnya sementara Yusuf juga tidak setiap saat dirumah.


" Benar kata Yusuf.." gumam Kinanti lirih, ia memang harus mencari sekolah yang lebih dekat dengan rumah.


Apalah arti cita citanya di banding kesehatan dan kenyamanan ibunya,


meski ia harus memulai dari nol kembali di sekolah yang baru, itu sesungguhnya tidak masalah.


Bahkan tidak menjadi PNS pun tidak masalah asal ibunya sehat dan panjang umur.


Tiba tiba pikirannya terbuka setelah di marahi Yusuf dan melihat kondisi ibunya.


Bahkan tidak menjadi guru pun tidak apa apa sekarang baginya, asal ibunya itu tidak meninggalkannya.


Apalah baginya pekerjaan itu jika ia hidup sendiri di dunia ini..


ia tidak mau menjadi sebatang kara.


" Sehat nggeh bu.." suaranya lirih menahan sesak karena nelangsa.

__ADS_1


Dua hari berlalu, Kinanti belum kembali ke sekolah,


sekarangpun sudah hari jumat, jadi lebih baik dia kembali hari minggu saja sekalian mengajukan pengunduran dirinya, pikirnya.


Ia tetap diam dirumah sembari merawat ibunya, membersihkan halaman dan kebun kecil disamping rumahnya.


" Srakk.. srakk.. srakk..!" suara sapu lidi bergesekan dengan tanah dan daun kering.


Hari itu sudah sore, dan Kinanti yang terlalu asik bersih bersih bahkan belum mandi.


" Waduh.. rajinnya..?" terdengar suara laki laki,


Kinanti langsung menghentikan kesibukannya dan mencari asal suara,


Ternyata Tyo sedang berdiri di depan pagar yang jarang di kunci itu.


" Pak Tyo?" Kinanti kaget dengan kunjungan teman ngajarnya itu, ia buru buru menaruh sapunya, ia sedikit malu dengan dirinya yang sedang memakai celana pendek dan berkaos oblong itu, dan belum mandi juga, entah bagaimana rupanya.


" Masuk pak.." ujar Kinanti mempersilahkan Tyo masuk dan duduk di ruang tamu,


" Bagiamana ibunya? sudah sehat?" tanya pak Tyo menaruh tote bag berisi cake khas kota itu.


" Saya mau bawa buah takut tidak boleh di makan, jadi saya bawa kue saja.." ujar laki laki berparas manis itu.


" Aduh pak, njenengan repot saja.. ibu sudah mendingan, tapi ibu tidak kuat mengobrol lama.."


" tidak apa apa.. yang penting sudah mendingan saja saya turut senang mendengarnya.." Tyo tersenyum.


" Emh.. pak Tyo, rasanya tidak pantas saya berbincang dengan kondisi seperti ini, apa boleh saya mandi sebentar saja? apa pak Tyo mau menunggu?"


" oh.. iya iya.. saya tunggu, sekalian menunggu magrib" ujar Tyo.


Tak menunggu lagi Kinanti segera masuk kedalam, ia segera mandi dan mengganti pakaiannya dengan celana panjang dan kaos berlengan lebih panjang.


Celana biru tua dan kaos berwarna putih,


Kinanti mengikat Rambutnya yang sepinggang itu agar lebih rapi.


Memakai sedikit pelembab agar kulitnya sedikit segar dan tidak kering, tak lupa ia memakai lipstik dengan warna yang natural, hampir mirip dengan warna bibir aslinya.


" Lama ya pak? maaf..." Kinanti keluar dengan membawa minuman dan beberapa toples kue kering.


" Wah,sebentar saya kira.. repot saja bu.."


" ndak repot pak.. repot apa.. monggo di minum.." Kinanti mengulas senyum.


" Ibu sudah bangun pak.. monggo kalau mau menyapa ibu, tapi di kamar.." persilahkan Kinanti, lalu dengan segera Tyo bangkit dan mengekor di belakang Kinanti.


Sesampainya di depan kamar ibu Tyo memberi salam pada ibu, berbincang sedikit, tidak banyak..


intinya tyo mendoakan kesehatan ibu.


Ibu menyambut baik kalimat kalimat Tyo, namun sayang ibu tidak bisa berbincang terlalu lama karena pandangannya sering berputar putar.


Akhirnya Tyo yang merasa sudah terlalu lama bertamu berpamitan, tepatnya dari jam 5 sampai jam 7 malam.


" Kalau begitu saya pamit dulu ya bu.. sampai jumpa di sekolah.." ujar Tyo seperti senang sekali melihat Kinanti.

__ADS_1


" Iya pak.. terimakasih sudah mengunjungi ibu.." ujar Kinanti membalas senyum Tyo.


__ADS_2